Pages

Tuesday, March 31, 2009

PERLOMBAAN CONTINOUS IMPROVEMENT PROCESS

Sebuah perusahaan multinasional menawarkan hadiah sebesar Rp. 1.000.000,-
bagi karyawan yang mempunyai ide untuk menghemat biaya perusahaan.

Dan, hadiah pertama jatuh pada karyawan yang mengusulkan untuk menghemat jumlah
hadiah perlombaan itu menjadi Rp. 500.000,- saja.

Smiley...! Terkadang untuk menghemat kita mengeluarkan biaya tambahan bukan?

(Unknown)

MENCURI JIWA YANG TAK BERDOSA

Seorang raja mengunjungi penjara kerajaan. Ia lalu menanyai setiap tahanan mengapa mereka sampai dijebloskan ke sana. Satu demi satu para tahanan itu bersikeras bahwa mereka tidak bersalah, mereka dijebak, atau pengadilan telah melakukan sesuatu yang sama sekali tak adil.

Kemudian raja tiba pada tahanan terakhir, "Dan kau, apakah kau juga menganggap dirimu tak berdosa?"

"Tidak, Yang Mulia," jawab tahanan itu. "Aku memang seorang pencuri. Aku telah diadili dan dihukum secara adil. Dan, aku menerimanya."

"Kau mengaku kau pencuri?" tanya raja dengan penuh kaget.

"Ya, Yang Mulia."

"Lempar pencuri ini keluar dari sini!" perintah raja.

Pencuri itu lalu dikeluarkan dari penjara. Tentu saja para tahanan lain menjadi geger. Mereka memprotes keputusan raja, "Yang Mulia, bagaimana anda bisa melakukan hal itu? Mengapa kau membebaskan seorang penjahat yang mengakui kejahatannya, sedangkan kami..."

"Ah, aku hanya takut saja," kata raja tersenyum. "Bahwa pencuri tengik itu akan mencuri semua jiwamu yang tak berdosa itu."

Smiley...! Penerimaan akan sebuah keadilan, meski itu merupakan hukuman, adalah sebuah bentuk dari pembebasan yang lain bagi jiwa.

(Leo Rosten, The Joys of Yiddish)

PERJALANAN KE DALAM DIRI

Bersediakah kita mengakui bahwa meski mendapatkan semua jawaban atas pertanyaan hidup ini? Hidup bukan saja menyodorkan pertanyaan yang tak terjawab. Hidup adalah misteri. Karenanya, tak perlulah kita memaksakan diri mencari semua jawaban. Terlebih dahulu, pahami saja kesadaran diri atas alam ini. Tak bisalah kita berikan sesuatu pada dunia ini sebelum mengenal sosok diri sendiri.

Hidup adalah sebuah perjalanan. Dan perjalanan terpenting adalah penitian ke dalam hati: menemukan diri sejati. Semakin tinggi gunung didaki, tibalah di kaki mahameru. Semakin tinggi mahameru dipanjat, tibalah di kaki langit. Tak mungkin kita tapaki kaki langit, kita harus terbang melayang, menggapai lidah matahari, dan lebur dalam tungku cahayanya.

Thursday, March 26, 2009

YANG MANAKAH ANDA?

Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang.
Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul.

Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak perempuannya ke dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel.
Lalu, pada panci kedua ia memasukkan telur. Dan, pada panci ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk. Ia membiarkan masing-masing mendidih.
Selama itu ia terdiam seribu basa.

Sang anak menggereget gigi, tak sabar menunggu dan heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api.
Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring.
Kemudian ia mengambil telur dan meletakkanya pada piring yang sama. Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga. Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, "Apa yang kau lihat, nak?"

"Wortel, telur, dan kopi, " jawab sang anak.

Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras.
Kemudian sang ayah meminta anak itu mencicipi kopi. Sang anak tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu. "Apa maksud semua ini, ayah?" tanya sang anak.

Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lunak dan lemah.
Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah direbus menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi tumbuh berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya itu.

"Maka, yang manakah dirimu?" tanya sang ayah pada anaknya. "Di saat kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada dirimu?
Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji kopi?"

****************************************************************************
Stopper:

Dalam rangkaian persitiwa di dalam hidup saya, tak satu pun yang kebetulan.
Setiap hal terjadi sesuai dengan kebutuhan batin kita. (Hannah Senesh)

Jiwa harus selalu terbuka, siap menyambut pengalaman yang mengesankan.
(Emily Dickinson)

Bila kita menjadi diri kita sendiri, bila kita hidup secara sederhana, maka hidup yang indah akan kita nikmati. (Alexandra Stoddard)

SIAPA YANG MAMPU MENOLAK IDE ANDA

Jangan anggap anda tertolak atau dicampakkan hanya karena orang lain
mengatakan "tidak" pada usul anda. Jangan anggap apa yang ada dalam benak
anda harus dapat diiyakan oleh orang lain. Bila anda merasa berhak memiliki
pendapat sendiri, maka orang lain juga bebas mempunyai pemikirannya sendiri.
Bukalah kesempatan lebar-lebar dengan tidak menutup kesempatan bagi orang
lain.

Saat usul anda tidak disepakati, sebenarnya terbuka pilihan lain bagi anda.
Bila anda mengiranya sebagai penolakan, anda menjauhkan diri dari
kemungkinan yang lebih luas. Penolakan takkan kuasa menahan bertambahnya
bobot suatu ide. Namun, bila anda bersempit-sempit pikiran, ide itu gugur
begitu saja, tanpa sempat berusaha menegakkan kepala. Perbedaan bukan hanya
melahirkan keindahan, melainkan juga kekuatan dan manfaat. Hanya mereka yang
tak mengerti yang menganggapnya sebagai bencana.

Sunday, March 22, 2009

LEBIH BANYAK KEGEMBIRAAN DALAM KERJA SAMA

Hasil kerja sebuah tim dapat dipahami secara sederhana saja.
Seutas rami takkan mampu mengikat seerat tali rami.
Sebatang rumput bukanlah sehampar padang savana yang sanggup memberi makan bagi banyak hewan ternak. Selebat hujan lebih bisa menebarkan kesegaran ke penjuru bumi daripada setetes gerimis. Bekerja bersama memberikan lebih banyak.

Anda mungkin mampu mengerjakan semuanya sendiri saja.
Anda pun mungkin tak membutuhkan uluran pertolongan orang lain.
Namun, dalam sebuah kerja sama, ada sesuatu yang takkan anda temukan saat bekerja sendiri: kegembiraan.
Pepatah mengatakan, makan sendiri bersempit-sempit, makan bersama berlapang-lapang. Anggota tim kerja anda bukan sekedar bagian dari sebuah mesin organisasi, mereka adalah rekan anda. Dan hanya dengan memanggil rekan kerja sebagai rekanlah, kelelahan pupus, kegembiraan meruak.

Monday, March 16, 2009

BENARKAH ANDA TAK DAPAT DIGANTI?

Kolom Pakar:
Everett T. Suters

Sistem mekanis mensyaratkan kemungkinan untuk mengganti seluruh bagian.
Semua bagian dari pesawat terbang harus mempunyai cadangan atau harus bisa diganti dengan bagian yang sama dari pesawat sejenis. Hal yang sama berlaku juga di dalam sistem manajemen. Semua bagian di dalam organisasi harus mempunyai cadangan atau kemungkinan untuk diganti. Jika manajer mempunyai anak buah yang tidak bisa diganti maka ia bukanlah seorang manajer yang baik.

Di dalam job description personel manajemen atau non manajemen harus ada pengaturan yang jelas bahwa pekerjaan itu distrukturkan, didokumentasikan dan didelegasikan sedemikian rupa sehingga tidak memberi peluang adanya orang yang tak tergantikan.

Banyak orang di dalam organisasi yang berusaha untuk membuat dirinya tak tergantikan. Merekla mempunyai asumsi yang salah, yaitu bahwa semakin sukar mereka diganti semakin aman pekerjaan atau jabatan mereka. Semakin mereka tidak tergantikan maka semakin berharga mereka di mata organisasi. Ini adalah hal yang salah dan merupakan paradoks manajemen. Orang-orang yang tidak bisa tergantikan merupakan batu sandungan bagi kemajuan teman-teman lainnya di dalam organisasi. Ia merupakan rintangan bagi seseorang di bawahnya yang ingin tumbuh dalam pekerjaannya.

Orang-orang yang tak tergantikan juga merupakan gangguan bagi atasan. Jika seseorang menjadi sukar untuk diganti maka masalah-masalah di dalam organisasi acapkali berkembang menjadi keadaan darurat, dan keadaan ini mudah sekali berkembang menjadi sebuah krisis. Pada saatnya nanti ia harus meninggalkan pekerjaannya, dan tanggung jawab yang dipikulnya itu terpaksa diambil alih oleh atasan; bukan oleh anak buahnya, sebagaimana lazimnya.
Lalu sang atasan tergopoh-gopoh harus mengatur dirinya agar bisa keluar dari situasi ini, karena di atasnya tidak ada lagi seseorang yang menjadi tempat ia mengalihkan tanggung jawab itu. Dan yang lebih parah lagi, pada saat yang sama, direktur juga mempunyai pekerjan yang harus dilakukannya sendiri.

Di dalam organisasi usaha yang kecil, pimpinan seringkali enggan mendelegasikan atau tak mampu mendelegasikan pekerjaan, karena ia tak mempunyai orang yang tepat di dalam organisasinya. Pada hakekatnya, sindrom bos yang tak tergantikan ini menjadi penyebab utama tingginya angka kematian bisnis kecil, dan juga menjadi penyebab banyaknya bisnis kecil yang tak bisa berkembang. Sukar atau mudahnya seorang manajer diganti seringkali menjadi pembeda antara suatu sistem manajemen yang efektif dan manajemen "warung kopi".

Adanya orang yang sukar untuk diganti adalah hal yang biasa terjadi di banyak organisasi. Tapi pemecahannya mudah saja: cuti. Atasan orang yang sukar untuk diganti itu seyogyanya sudah jauh-jauh hari mengingatkannya untuk mengambil cuti selama satu atau dua minggu. Dewasa ini umumnya orang jarang mengambil cuti dan seandainya ia mengambil cuti maka itu pun hanya untuk masa satu atau dua hari.

Karyawan yang diminta untuk mengambil cuti hendaklah bisa menyusun suatu rencana pengalihan tanggung jawab selama ketidakhadirannya. Karena itu jugalah, anda perlu mengingatkannya jauh-jauh hari sebelumnya agar karyawan tersebut mempunyai cukup waktu untuk meikirkan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat ketidakhadirannya dan mulai melakukan tindakan untuk mengatasi konsekuensi tersebut. Dan, jauh-jauh hari pula sang atasan harus memberi isyarat bahwa ia tak akan mengambil alih tugas tersebut darinya.

Selama si karyawan cuti, tentu saja ada beberapa masalah yang timbul, dan pimpinan puncak terpaksa harus turun tangan langsung. Tapi dalam hal ini para pimpinan sudah mempunyai kesempatan untuk melihat apa yang terjadi dan melakukan tindakan perbaikan. Lalu, bila si karaywan kembali dari cuti, maka uraian pekerjannya tentu perlu diperbaiki, sehingga si karyawan lebih bisa diatur dan diarahkan demi kebaikannya sendiri, kebaikan anak buahnya, dan kebaikan organisasi.

Apakah anda juga termasuk dalam kategori orang yang tak bisa digantikan?
Untuk mengukur hal ini, cobalah untuk menjawab pertanyaan berikut ini:

1--Apakah anda mengambil seluruh hak cuti anda, ataukah anda mencicilnya satu dua hari setiap kali anda mengambil cuti?

2--Bila sedang cuti, apakah anda selalu menelepon kantor dan mencoba melakukan pekerjaan anda dari jarak jauh?

3--Manakah yang lebih anda tekankan, memanajemeni aktivitas atau memanejemeni hasil?

4--Apakah anda demikian sibuknya, sehingga berbicara dengan anak buahpun hanya pada jam-jam tertentu yaitu sebelum dan sesudah jam kantor?

5--Apakah di antara bawahan anda ada gejala frustasi dan moral yang rendah?

6--Manakah yang lebih banyak terjadi: anak buah anda dipromosikan pada jabatan yang lebih tinggi di dalam organisasi anda, atau anak buah anda mendapat promosi yang lebih tinggi di luar organisasi anda?

7--Seberapa sering masalah berkembang menjadi keadaan darurat, dan keadaan darurat menjadi krisis, bila anda tidak hadir di kantor?

8--Bila anda sedang tidak berada di kantor, siapakah yang menangani pekerjaan anda? Apakah anak buah atau atasan anda?

Masalah ini bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Banyak orang mengalaminya, dan merasakan betapa sakitnya menjadi orang yang sukar untuk digantikan.
Penulis sendiri pernah merasakan bagaimana tertekan dan cemasnya karena
tidak bisa tenang meninggalkan pekerjaan. Setelah saya nyaris mati karena beban pekerjaan itu, maka barulah saya membuat suatu rencana yang terarah untuk menata diri keluar dari situasi tersebut. Untungnya, saya adalah pemilik dari perusahaan saya, sehingga tak ada seorang pun yang langsung mencela kesalahan saya atau menekan untuk mengubah cara saya.

Kritik yang paling keras yang bisa dilontarkan pada seorang manajer adalah apabila ia kelihatan sukar untuk digantikan atau apabila ia mentolerir adanya orang-orang yang sukar untuk diganti di kalangan anak buahnya. Dan seorang manajer yang baik haruslah mengambil berbagai langkah yang diperlukan untuk menata dirinya keluar dari keadaan ini.

(Everett T. Suters, Bisnis dan Manajemen)

****************************************************************************
Stopper:

Ia yang rendah hati karena penuh percaya diri dan bijak. Ia yang sombong merasa tak aman dan selalu kekurangan. (Lisa Edmondson)

Apa yang dunia butuhkan adalah lebih banyak jenius dengan kerendahan hati.
Sekarang ini, hanya sedikit sekali yang tertinggal. (Oscar Levant)

KITA SAMA-SAMA MEMBUTUHKAN KASIH SAYANG

Apalah artinya perbedaan dibandingkan dengan banyaknya persamaan di antara kita. Bukankah kita sama-sama membutuhkan sesuap nasi tanak dan seteguk air segar demi memenuhi lapar dan dahaga? Kita juga sama-sama menangis di kala sedih dan tertawa di saat gembira. Kita sama-sama gemetar sewaktu ketakutan melanda serta tergelak ketika kegembiraan menerpa. Kita sama-sama berkeringat di bawah terik matahari, dan menggigil ditelan dinginnya malam.
Tidakkah kita melihat begitu banyak persamaan di antara kita sampai-sampai muskil menghitungnya?

Lalu mengapa secuil perbedaan yang dipicu oleh keinginan, hasrat dan nafsu menyangsikan semua kesamaan kita? Mengapa kita, seolah memiliki lebih banyak waktu untuk mengais-ais perbedaan, menggoreskan garis pemisah, memancang bendera kami dan kau? Tidak cukupkah satu persamaan di antara kita berikut ini memupuskan kegigihan untuk mempertahankan warna-warna itu: bukankah kita sama-sama membutuhkan kasih sayang?

Sunday, March 15, 2009

SURGA BERSAMA SAHABAT

Seorang lelaki tua dan anjingnya sedang berjalan-jalan di sebuah jalan desa, menikmati pemandangan. Tiba-tiba ia tersadar bahwa ia baru saja meninggal dunia. Ia pun ingat di saat meregang nyawa, anjingnya yang telah menemani hidupnya selama ini juga telah meninggal. Kini mereka bersama-sama berada di sebuah alam baka.

Setelah berjalan bersama sekian lama, mereka tiba di sebuah bukit. Sepanjang sisi jalannya berhiaskan batu pualam yang indah. Pada puncaknya berdiri sebuah patung indah dimana sinar matahari memendar dari balik patung itu. Ia terkagum melihat indahnya pintu gerbang yang terbuat dari permata dan mutiara, sedangkan jalan setapak menuju pintu gerbang tersusun dari emas murni.

Ia senang sekali karena merasa akhirnya telah tiba di surga. Kemudian sambil menuntun anjingnya ia menuju pintu gerbang. Ketika dekat pintu gerbang ia melihat seseorang penjaga duduk di balik meja berukir indah. Ia menyapa orang tersebut, "Maafkan saya, apakah ini surga?"

"Ya, benar sekali tuan," jawab penjaga gerbang.

"Waw, kalau begitu bolehkah saya meminta sedikit air?" pinta lelaki tua itu.

"Tentu saja, tuan. Silakan masuk dan ambillah air minum sepuas anda."
Kemudian penjaga gerbang itu memberi isyarat dengan ibu jarinya, dan pintu gerbang yang besar itu pun perlahan-lahan terbuka.

"Bolehkah saya mengajak sahabat saya ini masuk?" pinta lelaki tua itu sambil menunjuk pada anjingnya.

Tetapi penjaga gerbang menjawab, "Maaf sekali tuan, kami tidak membolehkan hewan peliharan masuk."

Lelaki tua itu berpikir sejenak lalu mengucapkan terima kasih pada penjaga gerbang itu. Mereka berbalik dan melanjutkan perjalanannya kembali.

Setelah lama berjalan mereka tiba di sebuah bukit yang lain, tetapi kali ini jalannya lebih kotor, di ujung jalan terbuka sebuah pintu gerbang pertanian.
Tidak ada pagar di sisi jalan, rumput tumbuh sembarangan, pintu gerbang itu tampaknya tak pernah tertutup. Ketika ia berada dekat pintu gerbnag itu, di dalamnya ia melihat seorang lelaki sedang duduk di sebuah kursi goyang di bawah bayangan pohon dan sedang membaca buku.

"Permisi tuan!" teriak lelaki tua itu pada pembaca buku. "Apakah anda mempunyai air untuk kami minum?"

"Tentu saja. Ada pompa air di sebelah sana," sahut pembaca buku itu sambil menunjuk ke sebuah tempat yang tak tampak dari luar gerbang. "Masuklah, anggap saja rumahmu sendiri."

"Bagaimana dengan temanku ini?" tanya lelaki tua itu. Ia menunjuk pada anjingnya.

"Oh, ia boleh masuk. Kami mempunyai mangkuk air di sebelah pompa itu," jawabnya.

Kemudian mereka masuk ke dalam gerbang, dan menemukan sebuah pompa tangan tua dengan sebuah gayung dan mangkuk tergeletak di sampingnya. Lelaki tua itu mengisi mangkuk dengan air hingga penuh dan memberikan pada anjingnya.
Setelah itu ia meneguk air untuk mengobati hausnya sendiri.

Ketika mereka sudah cukup minum, mereka kembali menemui pembaca buku itu yang tampaknya sedang menunggu mereka. Lelaki tua itu bertanya, "Tempat apakah ini?"

"Ini surga," jawab pembaca buku itu.

"Wah, ini sangat membingungkan kami," kata lelaki tua itu. "Tempat ini sama sekali tak seperti surga. Di ujung jalan di sebelah sana ada seseorang yang mengatakan bahwa bukit itulah yang surga."

"Oh, apakah yang anda maksudkan adalah bukti dengan jalan yang terbuat dari emas dan pintu gerbang yang terbuat dari permata itu?" tanya pembaca buku.

"Ya, bukankah itu tempat yang sangat indah."

"Bukan, itu adalah neraka."

"Tidakkah anda salah menyebutnya sebagai neraka tempat yang indah seperti itu?"

"Tidak. Saya mengerti mengapa anda berpendapat demikian, tetapi bukanlah seperti itu. Keindahan yang ditampakkannya itu menipu sehingga membuat orang tega meninggalkan sahabat terbaiknya dalam penderitaan."

Pojok Renungan Editor: Tak perlu memperdebatkan konsep surga neraka dalam cerita di atas, namun pesan yang ingin disampaikannya. Keindahan seringkali hanya ilusi yang membuat kita membiarkan sahabat-sahabat kita berada dalam penderitaan.

TIPS AGAR TIDAK MENDAPATKAN KENAIKAN KARIER

Tentu saja hal ini tidak dianjurkan bagi mereka yang sedang berusaha meraih pengembangan diri. Tips berikut hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah kehilangan gairah kerja dan tak mau menerima tantangan baru. Namun dengan menambah kata "tidak" di depan setiap tips berikut, kita dapat menggunakannya untuk mendorong kemajuan diri dan memperoleh kenaikan karier.
Berikut cara cepat untuk tidak memperoleh kenaikan karier, sekaligus merupakan pantangan bagi mereka yang mengharap kemajuan karier. Silakan mencoba.

1--Banyak-banyaklah mengeluh.

Setiap ada kesempatan, sampaikan keluhan anda. Selalu ada saja hal yang dapat kita keluhkan. Mulai dari, kondisi kerja yang buruk, atasan yang menyebalkan, kolega yang tidak mau bekerja sama, atau bahkan kamar mandi yang kotor. Semakin banyak anda mengeluh semakin besar kemungkinan anda tidak lulus dalam pertimbangan kenaikan pangkat.

2--Selesaikan pekerjaan ala kadarnya.

Jadilah mediokrat. Tak usah mengejar hasil yang lebih baik. Apalagi bila atasan tidak mengungkit-ungkitnya. Untuk apa susah-susah meningkatkan kualitas pekerjaan bila hasil minmal dan sekedarnya sudah cukup. Tolaklah setiap rencana pelatihan bagi diri anda. Semua itu tidak seberapa berguna.

3--Tolaklah tugas-tugas baru.

Jangan mau menerima tugas-tugas baru. Bukankah anda sudah terbebani oleh tugas-tugas rutin sehari-hari. Anda tidak memiliki cukup waktu dan tenaga untuk mengerjakan hal-hal baru. Mintalah orang lain saja untuk melakukannya.
Biarkan diri anda asyik dengan apa yang anda kerjakan bertahun-tahun lamanya.

4--Kerjakan tugas kantor di jam kerja kantor.

Datang dan pulanglah tepat waktu. Meski pekerjaan anda belum selesai, toh masih ada hari esok. Tidak ada istilah pekerjaan rumah bagi anda. Jangan mau melakukan kerja lembur. Anda harus memberikan perhatian pada keluarga sebaik-baiknya, maka tak perlu membawa pekerjaan pulang ke rumah. Selesaikan semuanya di kantor.

5--Tidak usah merayakan keberhasilan.

Tak usah repot-repot mengikuti perayaan keberhasilan perusahaan. Semua pekerjaan memang harus diselesaikan. Jadi, tak ada alasan untuk berbangga-bangga ikut merayakan keberhasilan. Itu semua biasa. Pilihlah untuk segera pulang ke rumah atau menyendiri daripada berkumpul dengan rekan-rekan kantor apalagi atasan. Tak usah pula menunjukkan batang hidup anda di setiap acara dan kesempatan kantor.

6--Menjauhlah dari atasan.

Bergaul dengan atasan dapat menghambat penurunan karier anda. Jagalah jarak.
Bertemu dan berbicaralah secukupnya. Bila ada sesuatu yang perlu disampaikan, katakan lewat sekretarisnya beliau. Jangan sampai ada hubungan yang terlalu erat antara anda dengan atasan.

MENGAPA KITA TAK TAHU MASA DEPAN?

Mengapa kebanyakan dari kita tak dianugerahi kemampuan untuk melihat masa depan, meski hanya beberapa saat saja? Bukankah bila saja kita tahu pasti apa yang terjadi esok, kita bisa mempersiapkan banyak langkah untuk menghadapinya. Mengapa ada tembok tebal yang menghalangi pandangan antara detik sekarang dan sedetik kemudian?

Tunggu, jangan terburu berprasangka! Alam selalu bertindak adil. Kebanyakan orang tak cukup tangguh untuk berusaha, dan terlalu cepat berpuas diri saat menggenggam sedikit keberhasilan. Andaikata kita tahu bahwa keberhasilan tergeletak hanya beberapa detik di depan, kita akan berhenti sekarang dan terlena dalam kebanggaan. Begitu juga, seandainya kita tahu esok akan penuh kegagalan, maka hari ini kita mungkin sedang berputus asa dan termangu-mangu penuh penyesalan. Alam mendorong kita untuk terus maju, dan hidup penuh kesadaran akan saat ini, bukan ilusi esok hari.

Tuesday, February 10, 2009

Kegiatan alternatif mengendalikan emosi

Kegiatan alternatif kali ini bertujuan untuk mengajak anda berlatih mengenali bentuk-bentuk emosi yang melintas dalam pikiran, juga mengamati gerak-gerik emosi yang terjadi dalam diri seseorang. Diharapkan dengan demikian kita bisa memahami bahwa emosi kita selalu berhubungan emosi orang lain. Emosi ibarat sebuah awan yang meliputi anda dan sekitar.
Anda mempengaruhi orang lain dengan emosi anda, atau lebih tepatnya dengan
pikiran anda.

1--Lakukan relaksasi di awal hari anda. Ada banyak metode relaksasi, anda bisa coba yang paling sesuai dengan diri anda. Cara paling awam adalah dengan mengamati gerak naik turun nafas anda secara alami. Lakukan selama 10 atau 20 menit. Cobalah perlahan-lahan. Jangan paksakan diri. Biarkan semuanya berjalan apa adanya. Apakah anda bisa menemukan pikiran yang tenang dalam relaksasi itu? Apakah anda mampu menemukan suatu keadaan yang bersih dari emosi-emosi yang biasanya mempengaruhi diri anda?

2--Pahami ketenangan yang anda rasakan. Kemudian, melangkahlah dalam kegiatan sehari-hari. Berusahalah untuk mengamati setiap gerak emosi yang terjadi dalam diri anda. Apakah anda mampu menangkap setiap "debu" emosi yang menodai ketenangan pikiran anda?

3--Catat setiap perubahan yang terjadi secara fisik dan psikis dalam diri anda. Misal, di saat anda marah, catat perubahan yang terjadi dalam degub jantung anda, rasa panas/dingin dalam diri anda, kekacauan dalam kesadaran anda, atau bahkan hilangnya diri anda karena tertelan oleh kemarahan itu. Catat dan amati saja, tak perlu melakukan apa-apa.

4--Pada tengah hari, coba lakukan kegiatan relaksasi lagi. Temukan ketenangan pikiran itu lagi. Mungkin anda akan merasakan sebuah kesulitan karena lebih banyak "debu" yang harus anda bersihkan.

5--Dengan bekal ketenangan coba amati dan catat setiap perubahan emosi yang terjadi yang ditunjukkan oleh orang-orang (pilih 1 rekan baik anda sebagai bahan percobaan) di sekitar anda. Apakah anda mampu membedakan mana orang yang senantiasa mengendalikan dirinya, dan mana orang yang cenderung mengumbar emosinya.

Mengendalikan emosi adalah mengendalikan pikiran. Emosi itu bagai sepertik bunga api yang memancar dari awan, sedangkan pikiran adalah kayu kering yang mudah sekali terbakar oleh pertikan bunga api. Mengendalikan pikiran adalah menjaga agar kayu kering itu tak mudah terbakar, yaitu dengan menjaga ketenangan pikiran. Mengendalikan emosi adalah juga menjaga ketenangan diri.

Stopper :
Kita terluka dan menderita secara emosional, bukan karena tindakan orang lain atau apa yang diucapkan atau tidak diucapkan oleh orang lain, melainkan karena sikap mental dan tanggapan kita sendiri. (Maxwell Maltz)

Tidak ada pekerjaan yang rendah, yang ada hanyalah sikap mental yang rendah. (Bill Bennett)

LEMBAR 5: MENGENDALIKAN EMOSI

Andaikan anda adalah seorang manajer keuangan. Suatu hari direktur anda memanggil dan mengatakan bahwa ia, setelah mempertimbangkan berbagai hal, memutuskan menaikkan gaji tambahan tahun ini (di luar kenaikan reguler) untuk seluruh karyawan, tanpa terkecuali, sebesar 15%.
Alasannya, untuk membantu karyawan dalam menghadapi situasi ekonomi yang kurang menguntungkan, selain itu dikarenakan ternyata perusahaan masih bisa mendapatkan kenaikan keuntungan. Semua ini tentu tak terlepas dari jerih payah karyawan. Sang direktur meminta anda untuk melakukan berbagai persiapan dan mengumumkan hal ini satu minggu kemudian. Namun demikian, direktur meminta anda untuk memegang rahasia ini rapat-rapat. Tak boleh bocor sedikit pun, bahkan dengan sesama manajer. Pokoknya, "top secret".
Wow, ini adalah kejutan yang luar biasa menggembirakan. Semua orang pasti akan senang. Anda tentu tak sabar menunggu satu minggu kemudian dan merasakan kegembiraan melanda seluruh karyawan. Tapi, waktu satu minggu terasa lama sekali. Padahal kegembiraan ini amat berat untuk disimpan dalam hati.
Ingin sekali rasanya mengutarakan berita gembira ini, setidaknya pada rekan manajer personalia. Bukankah beliau semestinya patut mengetahui terlebih dahulu. Tetapi, direktur minta anda untuk menjaganya rapat-rapat.

Bagaimana ini?

Pertanyaan #1--Apakah anda merasa bahwa anda termasuk orang yang mampu mengendalikan emosi anda?

Dari contoh di atas, sadarkah kita bahwa memegang sebuah rahasia (berita baik) merupakan ujian bagi kemampuan kita mengendalikan emosi? Seandainya saja si manajer keuangan itu tak mampu menahan perasaan gembiranya, mungkin saja ia akan menceritakan hal tersebut pada koleganya. Meski ia tak lupa membubuhi bahwa "Ini rahasia lho. Jangan dibocorkan ke mana-mana.", tetap saja berita itu tersebar. Kemampuan kita mengendalikan emosi menunjukkan kemampuan kita menjaga sebuah kepercayaan. Lebih lanjut, merupakan cermin kematangan kita dalam bersikap dalam menghadapi setiap keadaan.

Pertanyaan #2--Apakah anda merasa bahwa anda adalah emosi anda?

Emosi atau perasaan datang silih berganti. Bayangkan kita sedang berdiri di sebuah padang pasir yang berangin kencang. Perasaan atau emosi bagaikan butir-butir debu pasir yang melayang-layang bersama angin. Ia meliputi diri kita dengan riuh. Ketika sebuah peristiwa (misal, pertengkaran) terjadi, sebutir debu yang bermuatan emosi amarah melintas dan "tertarik" untuk menempel dalam diri kita. Dengan sigap pikiran meraih dan mengolah debu emosi amarah itu dan mewujudkannya menjadi sebuah ekspresi kemarahan, misal, berteriak, menggebrak, dan lain-lain. Bila kita tak segera mengendalikan (membersihkan) diri dari tempelan debu emosi kemarahan ini, maka kemarahan akan semakin memuncak dan sulit untuk dikendalikan lagi. Sebaliknya, bila
kita mampu sejak dini mawas diri akan adanya debu emosi ini, maka kita dengan lebih mudah mengatasi. Selain debu emosi kemarahan, tentu masih banyak debu emosi lain yang beterbangan di padang pasir perasaan ini, seperti perasaan gembira, senang, sedih, kecewa, takut, cemas, dan lain-lain.
Semuanya beterbangan secara acak, dan menempel pada diri kita akibat daya tarik yang muncul dari suatu peristiwa. Namun, seberapa jauh emosi itu menguasai diri tergantung dari seberapa lemah kita mampu mengendalikan pikiran dan diri kita.

Pertanyaan #3--Apakah anda merasa bahwa anda adalah sosok yang tenang dan senantiasa mengamati berbagai emosi yang datang silih berganti dalam diri anda? Menurut anda, mengapa anda (bagaimana anda) bisa menemukan sosok tenang dalam diri anda?

Permisalan di atas hanya bermaksud menggambarkan bahwa emosi dapat dipandang sebagai sesuatu yang berasal dari luar diri kita. Emosi tidak harus (bahkan memang seharusnya tidak) identik dengan diri kita. Ini cukup bertolak belakang dengan kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari dimana kita biasa menyatakan emosi kita dengan perkataan, "saya sedang marah", "saya sedih", "saya gembira sekali", dan seterusnya. Kita biasa menganggap bahwa perasaan kita adalah diri kita itu sendiri. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah perasaan marah sedang melanda kita, perasaan senang sedang memenuhi diri kita. Sedangkan kita bukanlah "amarah" itu sendiri, kita bukanlah "senang" itu sendiri. Mengidentikkan diri kita dengan emosi sebenarnya menyulitkan kita untuk memahami dan meneguhkan kendali diri.
Menjadi agak sulit bagi kita untuk mengendalikan emosi bila kita tidak berusaha membedakan mana diri kita mana emosi. Namun, dengan membedakannya kita menjadi subyek pelaku yang bisa secara aktif dan sadar menangani obyek emosi yang sedang melanda.

Pertanyaan #4--Menurut anda mengapa anda harus mengendalikan emosi?
Dengan cara apakah anda mengendalikan emosi?

Bila emosi dipandang sebagai sesuatu yang berasal dari luar diri, maka sebenarnya kita tak sepenuhnya berdaya atas datang perginya emosi. Kita pun tak sepenuhnya mampu menahan emosi untuk tetap berada dalam diri semau kita. Mari kita perhatikan, tak mungkin kita merasakan kegembiraan terus-menerus. Tak mungkin pula kita merasakan kesedihan terus-menerus. Pada waktunya perasaan sedih hilang digantikan dengan perasaan lain, begitu pula sebaliknya. Perhatikan, bahwa kita tak kuasa untuk menjaga kegembiraan berada dalam diri setiap saat. Kita pun tak kuasa menolak perasaan sedih singgah dalam jiwa kita. Jadi, mengendalikan emosi pada dasarnya bukan
menolak hadirnya emosi dalam diri, namun menyadari akan hadirnya emosi itu dalam diri. Kemampuan mengendalikan emosi lebih terletak pada kemampuan mengendalikan pikiran kita, karena pikiranlah yang mengidentikkan emosi itu sebagai diri kita. Pikiranlah yang menjadi bahan bakar emosi sehingga membesar dan membakar seluruh diri. Kematangan emosi seseorang sebenarnya hasil dari kematangannya dalam mengendalikan pikirannya sendiri.

Pertanyaan #5--Bila anda bukanlah emosi anda, maka siapakah anda?

Sebuah pertanyaan sederhana yang untuk menjawabnya butuh sebuah penenangan diri yang dalam. Bila kita bukan emosi kita, maka kita sebenarnya merupakan sesosok yang tenang yang dengan cermat mengamati setiap emosi dan perasaan yang hadir dalam pikiran. Kita adalah sesosok yang tenang yang dengan hati-hati mengamati setiap gerak pikiran yang terjadi. Dengan demikian kita adalah sesosok yang tak perlu tergoyahkan oleh rasa takut, atau terbuai oleh kegembiraan, namun menggunakan seluruh karunia emosi itu sebagai sebuah kekuatan untuk membangun hubungan dengan orang-orang dan alam secara harmonis dan keseluruhan.

ANDA TAKKAN BISA BERDUSTA

Anda bisa berdusta bahwa tubuh anda sehat dan bugar tak kurang satu apa.
Anda bisa samarkan sinar redup mata anda dengan garis-garis kemilau.
Atau anda bisa tutupi keluhan anda dengan senyum lebar.
Namun, anda tak lagi bisa berdusta bila darah anda yang bicara.
Saat beberapa tetes darah anda ditanya lewat kaca mikrokospis, ia akan bercerita apa adanya.
Bahkan tubuh anda menyimpan catatan anda tanpa menghilangkan satu titik pun.

Anda bisa berdusta mengenai kemelut dalam diri anda.
Anda bisa kelabui kekacauan jiwa anda dengan membelalakkan kelopak mata.
Anda bisa sembunyikan kerumitan diri dengan menegaskan getar pita suara anda.
Namun, anda tak lagi bisa berdusta bila hati anda yang berbisik.
Saat keping-keping hati disatukan dalam sebuah perenungan di tengah-tengah malam, ia akan kisahkan apa adanya.
Bahkan hati anda akan mencatat sejarah anda tanpa menghapus satu koma pun.

Thursday, February 05, 2009

Stopper ANAK

Jika anak-anak anda menghormati anda, anda telah meraih keberhasilan dalam tugas hidup yang terbesar.
(Unknown)

Anak-anak adalah peniru yang alami, mereka akan bertingkah seperti orang tuanya meski apa pun telah diajarkan untuk membuat mereka menjadi baik.
(Unknown)

Beberapa keluarga bisa melacak nenek moyangnya sampai tiga ratus tahun silam, tetapi tak bisa menjelaskan kemana anak-anak mereka pergi semalam.
(Unknown)

Si Murung dan Si Ceria

Ada dua anak bernama Si Ceria dan Si Murung. Seperti namanya Ceria mempunyai sifat periang, selalu gembira dan tersenyum. Sebaliknya Murung mempunyai perangai yang cemberut, selalu sedih, dan jarang tersenyum.

Suatu ketika orang tua mereka berpikiran untuk membuat Si Murung tersenyum gembira dan membuat Si Ceria menjadi sedih cemberut dan sedih. Mereka lalu berpikir untuk memberikan sesuatu yang menjadi kesukaan masing-masing anak.

Si Murung menginginkan telepon genggam. Selama ini jika pergi dengan teman-temannya sering kali ia meminjam telepon genggam milik temannya. Orang tuanya membelikan sebuah telepon genggam terbaru supaya dia menjadi senang dan gembira.

Sewaktu Murung pergi sekolah, telepon genggam itu dibungkus oleh orang tuanya dengan kertas kado yang bagus dan diletakkan di kamarnya. Sepulang sekolah, Murung segera masuk ke kamar dan melihat ada kado di sana.
Cepat-cepat ia membuka kado itu dan ia terkejut sekali ketika mendapatkan di dalamnya berisi telepon genggam. Wajahnya tersenyum, tapi tidak lama.
Kemudian ia murung lagi karena ia takut kalau-kalau teman-temannya akan meminjam telepon genggamnya lalu menjadi rusak. Di benaknya selalu muncul pikiran yang negatif, sehingga kado itu menjadi beban baginya. Yang keluar dari mulutnya adalah omelan dan keluhan, bukannya ucapan terima kasih kepada orang tuanya.

Di pihak lain, si Ceria senang sekali dengan kuda. Orang tuanya membungkus kotoran kuda dan diletakkan dalam kamar agar ia menjadi sedih dan murung.
Sewaktu Ceria pulang ia juga terkejut melihat ada kado di kamarnya. Dengan sergap ia membuka pula kado itu. Betapa terkejutnya ia, ternyata yang didapatkan adalah kotoran kuda berbau busuk. Mukanya kebingungan sejenak.
Tetapi ia segera berpikir, "Ah masa orang tuaku yang begitu mencintaiku memberi aku kotoran kuda, pasti ada sesuatu di balik hadiah ini."

Kemudian ia lari kepada orang tuanya dan mencium mereka. Orang tuanya sangat bingung dan terkejut kemudian bertanya, "Lho kamu itu diberi kotoran kuda kok senang sih?".Lalu Ceria menjawab, "Papa, Mama, saya tahu kalian sangat mencintai saya, jadi tidak mungkin memberi kotoran kuda kepada saya, pasti kotoran kuda itu adalah sebuah tanda. Kalau ada kotoran kuda, berarti ada kudanya. Saya tahu bahwa kalian akan membelikan kuda pony buat saya, dan sekarang mana kudanya?"

Kemudian orang tuanya berkata, "Kami hanya memberi itu kepada kamu."

Ceria menyahut, "Tidak mungkin saya yakin pasti ada kudanya."

Akhirnya orang tuanya kalah, dan membelikan dia kuda pony.

Smiley...! Orang yang hidupnya merasa sangat dicintai akan selalu berpikir bahwa ia selalu akan menerima yang terbaik dalam hidupnya, walaupun dalam penderitaan. Sebaliknya orang yang pesimis merasa hidup ini menjadi beban penderitaan yang sangat panjang, sehingga ia selalu gelisah, takut, dan khawatir.

TIPS BERKOMUNIKASI DENGAN TATAPAN MATA

Ada pepatah yang mengatakan bahwa mata adalah jendela hati. Mata tak pernah berdusta. Seseorang yang sedang berbohong atau berpura-pura biasanya tidak berani membalas tatapan mata. Membalas tatapan mata seringkali diartikan sebagai kemantapan dan keyakinan diri. Mereka yang tidak memiliki kepercayaan diri menghindari tatapan mata. Sebenarnya, sikap membalas pandangan lawan bicara tidak sepenuhnya berlaku di semua masyarakat. Di budaya masyarakat tertentu membalas pandangan bisa saja dianggap sebagai sesuatu yang tidak sopan. Namun, dalam pergaulan kerja sehari-hari, membalas tatapan mata dengan baik merupakan salah satu bentuk cara berkomunikasi yang
produktif. Berikut beberapa tips sederhana untuk melakukan tatapan mata saat berkomunikasi. Anda bisa melakukan banyak "permainan", namun perlu disadari anda tak sepenuhnya bisa berdusta dengan tatapan mata. Tetap lebih utama anda berkomunikasi secara jujur dan jelas ketimbang ber-acting. Orang lain dengan mudah menangkap kepura-puraan, dan itu bisa berakibat yang kontra-produkti bagi komunikasi anda.

1--Berlatihlah dengan menatap jarak antara dua alis.

Bila anda belum terbiasa atau cukup memiliki keberanian untuk membalas tatapan mata lawan bicara anda, maka berlatihlah dengan menatap jarak antara dua alis, atau jarak antara dua mata, atau pangkal hidung. Lawan bicara akan menganggap anda sedang melihat dan memperhatikan dia. Secara perlahan gerakkan tatapan anda ke arah bola matanya.

2--Tataplah setidaknya lima sampai tujuh detik.

Berapa lama patokan kita dalam melakukan kontak mata dengan lawan bicara?
Menurut Bert Decker, agar lawan bicara merasa sedang diperhatikan, kita perlu melakukan kontak mata secara langsung setidaknya selama 5 detik. Atau, anda juga bisa menatapnya hingga kalimat/pembicaraan pentingnya selesai.

3--Jangan saling bertatapan terlalu lama.

Tak seorang pun senang ditatap berlama-lama. Saling menatap dalam waktu lama sama saja seperti adu keberanian (persis ikan cupang yang sedang diadu.) Ini akan menumbuhkan perasaan tidak enak. Bagi kebanyakan orang menatap orang lain terlalu lama bisa diartikan sedang menantang, mengintimidasi, atau melamun, membayangkan yang tidak-tidak, tergantung bagaimana cahaya bola mata dipancarkan. Dalam berkomunikasi, terutama saat anda sedang bersitegang, maka redakan situasi tegang itu dengan mengalihkan pandangan ke arah lain. Bila anda ingin berlama-lama menatap sesuatu, tataplah sebuah lukisan atau ukiran, jangan wajah orang lain.

4--Bola mata yang tak berdusta.

Memang pepatah mengatakan mata tidak berdusta, tetapi sebenarnya yang mencerminkan situasi emosi diri anda adalah bola mata anda. Bila anda sedang dalam keadaan senang, gembira, anda mungkin berusaha menyembunyikan di balik raut wajah, namun anda tak bisa membohongi bola mata anda yang tampak cerah dan melebar. Sebaliknya, bila anda kecewa, atau sedih, bola mata akan mengerut, meredup dan mengecil. Coba pelajari bagaimana gerak bola mata lawan bicara anda untuk mengetahui apakah ia sedang mengatakan yang sesungguhnya atau tidak.

5--Alis juga berbicara.

Alis juga memegang peranan penting dalam komunikasi mata. Perhatikan orang yang mengerutkan kening juga akan mengerutkan alisnya. Mata yang terbelalak, pertanda senang atau terkejut, diperkuat dengan alis yang terangkat tinggi.
Alis juga menyampaikan sesuatu.

6--Hindari melihat dengan sekilas.

Bila anda menatap, tataplah dengan mantap. Jangan hanya melihat sekilas-sekilas. Anda takkan dapat menangkap sesuatu dari tatapan yang sekilas. Lebih buruk lagi, anda bisa dicap tidak memperhatikan. Bila anda berjumpa dengan cukup banyak orang, maka sempatkan untuk melemparkan pandangan secukupnya pada mereka hingga mereka mengerti bahwa anda sedang memberikan perhatian. Namun, bila anda tak mampu melakukan pada seluruh lawan bicara anda, maka lakukan pada beberapa orang yang cukup anda kenal baik.

7--Sesekali alihkan pandangan

Sebagaimana lagu yang baik, tatapan mata juga memerlukan jeda. Ini baik untuk menurunkan ketegangan, dalam situasi yang panas. Ini baik juga untuk memberikan kesempatan bagi anda untuk mencerna apa yang sedang disampaikan oleh lawan bicara. Biasanya orang akan mengalihkan pandangan menatap jauh ke depan untuk memahami maksud pembicaraan anda, berikan waktu baginya.
Mengalihkan tatapan juga isyarat untuk mengalihkan pembicaraan, atau memulai topik yang baru.

Tuesday, January 06, 2009

BERLAYARLAH MENEMBUS BADAI

Setangguh apapun perahu diciptakan, ia takkan berdaya guna bila hanya tertambat di dermaga. Anda adalah perahu itu. Kesejatian perahu adalah mengarungi samudra, menembus badai dan mendarat di pantai harapan. Dermaga adalah masa lalu. Sedangkan tali penambat itu adalah ketakutan dan penyesalan. Jangan sia-siakan seluruh kekuatan yang ada pada diri anda.
Jangan biarkan masa lalu menambat anda di situ. Lepaskan diri anda dari beban ketakutan dan penyesalan. Berlayarlah. Berkaryalah.

Yang memisahkan perahu dengan pantai harapan adalah topan badai, gelombang dan batu karang. Yang memisahkan anda dengan keberhasilan adalah masalah dan tantangan. Di situlah tanda kesejatian teruji. Hakikat perahu adalah untuk berlayar menembus segala rintangan. Hakikat diri anda adalah untuk berkarya menemukan kebahagiaan.

MOTIVASI KENDOR

Tanya: Sudah 2,5 tahun saya bekerja di sebuah oil company. Umur saya 27 tahun. Sejak lulus dari perguruan tinggi, saya langsung bekerja di sini. Semasa kuliah, saya pernah, selama dua tahun, bekerja sebagai asisten peneliti untuk beberapa proyek di kampus. Saat ini, entah mengapa, saya begitu kehilangan motivasi. Saya merasa bosan dengan pekerjaan yang enam bulan terakhir ini terasa agak menoton. Dalam dua tahun ini, alhamdulillah, saya bisa mencapai prestasi kerja di atas rata-rata. Bukannya mau menyombongkan diri, namun menceritakan apa adanya. Saya pernah membicarakan masalah ini dengan atasan. Dia bilang, dia mengerti, tetapi sampai sekarang saya belum melihat perubahan. Saya bukannya mau menghindari rutinitas. Saya tahu, itu mengasah ketelatenan saya dalam menjalani pekerjaan. Tetapi saya butuh tantangan baru yang membuat darah saya selalu terasa "mengalir". Saat saya bicarakan hal ini dengan rekan-rekan senior, saya malah dibilang,"seharusnya senang dong, enggak perlu repot-repot dengan kerja".

Kadang-kadang saya berpikir pindah kerja ke perusahaan lain. Sayangnya, informasi yang saya dapat, gaji yang ditawarkan lebih rendah daripada yang saya peroleh sekarang. Bagaimanapun saya harus memperhitungkan pendapatan saya kan? Saya tunggu umpan balik anda. (BEI)

Jawab: Ada pertanyaan menarik, "siapa yang bertanggung jawab menaikkan motivasi karyawan?" Banyak orang berpendapat, perusahaan bertanggung jawab untuk meng-up-lift motivasi karyawan yang sedang anjlok. Bukankah perusahaan memerlukan karyawan bermotivasi tinggi agar produktivitasnya juga tinggi.
Oleh karena itu, perusahaan harus mengadakan berbagai program, seperti pelatihan, empowerment, tour of duty, dan lain-lain. Namun, pendapat ini segera menuai keberatan.

Pertama, tidak semua orang mempunyai persoalan motivasi yang sama, sehingga mengadakan program pelatihan massal tidak selalu berhasil bagi orang-orang tertentu.

Kedua, teramat sulit bagi perusahaan untuk mengetahui persoalan orang per orang. Mungkin jauh lebih mudah dan murah mendapatkan karyawan baru yang penuh gairah daripada menjaga karyawan lama yang kehilangan motivasi.

Menurut kami, yang paling bertanggung jawab memompa motivasi adalah diri sendiri, bukan orang lain! Jangan bebankan persoalan ini pada manajer atau perusahaan (belum tentu anda dipandang sebagai valuable employee oleh perusahaan). Namun anda boleh mengungkapkannya pada atasan agar bisa melakukan sesuatu bersama-sama. Coba periksa penyebab turunnya motivasi kerja anda, dugaan kami, anda sudah menguasai pekerjaan sehari-hari sehingga menjadi terlalu mudah. Ya! anda perlu sesuatu yang baru. Namun, ada baiknya anda ukur kemampuan bukan hanya dari tingkat penyelesaian tugas semata,
melainkan juga pemahaman atas apa yang ada di balik pekerjaan itu. Misal, integrasi sistem dengan bagian lain, pemercepatan prosedur, pengendalian internal, aspek manusia dan politiknya, perbaikan yang berkelanjutan, dan lain-lain.

Bila anda bosan dengan pekerjaan administrasi, mungkin anda perlu mencoba kerja lapangan, atau sebaliknya. Tanyakan pada diri sendiri, bidang apa yang benar-benar anda minati. Ajukan diri anda pada atasan untuk melakukan sesuatu yang membuat anda bekeringat. Jangan terburu mengeluh bosan pada atasan, siapa tahu atasan anda sendiri mempunyai persoalan yang sama. Lebih baik tunjukkan kesediaan diri untuk mencoba bidang-bidang baru. Namun, sebelumnya pelajari apakah perusahaan membuka peluang untuk itu atau tidak. Bila secara formal, hal ini sulit, mengapa anda tidak mencoba berkecimpung di bidang-bidang informal. Misal, terlibat dalam kegiatan karyawan, koperasi pegawai, komunitas dan lingkungan perusahaan. Ajukan diri anda pada kelompok, atau paguyuban karyawan. Bila belum tersedia, mengapa anda tidak
mencoba menciptakannya. Ini akan memperluas jaringan pergaulan, pengalaman dan kemampuan anda yang lain. Seringkali persoalan motivasi kerja bisa terselesaikan dengan mengerjakan sesuatu di luar pekerjaan formal.

Pindah kerja...? Salah satu alasan umum untuk pindah adalah karena kita tak menemukan tantangan baru di tempat kerja yang sekarang. Namun, perlu anda sadari, anjloknya motivasi dan kebosanan bisa menimpa siapa saja. Pada saatnya setiap orang akan menghadapinya. Saat ini kemampuan anda untuk mengatasi persoalan pribadi secara mandiri sedang diuji. Apakah anda mengeluh, menghindar atau berani menghadapinya? Pandanglah kesempatan karier anda dalam perspektif yang jauh ke depan. Menilik usia dan pengalaman kerja anda, terlalu dini bagi anda untuk mengambil kesimpulan bahwa anda kehilangan motivasi karena pekerjaan sudah tak menarik lagi. Mereka yang berhasil terus maju adalah yang tak kehilangan semangat tanpa menunggu "api" dari orang lain. Atasi persoalan ini sekarang. Bila anda menghindarinya, ia akan datang untuk menginjak anda di kemudian hari. Jadi, tidak banyak orang yang bisa menolong selain diri anda sendiri.

AGAR ANDA TAK KESEPIAN

Kesepian bukan dikarenakan tak hadirnya ujud seseorang di sekitar anda. Melainkan kosongnya hati anda dari orang-orang yang saling kasih-mengasihi anda. Janganlah kehilangan saat-saat berharga; yaitu saat dimana anda harus membantu mereka yang membutuhkan. Melalui uluran pertolongan, anda jalin hati anda dan hati orang lain dengan dawai emas yang tak tampak. Dawai itu bernamakan persaudaraan. Semakin banyak dawai itu terjalin semakin jauh hati anda dari kesepian. Karena dawai-dawai persaudaraan akan mendentingkan nada-nada yang memenuhi dan menghibur jiwa.

Bangkit dan tebarkan uluran tangan anda. Segaris senyum dan tatapan mata yang bersahabat cukuplah untuk membangunkan bahwa anda sama sekali tidak sendiri. Selama mereka yang anda kasihi dan mengasihi anda berada dalam hati, tak ada tempat untuk sebuah kesepian.