Pages

Monday, November 23, 2009

SILAKAN MENGKRITIK, NAMUN JANGAN MENISTAKAN

Tentu tak seorang pun berhak melarang anda untuk mengkritik. Silakan saja bila anda bermaksud melontarkan yang terpedas sekali pun. Namun, menistakan sesosok pribadi adalah sesuatu yang lain sama sekali. Kekuatan kritik kreatif justru terletak pada bagaimana ia bisa memperbaiki sesuatu tanpa harus merobohkan seluruh bangunan. Dan, selemah-lemahnya kritik adalah yang disertai penghinaan, pengenyahan dan penistaan. Bila demikian, sungguh tak pantas itu dinamai sebuah kritik. Itu hanyalah celoteh anyir yang sama sekali tak perlu dihiraukan.

Mari kita junjung keberadaban tinggi yang telah dibangun berabad-abad oleh leluhur kita. Mari kita pikul sopan santun mulia yang kelak diwariskan pada anak cucu kita. Karena kesejahteraan dalam sebuah bangsa besar hanya tercipta dari tangan-tangan yang berperilaku tulus dan damai, bukan dendam, apalagi penistaan antar sesama.

Monday, November 16, 2009

KEBERHASILAN ORANG LAIN UNTUK KEBERHASILAN ANDA

Ada dua cara menggapai puncak karier. Pertama, anda menginjak pundak orang lain. Atau, kedua, anda meminta orang lain mengangkat anda. Keduanya membawa anda mendaki tangga yang lebih tinggi. Bedanya, cara kedua memberikan pondasi yang sangat kokoh ketimbang yang pertama. Karena, kekuatan sebuah ketulusan takkan tertandingi. Nilai sebuah kerelaan takkan terkalahkan.

Hanya karena anda berkenan menolong orang lain, orang lain pun berkenan menolong anda. Maka mulailah menolong orang-orang di sekitar anda meraih kesuksesan diri mereka. Maka anda boleh berharap mereka pun akan menyediakan lahan keberhasilan untuk anda. Sadarilah, karier anda harus disangga oleh tiang utama, yaitu keberhasilan orang-orang anda berkat bantuan anda.
Prinsipnya sederhana saja: bukalah keberhasilan diri anda dengan membuka pintu keberhasilan orang lain.

Monday, November 09, 2009

JANGAN KEHILANGAN HARAPAN

Sepasang suami istri menggelar dagangannya di trotoar jalan. Saat itu petang turun terburu-buru. Lampu jalan tak cukup terang menerangi dagangan mereka.
Di kanan kiri tumpukan puing-puing bongkaran pasar mengepung. Di depan, berlalu-lalang kendaraan dan langkah-langkah cepat. Siapa pula yang tertarik membeli?
Namun, mereka berdua silih berganti menyapa dan menawarkan dagangan. Kaos anak warna-warni, setangan sebungkus tiga, rok kecil, dan entah apalagi. "Wahai suami istri pedagang, mengapa kalian yakin ada yang membeli dagangan itu. Bagaimana kalian bisa menjajakan barang di keremangan dan keriuhan seperti ini?"

"Kami tak kehilangan harapan," begitu jawabnya. "Itulah satu-satunya kekuatan kami. Kami tak tahu apa dan bagaimana membesarkan usaha ini, namun kami tahu harapan takkan pernah meninggalkan mereka yang menggenggamnya."
Berterima kasihlah pada orang-orang kecil yang memberikan teladan dan menebarkan harapan perbaikan hidup pada kita. Mereka tiang penyangga yang menahan langit dari keruntuhan. Mereka peredup terik mentari kehidupan yang adakalanya terasa panas membakar.

Tuesday, November 03, 2009

KEHADIRAN ANDA DINANTIKAN

Jangan hanya mengirimkan karangan bunga bagi mereka yang sedang berduka cita. Jangan pula hanya menitipkan doa semoga cepat pulih pada mereka yang berbaring derita. Tetapi, datanglah. Jenguklah. Tunjukkan kehadiran anda. Biarkan sentuhan tangan anda memupuskan kesedihan. Kehadiran anda adalah obat terampuh yang takkan bisa dibeli dari tabib terbaik mana pun.

Jangan hanya mengirimkan bingkisan bagi mereka yang sedang bersuka cita.
Jangan pula hanya menitipkan ucapan semoga berbahagia pada mereka yang meruap ceria. Tetapi datanglah. Tengoklah. Tunjukkan kehadiran anda. Biarkan cahya wajah anda menjadi penyuluh kegembiraan. Kehadiran adalah hadiah terbaik yang bisa anda berikan pada siapa pun. Itulah mengapa dunia tak pernah selebar daun talas, karena kehadiran teman baik selalu dinantikan.

Monday, October 26, 2009

BERIKAN BINGKISAN

Ada ratusan toko berjajar di kota ini. Di dalamnya terpajang ribuan bahkan jutaan barang menarik untuk dibawa pulang. Anda hanya perlu sedikit kelapangan hati untuk membeli sebuah produk sederhana, mengemasnya secara hati-hati, menyisipkan secarik ucapan, dan memberinya sebagai bingkisan pada rekan kantor yang telah menjalin kerja baik selama ini. Bukan soal berapa uang yang harus anda belanjakan, namun seberapa panjang hubungan yang ingin anda rajut dengan mereka.

Berikan bingkisan sebagai tanda penghargaan dan terima kasih pada karyawan.
Anda mungkin tak mampu menjadi pemimpin yang baik, menyediakan lingkungan kerja yang menyenangkan, atau memberikan upah yang mencukupi seluruh kebutuhan mereka, namun anda bisa berikan sekotak bingkisan dari lubuk hati anda. Percayalah, sesuatu yang berasal dari hati selalu singgah di hati pula.

Makan saja dulu itu semua

Smiley:

Setelah melalui perjalan yang berat dan melelahkan karena harus melewati tiga bukit dan ngarai, sang petani tiba di rumah kyai. Kyai menanyakan maksud kedatangannya.

Petani: "Saya ingin bertanya, apakah kepiting kali itu halal atau haram?"

Kyai: "Sebelum menjawab itu, saya ingin bertanya terlebih dulu, apakah kamu punya empang?"

Petani: "Punya, Kyai."

Kyai: "Apakah di empangmu dipelihara macam-macam ikan, seperti mujair, tawes, mas, nila, gurami?"

Petani: "Iya , Kyai."

Kyai: "Apakah kamu juga beternak ayam atau bebek seperti petani di sini?"

Petani: "Iya, Kyai."

Kyai: "Nah, kalau begitu, makan dulu saja itu semua, janganlah dulu kamu persoalkan kepiting kali. Bukankah ayam, itik, ikan itupun mungkin tak habis kamu makan, jangan kau susahkan hidupmu dengan persoalan kepiting kali."

Smiley...! Angan-angan menjauhkan kita dari hidup yang sekarang. Bukan persoalan apakah telur atau ayam yang lebih dahulu diciptakan, namun apakah kita bisa memanfaatkan apa yang ada di tangan kita sekarang. Sebutir telur yang nyata-nyata berada dalam genggaman jauh lebih berharga ketimbang seekor ayam di angan-angan.

Wednesday, October 21, 2009

KAMI BUTUH SEORANG MARTIR

Jangan-jangan, sebenarnya kami tak butuh mereka yang bergelar negarawan.
Kami juga tak butuh mereka yang bersematkan bintang-bintang di dada.
Kami pun tak butuh mengangkat pemimpin besar apalagi wakil-wakil permusyawaratan.
Kami hanya butuh seseorang dengan sosok sederhana, yang mengubur ego-nya jauh-jauh ke dalam bumi; yang mempersilakan punggungnya ditempa beban orang lain; yang membolehkan keringatnya dihirup panas mentari; yang tak jera mengerat daging dan memeras darahnya sendiri untuk makan dan minum kami.

Tak ada gunanya gelar terhormat, taburan bintang tanda jasa, kedudukan tinggi dan nama-nama mulia, bila anda yang mengaku pemimpin tak berani mati bagi kami. Kami tak butuh apa-apa, selain secarik nyawa anda yang rapuh itu. Kami hanya butuh martir. Setelah itu, bolehlah anda cantumkan gelar-gelar luhur di bahu anda, meski kami tahu martir tak butuh apa-apa.

KAMI BUTUH SEORANG MARTIR

Jangan-jangan, sebenarnya kami tak butuh mereka yang bergelar negarawan. Kami juga tak butuh mereka yang bersematkan bintang-bintang di dada. Kami pun tak butuh mengangkat pemimpin besar apalagi wakil-wakil permusyawaratan. Kami hanya butuh seseorang dengan sosok sederhana, yang mengubur ego-nya jauh-jauh ke dalam bumi; yang mempersilakan punggungnya ditempa beban orang lain; yang membolehkan keringatnya dihirup panas mentari; yang tak jeri mengerat daging dan memeras darahnya sendiri untuk makan dan minum kami.

Tak ada gunanya gelar terhormat, taburan bintang tanda jasa, kedudukan
tinggi dan nama-nama mulia, bila anda yang mengaku pemimpin tak berani mati
bagi kami. Kami tak butuh apa-apa, selain secarik nyawa anda yang rapuh itu.
Kami hanya butuh martir. Setelah itu, bolehlah anda cantumkan gelar-gelar
luhur di bahu anda, meski kami tahu martir tak butuh apa-apa.

Monday, October 12, 2009

JANGAN KEHILANGAN KEMANUSIAAN KITA

Anda menjumpai seorang lelaki tua, dengan penglihatan yang lamur bahkan hampir buta, berjalan terpincang-pincang, sedang berdiri termangu-mangu berdiri di tepi trotoar, bermaksud menyeberangi jalan raya besar lagi riuh.
Tongkatnya terlepas entah kemana. Apa yang anda lakukan bila itu adalah ayah kandung yang anda cintai sepenuh hati?
Pasti, anda dengan meluluhkan air mata memeluk hangat, menuntun beliau sampai ke seberang. Tak ada kewajiban bagi anak yang berbakti selain menyelamatkan ayah bundanya, meski tahu di hadapan pengadilan, ketuk palu hakim berkata lain.

Namun, apa yang anda lakukan bila lelaki tua itu adalah lawan politik anda?
Akankah anda mendorongnya jatuh ke riol, atau membiarkannya terjerembab di genangan selokan bau? Janganlah perbedaan politis, perbedaan agama, perbedaan garis mata, dan perbedaan apa pun membuat kita kehilangan kemanusiaan kita yang beradab. Boleh kita kibarkan bendera warna-warni, namun janganlah itu menggantikan langit biru yang memayungi semua manusia.

Monday, October 05, 2009

KEHANGATAN DARI PERSAHABATAN

Kita mungkin menganggap, berdiri sebagai pemimpin ibarat berdiri di puncak sepi. Memang benar pucuk-pucuk tinggi hanya berdiri bersendiri. Sedangkan tanaman perdu tumbuh bersemak-semak rimbun. Namun, semestinya hidup tidak sebeku itu, selama anda membalutnya dengan persahabatan. Bahkan, pemimpin besar pun tak mau menyia-nyiakan manisnya persahabatan. Miliki jiwa yang sedemikian hangat sehingga kita bisa memandang setiap orang sebagai teman.

Mari periksa persahabatan yang pernah anda rajut. Jangan biarkan hanyut begitu saja tertelan waktu. Jadikan ia sebagai pelumas yang melembutkan kerasnya benturan dalam kehidupan kerja anda. Rasakan sebuah kekayaan hidup yang tak terkira. Simak saja sebuah pepatah bijak, "hidup tanpa teman, mati pun sendiri."

Monday, September 28, 2009

CERMIN RETAK PENGKRITIK

Kritiklah terus orang lain. Cari dan temukan kesalahan mereka. Meski mereka melakukan keberhasilan, pasti ada banyak bopeng-bopeng yang menarik untuk diungkapkan. Tunjukkan pada orang banyak, bahwa anda mempunyai tatapan setajam elang untuk menemukan kelemahan orang lain. Dengan demikian anda bisa meletakkan diri setingkat lebih tinggi dari mereka. Lalu, temukan apa yang terjadi pada diri anda.

Ya! Kini anda menjadi cermin yang memantulkan bayangan kelabu dari siapa pun yang anda jumpai. Maka, jangan risau bila takkan ada orang yang berkenan berdiri di hadapan anda. Bukan karena mereka tak mau jujur melihat bayangannya sendiri, namun tak seorang pun suka melihat bayangan yang terpantul dari cermin yang retak. Bila anda terus-menerus mengkritik orang lain, anda menunjukkan keretakan yang ada pada diri sendiri. Tak ada tempat yang pantas bagi pecahan cermin, selain dipendam dalam-dalam agar tak melukai telapak kaki yang berderap melangkah maju.

Monday, September 14, 2009

BERTINDAKLAH BENAR DENGAN MENGAKUI KESALAHAN

Rasanya hidup ini banyak memberikan paradoks.
Ketika seseorang berani mengakui kesalahannya, ia tidak sedang mempertontonkan kelemahan, justru menunjukkan ketegaran. Dan, ketegaran adalah kekuatan. Diperlukan segenggam ketegaran agar kita mampu melihat dan mengakui kesalahan.
Terlebih lagi, dibutuhkan sepikul kekuatan untuk meminta maaf dan mengikrarkan sebuah perbaikan.
Akuilah kekhilafan anda.
Ketuklah pintu perbaikan.
Lakukan penuh takjim.
Maka, anda temukan wajah lain dari kesalahan yang patut anda hargai.

Sebagai manusia, kita tidak bisa tidak melakukan kesalahan.
Kebijakan dan pelajaran hidup tak didapat dari mengejar kesempurnaan. Melainkan dari
tindakan yang benar. Salah satunya: berani mengakui kesalahan.

Monday, September 07, 2009

PERLOMBAAN MENDAYUNG

Smiley:

Team manajemen dari perusahaan A dan B mengadakan pertandingan balap dayung.
Masing-masing team berlatih keras dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk mencapai kinerja puncak. Pada hari pertandingan, team perusahaan B memenangkan lomba dengan selisih jarak satu mil.

Team perusahaan A merasa kecewa dengan kekalahan itu. Motivasi dan moral mereka pun menurun. Manajemen perusahaan memutuskan untuk menemukan akar permasalahan mengapa team mereka bisa kalah. Sebuah perusahaan konsultan terkemuka disewa untuk menyelidiki persoalan dan memberikan saran-saran perbaikan.

Setelah beberapa lama dan banyak biaya untuk melakukan penyelidikan, maka ditemukan hal-hal berikut: Team perusahaan B terdiri dari delapan orang pendayung dan satu orang pengemudi. Sedangkan team perusahaan A terdiri dari delapan orang pengemudi dan satu orang pendayung.

Kemudian diajukan sebuah usulan untuk merombak struktur team perusahaan A, menjadi: satu orang yang bertugas general manajer pengemudi, tiga orang manajer pengemudi, tiga orang areal manajer pengemudi, satu orang bertugas mereview bagaimana prestasi dari satu-satunya pendayung yang ada agar bisa memberikan bonus insentif yang mampu meningkatkan prestasinya.

Tahun berikutnya, team perusahaan B menang lagi sejauh dua mil!

Editor: Smiley...! Ada perusahaan yang lebih suka memberikan bonus lebih tinggi pada manajer yang hanya mampu menemukan problem. Sedangkan perusahaan lain yang memenangkan pertandingan lebih suka memberikan bonus lebih tinggi pada pekerja yang menghasilkan produk secara nyata.

SURAT PAMIT DARI SEORANG MANAJER

Seorang manajer menulis ini pada kami: "Setelah delapan tahun bekerja di perusahaan ini, aku kira tak ada yang lebih banyak yang bisa kuberikan selain rasa cintaku pada perusahaan ini, pada setiap detil pekerjaan, pada orang-orang - mulai dari pimpinan tertinggi hingga buruh terrendah - yang sama bekerja di sini, pada produk yang kami hasilkan, pada apa saja, bahkan pada bau asap yang keluar dari cerobong-cerobong pabrik kami. Ketika atasanku mengatakan aku telah melakukan pekerjaan besar, aku kira itu hanya sesuatu yang kecil namun beserta kasih yang besar. Ketika rekan-rekanku mengatakan aku telah merajut keberhasilan, aku kira itu hanya selembar sapu tangan mungil bermanikamkan cinta tak terperi. Karena, keberhasilan yang sejati adalah rantai dari kesempatan, karier, kerja sama, kemajuan, persahabatan, persaudaraan, cinta dan kasih sayang."

"Dan, ketika hari ini aku pamit untuk undur diri dari perusahaan, aku temui tatapan-tatapan syahdu, aku terima bingkisan-bingkisan kecil, aku tenggelam dalam pelukan dan jabatan hangat. Di saat itu aku sadari, cintaku terbalas. Terima kasih." Kasih selalu berbalas kasih. Tugas kita di muka bumi ini tak lain adalah menebarkan kasih sebanyak-banyaknya. Itu saja.

Monday, August 31, 2009

RAJA MAHMUD DAN BUNCIS

Aththar An-Nisaburi

Suatu hari, Raja Mahmud yang perkasa dari Ghazna pergi berburu. Di tengah jalan ia terpisah dari rombongannya. Kemudian ia mendatangi asap yang berasal dari sebuah api kecil. Di sana ia menemukan seorang perempuan tua dengan belanganya.

Raja Mahmud berkata, "Hari ini engkau kedatangan tamu seorang raja. Apa yang kau masak di atas apimu?"

Perempuan tua itu menjawab, "Ini rebusan buncis."

Raja Mahmud bertanya, "Wahai perempuan tua, maukah kau memberiku sedikit?"

"Tidak," jawab perempuan itu. "Karena ini hanya untukku. Kerajaanmu tidak berharga sebagaimana buncis-buncisku ini. Engkau boleh saja menginginkan buncisku, tapi aku tidak menginginkan kerajaanmu, dan apa pun yang engkau miliki. Buncis-buncisku bernilai seratus kali lipat daripada semua milikmu.
Lihat musuh-musuhmu, mereka berusaha merebut kekuasaanmu. Aku bebas, dan memiliki kacang buncisku."

Mahmud yang perkasa memandang pemilik kacang buncis itu, sambil memikirkan kekuasaannya yang dipersengketakan. Ia lalu menangis.

Pojok Renungan Editor: Apa yang kita miliki? Apakah kita terbebas?

(Idries Shah, The Way Of Sufi)


****************************************************************************
Stopper:

Segala sesuatu yang tercipta pasti musnah. Ia yang menyadari hal ini tidak akan menderita. Demikianlah jalan menuju kesucian. (Siddharta Gautama)

Tapa brata dan ilmu pengetahuan tidak dapat membebaskan dirimu dari keterikatan pada dunia benda. Terbebaskan dari keinginan, kau akan terbebas pula dari ikatan dengan dunia benda. (Siddharta Gautama)

Keserakahan menghasilkan kesedihan. Lalu dari kesedihan, timbul rasa takut.
Ia yang tidak serakah, tidak akan sedih dan takut. (Siddharta Gautama)

YANG KAMI PINTA DARI PEMIMPIN AGUNG

Ketika anda berdiri di depan rakyat banyak. Berdiri dengan gagah, seolah dunia berada di pijakan. Menunjukkan telunjuk jauh ke depan. Menjanjikan padang rumput hijau tempat ternak berkembang. Mengiming-imingi cahya terang benderang. Kala itu, jangan, sekali lagi jangan, bayangkan anda jadi seorang maharaja dengan sekepal kekuasaan di tangan. Kala itu, jangan, sekali lagi jangan, bermimpi anda jadi kaisar bermahkotakan mutu manikam. Itu tak lebih dari angan-angan usang penyumpal lubang telinga kami.

Mungkin benar, bahwa anda berdiri penuh pesona di sana sebagai pemimpin agung, penunjuk jalan sejarah, atau bahkan maha raja di raja. Namun, semestinya anda juga sadar, sekali lagi sadar sepenuh hati, bahwa anda seharusnya siap menjadi seorang martir bagi rakyat, negara, dan seluruh dunia ini. Karena kami mengikuti anda bukan cuma meminta sedikit keringat anda, atau setetes air mata anda, melainkan sekujur darah anda, dan selembar nyawa anda yang tipis itu. Pengorbanan anda seutuhnya. Itulah mengapa pemimpin disebut pemimpin.

Thursday, August 27, 2009

HAK KITA MENILAI HITAM DAN PUTIH

Apalah gunanya membedakan orang ke dalam kelompok hitam dan putih?
Takkah cukup bagi kita untuk menilai sebuah tindakan, tanpa meneruskan penghakiman
pada sang pelaku? Adakah hak itu diberikan pada diri kita? Bila ya, pantaskah kita menganugerahkan pujian atau menjatuhkan hukuman padahal kita takkan mampu melihat pantulan wajah kita di cermin jernih melalui kacamata buram?

Bukankah setiap dari kita memiliki kesempatan yang sama untuk berbuat hitam atau putih? Bahkan, seringkali kita ini tak lebih tegar ketimbang buih di tengah ombak. Rapuh. Lemah. Apalah artinya keimanan yang kita basahkan di bibir, jika suara hati masih terus mempertanyakan ketulusannya. Itulah mengapa, menerima manusia seutuhnya adalah menerima keunggulan sekaligus kekhilafannya. Memang mudah melihat cahya apa yang terpancar dari bola mata orang lain, namun mendengar gemuruh yang menderu-deru jauh di dalam rawa-rawa kalbu adalah hal yang sama sekali lain. Bahkan, mendengar rintihan dalam kalbu sendiri adalah tugas yang tak kalah sulitnya. Bila demikian,
masihkah kita merasa berhak menilai hitam dan putihnya seseorang?

Tuesday, August 25, 2009

SEBUAH OLIMPIADE YANG ISTIMEWA

Soul's Bread:

Beberapa tahun lalu, diadakan olimpiade khusus orang-orang cacat di Seattle.
Saat itu dilakukan pertandingan lari jarak 100 meter. Sembilan pelari telah bersiap-siap di tempat start masing-masing.

Ketika pistol tanda pertandingan dinyalakkan, mereka semua berlari, meski tidak tepat berada di garis lintasannya, namun semuanya berlari dengan wajah gembira menuju garis finish dan berusaha untuk memenangkan pertandingan.
Kecuali, seorang pelari, anak lelaki, tiba-tiba tersandung dan terjatuh berguling beberapa kali. Ia lalu menangis.

Delapan pelari mendengar tangisan anak lelaki yang terjatuh itu. Mereka lalu memperlambat lari mereka dan menoleh ke belakang. Mereka semua berbalik dan berlarian menuju anak lelaki yang terjatuh di tanah itu.

Semuanya, tanpa terkecuali.

Seorang gadis yang menyandang cacat keterbelakangan mental menunduk, memberikan sebuah ciuman padanya dan berkata, "Semoga ini membuatmu merasa lebih baik." Kemudian kesembilan pelari itu saling bergandengan tangan, berjalan bersama menyelesaikan pertandingan menuju garis finish.

Seluruh penonton yang ada di stadion itu berdiri, memberikan salut selama beberapa lama. Mereka yang berada di sana saat itu masih saja tak bosan-bosannya meneruskan kejadian ini. Tahukah anda mengapa? Karena di dalam diri kita yang terdalam kita tahu bahwa: dalam hidup ini tak ada yang jauh lebih berharga daripada kemenangan bagi kita semua. Yang terpenting dalam hidup ini adalah saling tolong menolong meraih kemenangan, meski kita harus mengalah dan mengubah diri kita sendiri.

SEBUAH OLIMPIADE YANG ISTIMEWA

Soul's Bread:

Beberapa tahun lalu, diadakan olimpiade khusus orang-orang cacat di Seattle.
Saat itu dilakukan pertandingan lari jarak 100 meter. Sembilan pelari telah bersiap-siap di tempat start masing-masing.

Ketika pistol tanda pertandingan dinyalakkan, mereka semua berlari, meski tidak tepat berada di garis lintasannya, namun semuanya berlari dengan wajah gembira menuju garis finish dan berusaha untuk memenangkan pertandingan.
Kecuali, seorang pelari, anak lelaki, tiba-tiba tersandung dan terjatuh berguling beberapa kali. Ia lalu menangis.

Delapan pelari mendengar tangisan anak lelaki yang terjatuh itu. Mereka lalu memperlambat lari mereka dan menoleh ke belakang. Mereka semua berbalik dan berlarian menuju anak lelaki yang terjatuh di tanah itu.

Semuanya, tanpa terkecuali.

Seorang gadis yang menyandang cacat keterbelakangan mental menunduk, memberikan sebuah ciuman padanya dan berkata, "Semoga ini membuatmu merasa lebih baik." Kemudian kesembilan pelari itu saling bergandengan tangan, berjalan bersama menyelesaikan pertandingan menuju garis finish.

Seluruh penonton yang ada di stadion itu berdiri, memberikan salut selama beberapa lama. Mereka yang berada di sana saat itu masih saja tak bosan-bosannya meneruskan kejadian ini. Tahukah anda mengapa? Karena di dalam diri kita yang terdalam kita tahu bahwa: dalam hidup ini tak ada yang jauh lebih berharga daripada kemenangan bagi kita semua. Yang terpenting dalam hidup ini adalah saling tolong menolong meraih kemenangan, meski kita harus mengalah dan mengubah diri kita sendiri.

KEKUASAAN ADALAH TANGGUNG JAWAB

Mereka yang ceroboh menganggap kekuasaan adalah hak bagi setiap orang.
Oleh karena itu, mereka berlomba-lomba mendapatkan dan mendekapnya erat-erat.
Bila perlu menumbuhkannya jadi sebuah pohon besar yang dipenuhi mitos dan cerita seram penuh kegentaran.
Maka tak usah heran, ketika sekelompok orang ceroboh bertemu, tak lain yang mereka ributkan hanyalah membagi ini dan itu.
Semata-mata demi sejumput tanah tempat tumbuh semak belukar.
Kekuasaan akan jadi mahkota duri yang akan melukai pelipisnya sendiri.

Sedangkan bagi mereka yang bijak, kekuasaan adalah kata lain dari wajah tanggung jawab.
Tak ada tempat lain untuk meletakkannya selain di pundak.
Bukan di genggaman. Bukan pula di kepalan.
Ia harus dimintai keterangan: untuk apa dan bagaimana ia diperankan.
Karenanya, kekuasaan tunduk pada kepada siapa yang memberikan, bukan kepada siapa ia diberikan.
Mereka yang bijak memikul kekuasaan dengan takjim.
Sekali lancung, tak ada yang perlu lagi dipercayakan.