Pages

Tuesday, June 14, 2011

SELAMATKAN PERTENGKARAN ANDA

Rasanya tak mungkin anda bertengkar seorang diri.
Selalu dibutuhkan setidaknya dua orang untuk memulai sebuah perselisihan kecil.
Dan, itu sudah cukup untuk mendatangkan pertengkaran besar-besaran. Itu berarti,
pertengkaran bukan hanya persoalan perbedaan pendapat atau tarik-menarik keinginan. Pertengkaran adalah soal pilihan anda. Pilihan untuk memulai lalu membiarkannya membesar membakar semua yang ada, atau menutup pintu sebelum sempat dimasuki oleh salah seorang dari anda. Karena, pertengkaran mustahil terjadi bila anda benar-benar tak berkehendak untuk menceburkan diri ke dalamnya.

Meski anda jatuh dalam sungai deras, itu tak berarti anda harus hanyut atau tenggelam tanpa daya. Anda bisa berenang-renang meninggalkan pusaran air, dan naik ke daratan. Hanya di saat berada di tepianlah anda bisa menolong rekan anda untuk mentas dari kehanyutan. Ulurkan tali penyelamat berupa curahan maaf dan pengertian diri tanpa pamrih. Dua orang yang bertengkar takkan bisa menolong satu sama lain.

Wednesday, May 25, 2011

SEDIKIT DEMI SEDIKIT LAMA-LAMA JADI BUKIT

Pepatah ini sederhana saja, "sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit."
Kita biasa memaknainya, bahwa bila kita mengumpulkan se-sen demi se-sen, pada saatnya kita akan dapatkan sepundi.
Namun sesungguhnya pepatah ini tak sekedar berbicara tentang hidup hemat, atau ketekunan menabung.
Pepatah ini menyiratkan tentang sesuatu yang lebih berharga dari sekedar sekantung
keping uang, yaitu: bila kita mampu mengumpulkan kebaikan dalam setiap tindakan-tindakan kecil kita, maka kita akan dapati kebesaran dalam jiwa kita.

Bagaimanakah tindakan-tindakan kecil itu mencerminkan kebesaran jiwa sang pemiliknya? Yaitu, bila disertai dengan secercah kasih sayang di dalamnya.
Ucapan terima kasih, sesungging senyum, sapaan ramah, atau pelukan bersahabat, adalah tindakan yang mungkin sepele saja.
Namun dalam liputan kasih sayang, ia jauh lebih tinggi daripada bukit tabungan anda.

Sunday, March 13, 2011

BUKAN HANYA DEMI SESUAP NASI

Mengapa anak-anak banyak bercita-cita menjadi dokter?
Karena mereka tahu, bahwa pekerjaan mereka kelak semestinya bukan hanya demi sesuap nasi, melainkan juga demi segenggam cita-cita luhur.

Bukankah ini mengingatkan kita agar sadar bahwa kerja keras kita tentunya bukan hanya demi mengumpulkan angka-angka laba seceruk demi seceruk, tetapi juga membangun nilai-nilai pengabdian mulia pada dunia.
Suara kanak-kanak memang seringkali melompat jauh mendahului jaman.
Dan kita yang sudah banyak termakan usia ini harus tertatih-tatih mengejarnya. Semogalah kita tak mudah patah dan kehilangan gairah kanak-kanak dalam menghadapi permainan kehidupan kerja kita.
Bila toh sekantung laba tak kita kantungi, setidaknya kita mendapatkan setangkup kelapangan dada.

Sunday, February 13, 2011

PENJARA YANG KITA BANGUN

Seringkali kita membangun penjara dengan batu-batu besar nan kuat dan kokoh. Bahkan bila perlu kita bangun penjara di pedalaman hutan yang mengerikan, di tengah lautan berombak ganas, atau di sebuah sudut bulan yang tak tampak dari bumi. Penjara harus jadi dunia lain dari dunia ini yang tak boleh punya cerita apa-apa.

Sayangnya, sehebat-hebat penjara kita bangun, ia nyaris tak mampu mencegah orang terjungkal ke dalamnya. Mungkin selama ini kita hanya berpikir bagaimana kita punya penjara hebat yang tak memungkinkan pesakitan di dalamnya bisa lolos begitu saja. Begitu hebatnya, sehingga lubang jarum pun tak boleh menyelinap bebas. Padahal semestinya, penjara bukan hanya dibangun dari batu-batu hitam yang keras, melainkan juga tembok-tembok hukum yang selalu ditegakkan, tiang-tiang etika yang ditinggikan, serta pagar-pagar moral nurani yang dimuliakan.

Sunday, February 06, 2011

RASAILAH SENTUHAN BAJU ANDA

Apakah anda merasai angin yang bersemilir menggeraikan rambut di pelipis anda?
Apakah anda merasai dinginnya embun pagi menyapa wajah anda?
Apakah anda merasai kerikil mencubit-cubit kulit halus telapak kaki anda?
Apakah anda merasai?

Ayolah, jangan hanya berjalan menggunakan kepala yang penuh dengan pikiran tentang perhitungan-perhitungan. Pikiran yang penuh dengan harapan dan angan-angan.
Sesekali, berjalanlah dengan rasa. Sudah terlalu banyak orang berpakaian sutera di badan, namun mereka tak merasakan lembutnya sentuhan sutra itu di sekujur tubuh mereka.
Karena mereka lebih sibuk membajui pikiran mereka dengan kebanggaan dan kemewahan atas nama sutra itu.
Bagaimana tatapan bisa tampak cantik bila menyiratkan keinginan untuk dipuji? Bagaimana pula sutra itu melembutkan kulit, bila hati mengabaikannya?

Thursday, January 13, 2011

NOTHING TO LOOSE SAJALAH

Bila anda sadar akan peran yang harus anda mainkan dalam hidup ini, maka takkanlah sanjungan meruntuhkan diri anda.
Takkanlah pula celaan meremukredamkan jiwa anda.
Anda hanya perlu mengalirkannya begitu saja dari dalam diri anda.
Sanjungan tak lebih dari seteguk air dingin penyejuk kelelahan.
Sedangkan celaan adalah sepucuk kerikil yang memperingatkan anda untuk berhati-hati. Selain semua itu, tak ada yang perlu dibanggakan atau disesali hingga harus kehilangan diri sendiri.

Nothing to loose sajalah.
Tak perlu merasa harus memiliki atau kehilangan.
Karena apa yang kita genggam toh akan terlepas juga.
Mungkin kita harus memindahtangankannya pada orang lain.
Atau, merelakannya terlepas dari genggaman yang semakin lelah merenta.

AYAH HEBAT SEKALI!

Beberapa waktu lalu sebuah gedung opera di Paris mengundang seorang penyanyi terkenal untuk mengadakan pertunjukan di sana. Tiket pertunjukan telah terjual habis. Semua orang ingin sekali menonton penampilan dari penyanyi terkenal itu.

Tetapi, pada malam pertunjukkan, sang penyanyi jatuh sakit dan tidak bisa tampil di sana.

Kemudian, pimpinan gedung opera itu naik ke atas panggung dan menyampaikan permohonan maafnya, "Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, terima kasih sekali atas dukungan anda semua pada pertunjukkan ini. Saya khawatir, karena sakit, artis yang sedang kita tunggu-tunggu ini tidak bisa tampil malam ini. Namun begitu, kami telah menunjuk seorang artis pengganti yang kami harap bisa memberikan hiburan yang tak kalah menariknya."

Langsung saja seluruh penonton berteriak menyatakan kekecewaan mereka.
Pengumuman selanjutnya dari pimpinan gedung opera mengenai nama artis pengganti itu tidak lagi terdengar dan tenggelam dalam gerutu penonton yang dongkol. Suasana yang semula penuh kemeriahan berubah menjadi putus asa dan kekecewaan.

Meski begitu, artis pengganti yang naik ke atas panggung berusaha menampilkan semua kemampuan terbaiknya. Dan, ketika ia selesai merampungkan pertunjukkannya tak seorang pun memberikan tepuk tangan atau applause.
Suasana penonton terasa dingin dan sunyi.

Hingga tiba-tiba dari salah satu sudut balkon, seorang anak kecil berdiri dan berteriak, "Ayah...! Pertunjukkan ayah hebat sekali...!" Ia bertepuk tangan sendiri sekeras-kerasnya.

Para penonton menoleh pada anak kecil yang berdiri di atas balok. Mereka merasa malu betapa tak mampu menghargai penampilan seseorang yang telah berusaha menampilkan pertunjukan yang sebaik-baiknya meski hanya sebagai penyanyi pengganti. Akhirnya, suasana gedung opera pecah dengan gemuruh tepuk tangan dari seluruh penonton.

Pojok Renungan Editor: Berikan yang terbaik, meski tak seorang pun menghargainya. Namun, hargai jerih payah yang telah ditunjukkan oleh orang lain. Bukankah, itu adalah pertanda keberadaban kita?

Monday, January 03, 2011

TENTANG MENYINGKIRKAN DURI DARI JALAN

Kita berbuat baik tentunya bukan untuk mengharapkan apa-apa. Karena kita sadar itulah peran yang harus kita mainkan. Adalah kewajiban kita untuk menyingkirkan duri di jalan yang sedang kita lalui, bukan saja agar tak melukai diri kita, namun untuk menjaga para pejalan lain.

Jadi, meski tak seorang pun mengucapkan terima kasih atas perbuatan baik anda, itu tak perlu mengecilkan arti kerja anda. Mungkin saja orang lain tak memahami kebaikan itu, karena mereka menganggap memang seharusnya anda lakukan itu. Maka, apatah artinya sebuah ucapan terima kasih. Biarkan saja kebaikan mengalir dari tangan anda. Dan biarkan benak anda terbebas dari perasaan berjasa. Temukan arti pesan sang bijak, berikan derma dari tangan kanan seakan-akan tangan kirimu tak mengetahuinya.

Thursday, November 25, 2010

BEKERJA BAGAI ITIK BERENANG DI TELAGA

Bekerjalah sebagaimana itik berenang di telaga. Ia melaju dengan tenang dan cantiknya, tanpa membuat permukaan air menjadi berkecipak dan berisik.
Ia pun tak perlu membuat sekujur tubuhnya basah kuyup atau merusakkan bulu-bulunya. Bahkan, berenangnya itik itu sendiri selalu menambah keindahan pandangan seluruh telaga. Namun, tahukah kita bahwa di dalam air sepasang kakinya bekerja keras mengayuh-ayuh. Dan, itu tak tampak oleh mata yang memandangnya.

Kita dapat bekerja dengan keras dan gigih.
Dan untuk itu, kita memang tak perlu menyembunyikan luruhan keringat dan tarikan nafas panjang kelelahan, namun kita dapat mengubahnya sebagai sebuah kesukacitaan.
Itu hanya tercapai bila kita meletakkan sumbangsih kerja kita dalam bingkai indah tentang peraihan hidup.
Karena kerja adalah bagian dari hidup, maka jangan biarkan kerja jadi noda tinta dalam lukisan tentang kehidupan kita.

Monday, November 15, 2010

BATAS DARI SEMUA USAHA

Bila selama sepekan anda telah bekerja dengan gigih, berlari penuh ketergesa-gesaan, dan menggigit gigi sendiri untuk menahan rasa sakit diburu-buru, maka akhir pekan ini adalah saat yang paling baik untuk merenungi apa arti waktu bagi anda. Secepat-cepat anda belari menjadi yang nomor satu, anda takkan pernah mampu melampaui waktu. Sekuat-kuat anda memenangkan pertandingan, pada akhirnya toh anda akan dikalahkan oleh usia anda sendiri. Sehebat-hebat anda menaklukkan puncak gunung, alam memberi langit yang lebih tinggi yang tak terdaki. Bahwa segala sesuatu itu ada batasnya.

Anda perlu tahu batas-batas itu.
Meski tujuan adalah sesuatu yang belum bisa anda capai sekarang; dan ini membuat anda begitu optimis akan hidup esok hari; namun kesadaran akan tepian dari semua kerja anda semestinya menggugah anda untuk menemukan jiwa dalam kerja anda.
Yaitu, silakan kita berkeja sekeras-kerasnya, karena memang untuk itulah anda ada, namun anda sama sekali tak harus menjamin tercapainya semua tujuan itu, karena memang bukan itu tugas anda. Kita hanya harus berusaha.

Wednesday, November 10, 2010

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain. Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya. Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun. Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya. Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat. Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu
menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni. Kita temukan keotentikan diri sendiri. Kritik memang semestinya mendorong agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain. Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya. Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun. Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya. Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat. Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu
menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni. Kita temukan keotentikan diri sendiri. Kritik memang semestinya mendorong agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.

Monday, November 01, 2010

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain.
Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya.
Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun.
Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya.
Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat.
Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni. Kita temukan keotentikan diri sendiri.
Kritik memang semestinya mendorong agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain.
Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya.
Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun.
Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya.
Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat.
Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni.
Kita temukan keotentikan diri sendiri. Kritik memang semestinya mendorong
agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.

Tuesday, October 19, 2010

CINTA MEMANG TAK HARUS MEMILIKI

Bila anda jatuh cinta pada seseorang, jangan siksa diri anda dengan menganggap bahwa cinta anda ditolak. Cinta itu tak pernah tertolak.
Karena, setiap orang senang bahkan butuh dicintai. Wujudkan cinta anda dengan memberikan sesuatu, bukan mengharap-harap akan sesuatu. Sebab, apa yang dilontarkan karena cinta selalu kembali pada hati anda di saat itu juga.
Kebahagiaan dari memberi jauh lebih paripurna ketimbang kebahagiaan karena menerima.

Namun, lain halnya bila anda ingin memiliki sesuatu yang anda cintai.
Keinginan itulah yang menimbulkan pedih yang mengiris-iris.
Jangan menambah siksa anda dengan menginginkan sesuatu.
Jangan sia-siakan cinta anda dengan beban-beban harapan.
Keinginan untuk memiliki mungkin saja tertolak.
Namun, percayalah cinta anda yang sesungguhnya takkan pernah kembali dengan tangan
kosong.

KETRAMPILAN YANG ANDA BUTUHKAN

Setiap kedudukan membutuhkan tingkat keahlian yang berbeda-beda.
Seorang klerk mungkin perlu memiliki ketrampilan tehnis yang mumpuni.
Sedangkan petinggi tak perlu sejauh itu, toh ia bisa memerintah bawahan untuk mengerjakan baginya. Tetapi ia harus memiliki kebijakan dalam mengambil keputusan; sesuatu yang tak terlalu penting bagi klerk yang sehari-hari hanya menunggu perintah. Kita menggambarkannya dengan ibarat dua buah piramida yang saling berbalikan.

Namun, tak peduli seberapa rendah kedudukan anda, atau seberapa tinggi jabatan anda, kita perlu menguasai satu hal demi keberhasilan kerja. Yaitu, ketrampilan berhubungan dengan orang lain. Kita butuh pembeli, kita butuh penjual, kita butuh berhubungan dengan siapa pun. Maka, semua ketrampilan tehnis atau kebijakan pengambilan keputusan itu tak berarti bagi keberhasilan anda, bila anda tak mampu berhubungan baik dengan sesama.

Wednesday, October 13, 2010

PEMIMPIN ADALAH UNTUK MEMIMPIN ORANG LAIN

Memang benar bahwa setiap dari kita adalah pemimpin.
Setidaknya memimpin diri sendiri.
Karena, pemimpin semestinya mampu memimpin diri sendiri, sebelum berdiri di depan orang lain. Namun, belumlah cukup bila anda hanya jadi pemimpin bagi diri sendiri. Karena pemimpin sesungguhnya tidak diciptakan untuk itu. Ia adalah orang yang memikirkan orang lain, bekerja demi sebuah generasi, berkarya untuk sebaris masa. Pemimpin sejati melihat apa yang dibutuhkan manusia dari zaman ke zaman. Bukan mencari keagungan diri sendiri. Pemimpin sejati ada untuk mengorbankan seluruh realisasi
dirinya bagi orang lain.

Karenanya, pemimpin besar tak perlu menyusun ribuan tentara, atau mengumpulkan jutaan barisan pendukung. Ia hanya perlu menundukkan dirinya sendiri yang satu itu, maka orang lain akan mengikuti.

Monday, October 04, 2010

JANGAN TAKUT DENGAN SANJUNGAN

Tak perlu takut menerima sanjungan.
Bila anda dikaruniai wajah tampan atau cantik; bila anda dianugerahi kepintaran; bila anda mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik; bila anda telah berbuat kebaikan; maka mungkin akan ada orang yang memuji anda.
Lebih dari itu, mungkin mereka akan menyanjung dan mengagungkan anda. Pujian dan sanjungan boleh jadi konsekuensi logis dari apa yang telah anda lakukan. Malah itu biasa dan wajar-wajar saja.
Jadi, mengapa anda takut menerima sanjungan?

Tetapi khawatirlah bila anda mulai menikmati sanjungan itu; bila anda mencari-cari tepuk tangan orang yang mengagumi anda; bila anda kesal bila pujian itu tak kunjung tiba. Bukan kalimat indah yang ada pada bibir orang lain, melainkan rasa nikmat dalam diri anda yang meruntuhkan anda sendiri.
Biarkan jutaan pujian datang, namun jangan biarkan ia masuk ke dalam hati.
Pujian itu bagai kertas tissue yang bisa mengusap keringat; mengobati rasa lelah, namun betapa rapuh dan mudah hancur.

Wednesday, September 22, 2010

KENANGLAH KASIH ORANGTUA ANDA

Kenanglah kedua orangtua anda.
Biasanya, di saat orangtua kita masih hidup, tidak mudah bagi kita untuk menghargai kasih sayang mereka. Padahal mereka menebar cinta mereka dalam setiap desah nafas, gerak bibir, dan ayunan langkah mereka. Tak ada yang mereka pikirkan begitu penting selain keluarga mereka, anak cucu mereka, penerus keberlangsungan karya mereka di dunia ini.
Bahkan dalam amarah, kekecewaan dan kesedihan mereka selimuti dengan kasih sayang.

Bagi kita, ini mungkin nasehat tua yang sudah terlalu sering terdengar.
Namun, tak pernah usang, karena orangtua selalu dilahirkan jaman.
Mengenang orangtua sebenarnya mengenang keberadaan diri kita sendiri.
Kita terlahir dari buah kasih sayang, kita tumbuh dalam naungan kasih sayang, kita pun ditinggalkan dengan lambaian kasih sayang.
Memang tak ada yang terlambat, namun sebelum hati dalam anda menyesal, kasihilah orangtua anda.
Bagi mereka, balasan ini jauh lebih berharga dari apa pun yang pernah diperolehnya.
Bagi mereka, itulah bekal sebaik-baiknya untuk menikmati usia senja mereka.

InsyaAlloh.....

Thursday, September 16, 2010

LIHATLAH KEINDAHAN BEGITU SAJA

Setiap saat bumi ini menampakkan keindahannya pada kita.
Kabut yang turun menghalangi pandangan mata.
Angin yang mendesir menaikkan debu-debu jalanan.
Sungai kering yang tinggal menyisakan batu-batu hitam.
Lekak-lekuk lereng gunung yang dipenuhi semak-semak ranggas.
Semua itu jadi penawaran terbaik bagi kita.
Sebuah penawaran apakah kita mau memandangnya sebagai sebuah pesona, atau kita abaikan berlalu tak bermakna.

Menikmati pesona alam memang tak bisa diajarkan, apalagi diperintahkan.
Kita hanya perlu membuka mata, melihat begitu saja, tak memutuskan mana yang indah mana yang buruk.
Karena, bahkan pada seonggok kotoran busuk pun, ribuan serangga mengais-ngais nasibnya.
Bukankah kegigihan mahluk-mahluk kecil itu adalah pesona yang patut memberikan makna dan rasa bersyukur dalam
diri kita?