Pages

Wednesday, September 26, 2012

CORETAN KANVAS PERJALANAN KITA

Seorang penyair berlayar. Ia mendarat membawa berlembar-lembar puisi yang bercerita tentang perjalanannya. Seorang pelukis mendaki gunung. Ia turun membawa bergulung-gulung kanvas bercoretkan pemandangannya. Seorang penyanyi berkeliling negeri. Ia pulang membawa senandung nada bernyanyikan pemahamannya. Memang demikian adanya. Seseorang pergi, lalu kembali dengan cerita tentang perjalanan, pengalaman, dan tentu saja pemahamannya. Bila bukan untuk mengalami, untuk apa seseorang melakukan perjalanan. Bila bukan untuk memahami, untuk apa seseorang menyerap pengalaman. Lagu pemahaman selalu berkomposisikan keburukan dan keindahan. Lukisan pengalaman selalu berwarna terang dan gelap. Sedangkan puisi perjalanan selalu berbaitkan kesenangan dan kesedihan. Bukankah itu pula yang kelak dibawa, sekembalinya kita dari perjalanan di muka bumi ini?

Sunday, September 23, 2012

MENGAPA KITA BUKAN PEMAIN BINTANG

Mungkin adalah sebuah keberuntungan, bahwa kebanyakan dari kita bukanlah pemain sepak bola terbaik dunia. Beruntung, karena kita tidak harus bekerja di bawah tatapan tajam para penonton yang menuntut untuk selalu menang. Beruntung, karena kita tidak perlu selalu tertekan sebab tak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun yang bisa berbuntut pada kekalahan. Beruntung, karena kita masih bisa berkilah atas setiap kegagalan yang terjadi. Tetapi, tunggu dulu. Mungkin tak semestinya kita buru-buru merasa beruntung. Mungkin itu sebabnya mengapa kita bukan seorang pemain bintang. Mungkin, kita terlalu takut untuk menghadapi kemenangan besar. Mungkin, kita terlalu lemah untuk menerima beban dan tekanan. Atau, mungkin kita terlalu pandai mencari alasan dan pembenaran diri sendiri. Pendek kata, kita sungguh-sungguh tak memiliki kualitas yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemain bintang. Maka, mengapa kita harus merasa beruntung karena tidak menjadi yang terbaik?

Wednesday, August 29, 2012

YANG TERSEMBUNYI DI BALIK PERUBAHAN

Prinsip terpenting dalam memahami kehidupan ini sebenarnya sederhana saja. Begitu sederhana, begitu teruji, dan begitu terbuka. Di ruang mana pun, dan di waktu kapan pun, siapa pun bisa menguji kebenarannya. Karena itu, ia mampu menopang seluruh kerumitan realitas yang kita pandangi. Prinsip itu adalah: tiada yang abadi di dunia ini; segala sesuatu pasti berubah. Matahari terbit dan terbenam. Bintang bercahaya lalu kelam. Siang bersilih gantikan malam. Lalu, mengapa kita harus mencemaskan semua yang ada? Harapan dan kecemasan biasanya muncul dari keinginan kita untuk mempertahankan yang ada, atau menolak yang terjadi. Padahal, tak pernah kita menangis sepanjang waktu. Tangis pun reda terhiburkan tawa. Kita pun tak pernah tertawa setiap saat. Tawa akan dipudarkan duka cita. Kita tak selalu tahu darimana dan kemana perginya semua perasaan itu. Maka, bukanlah kita harus hanyut dalam semua perubahan. Namun cukuplah mulai memahami, bahwa ada sesuatu bersembunyi di balik semua itu. Sesuatu itu, tanpa sadar kita cari-cari selama ini. Sesuatu itu adalah secercah ketenangan hati.

KERJAKAN PEKERJAAN RUMAH ANDA SETIAP MALAM

Anda mungkin bisa menuntaskan apa yang semestinya anda kerjakan setiap hari dengan berkerja keras di akhir pekan. Namun, bukan itu makna tujuh hari dalam seminggu. Agar seseorang sembuh dari penyakitnya, ia harus minum obat setiap hari; bukan meminum seluruh dosis di akhir pekan. Agar seorang siswa meraih kenaikan kelas, ia harus mengerjakan pelajarannya setiap malam; bukan membaca bertumpuk buku sehari menjelang ujian. Ini adalah prinsip sederhana produktivitas. Produktivitas bukan sekedar menghasilkan apa yang bisa kita hasilkan sekarang atau esok. Namun, menjaga agar manfaat dari hasil itu bisa diperoleh sebaik-baiknya hingga di masa-masa mendatang. Mungkin anda bisa menghafal semua pelajaran anda dalam waktu semalam, namun jangan menyesal jika itu hanya bertahan semalam pula. Karena itu, produktivitas selalu berkenaan dengan waktu. Sedangkan waktu adalah ketekunan, kesabaran, dan ketahanan diri.

Wednesday, May 16, 2012

EMAS DAN PERMATA

Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hidup seorang sufi tersohor bernama Zun-Nun. Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya, "Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk banyak tujuan lain." Sang sufi hanya tersenyum; ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?" Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu." "Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil." Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak." Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga. dengarkan saja, bagaimana ia memberikan penilaian." Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar." Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak bagi "pedagang emas". Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas."

Monday, May 14, 2012

KEJUJURAN SAJA TAK CUKUP

Apakah sebuah kejujuran saja sudah cukup? Bukankah sudah jamak diwasiatkan bahwa kejujuran adalah mata uang yang diterima di transaksi mana pun. Sudah awam pula dinasehati bahwa kejujuran adalah pakaian yang selalu pantas dikenakan. Namun, mengapa banyak kita temukan, mata uang itu tak selamanya dijabattangankan. Mengapa pula, banyak kita lihat pakaian itu seolah tampak usang dan lusuh. Maka apakah sesungguhnya kejujuran itu? Orang mungkin saja menganggap kita berlaku jujur, hanya karena kita mengatakan apa yang kita lakukan. Sebagaimana di depan sebuah pengadilan, tak perlu menjawab sesuatu yang tak ditanyakan. Namun kejujuran tidak berbatas pertanyaan. Kita juga semestinya melakukan pada yang kita katakan. Karena, kejujuran selalu beriringan dengan integeritas. Anda tak dapat mengorbankan salah satunya untuk mencapai yang lain. Kejujuran adalah garis lurus. Sedangkan integritas adalah keutuhan.

Sunday, January 08, 2012

SEBUAH BIDANG BERNAMA HATI NURANI

Seorang pujangga bijak pernah bertanya, bagaimana seorang pincang bisa menari? Dijawabnya sendiri, menarilah dengan hati. Ia lalu bertanya lagi, bagaimana seorang bisu bisa bernyanyi? Lagi-lagi ia jawab sendiri, bernyanyilah dengan hati. Biarkan angin menerbangkan hatimu ke angkasa; mengundang Sang Raja turun dari kursi tahtanya, dan menari bersama-sama dalam cahaya.

Pujangga lain berujar, hati nurani adalah sebuah republik; sebuah republik yang sederhana. Dimana tak ada tapal batas satu sama lain. Sehingga kita bisa bebas berjalan-jalan di banyak negara sekaligus. Hati nurani adalah sebuah republik; sebuah republik yang bersahaja. Dimana tak ada penterjemah, tak ada taksi, tak ada porter. Kita harus mengangkat beban kita sendiri. Tak ada keistimewaan kita di banding yang lain. Dalam republik hati nurani, kita berbahasakan cinta dan kasih sayang.

Monday, October 24, 2011

SAAT KITA MENDAHULUKAN DIRI SENDIRI

Ada suatu saat dimana anda harus mendahulukan diri sendiri, dan menyisihkan orang lain. Sayangnya, saat itu bukanlah saat anda terjebak di tengah-tengah kemacetan lalu lintas. Tak seorang pun memberi hak pada anda untuk menghalangi lajur kendaraan lain.
Sayangnya pula saat itu bukanlah saat anda berada di pucuk kekuasaan yang membanggakan. Karena, justru di saat itu anda harus memberikan kedua belah lengan anda untuk bekerja demi kepentingan lebih banyak orang.

Satu-satunya saat dimana anda harus mendahulukan diri sendiri, ketimbang orang lain, adalah di saat anda berlaku introspeksi pada diri sendiri.
Sayangnya, saat itu bukanlah saat yang menyenangkan bagi banyak orang.
Meski tak terlalu sulit menemukan keburukan diri sendiri, namun cukup menyakitkan untuk mengakuinya.
Maka, tak heran bila banyak orang lebih suka tertinggal dalam hal perenungan diri, dan begitu cermat mengamati sisi negatif orang lain.

Thursday, August 11, 2011

SEBUAH KEHENINGAN YANG BESAR

Cobalah berdiri di sebuah lembah yang hening. Lalu teriakkan satu patah kata sekuat-kuatnya. Terdengarlah suara gaung bergema-gema. Pada mulanya begitu keras, lamat-lamat ia memelan dan lembah pun kembali hening.
Pertanyaannya adalah, dari manakah teriakan anda bermula, dan kemanakah teriakan keras itu pergi?
Pada awalnya adalah keheningan. Suara anda datang dari keheningan.
Lalu suara anda hilang tertelan dalam keheningan yang sama. Pada akhirnya yang tertinggal adalah keheningan.

Sejenak mari kita renungi, dari manakah datangnya hidup, dan kemanakah perginya hidup. Sesungguhnya hidup bukanlah sekedar gerak, bukanlah sekedar suara, bukan pula sekedar warna. Bila hidup datang dari keheningan dan kembali dalam keheningan, maka keheningan itu semestinya adalah hidup yang jauh lebih besar. Sebagaimana kedalaman air danau yang tenang berbanding dengan riak-riak kecil di permukaan.

Tuesday, June 14, 2011

SELAMATKAN PERTENGKARAN ANDA

Rasanya tak mungkin anda bertengkar seorang diri.
Selalu dibutuhkan setidaknya dua orang untuk memulai sebuah perselisihan kecil.
Dan, itu sudah cukup untuk mendatangkan pertengkaran besar-besaran. Itu berarti,
pertengkaran bukan hanya persoalan perbedaan pendapat atau tarik-menarik keinginan. Pertengkaran adalah soal pilihan anda. Pilihan untuk memulai lalu membiarkannya membesar membakar semua yang ada, atau menutup pintu sebelum sempat dimasuki oleh salah seorang dari anda. Karena, pertengkaran mustahil terjadi bila anda benar-benar tak berkehendak untuk menceburkan diri ke dalamnya.

Meski anda jatuh dalam sungai deras, itu tak berarti anda harus hanyut atau tenggelam tanpa daya. Anda bisa berenang-renang meninggalkan pusaran air, dan naik ke daratan. Hanya di saat berada di tepianlah anda bisa menolong rekan anda untuk mentas dari kehanyutan. Ulurkan tali penyelamat berupa curahan maaf dan pengertian diri tanpa pamrih. Dua orang yang bertengkar takkan bisa menolong satu sama lain.

Wednesday, May 25, 2011

SEDIKIT DEMI SEDIKIT LAMA-LAMA JADI BUKIT

Pepatah ini sederhana saja, "sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit."
Kita biasa memaknainya, bahwa bila kita mengumpulkan se-sen demi se-sen, pada saatnya kita akan dapatkan sepundi.
Namun sesungguhnya pepatah ini tak sekedar berbicara tentang hidup hemat, atau ketekunan menabung.
Pepatah ini menyiratkan tentang sesuatu yang lebih berharga dari sekedar sekantung
keping uang, yaitu: bila kita mampu mengumpulkan kebaikan dalam setiap tindakan-tindakan kecil kita, maka kita akan dapati kebesaran dalam jiwa kita.

Bagaimanakah tindakan-tindakan kecil itu mencerminkan kebesaran jiwa sang pemiliknya? Yaitu, bila disertai dengan secercah kasih sayang di dalamnya.
Ucapan terima kasih, sesungging senyum, sapaan ramah, atau pelukan bersahabat, adalah tindakan yang mungkin sepele saja.
Namun dalam liputan kasih sayang, ia jauh lebih tinggi daripada bukit tabungan anda.

Sunday, March 13, 2011

BUKAN HANYA DEMI SESUAP NASI

Mengapa anak-anak banyak bercita-cita menjadi dokter?
Karena mereka tahu, bahwa pekerjaan mereka kelak semestinya bukan hanya demi sesuap nasi, melainkan juga demi segenggam cita-cita luhur.

Bukankah ini mengingatkan kita agar sadar bahwa kerja keras kita tentunya bukan hanya demi mengumpulkan angka-angka laba seceruk demi seceruk, tetapi juga membangun nilai-nilai pengabdian mulia pada dunia.
Suara kanak-kanak memang seringkali melompat jauh mendahului jaman.
Dan kita yang sudah banyak termakan usia ini harus tertatih-tatih mengejarnya. Semogalah kita tak mudah patah dan kehilangan gairah kanak-kanak dalam menghadapi permainan kehidupan kerja kita.
Bila toh sekantung laba tak kita kantungi, setidaknya kita mendapatkan setangkup kelapangan dada.

Sunday, February 13, 2011

PENJARA YANG KITA BANGUN

Seringkali kita membangun penjara dengan batu-batu besar nan kuat dan kokoh. Bahkan bila perlu kita bangun penjara di pedalaman hutan yang mengerikan, di tengah lautan berombak ganas, atau di sebuah sudut bulan yang tak tampak dari bumi. Penjara harus jadi dunia lain dari dunia ini yang tak boleh punya cerita apa-apa.

Sayangnya, sehebat-hebat penjara kita bangun, ia nyaris tak mampu mencegah orang terjungkal ke dalamnya. Mungkin selama ini kita hanya berpikir bagaimana kita punya penjara hebat yang tak memungkinkan pesakitan di dalamnya bisa lolos begitu saja. Begitu hebatnya, sehingga lubang jarum pun tak boleh menyelinap bebas. Padahal semestinya, penjara bukan hanya dibangun dari batu-batu hitam yang keras, melainkan juga tembok-tembok hukum yang selalu ditegakkan, tiang-tiang etika yang ditinggikan, serta pagar-pagar moral nurani yang dimuliakan.

Sunday, February 06, 2011

RASAILAH SENTUHAN BAJU ANDA

Apakah anda merasai angin yang bersemilir menggeraikan rambut di pelipis anda?
Apakah anda merasai dinginnya embun pagi menyapa wajah anda?
Apakah anda merasai kerikil mencubit-cubit kulit halus telapak kaki anda?
Apakah anda merasai?

Ayolah, jangan hanya berjalan menggunakan kepala yang penuh dengan pikiran tentang perhitungan-perhitungan. Pikiran yang penuh dengan harapan dan angan-angan.
Sesekali, berjalanlah dengan rasa. Sudah terlalu banyak orang berpakaian sutera di badan, namun mereka tak merasakan lembutnya sentuhan sutra itu di sekujur tubuh mereka.
Karena mereka lebih sibuk membajui pikiran mereka dengan kebanggaan dan kemewahan atas nama sutra itu.
Bagaimana tatapan bisa tampak cantik bila menyiratkan keinginan untuk dipuji? Bagaimana pula sutra itu melembutkan kulit, bila hati mengabaikannya?

Thursday, January 13, 2011

NOTHING TO LOOSE SAJALAH

Bila anda sadar akan peran yang harus anda mainkan dalam hidup ini, maka takkanlah sanjungan meruntuhkan diri anda.
Takkanlah pula celaan meremukredamkan jiwa anda.
Anda hanya perlu mengalirkannya begitu saja dari dalam diri anda.
Sanjungan tak lebih dari seteguk air dingin penyejuk kelelahan.
Sedangkan celaan adalah sepucuk kerikil yang memperingatkan anda untuk berhati-hati. Selain semua itu, tak ada yang perlu dibanggakan atau disesali hingga harus kehilangan diri sendiri.

Nothing to loose sajalah.
Tak perlu merasa harus memiliki atau kehilangan.
Karena apa yang kita genggam toh akan terlepas juga.
Mungkin kita harus memindahtangankannya pada orang lain.
Atau, merelakannya terlepas dari genggaman yang semakin lelah merenta.

AYAH HEBAT SEKALI!

Beberapa waktu lalu sebuah gedung opera di Paris mengundang seorang penyanyi terkenal untuk mengadakan pertunjukan di sana. Tiket pertunjukan telah terjual habis. Semua orang ingin sekali menonton penampilan dari penyanyi terkenal itu.

Tetapi, pada malam pertunjukkan, sang penyanyi jatuh sakit dan tidak bisa tampil di sana.

Kemudian, pimpinan gedung opera itu naik ke atas panggung dan menyampaikan permohonan maafnya, "Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, terima kasih sekali atas dukungan anda semua pada pertunjukkan ini. Saya khawatir, karena sakit, artis yang sedang kita tunggu-tunggu ini tidak bisa tampil malam ini. Namun begitu, kami telah menunjuk seorang artis pengganti yang kami harap bisa memberikan hiburan yang tak kalah menariknya."

Langsung saja seluruh penonton berteriak menyatakan kekecewaan mereka.
Pengumuman selanjutnya dari pimpinan gedung opera mengenai nama artis pengganti itu tidak lagi terdengar dan tenggelam dalam gerutu penonton yang dongkol. Suasana yang semula penuh kemeriahan berubah menjadi putus asa dan kekecewaan.

Meski begitu, artis pengganti yang naik ke atas panggung berusaha menampilkan semua kemampuan terbaiknya. Dan, ketika ia selesai merampungkan pertunjukkannya tak seorang pun memberikan tepuk tangan atau applause.
Suasana penonton terasa dingin dan sunyi.

Hingga tiba-tiba dari salah satu sudut balkon, seorang anak kecil berdiri dan berteriak, "Ayah...! Pertunjukkan ayah hebat sekali...!" Ia bertepuk tangan sendiri sekeras-kerasnya.

Para penonton menoleh pada anak kecil yang berdiri di atas balok. Mereka merasa malu betapa tak mampu menghargai penampilan seseorang yang telah berusaha menampilkan pertunjukan yang sebaik-baiknya meski hanya sebagai penyanyi pengganti. Akhirnya, suasana gedung opera pecah dengan gemuruh tepuk tangan dari seluruh penonton.

Pojok Renungan Editor: Berikan yang terbaik, meski tak seorang pun menghargainya. Namun, hargai jerih payah yang telah ditunjukkan oleh orang lain. Bukankah, itu adalah pertanda keberadaban kita?

Monday, January 03, 2011

TENTANG MENYINGKIRKAN DURI DARI JALAN

Kita berbuat baik tentunya bukan untuk mengharapkan apa-apa. Karena kita sadar itulah peran yang harus kita mainkan. Adalah kewajiban kita untuk menyingkirkan duri di jalan yang sedang kita lalui, bukan saja agar tak melukai diri kita, namun untuk menjaga para pejalan lain.

Jadi, meski tak seorang pun mengucapkan terima kasih atas perbuatan baik anda, itu tak perlu mengecilkan arti kerja anda. Mungkin saja orang lain tak memahami kebaikan itu, karena mereka menganggap memang seharusnya anda lakukan itu. Maka, apatah artinya sebuah ucapan terima kasih. Biarkan saja kebaikan mengalir dari tangan anda. Dan biarkan benak anda terbebas dari perasaan berjasa. Temukan arti pesan sang bijak, berikan derma dari tangan kanan seakan-akan tangan kirimu tak mengetahuinya.

Thursday, November 25, 2010

BEKERJA BAGAI ITIK BERENANG DI TELAGA

Bekerjalah sebagaimana itik berenang di telaga. Ia melaju dengan tenang dan cantiknya, tanpa membuat permukaan air menjadi berkecipak dan berisik.
Ia pun tak perlu membuat sekujur tubuhnya basah kuyup atau merusakkan bulu-bulunya. Bahkan, berenangnya itik itu sendiri selalu menambah keindahan pandangan seluruh telaga. Namun, tahukah kita bahwa di dalam air sepasang kakinya bekerja keras mengayuh-ayuh. Dan, itu tak tampak oleh mata yang memandangnya.

Kita dapat bekerja dengan keras dan gigih.
Dan untuk itu, kita memang tak perlu menyembunyikan luruhan keringat dan tarikan nafas panjang kelelahan, namun kita dapat mengubahnya sebagai sebuah kesukacitaan.
Itu hanya tercapai bila kita meletakkan sumbangsih kerja kita dalam bingkai indah tentang peraihan hidup.
Karena kerja adalah bagian dari hidup, maka jangan biarkan kerja jadi noda tinta dalam lukisan tentang kehidupan kita.

Monday, November 15, 2010

BATAS DARI SEMUA USAHA

Bila selama sepekan anda telah bekerja dengan gigih, berlari penuh ketergesa-gesaan, dan menggigit gigi sendiri untuk menahan rasa sakit diburu-buru, maka akhir pekan ini adalah saat yang paling baik untuk merenungi apa arti waktu bagi anda. Secepat-cepat anda belari menjadi yang nomor satu, anda takkan pernah mampu melampaui waktu. Sekuat-kuat anda memenangkan pertandingan, pada akhirnya toh anda akan dikalahkan oleh usia anda sendiri. Sehebat-hebat anda menaklukkan puncak gunung, alam memberi langit yang lebih tinggi yang tak terdaki. Bahwa segala sesuatu itu ada batasnya.

Anda perlu tahu batas-batas itu.
Meski tujuan adalah sesuatu yang belum bisa anda capai sekarang; dan ini membuat anda begitu optimis akan hidup esok hari; namun kesadaran akan tepian dari semua kerja anda semestinya menggugah anda untuk menemukan jiwa dalam kerja anda.
Yaitu, silakan kita berkeja sekeras-kerasnya, karena memang untuk itulah anda ada, namun anda sama sekali tak harus menjamin tercapainya semua tujuan itu, karena memang bukan itu tugas anda. Kita hanya harus berusaha.

Wednesday, November 10, 2010

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain. Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya. Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun. Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya. Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat. Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu
menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni. Kita temukan keotentikan diri sendiri. Kritik memang semestinya mendorong agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.