Pages

Tuesday, February 10, 2009

Kegiatan alternatif mengendalikan emosi

Kegiatan alternatif kali ini bertujuan untuk mengajak anda berlatih mengenali bentuk-bentuk emosi yang melintas dalam pikiran, juga mengamati gerak-gerik emosi yang terjadi dalam diri seseorang. Diharapkan dengan demikian kita bisa memahami bahwa emosi kita selalu berhubungan emosi orang lain. Emosi ibarat sebuah awan yang meliputi anda dan sekitar.
Anda mempengaruhi orang lain dengan emosi anda, atau lebih tepatnya dengan
pikiran anda.

1--Lakukan relaksasi di awal hari anda. Ada banyak metode relaksasi, anda bisa coba yang paling sesuai dengan diri anda. Cara paling awam adalah dengan mengamati gerak naik turun nafas anda secara alami. Lakukan selama 10 atau 20 menit. Cobalah perlahan-lahan. Jangan paksakan diri. Biarkan semuanya berjalan apa adanya. Apakah anda bisa menemukan pikiran yang tenang dalam relaksasi itu? Apakah anda mampu menemukan suatu keadaan yang bersih dari emosi-emosi yang biasanya mempengaruhi diri anda?

2--Pahami ketenangan yang anda rasakan. Kemudian, melangkahlah dalam kegiatan sehari-hari. Berusahalah untuk mengamati setiap gerak emosi yang terjadi dalam diri anda. Apakah anda mampu menangkap setiap "debu" emosi yang menodai ketenangan pikiran anda?

3--Catat setiap perubahan yang terjadi secara fisik dan psikis dalam diri anda. Misal, di saat anda marah, catat perubahan yang terjadi dalam degub jantung anda, rasa panas/dingin dalam diri anda, kekacauan dalam kesadaran anda, atau bahkan hilangnya diri anda karena tertelan oleh kemarahan itu. Catat dan amati saja, tak perlu melakukan apa-apa.

4--Pada tengah hari, coba lakukan kegiatan relaksasi lagi. Temukan ketenangan pikiran itu lagi. Mungkin anda akan merasakan sebuah kesulitan karena lebih banyak "debu" yang harus anda bersihkan.

5--Dengan bekal ketenangan coba amati dan catat setiap perubahan emosi yang terjadi yang ditunjukkan oleh orang-orang (pilih 1 rekan baik anda sebagai bahan percobaan) di sekitar anda. Apakah anda mampu membedakan mana orang yang senantiasa mengendalikan dirinya, dan mana orang yang cenderung mengumbar emosinya.

Mengendalikan emosi adalah mengendalikan pikiran. Emosi itu bagai sepertik bunga api yang memancar dari awan, sedangkan pikiran adalah kayu kering yang mudah sekali terbakar oleh pertikan bunga api. Mengendalikan pikiran adalah menjaga agar kayu kering itu tak mudah terbakar, yaitu dengan menjaga ketenangan pikiran. Mengendalikan emosi adalah juga menjaga ketenangan diri.

Stopper :
Kita terluka dan menderita secara emosional, bukan karena tindakan orang lain atau apa yang diucapkan atau tidak diucapkan oleh orang lain, melainkan karena sikap mental dan tanggapan kita sendiri. (Maxwell Maltz)

Tidak ada pekerjaan yang rendah, yang ada hanyalah sikap mental yang rendah. (Bill Bennett)

LEMBAR 5: MENGENDALIKAN EMOSI

Andaikan anda adalah seorang manajer keuangan. Suatu hari direktur anda memanggil dan mengatakan bahwa ia, setelah mempertimbangkan berbagai hal, memutuskan menaikkan gaji tambahan tahun ini (di luar kenaikan reguler) untuk seluruh karyawan, tanpa terkecuali, sebesar 15%.
Alasannya, untuk membantu karyawan dalam menghadapi situasi ekonomi yang kurang menguntungkan, selain itu dikarenakan ternyata perusahaan masih bisa mendapatkan kenaikan keuntungan. Semua ini tentu tak terlepas dari jerih payah karyawan. Sang direktur meminta anda untuk melakukan berbagai persiapan dan mengumumkan hal ini satu minggu kemudian. Namun demikian, direktur meminta anda untuk memegang rahasia ini rapat-rapat. Tak boleh bocor sedikit pun, bahkan dengan sesama manajer. Pokoknya, "top secret".
Wow, ini adalah kejutan yang luar biasa menggembirakan. Semua orang pasti akan senang. Anda tentu tak sabar menunggu satu minggu kemudian dan merasakan kegembiraan melanda seluruh karyawan. Tapi, waktu satu minggu terasa lama sekali. Padahal kegembiraan ini amat berat untuk disimpan dalam hati.
Ingin sekali rasanya mengutarakan berita gembira ini, setidaknya pada rekan manajer personalia. Bukankah beliau semestinya patut mengetahui terlebih dahulu. Tetapi, direktur minta anda untuk menjaganya rapat-rapat.

Bagaimana ini?

Pertanyaan #1--Apakah anda merasa bahwa anda termasuk orang yang mampu mengendalikan emosi anda?

Dari contoh di atas, sadarkah kita bahwa memegang sebuah rahasia (berita baik) merupakan ujian bagi kemampuan kita mengendalikan emosi? Seandainya saja si manajer keuangan itu tak mampu menahan perasaan gembiranya, mungkin saja ia akan menceritakan hal tersebut pada koleganya. Meski ia tak lupa membubuhi bahwa "Ini rahasia lho. Jangan dibocorkan ke mana-mana.", tetap saja berita itu tersebar. Kemampuan kita mengendalikan emosi menunjukkan kemampuan kita menjaga sebuah kepercayaan. Lebih lanjut, merupakan cermin kematangan kita dalam bersikap dalam menghadapi setiap keadaan.

Pertanyaan #2--Apakah anda merasa bahwa anda adalah emosi anda?

Emosi atau perasaan datang silih berganti. Bayangkan kita sedang berdiri di sebuah padang pasir yang berangin kencang. Perasaan atau emosi bagaikan butir-butir debu pasir yang melayang-layang bersama angin. Ia meliputi diri kita dengan riuh. Ketika sebuah peristiwa (misal, pertengkaran) terjadi, sebutir debu yang bermuatan emosi amarah melintas dan "tertarik" untuk menempel dalam diri kita. Dengan sigap pikiran meraih dan mengolah debu emosi amarah itu dan mewujudkannya menjadi sebuah ekspresi kemarahan, misal, berteriak, menggebrak, dan lain-lain. Bila kita tak segera mengendalikan (membersihkan) diri dari tempelan debu emosi kemarahan ini, maka kemarahan akan semakin memuncak dan sulit untuk dikendalikan lagi. Sebaliknya, bila
kita mampu sejak dini mawas diri akan adanya debu emosi ini, maka kita dengan lebih mudah mengatasi. Selain debu emosi kemarahan, tentu masih banyak debu emosi lain yang beterbangan di padang pasir perasaan ini, seperti perasaan gembira, senang, sedih, kecewa, takut, cemas, dan lain-lain.
Semuanya beterbangan secara acak, dan menempel pada diri kita akibat daya tarik yang muncul dari suatu peristiwa. Namun, seberapa jauh emosi itu menguasai diri tergantung dari seberapa lemah kita mampu mengendalikan pikiran dan diri kita.

Pertanyaan #3--Apakah anda merasa bahwa anda adalah sosok yang tenang dan senantiasa mengamati berbagai emosi yang datang silih berganti dalam diri anda? Menurut anda, mengapa anda (bagaimana anda) bisa menemukan sosok tenang dalam diri anda?

Permisalan di atas hanya bermaksud menggambarkan bahwa emosi dapat dipandang sebagai sesuatu yang berasal dari luar diri kita. Emosi tidak harus (bahkan memang seharusnya tidak) identik dengan diri kita. Ini cukup bertolak belakang dengan kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari dimana kita biasa menyatakan emosi kita dengan perkataan, "saya sedang marah", "saya sedih", "saya gembira sekali", dan seterusnya. Kita biasa menganggap bahwa perasaan kita adalah diri kita itu sendiri. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah perasaan marah sedang melanda kita, perasaan senang sedang memenuhi diri kita. Sedangkan kita bukanlah "amarah" itu sendiri, kita bukanlah "senang" itu sendiri. Mengidentikkan diri kita dengan emosi sebenarnya menyulitkan kita untuk memahami dan meneguhkan kendali diri.
Menjadi agak sulit bagi kita untuk mengendalikan emosi bila kita tidak berusaha membedakan mana diri kita mana emosi. Namun, dengan membedakannya kita menjadi subyek pelaku yang bisa secara aktif dan sadar menangani obyek emosi yang sedang melanda.

Pertanyaan #4--Menurut anda mengapa anda harus mengendalikan emosi?
Dengan cara apakah anda mengendalikan emosi?

Bila emosi dipandang sebagai sesuatu yang berasal dari luar diri, maka sebenarnya kita tak sepenuhnya berdaya atas datang perginya emosi. Kita pun tak sepenuhnya mampu menahan emosi untuk tetap berada dalam diri semau kita. Mari kita perhatikan, tak mungkin kita merasakan kegembiraan terus-menerus. Tak mungkin pula kita merasakan kesedihan terus-menerus. Pada waktunya perasaan sedih hilang digantikan dengan perasaan lain, begitu pula sebaliknya. Perhatikan, bahwa kita tak kuasa untuk menjaga kegembiraan berada dalam diri setiap saat. Kita pun tak kuasa menolak perasaan sedih singgah dalam jiwa kita. Jadi, mengendalikan emosi pada dasarnya bukan
menolak hadirnya emosi dalam diri, namun menyadari akan hadirnya emosi itu dalam diri. Kemampuan mengendalikan emosi lebih terletak pada kemampuan mengendalikan pikiran kita, karena pikiranlah yang mengidentikkan emosi itu sebagai diri kita. Pikiranlah yang menjadi bahan bakar emosi sehingga membesar dan membakar seluruh diri. Kematangan emosi seseorang sebenarnya hasil dari kematangannya dalam mengendalikan pikirannya sendiri.

Pertanyaan #5--Bila anda bukanlah emosi anda, maka siapakah anda?

Sebuah pertanyaan sederhana yang untuk menjawabnya butuh sebuah penenangan diri yang dalam. Bila kita bukan emosi kita, maka kita sebenarnya merupakan sesosok yang tenang yang dengan cermat mengamati setiap emosi dan perasaan yang hadir dalam pikiran. Kita adalah sesosok yang tenang yang dengan hati-hati mengamati setiap gerak pikiran yang terjadi. Dengan demikian kita adalah sesosok yang tak perlu tergoyahkan oleh rasa takut, atau terbuai oleh kegembiraan, namun menggunakan seluruh karunia emosi itu sebagai sebuah kekuatan untuk membangun hubungan dengan orang-orang dan alam secara harmonis dan keseluruhan.

ANDA TAKKAN BISA BERDUSTA

Anda bisa berdusta bahwa tubuh anda sehat dan bugar tak kurang satu apa.
Anda bisa samarkan sinar redup mata anda dengan garis-garis kemilau.
Atau anda bisa tutupi keluhan anda dengan senyum lebar.
Namun, anda tak lagi bisa berdusta bila darah anda yang bicara.
Saat beberapa tetes darah anda ditanya lewat kaca mikrokospis, ia akan bercerita apa adanya.
Bahkan tubuh anda menyimpan catatan anda tanpa menghilangkan satu titik pun.

Anda bisa berdusta mengenai kemelut dalam diri anda.
Anda bisa kelabui kekacauan jiwa anda dengan membelalakkan kelopak mata.
Anda bisa sembunyikan kerumitan diri dengan menegaskan getar pita suara anda.
Namun, anda tak lagi bisa berdusta bila hati anda yang berbisik.
Saat keping-keping hati disatukan dalam sebuah perenungan di tengah-tengah malam, ia akan kisahkan apa adanya.
Bahkan hati anda akan mencatat sejarah anda tanpa menghapus satu koma pun.

Thursday, February 05, 2009

Stopper ANAK

Jika anak-anak anda menghormati anda, anda telah meraih keberhasilan dalam tugas hidup yang terbesar.
(Unknown)

Anak-anak adalah peniru yang alami, mereka akan bertingkah seperti orang tuanya meski apa pun telah diajarkan untuk membuat mereka menjadi baik.
(Unknown)

Beberapa keluarga bisa melacak nenek moyangnya sampai tiga ratus tahun silam, tetapi tak bisa menjelaskan kemana anak-anak mereka pergi semalam.
(Unknown)

Si Murung dan Si Ceria

Ada dua anak bernama Si Ceria dan Si Murung. Seperti namanya Ceria mempunyai sifat periang, selalu gembira dan tersenyum. Sebaliknya Murung mempunyai perangai yang cemberut, selalu sedih, dan jarang tersenyum.

Suatu ketika orang tua mereka berpikiran untuk membuat Si Murung tersenyum gembira dan membuat Si Ceria menjadi sedih cemberut dan sedih. Mereka lalu berpikir untuk memberikan sesuatu yang menjadi kesukaan masing-masing anak.

Si Murung menginginkan telepon genggam. Selama ini jika pergi dengan teman-temannya sering kali ia meminjam telepon genggam milik temannya. Orang tuanya membelikan sebuah telepon genggam terbaru supaya dia menjadi senang dan gembira.

Sewaktu Murung pergi sekolah, telepon genggam itu dibungkus oleh orang tuanya dengan kertas kado yang bagus dan diletakkan di kamarnya. Sepulang sekolah, Murung segera masuk ke kamar dan melihat ada kado di sana.
Cepat-cepat ia membuka kado itu dan ia terkejut sekali ketika mendapatkan di dalamnya berisi telepon genggam. Wajahnya tersenyum, tapi tidak lama.
Kemudian ia murung lagi karena ia takut kalau-kalau teman-temannya akan meminjam telepon genggamnya lalu menjadi rusak. Di benaknya selalu muncul pikiran yang negatif, sehingga kado itu menjadi beban baginya. Yang keluar dari mulutnya adalah omelan dan keluhan, bukannya ucapan terima kasih kepada orang tuanya.

Di pihak lain, si Ceria senang sekali dengan kuda. Orang tuanya membungkus kotoran kuda dan diletakkan dalam kamar agar ia menjadi sedih dan murung.
Sewaktu Ceria pulang ia juga terkejut melihat ada kado di kamarnya. Dengan sergap ia membuka pula kado itu. Betapa terkejutnya ia, ternyata yang didapatkan adalah kotoran kuda berbau busuk. Mukanya kebingungan sejenak.
Tetapi ia segera berpikir, "Ah masa orang tuaku yang begitu mencintaiku memberi aku kotoran kuda, pasti ada sesuatu di balik hadiah ini."

Kemudian ia lari kepada orang tuanya dan mencium mereka. Orang tuanya sangat bingung dan terkejut kemudian bertanya, "Lho kamu itu diberi kotoran kuda kok senang sih?".Lalu Ceria menjawab, "Papa, Mama, saya tahu kalian sangat mencintai saya, jadi tidak mungkin memberi kotoran kuda kepada saya, pasti kotoran kuda itu adalah sebuah tanda. Kalau ada kotoran kuda, berarti ada kudanya. Saya tahu bahwa kalian akan membelikan kuda pony buat saya, dan sekarang mana kudanya?"

Kemudian orang tuanya berkata, "Kami hanya memberi itu kepada kamu."

Ceria menyahut, "Tidak mungkin saya yakin pasti ada kudanya."

Akhirnya orang tuanya kalah, dan membelikan dia kuda pony.

Smiley...! Orang yang hidupnya merasa sangat dicintai akan selalu berpikir bahwa ia selalu akan menerima yang terbaik dalam hidupnya, walaupun dalam penderitaan. Sebaliknya orang yang pesimis merasa hidup ini menjadi beban penderitaan yang sangat panjang, sehingga ia selalu gelisah, takut, dan khawatir.

TIPS BERKOMUNIKASI DENGAN TATAPAN MATA

Ada pepatah yang mengatakan bahwa mata adalah jendela hati. Mata tak pernah berdusta. Seseorang yang sedang berbohong atau berpura-pura biasanya tidak berani membalas tatapan mata. Membalas tatapan mata seringkali diartikan sebagai kemantapan dan keyakinan diri. Mereka yang tidak memiliki kepercayaan diri menghindari tatapan mata. Sebenarnya, sikap membalas pandangan lawan bicara tidak sepenuhnya berlaku di semua masyarakat. Di budaya masyarakat tertentu membalas pandangan bisa saja dianggap sebagai sesuatu yang tidak sopan. Namun, dalam pergaulan kerja sehari-hari, membalas tatapan mata dengan baik merupakan salah satu bentuk cara berkomunikasi yang
produktif. Berikut beberapa tips sederhana untuk melakukan tatapan mata saat berkomunikasi. Anda bisa melakukan banyak "permainan", namun perlu disadari anda tak sepenuhnya bisa berdusta dengan tatapan mata. Tetap lebih utama anda berkomunikasi secara jujur dan jelas ketimbang ber-acting. Orang lain dengan mudah menangkap kepura-puraan, dan itu bisa berakibat yang kontra-produkti bagi komunikasi anda.

1--Berlatihlah dengan menatap jarak antara dua alis.

Bila anda belum terbiasa atau cukup memiliki keberanian untuk membalas tatapan mata lawan bicara anda, maka berlatihlah dengan menatap jarak antara dua alis, atau jarak antara dua mata, atau pangkal hidung. Lawan bicara akan menganggap anda sedang melihat dan memperhatikan dia. Secara perlahan gerakkan tatapan anda ke arah bola matanya.

2--Tataplah setidaknya lima sampai tujuh detik.

Berapa lama patokan kita dalam melakukan kontak mata dengan lawan bicara?
Menurut Bert Decker, agar lawan bicara merasa sedang diperhatikan, kita perlu melakukan kontak mata secara langsung setidaknya selama 5 detik. Atau, anda juga bisa menatapnya hingga kalimat/pembicaraan pentingnya selesai.

3--Jangan saling bertatapan terlalu lama.

Tak seorang pun senang ditatap berlama-lama. Saling menatap dalam waktu lama sama saja seperti adu keberanian (persis ikan cupang yang sedang diadu.) Ini akan menumbuhkan perasaan tidak enak. Bagi kebanyakan orang menatap orang lain terlalu lama bisa diartikan sedang menantang, mengintimidasi, atau melamun, membayangkan yang tidak-tidak, tergantung bagaimana cahaya bola mata dipancarkan. Dalam berkomunikasi, terutama saat anda sedang bersitegang, maka redakan situasi tegang itu dengan mengalihkan pandangan ke arah lain. Bila anda ingin berlama-lama menatap sesuatu, tataplah sebuah lukisan atau ukiran, jangan wajah orang lain.

4--Bola mata yang tak berdusta.

Memang pepatah mengatakan mata tidak berdusta, tetapi sebenarnya yang mencerminkan situasi emosi diri anda adalah bola mata anda. Bila anda sedang dalam keadaan senang, gembira, anda mungkin berusaha menyembunyikan di balik raut wajah, namun anda tak bisa membohongi bola mata anda yang tampak cerah dan melebar. Sebaliknya, bila anda kecewa, atau sedih, bola mata akan mengerut, meredup dan mengecil. Coba pelajari bagaimana gerak bola mata lawan bicara anda untuk mengetahui apakah ia sedang mengatakan yang sesungguhnya atau tidak.

5--Alis juga berbicara.

Alis juga memegang peranan penting dalam komunikasi mata. Perhatikan orang yang mengerutkan kening juga akan mengerutkan alisnya. Mata yang terbelalak, pertanda senang atau terkejut, diperkuat dengan alis yang terangkat tinggi.
Alis juga menyampaikan sesuatu.

6--Hindari melihat dengan sekilas.

Bila anda menatap, tataplah dengan mantap. Jangan hanya melihat sekilas-sekilas. Anda takkan dapat menangkap sesuatu dari tatapan yang sekilas. Lebih buruk lagi, anda bisa dicap tidak memperhatikan. Bila anda berjumpa dengan cukup banyak orang, maka sempatkan untuk melemparkan pandangan secukupnya pada mereka hingga mereka mengerti bahwa anda sedang memberikan perhatian. Namun, bila anda tak mampu melakukan pada seluruh lawan bicara anda, maka lakukan pada beberapa orang yang cukup anda kenal baik.

7--Sesekali alihkan pandangan

Sebagaimana lagu yang baik, tatapan mata juga memerlukan jeda. Ini baik untuk menurunkan ketegangan, dalam situasi yang panas. Ini baik juga untuk memberikan kesempatan bagi anda untuk mencerna apa yang sedang disampaikan oleh lawan bicara. Biasanya orang akan mengalihkan pandangan menatap jauh ke depan untuk memahami maksud pembicaraan anda, berikan waktu baginya.
Mengalihkan tatapan juga isyarat untuk mengalihkan pembicaraan, atau memulai topik yang baru.

Tuesday, January 06, 2009

BERLAYARLAH MENEMBUS BADAI

Setangguh apapun perahu diciptakan, ia takkan berdaya guna bila hanya tertambat di dermaga. Anda adalah perahu itu. Kesejatian perahu adalah mengarungi samudra, menembus badai dan mendarat di pantai harapan. Dermaga adalah masa lalu. Sedangkan tali penambat itu adalah ketakutan dan penyesalan. Jangan sia-siakan seluruh kekuatan yang ada pada diri anda.
Jangan biarkan masa lalu menambat anda di situ. Lepaskan diri anda dari beban ketakutan dan penyesalan. Berlayarlah. Berkaryalah.

Yang memisahkan perahu dengan pantai harapan adalah topan badai, gelombang dan batu karang. Yang memisahkan anda dengan keberhasilan adalah masalah dan tantangan. Di situlah tanda kesejatian teruji. Hakikat perahu adalah untuk berlayar menembus segala rintangan. Hakikat diri anda adalah untuk berkarya menemukan kebahagiaan.

MOTIVASI KENDOR

Tanya: Sudah 2,5 tahun saya bekerja di sebuah oil company. Umur saya 27 tahun. Sejak lulus dari perguruan tinggi, saya langsung bekerja di sini. Semasa kuliah, saya pernah, selama dua tahun, bekerja sebagai asisten peneliti untuk beberapa proyek di kampus. Saat ini, entah mengapa, saya begitu kehilangan motivasi. Saya merasa bosan dengan pekerjaan yang enam bulan terakhir ini terasa agak menoton. Dalam dua tahun ini, alhamdulillah, saya bisa mencapai prestasi kerja di atas rata-rata. Bukannya mau menyombongkan diri, namun menceritakan apa adanya. Saya pernah membicarakan masalah ini dengan atasan. Dia bilang, dia mengerti, tetapi sampai sekarang saya belum melihat perubahan. Saya bukannya mau menghindari rutinitas. Saya tahu, itu mengasah ketelatenan saya dalam menjalani pekerjaan. Tetapi saya butuh tantangan baru yang membuat darah saya selalu terasa "mengalir". Saat saya bicarakan hal ini dengan rekan-rekan senior, saya malah dibilang,"seharusnya senang dong, enggak perlu repot-repot dengan kerja".

Kadang-kadang saya berpikir pindah kerja ke perusahaan lain. Sayangnya, informasi yang saya dapat, gaji yang ditawarkan lebih rendah daripada yang saya peroleh sekarang. Bagaimanapun saya harus memperhitungkan pendapatan saya kan? Saya tunggu umpan balik anda. (BEI)

Jawab: Ada pertanyaan menarik, "siapa yang bertanggung jawab menaikkan motivasi karyawan?" Banyak orang berpendapat, perusahaan bertanggung jawab untuk meng-up-lift motivasi karyawan yang sedang anjlok. Bukankah perusahaan memerlukan karyawan bermotivasi tinggi agar produktivitasnya juga tinggi.
Oleh karena itu, perusahaan harus mengadakan berbagai program, seperti pelatihan, empowerment, tour of duty, dan lain-lain. Namun, pendapat ini segera menuai keberatan.

Pertama, tidak semua orang mempunyai persoalan motivasi yang sama, sehingga mengadakan program pelatihan massal tidak selalu berhasil bagi orang-orang tertentu.

Kedua, teramat sulit bagi perusahaan untuk mengetahui persoalan orang per orang. Mungkin jauh lebih mudah dan murah mendapatkan karyawan baru yang penuh gairah daripada menjaga karyawan lama yang kehilangan motivasi.

Menurut kami, yang paling bertanggung jawab memompa motivasi adalah diri sendiri, bukan orang lain! Jangan bebankan persoalan ini pada manajer atau perusahaan (belum tentu anda dipandang sebagai valuable employee oleh perusahaan). Namun anda boleh mengungkapkannya pada atasan agar bisa melakukan sesuatu bersama-sama. Coba periksa penyebab turunnya motivasi kerja anda, dugaan kami, anda sudah menguasai pekerjaan sehari-hari sehingga menjadi terlalu mudah. Ya! anda perlu sesuatu yang baru. Namun, ada baiknya anda ukur kemampuan bukan hanya dari tingkat penyelesaian tugas semata,
melainkan juga pemahaman atas apa yang ada di balik pekerjaan itu. Misal, integrasi sistem dengan bagian lain, pemercepatan prosedur, pengendalian internal, aspek manusia dan politiknya, perbaikan yang berkelanjutan, dan lain-lain.

Bila anda bosan dengan pekerjaan administrasi, mungkin anda perlu mencoba kerja lapangan, atau sebaliknya. Tanyakan pada diri sendiri, bidang apa yang benar-benar anda minati. Ajukan diri anda pada atasan untuk melakukan sesuatu yang membuat anda bekeringat. Jangan terburu mengeluh bosan pada atasan, siapa tahu atasan anda sendiri mempunyai persoalan yang sama. Lebih baik tunjukkan kesediaan diri untuk mencoba bidang-bidang baru. Namun, sebelumnya pelajari apakah perusahaan membuka peluang untuk itu atau tidak. Bila secara formal, hal ini sulit, mengapa anda tidak mencoba berkecimpung di bidang-bidang informal. Misal, terlibat dalam kegiatan karyawan, koperasi pegawai, komunitas dan lingkungan perusahaan. Ajukan diri anda pada kelompok, atau paguyuban karyawan. Bila belum tersedia, mengapa anda tidak
mencoba menciptakannya. Ini akan memperluas jaringan pergaulan, pengalaman dan kemampuan anda yang lain. Seringkali persoalan motivasi kerja bisa terselesaikan dengan mengerjakan sesuatu di luar pekerjaan formal.

Pindah kerja...? Salah satu alasan umum untuk pindah adalah karena kita tak menemukan tantangan baru di tempat kerja yang sekarang. Namun, perlu anda sadari, anjloknya motivasi dan kebosanan bisa menimpa siapa saja. Pada saatnya setiap orang akan menghadapinya. Saat ini kemampuan anda untuk mengatasi persoalan pribadi secara mandiri sedang diuji. Apakah anda mengeluh, menghindar atau berani menghadapinya? Pandanglah kesempatan karier anda dalam perspektif yang jauh ke depan. Menilik usia dan pengalaman kerja anda, terlalu dini bagi anda untuk mengambil kesimpulan bahwa anda kehilangan motivasi karena pekerjaan sudah tak menarik lagi. Mereka yang berhasil terus maju adalah yang tak kehilangan semangat tanpa menunggu "api" dari orang lain. Atasi persoalan ini sekarang. Bila anda menghindarinya, ia akan datang untuk menginjak anda di kemudian hari. Jadi, tidak banyak orang yang bisa menolong selain diri anda sendiri.

AGAR ANDA TAK KESEPIAN

Kesepian bukan dikarenakan tak hadirnya ujud seseorang di sekitar anda. Melainkan kosongnya hati anda dari orang-orang yang saling kasih-mengasihi anda. Janganlah kehilangan saat-saat berharga; yaitu saat dimana anda harus membantu mereka yang membutuhkan. Melalui uluran pertolongan, anda jalin hati anda dan hati orang lain dengan dawai emas yang tak tampak. Dawai itu bernamakan persaudaraan. Semakin banyak dawai itu terjalin semakin jauh hati anda dari kesepian. Karena dawai-dawai persaudaraan akan mendentingkan nada-nada yang memenuhi dan menghibur jiwa.

Bangkit dan tebarkan uluran tangan anda. Segaris senyum dan tatapan mata yang bersahabat cukuplah untuk membangunkan bahwa anda sama sekali tidak sendiri. Selama mereka yang anda kasihi dan mengasihi anda berada dalam hati, tak ada tempat untuk sebuah kesepian.

Wednesday, December 10, 2008

KEPEMIMPINAN YANG UTAMA #2/2

Jenderal Colin Powell

PELAJARAN #10--Jangan pernah membiarkan ego anda begitu dekat dengan posisi anda, karena jika posisi anda hilang, ego anda juga hilang bersamanya.

Seringkali, perubahan dihambat oleh orang-orang yang berpegang pada lingkungan dan job description yang biasa. Salah satu sebab organisasi besar melemah adalah para manajernya tidak menantang cara yang lama atau yang mudah dalam melaksanakan sesuatu. Pemimpin sejati mengerti bahwa, sekarang ini, setiap orang dalam pekerjaan kita menjadi usang. Yang mesti kita
kerjakan adalah menjadikan diri kita usang terlebih dahulu sebelum orang lain melakukannya pada kita. Pimpinan yang efektif menciptakan suatu iklim dimana nilai orang ditentukan oleh keinginan mereka untuk mempelajari ketrampilan yang baru, mengambil tanggung jawab yang baru, dan terus-menerus mengembangkan pekerjaan mereka. Pertanyaan paling penting dalam penilaian pelaksanaan kerja bukan "bagaimana anda melaksanaan pekerjaan anda sejak terakhir kita bertemu?" tetapi, "berapa banyak anda mengembangkan pekerjaan anda?"

PELAJARAN #11--Jangan jadi orang yang suka meniru-niru. Jangan mengejar mode-mode manajemen terbaru. Suatu persoalan selalu menunjukkan pendekatan yang terbaik untuk mencapai misi kelompok.

Melompat dari mode ke mode manajemen menciptakan kebimbangan kelompok, mengurangi kredibilitas pemimpin, dan mengurangi dana perusahaan. Mengikuti suatu mode secara membuta menciptakan kekakuan dalam pemikiran maupun tindakan. Kadang-kadang kecepatan memasarkan lebih penting dari total kualitas. Kadang-kadang suatu pengarahan yang keras lebih baik daripada diskusi menyeluruh. Beberapa situasi memerlukan pengawasan pemimpin secara
ketat, situasi lain memerlukan kebebasan yang luas dan panjang. Pemimpin yang baik menghargai nilai-nilai inti mereka, tetapi fleksibel dalam menjalankannya. Mereka mengerti bahwa tehnik manajemen bukan mantera ajaib tetapi cuma alat untuk dipergunakan pada waktunya.

PELAJARAN #12--Optimisme yang terus menerus adalah sumber peningkatan kekuatan.

Efek naik turun dari minat dan optimisme pemimpin adalah luar biasa. Juga akibat dari sinisme dan pesimisme. Pemimpin yang mengeluh dan menyalahkan akan menghasilkan tingkah laku yang sama di antara sejawat mereka. Saya tidak berbicara tentang menerima kebodohan organisasi dan ke-tidak-kompeten-an pelaksanaan kerja secara terus menerus dengan senyum.
Saya berbicara tentang sikap bersemangat yang berkata, "kita dapat mengubah beberapa hal di sini, kita dapat mencapai sasaran besar, kita dapat menjadi yang terbaik." Berikan pada saya doa tidak berpengharapan dari si "realis", berikan pada saya aspirasi yang paling tidak realistis dari si optimis setiap waktu.

PELAJARAN #13--Prinsip dalam mencari karyawan: Carilah kecerdasan dan kebijakan. Yang terpenting, carilah kemampuan untuk mengantisipasi dan memeriksa setiap sudut. Juga carilah kesetiaan, integritas, dorongan yang sangat kuat, ego yang seimbang, dan dorongan untuk membuat pekerjaan terselesaikan.

Seberapa sering kita, dalam suatu proses rekrutmen, memilih orang dengan kriteria di atas? Seringkali kita mengabaikannya karena lebih tertarik pada surat keterangan yang panjang lebar, pendidikan danm jabatan tinggi sebelumnya. Ikatan dari job description yang dipegang seseorang sebelumnya tampaknya lebih penting daripada siapa orang itu hari ini, apa yang dapat
mereka berikan nanti, atau bagaimana nilai-nilai mereka akan bersatu dengan yang ada pada organisasi. Anda dapat melatih orang baru yang cerdas dan mau bekerja dengan dasar-dasar dari perusahaan secara cukup cepat, tetapi lebih sulit melatih seseorang untuk memiliki integritas, kebijakan, energi, keseimbangan dan dorongan untuk penyelesaian pekerjaan. Pimpinan yang baik mengumpulkan hal tersebut pada posisi mereka tepat pada saat rekrutmen.

PELAJARAN #14--Pemimpin besar umumnya penyederhana besar, yang dapat memotong argumen, debat dan keraguan, dan menawarkan solusi yang dapat dimengerti setiap orang.

Pimpinan yang efektif mengerti prinsip KISS, Keep It Simple, Stupid. Mereka menguraikan nilai-nilai dan sasaran yang rumit, yang digunakan untuk mendorong sikap sehari-hari dan pilihan di antara alternatif yang hampir sama. Visi dan prioritas mereka sederhana dan menggugah, tidak rumit atau penuh teka-teki. Keputusan mereka tegas dan jelas, tidak bimbang dan samar.
Mereka menyatakan kekuatan dan konsistensi dalam tindakan mereka, sejalan dengan gambaran masa depan yang mereka buat. Hasilnya : kejelasan sasaran, kredibilitas kepemimpinan, dan integritas dalam organisasi.

PELAJARAN #15--Bagian I: Gunakan rumus P=40 sampai dengan 70. P adalah kemungkinan sukses, sedangkan angka tersebut menunjukkan persentase dari informasi yang diperoleh. Bagian II: Begitu informasi dalam batasan 40 – 70 tercapai, laksanakan dengan penuh nyali.

Jangan bertindak jika anda memiliki informasi kurang dari 40% kemungkinan benar, tapi juga jangan menunggu hingga memiliki fakta hingga 100%, karena pada saat itu, umumnya sudah sangat terlambat. Saat ini, keterlambatan yang berlebihan dengan alasan pengumpulan informasi, mengghasilkan "analysis paralysis". Penangguhan dengan alasan mengurangi resiko sebenarnya meningkatkan resiko.

PELAJARAN #16--Komandan lapangan selalu benar, sedangkan pejabat di garis belakang selalu salah, kecuali dibuktikan sebaliknya.

Seringkali, yang terjadi dalam budaya perusahaan adalah sebaliknya. Inilah salah satu penyebab utama mengapa pimpinan-pimpinan seperti Ken Iverson dari Nucor Steel, Percy Barnevick dari Asea Brown Boveri, dan Richard Branson dari Virgin, telah membatasi staff mereka hingga minimum sekali, bagaimana hanya kurang dari 100 staff dibutuhkan perputaran global senilai US 30 Milyar? Atau sekitar 25 dan 3 untuk bisnis milyaran Nucor dan Virgin?
Berikan wewenang pada orang-orang yang membawa hasil, bukan kepada mereka yang menghitung atau menganalisa hasil tersebut.

PELAJARAN #17--Nikmatilah kempemimpinan Anda. Jangan selalu berlari dengan langkah terburu-buru. Cutilah jika anda telah berhak untuk itu, gunakan waktu dengan keluarga. Kesimpulan: kelilingi anda dengan orang-orang yang mengerjakan tugas mereka dengan serius, tetapi bukan mereka, yang bekerja keras dan bermain keras.

Herb Kelleher dari Southwest Air dan Anita Rodick dari The Body Shop akan setuju: carilah orang yang seimbang dalam hidup mereka, yang menyenangkan bila bersama, yang senang tertawa (menertawakan diri mereka sendiri juga), dan yang memiliki prioritas non-kerja yang didekati dengan cara yang sama dengan waktu mereka bekerja. Berikan saya pecandu kerja yang keras atau "professional" yang angkuh dan suka pamer, saya akan mencarikan mereka
pekerjaan pada saingan saya.

PELAJARAN #18--Memimpin berarti kesepian.

Harry Truman benar. Apakah anda seorang top manager atau pimpinan sementara dari suatu proyek, hal ini hanya sampai disini. Anda dapat menciptakan manajemen partisipasi dan keterlibatan seluruh pekerja, tetapi sesungguhnya inti dari kepemimpinan adalah kesiapan untuk membuat pilihan-pilihan yang tegas dan jelas yang akan menentukan nasib perusahaan. Saya telah melihat banyak pemimpin yang menyimpang dari tanggung jawab ini. Meskipun anda telah menciptakan budaya perusahaan yang informal, terbuka, bekerja sama, bersiaplah untuk kesepian.

"Kepemimpinan adalah seni untuk mencapai lebih daripada yang dikatakan mungkin oleh ilmu manajemen"

BERKOMUNIKASI DENGAN TELINGA

Anda tentu tahu permainan kuis komunikasi ini: sang pemandu membisikkan sepotong kalimat untuk anda teruskan pada anggota tim. Anda juga pasti tahu hasil akhirnya: hanya kurang dari sepuluh detik pesan itu nyaris tak anda kenali lagi. Dalam kehidupan sehari-hari kita tak sedang bermain-main dengan komunikasi, namun kekacauan itu selalu saja dijumpai. Mengapa kesalahan itu terjadi?

Jangan katakan ini adalah kesalahan komunikasi. Tidak. Ini semata-mata karena kita cenderung hanya mau mendengar apa yang ingin kita dengarkan. Kita tak sepenuhnya mendengarkan apa yang sedang dikatakan. Kekacauan itu semakin buruk karena ternyata kita cukup malas untuk berbalik badan menanyakan kembali apa yang telah disampaikan. Ketika keraguan tiba, bukan penegasan yang dicari, tetapi kesimpulan sendiri yang dibenarkan. Komunikasi bukan soal menyampaikan pernyataan melalui jutaan kalimat, melainkan juga mendengarkan dengan selebar-lebar cakrawala telinga terbuka.

JANGAN HABISKAN WAKTU UNTUK MENGKRITIK

Anda akan memiliki lebih banyak "waktu" dengan tidak mengkritik. Setiap orang memahami sesuai prasangkanya. Setiap orang berhak mempertahankan pendiriannya. Jadi untuk apa anda menyusahkan diri dengan mengkritik apa yang terjadi pada orang lain. Anda takkan mampu memahami semua hal. Anda mungkin tidak melihat apa yang dilihat orang lain. Keterbatasan pikiran dan prasangkalah yang membuat anda takabur sehingga seolah-olah melihat apa yang
tak dilihat orang lain.

Bila perahu anda bocor di tengah lautan. Kritik pada si pembuat perahu tak akan menolong anda dari ketenggelaman. Anda harus menambal lubang, atau terjun ke air dan berenang. Ini menolong anda sendiri. Semua tindakan bagai simpanan yang akan anda tarik kelak. Dan seburuk-buruknya simpanan adalah kecaman. Sedangkan pertolongan selalu memberikan bunga yang terbaik.

KEPEMIMPINAN YANG UTAMA #1/2

Jenderal Colin Powell

PELAJARAN #1--Bertanggung jawab kadang-kadang berarti mengabaikan sebagian orang.

Kepemimpinan yang baik mencakup kesejahteraan kelompok. Namun, mungkin sebagian orang tidak menyukai tindakan dan keputusan anda. Ini bisa dimengerti, jika anda cukup dapat dihargai. Mencoba untuk mengambil hati semua orang adalah tanda kelemahan: anda menghindari keputusan yang sulit, anda menghindari orang-orang yang perlu dihadapi, dan anda menghindari pemberian kompensasi yang berbeda berdasarkan pelaksanaan kerja. Ironisnya,
dengan menunda pilihan yang sulit, dengan mencoba menghindari marahnya seseorang, dan dengan memperlakukan setiap orang sama baiknya tanpa menimbang konstribusi mereka, anda akan tahu bahwa anda hanya akan menimbulkan kemarahan dari mereka yang paling kreatif dan produktif dalam organisasi.

PELAJARAN #2--Saat prajurit berhenti membawa masalah mereka kepada anda adalah saat dimana anda berhenti memimpin mereka. Mungkin mereka kehilangan kepercayaan bahwa anda dapat membantu mereka, atau telah beranggapan bahwa anda tidak peduli. Keduanya adalah kegagalan kepemimpinan.

Jika ini adalah tes lakmus, maka kebanyakan top manager akan gagal. Pertama, mereka membangun banyak penghalang komunikasi. Bawahan merasa dirinya konyol untuk meminta bantuan ke atas. Kedua, mereka membangun budaya perusahaan yang memandang meminta bantuan sebagai pertanda kelemahan atau kegagalan.
Dengan demikian orang-orang menutupi kekurangan mereka. Perusahaan pun rugi karenanya. Pimpinan sejati akan membuat diri mereka dapat dihubungi dan siap setiap waktu. Mereka menunjukkan kepedulian pada usaha dan tantangan yang dihadapi para bawahannya, walaupun mereka meminta standar yang tinggi.
Mereka menciptakan suatu lingkungan di mana analisis masalah meniadakan tindakan mencari kambing hitam.

PELAJARAN #3--Jangan terpengaruh dengan para ahli dan para elite. Para ahli sering memiliki lebih banyak data daripada penilaian. Para elite bagaikan penderita hemofili yang akan mengalami pendarahan hingga mati segera setelah mereka bersentuhan dengan dunia nyata.

Perusahaan kecil dan pemula tidak memiliki waktu untuk para ahli yang khusus secara analitis. Mereka juga tidak memiliki dana untuk membayar para elite yang angkuh. Para pemimpin perusahaan itu adalah mereka yang ikut menjawab telepon, dan jika perlu mengendarai truknya untuk mengirim sendiri barang.
Setiap karyawan tampak benar-benar bekerja sesuai dengan gaji yang mereka terima, dan tentu saja memberikan kontribusi pada laba perusahaan. Karyawan yang tidak memberikan konstribusi apa-apa akan hanya tinggal sejarah. Tetapi pada saat perusahaan berkembang, mereka sering lupa pada hal-hal yang pernah membuat mereka jungkir balik menjalankan perusahaan seperti: keterlibatan kerja, kesepakatan, keakraban, pengenalan pasar, keberanian, resiko, kecepatan dan kesiagaan. Kebijakan dari menara gading sering berakibat tidak
menyenangkan bagi orang-orang lapangan yang berjuang dalam persaingan dan menghasilkan pendapatan. Pimpinan sejati selalu siaga dan siap tempur berhadapan dengan semua persoalan ini.

PELAJARAN #4--Jangan takut menantang para professional, meski di halaman belakang rumah mereka sendiri.

Belajarlah dari para professional. Jadikan mereka sebagai mentor atau mitra.
Tetapi ingat, mereka adalah manusia juga yang tingkat kepemimpinan dan kemampuannya bisa mentok. Kadang-kadang para professional merasa puas diri lalu malas. Kepemimpinan tidak lahir dari kepatuhan buta pada seseorang.
Barry Rand dari Xerox benar ketika mengingatkan orang-orangnya bahwa jika anda memiliki seorang "yes-man" di bawah anda, maka salah satu dari anda tidak diperlukan. Kepemimpinan yang baik memerlukan perubahan dari setiap orang.

PELAJARAN #5--Jangan mengabaikan detail. Jika pikiran setiap orang tumpul dan buntu, pemimpin harus lebih siaga.

Strategi berarti pelaksanaan. Semua idea besar dan visi di dunia ini tidak ada harganya jika tidak dapat diterapkan secara cepat dan effisien. Pimpinan yang baik mendelegasikan dan memperkuat orang-orang secara bebas, tetapi mereka memperhatikan detail setiap hari. Pimpinan yang buruk, termasuk mereka yang mengatakan dirinya "pemberi visi" yang progressif, berpikir bahwa mereka tidak memerlukan detail operasional. Sebaliknya, pimpinan yang baik memahami bahwa ada hal lain yang harus diperhatikan, yaitu: rutinitas yang kaku dalam melaksanakan detail akan menimbulkan keseragaman dan puas diri, yang seterusnya akan menyebabkan tumpulnya pikiran setiap orang.
Itulah mengapa, walaupun mereka memperhatikan detail, mereka terus-menerus mendorong orang-orang untuk menantang proses. Mereka secara implisit mengerti sikap dari pimpinan top seperti Harry Quadracchi dari Quad Graphic, Lars Kolind dari Oticon, dan almarhum Bill McGowan dari MCI, yang tanpa beban mengatakan bahwa tugas dari pimpinan bukanlah menjadi kepala pengorganisasi, tetapi menjadi kepala pengdisorganisasi.

PELAJARAN #6--Anda tidak mengetahui apa yang dapat anda raih sampai anda mencobanya.

Ada pepatah, "lebih mudah meminta maaf daripada meminta ijin". Itu benar.
Pimpinan yang baik tidak menunggu ijin resmi untuk mencoba sesuatu. Mereka bijak, tidak liar. Tetapi mereka juga menyadari kenyataan hidup di kebanyakan organisasi: jika anda meminta ijin dari beberapa orang, anda akan jumpai orang-orang yang merasa tugasnya adalah berkata "tidak." Intinya adalah: jangan meminta ijin. Manager menengah yang kurang effektif biasanya
berkata: "Jika saya tidak dijawab "Ya" secara tegas, saya tidak dapat melaksanakannya". Sedangkan manajer yang baik justru berkata, "Jika saya tidak dijawab secara tegas "Tidak", berarti saya dapat melakukannya." Ada perbedaan yang sangat besar antara kedua titik pandang tersebut.

PELAJARAN #7--Teruslah mencari apa yang ada di balik penampilan luar. Jangan takut melakukannya hanya karena anda mungkin tidak menyukai apa yang anda temukan.

"Jika sesuatu tidak rusak, jangan memperbaikinya" adalah slogan dari si-puas-diri, si-angkuh dan si-penakut. Itu adalah alasan untuk tidak bertindak, suatu panggilan untuk perlucutan senjata. Itu adalah suatu kecenderungan pemikiran yang menganggap (atau berharap) bahwa realita hari ini akan berlanjut esok hari dengan cara yang tenang, mendatar dan dapat
diduga sebelumnya. Dalam budaya seperti ini, anda tidak akan menjumpai seseorang yang secara pro-aktif mengambil langkah untuk menyelesaikan masalah yang timbul. Ini suatu saran kecil, jangan menanam modal pada perusahaan tesebut.

PELAJARAN #8--Organisasi tidak benar-benar mencapai sesuatu. Demikian juga dengan rencana-rencana. Teori-teori manajemen tidak usah dipedulikan. Keberhasilan atau kegagalan usaha disebabkan oleh orang-orang yang dilibatkan. Hanya dengan menarik orang-orang yang terbaik, anda akan mendapatkan hasil yang besar.

Dalam perekonomian yang berdasarkan kecerdasan manusia, asset terbaik anda adalah orang-orang. Kita mendengar pernyataan ini begitu seringnya hingga menjadi terbiasa. Tetapi berapa banyak pimpinan yang benar-benar menjalankan hal tersebut? Seringkali, orang-orang dianggap sebagai bidak catur yang digerakkan oleh orang-orang besar. Ini menjelaskan mengapa begitu banyak top manager memenuhi kalender mereka dengan membuat kesepakatan dengan
orang-orang, merestrukturisasi, dan menerapkan mode manajemen terkini.
Berapa banyak di antara mereka yang menenggelamkan diri dalam pencapaian sasaran, menciptakan suatu lingkungan di mana orang terbaik, terpintar, dan paling kreatif tertarik, dipertahankan, dan yang terpenting, dibebaskan bertindak?

PELAJARAN #9--Struktur organisasi dan nama-nama jabatan hampir tidak berarti sama sekali.

Struktur organisasi adalah beku, gambar kuno di tempat kerja yang seharusnya dinamis seperti lingkungan di luar di sekeliling anda. Jika orang benar-benar mengikuti struktur organisasi, perusahaan-perusahaan akan tutup.
Pada perusahaan yang dijalankan dengan baik, gelar atau nama jabatan juga sangat tidak berarti. Paling banyak hanya menunjukkan tingkat otoritas, suatu status resmi yang memberikan kemampuan untuk memberi perintah dan menuntut ketaatan. Tetapi gelar memiliki arti kecil dalam lingkup kekuatan sebenarnya, yaitu kapasitas untuk mempengaruhi dan memberi inspirasi.
Pernahkah anda memperhatikan bahwa orang akan secara pribadi mengikuti individu tertentu yang justru di atas kertas (atau struktur organisasi) memiliki sedikit otoritas, tetapi memiliki minat, keahlian, dan kepedulian yang sungguh-sungguh bagi rekan kelompok dan produknya? Sebaliknya, bukan pemimpin pada manajemen dapat saja dihubungkan dengan kelebihan-kelebihan dan kenikmatan sehubungan dengan posisi yang tinggi, tetapi mereka memiliki
sedikit pengaruh terhadap yang lain, di luar dari kemampuan mereka untuk mendapatkan pemenuhan standard minimal.
--- bersambung---->>>

BERKENAN MEMBERI

Mungkin tak seorang pun bersimpati pada kesulitan anda. Atau mau mendengar dan memperhatikan keluhan anda. Itu tak apa. Biarkan saja. Manusia selalu disibukkan oleh urusannya sendiri. Manusia kebanyakan mendahulukan kepentingan egonya. Jadi mengapa anda harus kesal dan memasukkannya ke dalam hati? Hidup ini sederhana, bila kita tak selalu menuntut belas kasih dari orang lain. Hidup ini terasa manis, ketika kita bersedia menolong pada orang lain tanpa pamrih. Semakin banyak anda memberi, semakin ringan langkah anda
jadinya.

Cobalah berdiri di depan jendela dan pandanglah keluar. Tanyakan pada diri anda, apa yang bisa anda berikan pada dunia ini. Pasti ada alasan kuat anda hadir di sini. Tentu, bukan untuk merengek atau meminta sanjungan. Namun, demi sebuah kegunaan yang takkan sia-sia. Bahkan seekor cacing tanah pun menggeliat untuk menggemburkan sawah. Apalagi anda yang telah sempurna untuk seluruh tugas hidup anda. Namun, itu hanya terwujud bila anda berkenan
memberi.

RUMAH SERIBU CERMIN

Cerita Rakyat Jepang

Dahulu, di sebuah desa kecil yang terpencil, ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama "Rumah Seribu Cermin."

Suatu hari seekor anjing kecil sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi "Rumah Seribu Cermin". Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya. Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi. Ekornya bergerak-gerak secepat mungkin. Betapa
terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seribu wajah ceria anjing-anjing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia tersenyum lebar, dan seribu wajah anjing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangat dan bersahabat.

Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat aku akan kembali mengunjunginya sesering mungkin."

Sesaat setelah anjing itu pergi, datanglah anjing kecil yang lain. Namun, anjing yang satu ini tidak seceria anjing yang sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu. Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu.
Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah anjing kecil yang muram dan tidak bersahabat. Segera saja ia menyalak keras-keras, dan dibalas juga dengan seribu gonggongan yang menyeramkan. Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sungguh menakutkan, aku takkan pernah mau kembali ke sini lagi."

Pojok Renungan Editor: Semua wajah yang ada di dunia ini adalah cermin wajah kita sendiri. Wajah bagaimanakah yang tampak pada orang-orang yang anda jumpai?

Rantai yang mengikat kaki

Seorang pawang gajah pernah bercerita bahwa gajah harus dilatih sejak masih kecil dan lemah. Pertama-tama kaki bayi gajah diikat dengan rantai baja yang kuat pada sebuah tonggak yang kokoh. Gajah hanya bisa berjalan sejauh panjang rantai. Jika ia berusaha melarikan diri, rantai baja akan menahannya. Biasanya ia akan mencoba memutuskan rantai itu dengan menariknya kuat-kuat, namun ia masih terlalu lemah untuk bisa mengalahkan kekuatan rantai baja. Ini berlangsung selama bertahun-tahun sampai tertanam dalam benak gajah bahwa ia takkan pernah mampu memutuskan rantai yang mengikat kakinya. Dengan demikian sang pawang bisa membawa gajah bekerja di ladang dan hutan tanpa khawatir melarikan diri. Lalu, apalah bedanya rantai baja dengan tali ijuk, bila sang gajah tetap saja menganggap dirinya takkan mampu mengalahkan apa yang mengikat kakinya?

Apakah hal ini terjadi pada hidup kita? Jika selama ini kita membiarkan diri terbelenggu pada pengalaman masa lalu, tanpa sedikit pun ada keberanian untuk menginsafinya, maka jangan salahkan siapa-siapa jika kita takkan pernah mampu melepaskan diri dari penyesalan.

Tuesday, December 09, 2008

TIPS MEMIMPIN DENGAN KETELADANAN

Keteladanan adalah perintah tanpa kata-kata. Orang senang mengikuti keteladan daripada perintah. Menjadi teladan adalah cara sederhana tapi efektif untuk mengesankan dan mempengaruhi karyawan anda. Sebenarnya, prinsip keteladanan itu ringkas, yaitu, "Meminta orang lain untuk melakukan apa yang anda lakukan dan katakan". Namun demikian penerapannya tidak cukup mudah. Anda memerlukan konsistensi dan integritas. Anda perlu mengetahui di bidang-bidang mana saja anda harus memberikan keteladanan. R. Bruce McAfee
dan Betty J. Ricks dalam tulisannya, "Leadership By Example: 'Do as I Do!" menunjukkan enam bidang kunci dimana anda harus bertindak dengan sikap memberi teladan.

1--Ketaatan pada aturan.

Tunjukkan keteladanan anda dengan menaati aturan-aturan yang berlaku. Sampaikan bahwa aturan tidak selamanya dibuat untuk membatasi ruang gerak, namun untuk menciptakan kondisi kerja yang positif.

2--Pencapaian kinerja kerja.

Anda tidak dapat mengharapkan karyawan anda bekerja lebih baik dari anda. Bila anda ingin karyawan meningkatkan prestasinya, tingkatkan terlebih dahulu prestasi anda.

3--Sikap terhadap perusahaan dan pekerjaan.

Milikilah sikap positif terhadap perusahaan dan pekerjaan. Tunjukkan sikap positif dan optimis terhadap apa yang dilakukan oleh perusahaan. Bila anda bersikap skeptis dan pesimis, maka anda gagal menumbuhkan kesan baik pada karyawan.

4--Kesehatan dan penampilan fisik.

Semua orang senang melihat kebugaran dan penampilan segar. Berilah teladan dengan merawat kesehatan dan penampilan diri anda.

5--Pakaian dan kerapihan

Pakaian yang anda kenakan dan gaya anda berpakaian dapat mempengaruhi orang lain. Berpakaian dengan rapi dan profesional menunjukkan penghargaan anda pada pekerjaan dan lingkungan kerja.

6--Aspek komunikasi interpersonal

Perhatikan cara anda berbicara dan bahasa tubuh anda saat berkomunikasi secara personal dengan orang lain. Tunjukkan sikap tenang, wibawa dan menghargai lawan bicara anda.

RUSA DI HUTAN

Laura Ingalls Wilder

Kisah ini bermula di hutan Wisconsin. Di sana ada seorang anak kecil bernama Laura. Ia tinggal di sebuah pondok yang terbuat dari balok kayu. Laura tinggal bersama dengan Pa, Ma, dan kedua saudara perempuannya. Kakaknya bernama Mary dan adiknya Carrie. Mereka punya seekor anjing bulldog yang sudah tua. Namanya Jack.

Saat itu musim gugur. Udara menjadi dingin. Sepanjang hari perapian dinyalakan supaya rumah tetap hangat. Laura dan Mary menjahit kain perca di depan perapian. Mereka sedang membuat selimut dari kain perca.

Suatu hari, sehabis makan malam, Pa pamit pergi ke hutan. Pa akan berburu rusa. Sejak musim semi lalu, persediaan daging di rumah sudah habis. Kini tiba saatnya bagi Pa untuk berburu lagi. Setelah Pa berangkat ke hutan, Laura dan Mary pergi tidur. Mereka kehilangan suara biola Pa. Biasanya, Pa selalu memainkan biola sebagai musik pengantar tidur mereka.

Keesokan harinya, Laura dan Mary menunggu cerita Pa tentang rusa di hutan.
Namun, seharian Pa sibuk membelah kayu bakar. Dan, mereka tidak melihat daging rusa sedikit pun.

Setelah makan malam Pa memangku Laura. Mary duduk di atas kursi kecilnya.
Lalu Pa berkata, "Sekarang Pa akan menceritakan mengapa kita tidak makan daging hari ini."

"Semalam Pa pergi ke hutan dan memanjat pohon oak yang besar. Dari situ Pa bisa mengintai rusa," kata Pa. "Kemarin bulan sedang purnama. Pa melihat seekor rusa yang bertanduk besar. Rusa itu tampak begitu kuat, bebas, dan liar. Pa tak tega menembaknya. Pa hanya duduk dan memandanginya. Akhirnya ia lari masuk ke hutan."

"Pa jadi ingat. Ma dan kalian sedang menanti daging rusa untuk kubawa pulang. Lalu Pa bertekad, nanti, kalau ada rusa muncul, Pa akan menembaknya.
Setelah menunggu agak lama, seekor induk rusa dan anaknya muncul di bawah sinar bulan. Mereka berdiri sambil mengawasi bulan. Matanya yang besar bersinar lembut. Sekali lagi, Pa hanya memandangi mereka. Mereka pun berlalu dan hilang di telan bayangan pepohonan. Lalu Pa turun dari pohon dan pulang."

Laura berbisik di telinga Pa, "Aku senang Pa tidak menembak mereka!"

Lalu Mary berkata, "Kita masih bisa makan roti dan mentega."

Pa memeluk kedua akanya dan berkata, "Kalian adalah anak-anakku yang baik."

Pojok Renungan Editor: Agaknya kita lebih banyak belajar kebijaksanaaan dari cerita kanak-kanak. Maksud hati memberikan ajaran kebaikan bagi anak-anak, namun seringkali ajaran itu membekas lebih dalam di hati kita sendiri.


(Diadaptasi dari The Deer in The Wood, Little House in The Big Woods, Laura Ingalls Wilder. Dapatkan cerita-cerita tentang kepioniran dari Seri Little House in The Prairie, karya Laura Ingalls Wilder yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.)

TANYAKAN PADA APA YANG ANDA SENTUH

Tinggalkan meja kerja anda sekarang juga. Pandanglah dari kejauhan. Apakah anda melihat sebuah ruang kerja yang rapi, teratur, nyaman dan tenang. Atau anda menemukan sebuah sudut berantakan, berhiaskan kesimpang-siuran dan kerumitan. Atau anda menjumpai sebuah meja yang penuh kesibukan, semangat dan gairah yang melimpah. Citra apakah yang tampak dari meja kerja anda?
Apakah citra itu pula yang sedang terpancar dari dalam diri anda?

Anda tercermin dari apa yang anda sentuh. Bila telapak tangan anda bak kayu cendana, apa pun yang anda genggam akan turut menebarkan wanginya. Bila jemari anda milik sang Midas, lumpur yang anda sentuh tak urung memancarkan gemilang kemilau emas. Tanyakan pada benda-benda yang anda sentuh - meja kerja, tumpukan kertas, pensil, serta semuanya - cahaya dan wewangian apa yang terpancarkan darinya?

Stopper: (Mengenang Ibu Kartini: Surat-surat sang Penyuluh)

Duh, karena itu aku inginkan, hendaknya di lapangan pendidikan itu pembentukan watak diperhatikan dengan tidak kurang baiknya akan dan terutama sekali pendidikan ketabahan. Dalam pendidikan ini harus dapat dikembangkan dalam diri kanak-kanak, terus, terus... (Surat kepada E.C. Abendanon, 15 Agustus 1902)

Kami berhak untuk tidak menjadi bodoh. (Surat kepada Estelle Zeehandelaar, 15 Agustus 1902)

Orang-orang Belanda itu menertawakan dan mengejek kebodohan kami, tetapi kalau kami mencoba maju, kemudian mereka bersikap menantang kami. (Surat kepada Estelle Zeehandelaar, 12 Januari 1900)

KEGIATAN ALTERNATIF MENGELOLA WAKTU

Mengelola waktu bukanlah pekerjaan yang mudah. Merencanakan penggunaan waktu mungkin cukup mudah untuk dilakukan, namun mengisinya sesuai dengan rencana adalah hal yang berbeda. Kegiatan ini bertujuan agar anda bisa menangkap sejauh mana anda mampu berjalan sesuai dengan rencana kegiatan yang anda susun sebelumnya. Mulailah di pagi hari sebelum anda melakukan kegiatan apa-apa. (Paradoks memang, anda menggunakan waktu justru untuk merencanakan
penghematan waktu.)

1--Pagi hari, sebelum melakukan apa-apa, coba isi agenda kerja anda untuk hari ini. Rencanakan semua kegiatan anda sedetil mungkin. Susun sesuai dengan skala proritas tujuan anda. Jangan hanya menentukan kapan anda melakukan kegiatan, namun juga berapa lama, dan apa yang harus anda kerjakan selanjutnya jika kegiatan utama tersebut gagal dilaksanakan. Ini menuntut anda untuk mengetahui tujuan anda hari ini. Setelah selesai, hitung berapa
lama waktu yang anda gunakan untuk menyusun rencana.

2--Siang hari, tengok kembali agenda anda. Kini, tuliskan apakah anda telah berjalan sesuai dengan rencana, atau ada banyak penyimpangan-penyimpangan.
Nilailah diri anda sendiri bagaimana anda mengisi waktu anda. Pertanyakan pada diri sendiri, apakah agenda yang anda susun pagi hari tadi cukup berguna?

3--Kini coba tuliskan semua perasaan-perasaan dan emosi-emosi yang menyertai kegiatan anda. Misal: jam 09.00. Kegiatan: menelepon si X; emosi: netral.
Coba tulis apakah anda mengalami kecemasan, takut, khawatir, senang, penuh harap, dan lain-lain. Tulis pula berapa lama perasaan itu melanda anda.
Kegiatan ini cukup sulit, karena tidak semua orang terbiasa untuk menyadari perasaan dan emosi mereka. Dapatkah anda melihat hubungan antara kegiatan anda dengan emosi yang muncul.

4--Lihatlah agenda untuk siang hingga sore nanti. Lakukan revisi bila anda merasa ada bagian yang harus direvisi ulang. Mungkin anda harus menambahkan kegiatan baru, menghapus/menunda kegiatan yang telah anda rencanakan di pagi hari. Kegiatan ini bertujuan untuk menilai kemampuan anda menyusun perencanaan di muka, sekaligus flesibilitas anda terhadap tuntutan
perubahan.

5--Pada akhir hari lihat kembali seluruh kegiatan anda hari ini. Apakah anda cukup puas dengan apa yang anda lakukan? Apakah anda merasa mampu mengelola waktu anda dengan baik?

Berbicara tentang waktu adalah berbicara tentang misteri besar. Sebagian orang memandang waktu seperti garis lurus yang harus dilalui. Waktu bergerak maju, dan kita hanyut di dalamnya. Sebagian orang yang lain memandang waktulah yang menerjang kita dengan deras. Namun, ada juga orang yang memandang bahwa waktu itu sama sekali tak bergerak. Bagi mereka waktu adalah saat ini, karenanya harus digunakan sebaik-baiknya. Dan, itulah kunci utama
dalam mengelola waktu.