Pages

Wednesday, April 29, 2009

SURAT YANG AKAN ANDA TERIMA

Anggap saja anda bekerja pada sebuah perusahaan, dan dalam beberapa minggu ini akan mengundurkan diri. Di hari terakhir, perusahaan memberikan surat referensi kerja. Menurut anda, apakah anda akan menerima secarik kertas berisikan keterangan kerja yang diimbuhi sedikit basa-basi bahwa perusahaan puas dengan hasil kerja anda? Sebuah surat yang juga diterima oleh jutaan pekerja di dunia ini - sebuah surat yang terasa hambar dan tak lagi bermakna ritual.

Ataukah anda akan menerima selembar penghargaan yang ditulis sendiri oleh pemimpin perusahaan, berisikan pujian tulus atas prestasi luar biasa anda, dan penyesalan mendalam akan kepergian anda? Sebuah surat yang lebih layak anda pasang dalam pigura ketimbang dilampirkan pada surat lamaran kerja berikutnya.

Renungkan mulai saat ini: referensi apa yang kelak anda terima? Apa pun yang esok kita terima adalah buah dari benih yang kita tanam kemarin, kita siangi hari ini, dan kita rawat sepanjang hari.

Wednesday, April 22, 2009

BUKAN OPTIMIS, BUKAN PULA PESIMIS

Kacamata optimis memandang kue donat dan mengabaikan lubangnya.
Sedangkan kacamata pesimis hanya melihat lubang dan menyingkirkan donatnya.
Padahal,kenyataannya adalah, sebuah kue donat tersaji di depan anda, lengkap dengan
lubangnya. Optimis atau pesimis hanya sebuah alat bantu dalam memandang dunia ini. Apa pun yang anda pilih, bukanlah realita yang sedang terpampang.
Bahkan, ia takkan mengubah realita itu. Pandangan anda mengubah diri anda sendiri. Ia mempengaruhi langkah anda. Ia memberikan pilihan-pilihan bagi anda: dunia yang terang, ataukah buram.

Adakalanya kita perlu meluruhkan kacamata itu dan memandang begitu saja tanpa setitik pemikiran; memandang apa adanya; memandang sepolos mungkin.
Maka akan anda temukan suatu dunia yang benar-benar baru lahir.
Sebuah dunia yang tak memberati pilihan anda dengan kecemasan dan harapan.
Bahkan ia tak perlu memberikan pilihan apa-apa.

Monday, April 13, 2009

BERIKAN KETULUSAN, BUKAN KESEMPURNAAN

Beberapa buruh menemui sang majikan. Mereka mengeluhkan ongkos angkutan yang semakin mahal, dan meminta sang majikan untuk bersedia membantu.
Perusahaan itu sudah ada di sana bertahun-tahun, turun-temurun.
Mereka sendiri sudah saling mengenal baik. Sang majikan mengatakan bahwa sebenarnya beliau ingin sekali membantu, namun keuangan perusahaan tak cukup memungkinkan. Sedangkan menyediakan kendaraan angkutan yang layak pun kesulitan. Hanya ada dua buah
truk tua yang biasa digunakan untuk mengangkut barang. Bila pekerja tak keberatan, mereka bisa memakainya untuk antar jemput setiap hari. Ternyata, para pekerja itu menyambut dengan gembira. Kata mereka, "Kami ini buruh kecil yang terbiasa hidup berat. Naik truk berdesak-desakan bukan hal yang sulit buat kami." Dan, keesokan hari berbondong-bondong para buruh itu berangkat dan pulang kerja bersama-sama. Tidak seorang pun ada yang terlambat datang.

Bila anda bermaksud memberikan sesuatu bagi orang lain, jangan tunggu semuanya sempurna. Ketulusan adalah jawaban terutama.

Sunday, April 12, 2009

BERSAING DALAM KEBERSAMAAN

Lebih dari sepuluh pedagang rujak manis berjajar-jajar di tepi sebuah jalan raya ramai. Setiap ada kendaraan yang menepi mereka berdiri menjajakan dagangannya.
Ketika kendaraan itu berhenti di salah satu pedagang, yang lain kembali duduk tanpa kehilangan harapan. Beberapa tahun lalu hanya satu dua saja pedagang yang menggelar rujak manisnya di sana. Kini jalan itu dikenal dengan nama jalan rujak manis.

Wahai pedagang, tidakkah dengan demikian kalian bersaing ketat satu sama yang lain?
Salah seorang pedagang menjawab, "Ah, mengapa kami harus menganggap yang lain sebagai pesaing?
Setiap pagi dan petang kami sama-sama mendorong rombong datang dan pergi di jalan ini. Bahkan setiap saat kami bisa saling bertukar-tukar buah bila ada yang membutuhkan.
Kami dikenal karena beramai-ramai berdagang di jalan ini. Pedagang yang lebih suka berdagang sendiri di tempat lain lebih sulit mendatangkan pembeli. Kami menyebutnya bersaing dalam kebersamaan."

Monday, April 06, 2009

Indahnya malam pertama

Satu hal sebagai bahan renungan Kita...
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam Dan Hawa
Justru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu....mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan

Seluruh badan Kita terbuka....
Tak Ada sehelai benangpun menutupinya. .
Tak Ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok Dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang - lubang itupun ditutupi kapas putih...
Itulah sosok Kita.....
Itulah jasad Kita waktu itu
Setelah dimandikan.. .,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
Kain itu ....jarang orang memakainya..

Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan
Wewangian ditaburkan ke baju Kita...
Bagian kepala..,badan. .., Dan kaki diikatkan
Tataplah.... tataplah. ..itulah wajah Kita
Keranda pelaminan... langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian...
Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul
Kita diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan

Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir
Akad nikahnya bacaan talkin....
Berwalikan liang lahat..
Saksi - saksinya nisan-nisan. .yang tlah tiba duluan
Siraman air mawar..pengantar akhir kerinduan
Dan akhirnya.... . Tiba masa pengantin..
Menunggu Dan ditinggal sendirian...
Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama bersama KEKASIH..
Ditemani rayap - rayap Dan cacing tanah

Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi....
Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat...
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur...
Ataukah Kita kan memperoleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu...Dan tak seorangpun yang tahu....
Tapi anehnya Kita tak pernah galau ketakutan... ..

Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air mata...
Seolah barang berharga yang sangat mahal...
Dan Dia Kekasih itu.. Menetapkanmu ke syurga..
Atau melemparkan dirimu ke neraka..
Tentunya Kita berharap menjadi ahli syurga...
Tapi.....tapi .....sudah pantaskah sikap kita selama ini...
Untuk disebut sebagai ahli syurga

Kita coba menyimpan ALLAH didalam MASJID pada hari Jum'at......
Mungkin malam JUM'AT?
Dan sewaktu solat MAGRIB SAJA?
Kita suka ALLAH pada masa kita sakit....
Dan sudah pasti waktu ada kematian...

Walau bagaimanapun kita tidak ada waktu atau ruang untuk ALLAH waktu bekerja atau bermain?
Karena...
Kita merasakan diwaktu itu kita mampu dan sewajarnya mengurus sendiri tanpa bergantung padaNYA.

Semoga ALLAH mengampuni aku karena menyangka... ...
Bahwa nun di sana masih ada tempat dan waktu dimana ALLAH bukan lah yang paling utama dalam hidup ku (nauzubillah)

Kita sepatutnya senantiasa mengenang akan segala yang telah DIA berikan kepada kita.
DIA telah memberikan segala-galanya kepada kita sebelum kita meminta.
ALLAH Dia adalah sumber kewujudanku dan Penyelamatku
IA lah yang mengerakkan ku setiap detik dan hari.
TanpaNYA aku adalah AMPAS yang tak berguna.
Susah vs. Senang
Kenapa susah sekali menyampaikan kebenaran?

Kenapa mengantuk dalam MASJID tetapi ketika selesai ceramah kita segar kembali?
Solat adalah yang terbaik.... Tidak perlu bayaran , tetapi ganjaran lumayan.
Notes: Tidak kah lucu betapa mudahnya bagi manusia TIDAK Beriman PADA ALLAH setelah itu heran kenapakah dunia ini menjadi neraka bagi mereka.

Tidakkah lucu bila seseorang berkata "AKU BERIMAN PADA ALLAH" TETAPI SENTIASA MENGIKUT SYAITAN. (who, by the way, also "believes" in ALLAH ).

Tidakkah lucu bagaimana anda mampu mengirim ribuan email lawak yang akhirnya tersebar bagai api yang tidak terkendali., tetapi bila anda mengirim email mengenai ISLAM, sering orang berpikir 10 kali untuk berkongsi?

Tidakkah mengherankan bagaimana anda merasa risau akan tanggapan orang kepada saya lebih dari tanggapan ALLAH terhadap anda..

Aku berDOA , untuk semua yang mengirim pesan ini kepada semua rekan mereka di rahmati ALLAH

Thursday, April 02, 2009

CINTA TAK BUTUH ALASAN

Adakah alasan bagi kita untuk tidak berbuat baik bagi orang lain?
Bahkan untuk berbuat baik, kita tak memerlukan sebuah alasan apa pun. Karena cinta pada sesama tidak membutuhkan pertimbangan, apalagi kalkulasi untung dan rugi. Kasih sayang semestinya mengalir begitu saja, seperti air dari mata air yang berbondong-bondong terjun ke lautan.

Bahkan kita ini bagai ikan kapas yang berenang-renang dalam samudra cinta.
Kita terselimuti cinta. Kita terbasahi cinta. Tarikan dan hembusan nafas adalah air cinta. Sayang, sebuah kasih tak selalu begitu saja memancar dari diri kita. Sebuah cinta tak gampang terserap oleh diri kita. Acapkali kita bentengi diri dengan pikiran yang berusaha membenarkan dan mencari-cari alasan di balik semua anugerah yang ada ini. Seringkali pikiran menjadi batu penghambat gemericik air itu: pikiran yang penuh pamrih dan prasangka.

MENJALIN HUBUNGAN

LEMBAR 6:

Kita mahfum bahwa manusia adalah mahluk sosial yang tak dapat hidup seorang diri. Ia selalu butuh bergaul, menjalin hubungan bahkan mengikatkan dirinya dengan manusia lain. Manusia membutuhkan teman. Manusia butuh untuk mengenal dan dikenal oleh orang lain. Manusia tak bisa hidup seorang diri seumur hidupnya. Sudah menjadi kodratnya, sejak lahir hingga wafatnya manusia memerlukan orang lain. Seorang pakar membagi tingkat-tingkat hubungan manusia menjadi tiga fase. Pertama, manusia tergantung pada orang lain. Pada fase ini ia belum banyak tahu tentang berbagai hal sehingga selalu
memerlukan pertolongan orang lain. Ini merupakan kesadaran tingkat awal diri seseorang dalam memahami hubungannya dengan orang lain. Fase berikutnya, manusia merasa tidak lagi tergantung pada orang lain. Ia menyebutnya sebagai kemandirian. Ia merasa mampu mengatasi semua persoalan sebagai akibat bertambahnya kepercayaan diri dan wawasannya. Namun fase ini bukanlah bentuk fase akhir. Pada fase ketiga, fase kesalingtergantungan, manusia menyadari bahwa hubungan antar manusia adalah hubungan yang saling membutuhkan satu sama lain. Ini adalah fase ideal dan alami yang dapat diterapkan dalam hubungan kita dengan orang lain. Hubungan antar manusia terjalin karena adanya kesalingtergantungan.

Pertanyaan #1--Apakah anda merasakan kebutuhan anda untuk bermasyarakat?
Berteman? Atau setidaknya berkenalan dengan orang-orang yang ada di sekitar anda? Mengapa? Apakah karena anda memerlukan mereka? Atau mereka yang memerlukan anda? Apa makna "memerlukan" itu bagi anda?

Hubungan kita dengan orang lain terjalin semenjak lahir. Secara aktif kita memperluas hubungan dan membina pergaulan dengan "orang luar" ketika memasuki masa sekolah. Hubungan persahabatan kita biasanya juga berasal dari teman-teman yang kita kenal di sekolah semenjak kecil. Kemampuan kita untuk berkenalan, bergaul, berteman, membina persahabatan kita asah sejak dini.
Beberapa orang mempunyai kepribadian tertentu yang menyebabkan ia begitu mudah mendapatkan teman, sedang bagi beberapa orang lain tampak sulit.
Sebenarnya para pakar percaya bahwa bergaul adalah sebuah ketrampilan yang bisa dipelajari. Meski kita tak perlu mengubah seluruh sendi-sendi kepribadian, namun kita bisa pelajari bagaimana kita bisa membuka hubungan.
Bagaimana pun sebuah kepribadian yang khas merupakan kekuatan kita dalam berinteraksi dengan orang lain. Hubungan terkuak ketika kita menemukan persamaan di antara kita, baik persamaan tujuan, minat, tempat, dan lain sebagainya. Beberapa hubungan terjadi karena suatu kesengajaan. Dan, lebih banyak hubungan terjalin karena terjadi begitu saja. Lebih banyak persinggungan kita dengan orang lain terjadi tanpa tanpa harus bisa kita pahami mengapa. Oleh karena itu kemampuan bergaul yang baik bukan sekedar ketrampilan yang bisa dipelajari begitu saja, melainkan juga sebuah penanaman nilai-nilai dalam diri yang menunjang keterbukaan kita untuk bisa berhubungan dengan orang lain tanpa menimbulkan masalah. Bergaul adalah tentang kesadaran akan keterkaitan diri kita dengan orang lain dan lingkungan.

Pertanyaan #2--Atas dasar apakah anda bersedia berkenalan dan menjalin hubungan dengan orang lain?

Persoalannya bukan bagaimana kita bisa membuka sebuah hubungan, namun kesadaran mengapa kita melakukan hubungan. Dalam dunia bisnis, kita belajar bahwa hubungan kita jalin karena adanya kepentingan yang harus kita penuhi.
Kita menghubungi pemasok atau pelanggan karena kebutuhan kita akan kerja sama mereka. Hal ini tentu tidak salah. Namun, perlu disadari bahwa ketika kita membuka sebuah pintu hubungan, pintu itu akan senantiasa terbuka. Tak mungkin kita menghapus hubungan. Ia akan senantiasa ada di sana, dalam bentuk apa pun. Hubungan yang kita jalin hari ini, sadar atau tidak, masih akan memberikan "sesuatu" bagi kita hingga bertahun-tahun ke depan, bahkan ketika kita sudah wafat sekali pun. Pemahaman ini menuntun kita untuk menyadari bahwa tak ada satu hal yang lebih berharga dalam sebuah hubungan selain menjalinnya dengan kebaikan. Prinsipnya sederhana saja, siapa yang menabur angin akan menuai badai. Bila kita menjalin hubungan dengan baik,
maka kebaikan pula yang akan kita tuai.

Pertanyaan #3--Apakah anda "mengenal" teman-teman dan orang-orang yang ada di sekitar anda? Apakah anda menemukan "anda" pada orang-orang di sekitar anda? Apakah anda percaya bahwa mereka menjadi cermin bagi diri anda?

Orang-orang yang kita kenal adalah cermin berjalan bagi diri kita.
Penerimaan yang hangat dari orang lain adalah sebuah balasan atas penerimaan kita yang hangat pada orang lain. Sebaliknya, penerimaan yang dingin tak lain tak bukan hanya cerminan dari dinginnya perlakuan kita pada orang lain.
Cepat atau lambat kita akan menyadari hal ini.

Pertanyaan #4--Apakah anda mampu berbaik hati pada orang-orang yang anda kenal?
Tak menaruh prasangka dan kepentingan-kepentingan pribadi selain hubungan itu sendiri?

Banyak orang menganggap bahwa menjalin hubungan adalah dengan berbicara secara aktif. Jarang disadari bahwa mendengar secara aktif adalah sebuah bentuk komunikasi lain yang menunjukkan sebuah penerimaan. Mari kita perhatikan bahasa yang kita gunakan dalam sebuah perbincangan. Tak jarang kita tergerak untuk mengucapkan, "saya adalah ... ", "saya pernah ...", dan seterusnya. Tanpa disadari sebenarnya ini adalah sebuah bentuk halus dari kecenderungan ego yang bisa menyebabkan gagalnya sebuah hubungan terbina dengan baik. Pada awalnya, suatu hubungan terbentuk karena adanya kepentingan, namun menjalin hubungan bukan untuk kepentingan diri sendiri.

Pertanyaan #5--Menurut anda, apakah makna kenalan, teman, sahabat? Apakah anda memiliki banyak sahabat?

Hidup ini terasa kaya bila kita dikelilingi oleh orang-orang yang baik pada kita. Kenalan, teman, sahabat, kerabat, saudara, siapa pun yang ada di sekitar kita adalah kekayaan yang tiada terkira. Sebaliknya kita pun dapat menjadi kekayaan bagi orang lain dengan bersikap baik pada mereka. Menjalin hubungan semestinya adalah untuk saling memperkaya, memperkuat, satu sama lain.

KEGIATAN ALTERNATIF

Anda perlu mengenal orang-orang yang ada di sekitar anda. Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak anda mengenal dan menilai seberapa jauh pemahaman anda akan orang lain. Di sudut yang lain, juga untuk mengajak anda menyadari apa yang ada di balik setiap hubungan yang anda jalin selama ini.

1--Tuliskan nama, baik nama maupun julukan, dari teman-teman anda semasa sekolah (SMA) dahulu. Apakah di saat anda menuliskannya anda mampu mengingat wajah, perilaku, atau hal-hal lain yang menarik dari mereka? Hitung berapa banyak nama yang mampu anda ingat dan anda tulis. Apakah anda merasa mempunyai teman-teman yang baik?

2--Kini tuliskan status dari teman-teman anda tadi. Misal, pendidikan, perkawinan, alamat tempat tinggal dan kerja mereka. Apakah anda hingga kini masih terhubungkan dengan teman-teman anda? Bila ya, mengapa? Apa yang merekatkan hubungan anda dengan mereka? Apakah karena usaha? Atau sekedar pertemanan itu sendiri?

3--Tuliskan nama, dan keterangan lain tentang teman-teman sekerja anda sekarang. Semestinya anda mampu mengingat wajah, perilaku, dan kekhasan mereka lainnya. Anggap saja anda adalah seorang manajer personalia yang diminta untuk memberikan referensi bagi teman-teman anda tersebut yang sedang mencari pekerjaan. Berilah rekomendasi berdasarkan penilaian anda.
Temukan apakah anda mampu mengenal mereka dengan cukup baik?

4--Kini coba anda pelajari dan pahami, seandainya teman-teman anda bertindak sebagai seorang manajer personalia yang anda minta rekomendasi atau referensinya untuk anda yang sedang mencari pekerjaan. Tuliskan, apakah teman anda tersebut mengenal anda dan bersedia memberikan rekomendasi sesuai yang anda maksud? Apakah anda merasa cukup dikenal oleh orang lain? Apa kesan mereka terhadap anda yang telah bergaul sekian lama?

5--Amati orang-orang yang ada di sekitar anda. Apakah ketika bertatapan mata dengan anda mereka menunjukkan penerimaan pada tatapan anda? Apakah anda cukup hangat? Dingin? Atau anda tidak tahu bagaimana sebenarnya anda sendiri.

Kita selalu berhubungan dengan orang lain. Kita mampu berhubungan dengan baik saat masing-masing orang mengenal persamaan-persamaan. Itulah mengapa "kenal" berarti tahu dan dekat. Bahkan ketika kita tahu tentang perbedaan pun, itu tak berarti menutup sebuah hubungan.

JANGAN LEPASKAN KEBAIKAN DARI DIRI ANDA

Berbuat baiklah agar anda tak tahu sedang melakukan kebaikan. Semestinya anda tak perlu merasa baik, karena di saat anda merasakannya, kebaikan itu mengambil jarak dari anda. Ia menjadi sesuatu yang lain dari diri anda.
Semestinya kebaikan menyatu dalam diri kita.

Saat mengasah pisau, takkan anda dapati ia menjadi tajam, hingga anda berhenti untuk merasakan ketajamannya. Di saat anda melakukan kebaikan, anda tak perlu berusaha untuk menyadarinya. Biarkan kebaikan mengalir begitu saja, karena hanya bila anda berhenti sajalah anda baru bisa merasakannya.
Dan di saat berhenti, kebaikan itu bukan lagi milik anda. Di saat anda berusaha merasakannya, kebaikan itu sudah menjadi milik pisau.

Tuesday, March 31, 2009

PERLOMBAAN CONTINOUS IMPROVEMENT PROCESS

Sebuah perusahaan multinasional menawarkan hadiah sebesar Rp. 1.000.000,-
bagi karyawan yang mempunyai ide untuk menghemat biaya perusahaan.

Dan, hadiah pertama jatuh pada karyawan yang mengusulkan untuk menghemat jumlah
hadiah perlombaan itu menjadi Rp. 500.000,- saja.

Smiley...! Terkadang untuk menghemat kita mengeluarkan biaya tambahan bukan?

(Unknown)

MENCURI JIWA YANG TAK BERDOSA

Seorang raja mengunjungi penjara kerajaan. Ia lalu menanyai setiap tahanan mengapa mereka sampai dijebloskan ke sana. Satu demi satu para tahanan itu bersikeras bahwa mereka tidak bersalah, mereka dijebak, atau pengadilan telah melakukan sesuatu yang sama sekali tak adil.

Kemudian raja tiba pada tahanan terakhir, "Dan kau, apakah kau juga menganggap dirimu tak berdosa?"

"Tidak, Yang Mulia," jawab tahanan itu. "Aku memang seorang pencuri. Aku telah diadili dan dihukum secara adil. Dan, aku menerimanya."

"Kau mengaku kau pencuri?" tanya raja dengan penuh kaget.

"Ya, Yang Mulia."

"Lempar pencuri ini keluar dari sini!" perintah raja.

Pencuri itu lalu dikeluarkan dari penjara. Tentu saja para tahanan lain menjadi geger. Mereka memprotes keputusan raja, "Yang Mulia, bagaimana anda bisa melakukan hal itu? Mengapa kau membebaskan seorang penjahat yang mengakui kejahatannya, sedangkan kami..."

"Ah, aku hanya takut saja," kata raja tersenyum. "Bahwa pencuri tengik itu akan mencuri semua jiwamu yang tak berdosa itu."

Smiley...! Penerimaan akan sebuah keadilan, meski itu merupakan hukuman, adalah sebuah bentuk dari pembebasan yang lain bagi jiwa.

(Leo Rosten, The Joys of Yiddish)

PERJALANAN KE DALAM DIRI

Bersediakah kita mengakui bahwa meski mendapatkan semua jawaban atas pertanyaan hidup ini? Hidup bukan saja menyodorkan pertanyaan yang tak terjawab. Hidup adalah misteri. Karenanya, tak perlulah kita memaksakan diri mencari semua jawaban. Terlebih dahulu, pahami saja kesadaran diri atas alam ini. Tak bisalah kita berikan sesuatu pada dunia ini sebelum mengenal sosok diri sendiri.

Hidup adalah sebuah perjalanan. Dan perjalanan terpenting adalah penitian ke dalam hati: menemukan diri sejati. Semakin tinggi gunung didaki, tibalah di kaki mahameru. Semakin tinggi mahameru dipanjat, tibalah di kaki langit. Tak mungkin kita tapaki kaki langit, kita harus terbang melayang, menggapai lidah matahari, dan lebur dalam tungku cahayanya.

Thursday, March 26, 2009

YANG MANAKAH ANDA?

Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang.
Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul.

Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak perempuannya ke dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel.
Lalu, pada panci kedua ia memasukkan telur. Dan, pada panci ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk. Ia membiarkan masing-masing mendidih.
Selama itu ia terdiam seribu basa.

Sang anak menggereget gigi, tak sabar menunggu dan heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api.
Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring.
Kemudian ia mengambil telur dan meletakkanya pada piring yang sama. Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga. Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, "Apa yang kau lihat, nak?"

"Wortel, telur, dan kopi, " jawab sang anak.

Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras.
Kemudian sang ayah meminta anak itu mencicipi kopi. Sang anak tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu. "Apa maksud semua ini, ayah?" tanya sang anak.

Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lunak dan lemah.
Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah direbus menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi tumbuh berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya itu.

"Maka, yang manakah dirimu?" tanya sang ayah pada anaknya. "Di saat kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada dirimu?
Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji kopi?"

****************************************************************************
Stopper:

Dalam rangkaian persitiwa di dalam hidup saya, tak satu pun yang kebetulan.
Setiap hal terjadi sesuai dengan kebutuhan batin kita. (Hannah Senesh)

Jiwa harus selalu terbuka, siap menyambut pengalaman yang mengesankan.
(Emily Dickinson)

Bila kita menjadi diri kita sendiri, bila kita hidup secara sederhana, maka hidup yang indah akan kita nikmati. (Alexandra Stoddard)

SIAPA YANG MAMPU MENOLAK IDE ANDA

Jangan anggap anda tertolak atau dicampakkan hanya karena orang lain
mengatakan "tidak" pada usul anda. Jangan anggap apa yang ada dalam benak
anda harus dapat diiyakan oleh orang lain. Bila anda merasa berhak memiliki
pendapat sendiri, maka orang lain juga bebas mempunyai pemikirannya sendiri.
Bukalah kesempatan lebar-lebar dengan tidak menutup kesempatan bagi orang
lain.

Saat usul anda tidak disepakati, sebenarnya terbuka pilihan lain bagi anda.
Bila anda mengiranya sebagai penolakan, anda menjauhkan diri dari
kemungkinan yang lebih luas. Penolakan takkan kuasa menahan bertambahnya
bobot suatu ide. Namun, bila anda bersempit-sempit pikiran, ide itu gugur
begitu saja, tanpa sempat berusaha menegakkan kepala. Perbedaan bukan hanya
melahirkan keindahan, melainkan juga kekuatan dan manfaat. Hanya mereka yang
tak mengerti yang menganggapnya sebagai bencana.

Sunday, March 22, 2009

LEBIH BANYAK KEGEMBIRAAN DALAM KERJA SAMA

Hasil kerja sebuah tim dapat dipahami secara sederhana saja.
Seutas rami takkan mampu mengikat seerat tali rami.
Sebatang rumput bukanlah sehampar padang savana yang sanggup memberi makan bagi banyak hewan ternak. Selebat hujan lebih bisa menebarkan kesegaran ke penjuru bumi daripada setetes gerimis. Bekerja bersama memberikan lebih banyak.

Anda mungkin mampu mengerjakan semuanya sendiri saja.
Anda pun mungkin tak membutuhkan uluran pertolongan orang lain.
Namun, dalam sebuah kerja sama, ada sesuatu yang takkan anda temukan saat bekerja sendiri: kegembiraan.
Pepatah mengatakan, makan sendiri bersempit-sempit, makan bersama berlapang-lapang. Anggota tim kerja anda bukan sekedar bagian dari sebuah mesin organisasi, mereka adalah rekan anda. Dan hanya dengan memanggil rekan kerja sebagai rekanlah, kelelahan pupus, kegembiraan meruak.

Monday, March 16, 2009

BENARKAH ANDA TAK DAPAT DIGANTI?

Kolom Pakar:
Everett T. Suters

Sistem mekanis mensyaratkan kemungkinan untuk mengganti seluruh bagian.
Semua bagian dari pesawat terbang harus mempunyai cadangan atau harus bisa diganti dengan bagian yang sama dari pesawat sejenis. Hal yang sama berlaku juga di dalam sistem manajemen. Semua bagian di dalam organisasi harus mempunyai cadangan atau kemungkinan untuk diganti. Jika manajer mempunyai anak buah yang tidak bisa diganti maka ia bukanlah seorang manajer yang baik.

Di dalam job description personel manajemen atau non manajemen harus ada pengaturan yang jelas bahwa pekerjaan itu distrukturkan, didokumentasikan dan didelegasikan sedemikian rupa sehingga tidak memberi peluang adanya orang yang tak tergantikan.

Banyak orang di dalam organisasi yang berusaha untuk membuat dirinya tak tergantikan. Merekla mempunyai asumsi yang salah, yaitu bahwa semakin sukar mereka diganti semakin aman pekerjaan atau jabatan mereka. Semakin mereka tidak tergantikan maka semakin berharga mereka di mata organisasi. Ini adalah hal yang salah dan merupakan paradoks manajemen. Orang-orang yang tidak bisa tergantikan merupakan batu sandungan bagi kemajuan teman-teman lainnya di dalam organisasi. Ia merupakan rintangan bagi seseorang di bawahnya yang ingin tumbuh dalam pekerjaannya.

Orang-orang yang tak tergantikan juga merupakan gangguan bagi atasan. Jika seseorang menjadi sukar untuk diganti maka masalah-masalah di dalam organisasi acapkali berkembang menjadi keadaan darurat, dan keadaan ini mudah sekali berkembang menjadi sebuah krisis. Pada saatnya nanti ia harus meninggalkan pekerjaannya, dan tanggung jawab yang dipikulnya itu terpaksa diambil alih oleh atasan; bukan oleh anak buahnya, sebagaimana lazimnya.
Lalu sang atasan tergopoh-gopoh harus mengatur dirinya agar bisa keluar dari situasi ini, karena di atasnya tidak ada lagi seseorang yang menjadi tempat ia mengalihkan tanggung jawab itu. Dan yang lebih parah lagi, pada saat yang sama, direktur juga mempunyai pekerjan yang harus dilakukannya sendiri.

Di dalam organisasi usaha yang kecil, pimpinan seringkali enggan mendelegasikan atau tak mampu mendelegasikan pekerjaan, karena ia tak mempunyai orang yang tepat di dalam organisasinya. Pada hakekatnya, sindrom bos yang tak tergantikan ini menjadi penyebab utama tingginya angka kematian bisnis kecil, dan juga menjadi penyebab banyaknya bisnis kecil yang tak bisa berkembang. Sukar atau mudahnya seorang manajer diganti seringkali menjadi pembeda antara suatu sistem manajemen yang efektif dan manajemen "warung kopi".

Adanya orang yang sukar untuk diganti adalah hal yang biasa terjadi di banyak organisasi. Tapi pemecahannya mudah saja: cuti. Atasan orang yang sukar untuk diganti itu seyogyanya sudah jauh-jauh hari mengingatkannya untuk mengambil cuti selama satu atau dua minggu. Dewasa ini umumnya orang jarang mengambil cuti dan seandainya ia mengambil cuti maka itu pun hanya untuk masa satu atau dua hari.

Karyawan yang diminta untuk mengambil cuti hendaklah bisa menyusun suatu rencana pengalihan tanggung jawab selama ketidakhadirannya. Karena itu jugalah, anda perlu mengingatkannya jauh-jauh hari sebelumnya agar karyawan tersebut mempunyai cukup waktu untuk meikirkan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat ketidakhadirannya dan mulai melakukan tindakan untuk mengatasi konsekuensi tersebut. Dan, jauh-jauh hari pula sang atasan harus memberi isyarat bahwa ia tak akan mengambil alih tugas tersebut darinya.

Selama si karyawan cuti, tentu saja ada beberapa masalah yang timbul, dan pimpinan puncak terpaksa harus turun tangan langsung. Tapi dalam hal ini para pimpinan sudah mempunyai kesempatan untuk melihat apa yang terjadi dan melakukan tindakan perbaikan. Lalu, bila si karaywan kembali dari cuti, maka uraian pekerjannya tentu perlu diperbaiki, sehingga si karyawan lebih bisa diatur dan diarahkan demi kebaikannya sendiri, kebaikan anak buahnya, dan kebaikan organisasi.

Apakah anda juga termasuk dalam kategori orang yang tak bisa digantikan?
Untuk mengukur hal ini, cobalah untuk menjawab pertanyaan berikut ini:

1--Apakah anda mengambil seluruh hak cuti anda, ataukah anda mencicilnya satu dua hari setiap kali anda mengambil cuti?

2--Bila sedang cuti, apakah anda selalu menelepon kantor dan mencoba melakukan pekerjaan anda dari jarak jauh?

3--Manakah yang lebih anda tekankan, memanajemeni aktivitas atau memanejemeni hasil?

4--Apakah anda demikian sibuknya, sehingga berbicara dengan anak buahpun hanya pada jam-jam tertentu yaitu sebelum dan sesudah jam kantor?

5--Apakah di antara bawahan anda ada gejala frustasi dan moral yang rendah?

6--Manakah yang lebih banyak terjadi: anak buah anda dipromosikan pada jabatan yang lebih tinggi di dalam organisasi anda, atau anak buah anda mendapat promosi yang lebih tinggi di luar organisasi anda?

7--Seberapa sering masalah berkembang menjadi keadaan darurat, dan keadaan darurat menjadi krisis, bila anda tidak hadir di kantor?

8--Bila anda sedang tidak berada di kantor, siapakah yang menangani pekerjaan anda? Apakah anak buah atau atasan anda?

Masalah ini bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Banyak orang mengalaminya, dan merasakan betapa sakitnya menjadi orang yang sukar untuk digantikan.
Penulis sendiri pernah merasakan bagaimana tertekan dan cemasnya karena
tidak bisa tenang meninggalkan pekerjaan. Setelah saya nyaris mati karena beban pekerjaan itu, maka barulah saya membuat suatu rencana yang terarah untuk menata diri keluar dari situasi tersebut. Untungnya, saya adalah pemilik dari perusahaan saya, sehingga tak ada seorang pun yang langsung mencela kesalahan saya atau menekan untuk mengubah cara saya.

Kritik yang paling keras yang bisa dilontarkan pada seorang manajer adalah apabila ia kelihatan sukar untuk digantikan atau apabila ia mentolerir adanya orang-orang yang sukar untuk diganti di kalangan anak buahnya. Dan seorang manajer yang baik haruslah mengambil berbagai langkah yang diperlukan untuk menata dirinya keluar dari keadaan ini.

(Everett T. Suters, Bisnis dan Manajemen)

****************************************************************************
Stopper:

Ia yang rendah hati karena penuh percaya diri dan bijak. Ia yang sombong merasa tak aman dan selalu kekurangan. (Lisa Edmondson)

Apa yang dunia butuhkan adalah lebih banyak jenius dengan kerendahan hati.
Sekarang ini, hanya sedikit sekali yang tertinggal. (Oscar Levant)

KITA SAMA-SAMA MEMBUTUHKAN KASIH SAYANG

Apalah artinya perbedaan dibandingkan dengan banyaknya persamaan di antara kita. Bukankah kita sama-sama membutuhkan sesuap nasi tanak dan seteguk air segar demi memenuhi lapar dan dahaga? Kita juga sama-sama menangis di kala sedih dan tertawa di saat gembira. Kita sama-sama gemetar sewaktu ketakutan melanda serta tergelak ketika kegembiraan menerpa. Kita sama-sama berkeringat di bawah terik matahari, dan menggigil ditelan dinginnya malam.
Tidakkah kita melihat begitu banyak persamaan di antara kita sampai-sampai muskil menghitungnya?

Lalu mengapa secuil perbedaan yang dipicu oleh keinginan, hasrat dan nafsu menyangsikan semua kesamaan kita? Mengapa kita, seolah memiliki lebih banyak waktu untuk mengais-ais perbedaan, menggoreskan garis pemisah, memancang bendera kami dan kau? Tidak cukupkah satu persamaan di antara kita berikut ini memupuskan kegigihan untuk mempertahankan warna-warna itu: bukankah kita sama-sama membutuhkan kasih sayang?

Sunday, March 15, 2009

SURGA BERSAMA SAHABAT

Seorang lelaki tua dan anjingnya sedang berjalan-jalan di sebuah jalan desa, menikmati pemandangan. Tiba-tiba ia tersadar bahwa ia baru saja meninggal dunia. Ia pun ingat di saat meregang nyawa, anjingnya yang telah menemani hidupnya selama ini juga telah meninggal. Kini mereka bersama-sama berada di sebuah alam baka.

Setelah berjalan bersama sekian lama, mereka tiba di sebuah bukit. Sepanjang sisi jalannya berhiaskan batu pualam yang indah. Pada puncaknya berdiri sebuah patung indah dimana sinar matahari memendar dari balik patung itu. Ia terkagum melihat indahnya pintu gerbang yang terbuat dari permata dan mutiara, sedangkan jalan setapak menuju pintu gerbang tersusun dari emas murni.

Ia senang sekali karena merasa akhirnya telah tiba di surga. Kemudian sambil menuntun anjingnya ia menuju pintu gerbang. Ketika dekat pintu gerbang ia melihat seseorang penjaga duduk di balik meja berukir indah. Ia menyapa orang tersebut, "Maafkan saya, apakah ini surga?"

"Ya, benar sekali tuan," jawab penjaga gerbang.

"Waw, kalau begitu bolehkah saya meminta sedikit air?" pinta lelaki tua itu.

"Tentu saja, tuan. Silakan masuk dan ambillah air minum sepuas anda."
Kemudian penjaga gerbang itu memberi isyarat dengan ibu jarinya, dan pintu gerbang yang besar itu pun perlahan-lahan terbuka.

"Bolehkah saya mengajak sahabat saya ini masuk?" pinta lelaki tua itu sambil menunjuk pada anjingnya.

Tetapi penjaga gerbang menjawab, "Maaf sekali tuan, kami tidak membolehkan hewan peliharan masuk."

Lelaki tua itu berpikir sejenak lalu mengucapkan terima kasih pada penjaga gerbang itu. Mereka berbalik dan melanjutkan perjalanannya kembali.

Setelah lama berjalan mereka tiba di sebuah bukit yang lain, tetapi kali ini jalannya lebih kotor, di ujung jalan terbuka sebuah pintu gerbang pertanian.
Tidak ada pagar di sisi jalan, rumput tumbuh sembarangan, pintu gerbang itu tampaknya tak pernah tertutup. Ketika ia berada dekat pintu gerbnag itu, di dalamnya ia melihat seorang lelaki sedang duduk di sebuah kursi goyang di bawah bayangan pohon dan sedang membaca buku.

"Permisi tuan!" teriak lelaki tua itu pada pembaca buku. "Apakah anda mempunyai air untuk kami minum?"

"Tentu saja. Ada pompa air di sebelah sana," sahut pembaca buku itu sambil menunjuk ke sebuah tempat yang tak tampak dari luar gerbang. "Masuklah, anggap saja rumahmu sendiri."

"Bagaimana dengan temanku ini?" tanya lelaki tua itu. Ia menunjuk pada anjingnya.

"Oh, ia boleh masuk. Kami mempunyai mangkuk air di sebelah pompa itu," jawabnya.

Kemudian mereka masuk ke dalam gerbang, dan menemukan sebuah pompa tangan tua dengan sebuah gayung dan mangkuk tergeletak di sampingnya. Lelaki tua itu mengisi mangkuk dengan air hingga penuh dan memberikan pada anjingnya.
Setelah itu ia meneguk air untuk mengobati hausnya sendiri.

Ketika mereka sudah cukup minum, mereka kembali menemui pembaca buku itu yang tampaknya sedang menunggu mereka. Lelaki tua itu bertanya, "Tempat apakah ini?"

"Ini surga," jawab pembaca buku itu.

"Wah, ini sangat membingungkan kami," kata lelaki tua itu. "Tempat ini sama sekali tak seperti surga. Di ujung jalan di sebelah sana ada seseorang yang mengatakan bahwa bukit itulah yang surga."

"Oh, apakah yang anda maksudkan adalah bukti dengan jalan yang terbuat dari emas dan pintu gerbang yang terbuat dari permata itu?" tanya pembaca buku.

"Ya, bukankah itu tempat yang sangat indah."

"Bukan, itu adalah neraka."

"Tidakkah anda salah menyebutnya sebagai neraka tempat yang indah seperti itu?"

"Tidak. Saya mengerti mengapa anda berpendapat demikian, tetapi bukanlah seperti itu. Keindahan yang ditampakkannya itu menipu sehingga membuat orang tega meninggalkan sahabat terbaiknya dalam penderitaan."

Pojok Renungan Editor: Tak perlu memperdebatkan konsep surga neraka dalam cerita di atas, namun pesan yang ingin disampaikannya. Keindahan seringkali hanya ilusi yang membuat kita membiarkan sahabat-sahabat kita berada dalam penderitaan.

TIPS AGAR TIDAK MENDAPATKAN KENAIKAN KARIER

Tentu saja hal ini tidak dianjurkan bagi mereka yang sedang berusaha meraih pengembangan diri. Tips berikut hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah kehilangan gairah kerja dan tak mau menerima tantangan baru. Namun dengan menambah kata "tidak" di depan setiap tips berikut, kita dapat menggunakannya untuk mendorong kemajuan diri dan memperoleh kenaikan karier.
Berikut cara cepat untuk tidak memperoleh kenaikan karier, sekaligus merupakan pantangan bagi mereka yang mengharap kemajuan karier. Silakan mencoba.

1--Banyak-banyaklah mengeluh.

Setiap ada kesempatan, sampaikan keluhan anda. Selalu ada saja hal yang dapat kita keluhkan. Mulai dari, kondisi kerja yang buruk, atasan yang menyebalkan, kolega yang tidak mau bekerja sama, atau bahkan kamar mandi yang kotor. Semakin banyak anda mengeluh semakin besar kemungkinan anda tidak lulus dalam pertimbangan kenaikan pangkat.

2--Selesaikan pekerjaan ala kadarnya.

Jadilah mediokrat. Tak usah mengejar hasil yang lebih baik. Apalagi bila atasan tidak mengungkit-ungkitnya. Untuk apa susah-susah meningkatkan kualitas pekerjaan bila hasil minmal dan sekedarnya sudah cukup. Tolaklah setiap rencana pelatihan bagi diri anda. Semua itu tidak seberapa berguna.

3--Tolaklah tugas-tugas baru.

Jangan mau menerima tugas-tugas baru. Bukankah anda sudah terbebani oleh tugas-tugas rutin sehari-hari. Anda tidak memiliki cukup waktu dan tenaga untuk mengerjakan hal-hal baru. Mintalah orang lain saja untuk melakukannya.
Biarkan diri anda asyik dengan apa yang anda kerjakan bertahun-tahun lamanya.

4--Kerjakan tugas kantor di jam kerja kantor.

Datang dan pulanglah tepat waktu. Meski pekerjaan anda belum selesai, toh masih ada hari esok. Tidak ada istilah pekerjaan rumah bagi anda. Jangan mau melakukan kerja lembur. Anda harus memberikan perhatian pada keluarga sebaik-baiknya, maka tak perlu membawa pekerjaan pulang ke rumah. Selesaikan semuanya di kantor.

5--Tidak usah merayakan keberhasilan.

Tak usah repot-repot mengikuti perayaan keberhasilan perusahaan. Semua pekerjaan memang harus diselesaikan. Jadi, tak ada alasan untuk berbangga-bangga ikut merayakan keberhasilan. Itu semua biasa. Pilihlah untuk segera pulang ke rumah atau menyendiri daripada berkumpul dengan rekan-rekan kantor apalagi atasan. Tak usah pula menunjukkan batang hidup anda di setiap acara dan kesempatan kantor.

6--Menjauhlah dari atasan.

Bergaul dengan atasan dapat menghambat penurunan karier anda. Jagalah jarak.
Bertemu dan berbicaralah secukupnya. Bila ada sesuatu yang perlu disampaikan, katakan lewat sekretarisnya beliau. Jangan sampai ada hubungan yang terlalu erat antara anda dengan atasan.

MENGAPA KITA TAK TAHU MASA DEPAN?

Mengapa kebanyakan dari kita tak dianugerahi kemampuan untuk melihat masa depan, meski hanya beberapa saat saja? Bukankah bila saja kita tahu pasti apa yang terjadi esok, kita bisa mempersiapkan banyak langkah untuk menghadapinya. Mengapa ada tembok tebal yang menghalangi pandangan antara detik sekarang dan sedetik kemudian?

Tunggu, jangan terburu berprasangka! Alam selalu bertindak adil. Kebanyakan orang tak cukup tangguh untuk berusaha, dan terlalu cepat berpuas diri saat menggenggam sedikit keberhasilan. Andaikata kita tahu bahwa keberhasilan tergeletak hanya beberapa detik di depan, kita akan berhenti sekarang dan terlena dalam kebanggaan. Begitu juga, seandainya kita tahu esok akan penuh kegagalan, maka hari ini kita mungkin sedang berputus asa dan termangu-mangu penuh penyesalan. Alam mendorong kita untuk terus maju, dan hidup penuh kesadaran akan saat ini, bukan ilusi esok hari.

Tuesday, February 10, 2009

Kegiatan alternatif mengendalikan emosi

Kegiatan alternatif kali ini bertujuan untuk mengajak anda berlatih mengenali bentuk-bentuk emosi yang melintas dalam pikiran, juga mengamati gerak-gerik emosi yang terjadi dalam diri seseorang. Diharapkan dengan demikian kita bisa memahami bahwa emosi kita selalu berhubungan emosi orang lain. Emosi ibarat sebuah awan yang meliputi anda dan sekitar.
Anda mempengaruhi orang lain dengan emosi anda, atau lebih tepatnya dengan
pikiran anda.

1--Lakukan relaksasi di awal hari anda. Ada banyak metode relaksasi, anda bisa coba yang paling sesuai dengan diri anda. Cara paling awam adalah dengan mengamati gerak naik turun nafas anda secara alami. Lakukan selama 10 atau 20 menit. Cobalah perlahan-lahan. Jangan paksakan diri. Biarkan semuanya berjalan apa adanya. Apakah anda bisa menemukan pikiran yang tenang dalam relaksasi itu? Apakah anda mampu menemukan suatu keadaan yang bersih dari emosi-emosi yang biasanya mempengaruhi diri anda?

2--Pahami ketenangan yang anda rasakan. Kemudian, melangkahlah dalam kegiatan sehari-hari. Berusahalah untuk mengamati setiap gerak emosi yang terjadi dalam diri anda. Apakah anda mampu menangkap setiap "debu" emosi yang menodai ketenangan pikiran anda?

3--Catat setiap perubahan yang terjadi secara fisik dan psikis dalam diri anda. Misal, di saat anda marah, catat perubahan yang terjadi dalam degub jantung anda, rasa panas/dingin dalam diri anda, kekacauan dalam kesadaran anda, atau bahkan hilangnya diri anda karena tertelan oleh kemarahan itu. Catat dan amati saja, tak perlu melakukan apa-apa.

4--Pada tengah hari, coba lakukan kegiatan relaksasi lagi. Temukan ketenangan pikiran itu lagi. Mungkin anda akan merasakan sebuah kesulitan karena lebih banyak "debu" yang harus anda bersihkan.

5--Dengan bekal ketenangan coba amati dan catat setiap perubahan emosi yang terjadi yang ditunjukkan oleh orang-orang (pilih 1 rekan baik anda sebagai bahan percobaan) di sekitar anda. Apakah anda mampu membedakan mana orang yang senantiasa mengendalikan dirinya, dan mana orang yang cenderung mengumbar emosinya.

Mengendalikan emosi adalah mengendalikan pikiran. Emosi itu bagai sepertik bunga api yang memancar dari awan, sedangkan pikiran adalah kayu kering yang mudah sekali terbakar oleh pertikan bunga api. Mengendalikan pikiran adalah menjaga agar kayu kering itu tak mudah terbakar, yaitu dengan menjaga ketenangan pikiran. Mengendalikan emosi adalah juga menjaga ketenangan diri.

Stopper :
Kita terluka dan menderita secara emosional, bukan karena tindakan orang lain atau apa yang diucapkan atau tidak diucapkan oleh orang lain, melainkan karena sikap mental dan tanggapan kita sendiri. (Maxwell Maltz)

Tidak ada pekerjaan yang rendah, yang ada hanyalah sikap mental yang rendah. (Bill Bennett)