Pages

Thursday, November 25, 2010

BEKERJA BAGAI ITIK BERENANG DI TELAGA

Bekerjalah sebagaimana itik berenang di telaga. Ia melaju dengan tenang dan cantiknya, tanpa membuat permukaan air menjadi berkecipak dan berisik.
Ia pun tak perlu membuat sekujur tubuhnya basah kuyup atau merusakkan bulu-bulunya. Bahkan, berenangnya itik itu sendiri selalu menambah keindahan pandangan seluruh telaga. Namun, tahukah kita bahwa di dalam air sepasang kakinya bekerja keras mengayuh-ayuh. Dan, itu tak tampak oleh mata yang memandangnya.

Kita dapat bekerja dengan keras dan gigih.
Dan untuk itu, kita memang tak perlu menyembunyikan luruhan keringat dan tarikan nafas panjang kelelahan, namun kita dapat mengubahnya sebagai sebuah kesukacitaan.
Itu hanya tercapai bila kita meletakkan sumbangsih kerja kita dalam bingkai indah tentang peraihan hidup.
Karena kerja adalah bagian dari hidup, maka jangan biarkan kerja jadi noda tinta dalam lukisan tentang kehidupan kita.

Monday, November 15, 2010

BATAS DARI SEMUA USAHA

Bila selama sepekan anda telah bekerja dengan gigih, berlari penuh ketergesa-gesaan, dan menggigit gigi sendiri untuk menahan rasa sakit diburu-buru, maka akhir pekan ini adalah saat yang paling baik untuk merenungi apa arti waktu bagi anda. Secepat-cepat anda belari menjadi yang nomor satu, anda takkan pernah mampu melampaui waktu. Sekuat-kuat anda memenangkan pertandingan, pada akhirnya toh anda akan dikalahkan oleh usia anda sendiri. Sehebat-hebat anda menaklukkan puncak gunung, alam memberi langit yang lebih tinggi yang tak terdaki. Bahwa segala sesuatu itu ada batasnya.

Anda perlu tahu batas-batas itu.
Meski tujuan adalah sesuatu yang belum bisa anda capai sekarang; dan ini membuat anda begitu optimis akan hidup esok hari; namun kesadaran akan tepian dari semua kerja anda semestinya menggugah anda untuk menemukan jiwa dalam kerja anda.
Yaitu, silakan kita berkeja sekeras-kerasnya, karena memang untuk itulah anda ada, namun anda sama sekali tak harus menjamin tercapainya semua tujuan itu, karena memang bukan itu tugas anda. Kita hanya harus berusaha.

Wednesday, November 10, 2010

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain. Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya. Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun. Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya. Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat. Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu
menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni. Kita temukan keotentikan diri sendiri. Kritik memang semestinya mendorong agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain. Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya. Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun. Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya. Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat. Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu
menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni. Kita temukan keotentikan diri sendiri. Kritik memang semestinya mendorong agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.

Monday, November 01, 2010

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain.
Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya.
Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun.
Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya.
Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat.
Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni. Kita temukan keotentikan diri sendiri.
Kritik memang semestinya mendorong agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain.
Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya.
Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun.
Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya.
Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat.
Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni.
Kita temukan keotentikan diri sendiri. Kritik memang semestinya mendorong
agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.

Tuesday, October 19, 2010

CINTA MEMANG TAK HARUS MEMILIKI

Bila anda jatuh cinta pada seseorang, jangan siksa diri anda dengan menganggap bahwa cinta anda ditolak. Cinta itu tak pernah tertolak.
Karena, setiap orang senang bahkan butuh dicintai. Wujudkan cinta anda dengan memberikan sesuatu, bukan mengharap-harap akan sesuatu. Sebab, apa yang dilontarkan karena cinta selalu kembali pada hati anda di saat itu juga.
Kebahagiaan dari memberi jauh lebih paripurna ketimbang kebahagiaan karena menerima.

Namun, lain halnya bila anda ingin memiliki sesuatu yang anda cintai.
Keinginan itulah yang menimbulkan pedih yang mengiris-iris.
Jangan menambah siksa anda dengan menginginkan sesuatu.
Jangan sia-siakan cinta anda dengan beban-beban harapan.
Keinginan untuk memiliki mungkin saja tertolak.
Namun, percayalah cinta anda yang sesungguhnya takkan pernah kembali dengan tangan
kosong.

KETRAMPILAN YANG ANDA BUTUHKAN

Setiap kedudukan membutuhkan tingkat keahlian yang berbeda-beda.
Seorang klerk mungkin perlu memiliki ketrampilan tehnis yang mumpuni.
Sedangkan petinggi tak perlu sejauh itu, toh ia bisa memerintah bawahan untuk mengerjakan baginya. Tetapi ia harus memiliki kebijakan dalam mengambil keputusan; sesuatu yang tak terlalu penting bagi klerk yang sehari-hari hanya menunggu perintah. Kita menggambarkannya dengan ibarat dua buah piramida yang saling berbalikan.

Namun, tak peduli seberapa rendah kedudukan anda, atau seberapa tinggi jabatan anda, kita perlu menguasai satu hal demi keberhasilan kerja. Yaitu, ketrampilan berhubungan dengan orang lain. Kita butuh pembeli, kita butuh penjual, kita butuh berhubungan dengan siapa pun. Maka, semua ketrampilan tehnis atau kebijakan pengambilan keputusan itu tak berarti bagi keberhasilan anda, bila anda tak mampu berhubungan baik dengan sesama.

Wednesday, October 13, 2010

PEMIMPIN ADALAH UNTUK MEMIMPIN ORANG LAIN

Memang benar bahwa setiap dari kita adalah pemimpin.
Setidaknya memimpin diri sendiri.
Karena, pemimpin semestinya mampu memimpin diri sendiri, sebelum berdiri di depan orang lain. Namun, belumlah cukup bila anda hanya jadi pemimpin bagi diri sendiri. Karena pemimpin sesungguhnya tidak diciptakan untuk itu. Ia adalah orang yang memikirkan orang lain, bekerja demi sebuah generasi, berkarya untuk sebaris masa. Pemimpin sejati melihat apa yang dibutuhkan manusia dari zaman ke zaman. Bukan mencari keagungan diri sendiri. Pemimpin sejati ada untuk mengorbankan seluruh realisasi
dirinya bagi orang lain.

Karenanya, pemimpin besar tak perlu menyusun ribuan tentara, atau mengumpulkan jutaan barisan pendukung. Ia hanya perlu menundukkan dirinya sendiri yang satu itu, maka orang lain akan mengikuti.

Monday, October 04, 2010

JANGAN TAKUT DENGAN SANJUNGAN

Tak perlu takut menerima sanjungan.
Bila anda dikaruniai wajah tampan atau cantik; bila anda dianugerahi kepintaran; bila anda mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik; bila anda telah berbuat kebaikan; maka mungkin akan ada orang yang memuji anda.
Lebih dari itu, mungkin mereka akan menyanjung dan mengagungkan anda. Pujian dan sanjungan boleh jadi konsekuensi logis dari apa yang telah anda lakukan. Malah itu biasa dan wajar-wajar saja.
Jadi, mengapa anda takut menerima sanjungan?

Tetapi khawatirlah bila anda mulai menikmati sanjungan itu; bila anda mencari-cari tepuk tangan orang yang mengagumi anda; bila anda kesal bila pujian itu tak kunjung tiba. Bukan kalimat indah yang ada pada bibir orang lain, melainkan rasa nikmat dalam diri anda yang meruntuhkan anda sendiri.
Biarkan jutaan pujian datang, namun jangan biarkan ia masuk ke dalam hati.
Pujian itu bagai kertas tissue yang bisa mengusap keringat; mengobati rasa lelah, namun betapa rapuh dan mudah hancur.

Wednesday, September 22, 2010

KENANGLAH KASIH ORANGTUA ANDA

Kenanglah kedua orangtua anda.
Biasanya, di saat orangtua kita masih hidup, tidak mudah bagi kita untuk menghargai kasih sayang mereka. Padahal mereka menebar cinta mereka dalam setiap desah nafas, gerak bibir, dan ayunan langkah mereka. Tak ada yang mereka pikirkan begitu penting selain keluarga mereka, anak cucu mereka, penerus keberlangsungan karya mereka di dunia ini.
Bahkan dalam amarah, kekecewaan dan kesedihan mereka selimuti dengan kasih sayang.

Bagi kita, ini mungkin nasehat tua yang sudah terlalu sering terdengar.
Namun, tak pernah usang, karena orangtua selalu dilahirkan jaman.
Mengenang orangtua sebenarnya mengenang keberadaan diri kita sendiri.
Kita terlahir dari buah kasih sayang, kita tumbuh dalam naungan kasih sayang, kita pun ditinggalkan dengan lambaian kasih sayang.
Memang tak ada yang terlambat, namun sebelum hati dalam anda menyesal, kasihilah orangtua anda.
Bagi mereka, balasan ini jauh lebih berharga dari apa pun yang pernah diperolehnya.
Bagi mereka, itulah bekal sebaik-baiknya untuk menikmati usia senja mereka.

InsyaAlloh.....

Thursday, September 16, 2010

LIHATLAH KEINDAHAN BEGITU SAJA

Setiap saat bumi ini menampakkan keindahannya pada kita.
Kabut yang turun menghalangi pandangan mata.
Angin yang mendesir menaikkan debu-debu jalanan.
Sungai kering yang tinggal menyisakan batu-batu hitam.
Lekak-lekuk lereng gunung yang dipenuhi semak-semak ranggas.
Semua itu jadi penawaran terbaik bagi kita.
Sebuah penawaran apakah kita mau memandangnya sebagai sebuah pesona, atau kita abaikan berlalu tak bermakna.

Menikmati pesona alam memang tak bisa diajarkan, apalagi diperintahkan.
Kita hanya perlu membuka mata, melihat begitu saja, tak memutuskan mana yang indah mana yang buruk.
Karena, bahkan pada seonggok kotoran busuk pun, ribuan serangga mengais-ngais nasibnya.
Bukankah kegigihan mahluk-mahluk kecil itu adalah pesona yang patut memberikan makna dan rasa bersyukur dalam
diri kita?

Monday, September 06, 2010

BUKAN NASEHAT, TETAPI GENGGAMAN ERAT

Adakalanya kita khilaf, alpa, dan lalai. Di saat itu biasanya kita akan mencari-cari berjuta alasan untuk membenarkan tindakan kita. Bila toh sepatah dua patah nasehat dilontarkan orang lain untuk menyadarkan kita, kita malah terdorong untuk bertahan. Meski kita tak menolak peringatan itu, namun tak jarang kita anggap orang lain tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Memang jauh lebih mudah bagi mereka yang tak terjerat persoalan untuk memberikan nasehat, peringatan, bahkan ancaman.

Maka, seringkali yang dibutuhkan bukanlah kata-kata manis mengenai indahnya kebenaran. Kita yang khilaf lebih membutuhkan genggaman erat dari seorang rekan yang memompakan keberanian untuk mengatasi masalah. Bukan kalimat-kalimat, seperti, "kau harus begini, kau jangan begitu", melainkan "mari kita selesaikan bersama-sama". Kita butuh seseorang yang mampu menunjukkan bahwa rasa takut itu bisa ditaklukkan; bahwa rasa sakit itu bisa diredakan; bahwa keberanian itu tak harus mengorbankan banyak hal. Kita tak membutuhkan seseorang yang memojokkan kita di kursi pesakitan. Karena setiap orang bisa salah.

BUKAN NASEHAT, TETAPI GENGGAMAN ERAT

Adakalanya kita khilaf, alpa, dan lalai. Di saat itu biasanya kita akan mencari-cari berjuta alasan untuk membenarkan tindakan kita. Bila toh sepatah dua patah nasehat dilontarkan orang lain untuk menyadarkan kita, kita malah terdorong untuk bertahan. Meski kita tak menolak peringatan itu, namun tak jarang kita anggap orang lain tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Memang jauh lebih mudah bagi mereka yang tak terjerat persoalan untuk memberikan nasehat, peringatan, bahkan ancaman.

Maka, seringkali yang dibutuhkan bukanlah kata-kata manis mengenai indahnya kebenaran. Kita yang khilaf lebih membutuhkan genggaman erat dari seorang rekan yang memompakan keberanian untuk mengatasi masalah. Bukan kalimat-kalimat, seperti, "kau harus begini, kau jangan begitu", melainkan "mari kita selesaikan bersama-sama". Kita butuh seseorang yang mampu menunjukkan bahwa rasa takut itu bisa ditaklukkan; bahwa rasa sakit itu bisa diredakan; bahwa keberanian itu tak harus mengorbankan banyak hal. Kita tak membutuhkan seseorang yang memojokkan kita di kursi pesakitan. Karena setiap orang bisa salah.

Thursday, August 26, 2010

MARI BERSUNYI-SUNYI SEJENAK

Lebih sering ide-ide besar itu datang di saat kita sedang merefleksikan diri.
Yaitu, di saat kita memejamkan pelupuk mata, menepi dari keramaian, melemahkan diri dari segala asa. Yang ada hanyalah keredupan, kesunyian, serta penundukan diri.
Yang ada hanyalah gerak lembut nafas yang menyadarkan kita bahwa tali kehidupan itu masih terhela di sini.
Semua itu menuntun kita untuk melihat sebersit nyala terang obor dalam diri,mendengar bisikan yang terabaikan, serta menyadari keterpautan kita dengan seluruh jagat semesta.

Namun, tidak semestinya kita mencari ide besar di semua balik keheningan itu.
Kita hanya perlu memberanikan diri untuk bertepekur di pagi-pagi buta, berteman dengan kesenyapan, dan membuka pintu diri dari segala kemungkinan.
Ide terbesar bukanlah sesuatu yang harus menjadi monumen kehadiran anda di muka bumi ini, melainkan sesuatu yang anda sama sekali tak berpamrih pada apa-apa.
Anda hanya menyadari, anda berkewajiban melakukan itu sebaik-baiknya, karena itu adalah peran semesta yang dibisikkan oleh nyala obor dalam diri anda.

Wednesday, August 18, 2010

BERDAMAILAH DENGAN PERUBAHAN

Bahkan tumbuhan dan hewan pun beradaptasi.
Mereka menyempurnakan kemampuan hidupnya dari musim ke musim.
Mereka tahu alam tak selamanya berjalan sesuai keinginan.
Namun mereka tahu mereka bagian dari alam itu sendiri.
Karenanya, tak ada jalan yang lebih baik untuk bertahan hidup kecuali menjaga pertautan dengan alam sebaik-baiknya.
Alam bukan saja memilih yang terkuat, tapi juga yang tercerdik.

Dan, kita yang hidup di arus deras jaman ini, dituntut lebih kenyal dalam menghadapi benturan-benturan kemajuan. Kita tak hanya harus kuat dan cerdik, namun juga mampu berdamai dengan segenap perubahan itu. Kekuatan dibutuhkan untuk bertahan dari kencangnya terpaan perubahan. Kecerdikan digunakan agar kita bisa meraih banyak kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Sedangkan kemampuan kita untuk berdamai dengan perubahan tak lain agar kita tak kehilangan ketenangan jati diri kita. Sebagaimana petani di gunung yang tetap menikmati angin lembah, meski suara traktor menderu-deru.

Monday, August 09, 2010

SATU BUMI SEJUTA DUNIA

Semakin panjang usia kita, semakin panjang pula catatan pengalaman hidup kita.
Bagi mereka yang mau memetik pelajaran dari pengalamannya, maka pengalaman jadi kekayaan yang unik baginya.
Usia membawanya pada kebajikan.
Sedangkan bagi mereka yang acuh, pengalaman tak lebih dari goresan di atas pasir pantai. Usia tak menjamin apa-apa selain ketuaan baginya.

Meski kita sama-sama dinaungi oleh langit yang sama; meski kita sama-sama diterangi oleh cahya matahari yang sama; meski kita sama-sama digelapi oleh malam yang sama, namun kita tak pernah sama dalam mencerap semua itu.
Kita melihat cakrawala dari ketinggian yang berbeda.
Kita melangkah di jalan setapak dengan bobot yang berbeda.
Kita mengisi ruang dan waktu ini dengan besar tubuh yang berbeda pula.
Maka, meski kita lahir di bumi yang satu, namun kita hidup di dunia yang berbeda-beda. Kita mempunyai sidik dunia pikiran yang tak sama bagi setiap orang. Keunikan itu takkan banyak berarti bila tak menjadi kekayaan bagi kita. Dan, kekayaan itu tak banyak bermakna bila tak membuat diri kita semakin bijak bestari.

Thursday, July 29, 2010

KEMELUT ADALAH SISI LAIN DARI PERMAINAN YANG BELUM KITA PAHAMI

Apakah anda memandang kemelut yang terjadi ini sebagai sebuah krisis yang merisaukan? Atau, cerita manusia yang memprihatinkan?
Atau, sepotong sejarah bangsa yang memilukan?

Mari kita tanyakan pada bocah-bocah pantai yang sedang berkecipak-cipak di tengah ombak yang menggulung-gulung, apa yang mereka lihat?
Atau, kita tanyakan pada anak-anak jalanan yang tertawa-tawa di sela-sela lalu lintas yang panas menghujam, apa yang mereka lihat?
Atau, kita tanyakan pada balita-balita yang berguling-guling di lembah landai di sisi gunung itu, apa yang mereka lihat?
Mereka melihat dunia ini sebagai tempat bermain-main yang menyenangkan, musim yang baik untuk bercanda ria, dan bumi yang indah untuk menjalin pertemanan. Maka, mengapa kita harus melalaikan bidang yang penuh warna-warni itu?
Mengapa tidak kita isi sesaat dari waktu kita dengan meluangkan kekanak-kanakan menyadarkan diri kita bahwa jangan-jangan kemelut itu tak lebih dari sisi lain dari permainan yang belum kita pahami.

Tuesday, July 20, 2010

HARGA SEBATANG LIDI

Tahukah anda mengapa sebatang sapu lidi begitu murah harganya?
Begitu murahnya sampai-sampai ia jauh lebih murah daripada seteguk air penghilang
dahaga. Padahal anda tahu, ia harus dipetik dari pepohonan kelapa yang ditanam di dusun-dusun jauh di pedalaman. Ia pun harus diserut, dihaluskan, diikat kuat agar mudah digunakan dan tak melukai tangan. Ia harus diangkut oleh banyak kendaraan, melewati banyak pasar, dan naik turun timbangan penawaran.

Karena, ia dipetik oleh tangan-tangan kecil yang tak menuntut banyak upah.
Ia dijalin oleh wanita-wanita yang tak menghitung laba rugi. Ia juga dipikul oleh bahu-bahu legam pria yang tak terlalu mengerti transaksi jual beli.
Sebatang sapu lidi itu begitu murah sampai di tangan kita, karena orang-orang itu tak menghitung jerih perih kerjanya. Mereka pun tak mengkalkulasi butir-butir keringatnya. Maka, mari kita sadari bahwa di balik kemurahan dan kemudahan yang kita cerap sekarang ini, terselip cerita tentang pengorbanan yang jauh lebih berharga ketimbang harga seluruh sapu lidi yang bisa kita beli.

Tuesday, July 13, 2010

SINGKIRKAN DURI-DURI ANDA

Bila anda mempunyai tujuan besar, anda perlu mencari orang-orang yang tepat dan membentuk tim yang kuat untuk mencapainya. Anda juga perlu memompakan semangat, mengikat kata sepakat untuk sama-sama mengupayakan yang terbaik demi tujuan itu. Namun, jangan sekali-kali lupa untuk tak segan-segan menyingkirkan aral penghambat langkah anda. Tak cukup anda mempunyai sepatu beralas tebal, anda perlu menyingkirkan duri dari jalan. Anda tak tahu di sebelah mana duri itu akan menusuk anda.

Petani yang baik tahu, bahwa tak cukup ia mempunyai benih dan lahan terbaik.
Tak cukup pula air dan angin mentari di musim yang terbaik.
Tak cukup pula jerih dan doa ia kerahkan.
Ia tahu, ia harus tak ragu untuk mencabut tanaman dan rumput tanaman pengganggu sawah. Meski tanaman itu adalah mawar indah; meski rumput itu adalah batang tebu yang menyegarkan.
Karena ia tahu, mereka semestinya tumbuh lebih baik di lahan dan di musim yang tepat.