Pages

Wednesday, September 26, 2012

CORETAN KANVAS PERJALANAN KITA

Seorang penyair berlayar. Ia mendarat membawa berlembar-lembar puisi yang bercerita tentang perjalanannya. Seorang pelukis mendaki gunung. Ia turun membawa bergulung-gulung kanvas bercoretkan pemandangannya. Seorang penyanyi berkeliling negeri. Ia pulang membawa senandung nada bernyanyikan pemahamannya. Memang demikian adanya. Seseorang pergi, lalu kembali dengan cerita tentang perjalanan, pengalaman, dan tentu saja pemahamannya. Bila bukan untuk mengalami, untuk apa seseorang melakukan perjalanan. Bila bukan untuk memahami, untuk apa seseorang menyerap pengalaman. Lagu pemahaman selalu berkomposisikan keburukan dan keindahan. Lukisan pengalaman selalu berwarna terang dan gelap. Sedangkan puisi perjalanan selalu berbaitkan kesenangan dan kesedihan. Bukankah itu pula yang kelak dibawa, sekembalinya kita dari perjalanan di muka bumi ini?

Sunday, September 23, 2012

MENGAPA KITA BUKAN PEMAIN BINTANG

Mungkin adalah sebuah keberuntungan, bahwa kebanyakan dari kita bukanlah pemain sepak bola terbaik dunia. Beruntung, karena kita tidak harus bekerja di bawah tatapan tajam para penonton yang menuntut untuk selalu menang. Beruntung, karena kita tidak perlu selalu tertekan sebab tak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun yang bisa berbuntut pada kekalahan. Beruntung, karena kita masih bisa berkilah atas setiap kegagalan yang terjadi. Tetapi, tunggu dulu. Mungkin tak semestinya kita buru-buru merasa beruntung. Mungkin itu sebabnya mengapa kita bukan seorang pemain bintang. Mungkin, kita terlalu takut untuk menghadapi kemenangan besar. Mungkin, kita terlalu lemah untuk menerima beban dan tekanan. Atau, mungkin kita terlalu pandai mencari alasan dan pembenaran diri sendiri. Pendek kata, kita sungguh-sungguh tak memiliki kualitas yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemain bintang. Maka, mengapa kita harus merasa beruntung karena tidak menjadi yang terbaik?

Wednesday, August 29, 2012

YANG TERSEMBUNYI DI BALIK PERUBAHAN

Prinsip terpenting dalam memahami kehidupan ini sebenarnya sederhana saja. Begitu sederhana, begitu teruji, dan begitu terbuka. Di ruang mana pun, dan di waktu kapan pun, siapa pun bisa menguji kebenarannya. Karena itu, ia mampu menopang seluruh kerumitan realitas yang kita pandangi. Prinsip itu adalah: tiada yang abadi di dunia ini; segala sesuatu pasti berubah. Matahari terbit dan terbenam. Bintang bercahaya lalu kelam. Siang bersilih gantikan malam. Lalu, mengapa kita harus mencemaskan semua yang ada? Harapan dan kecemasan biasanya muncul dari keinginan kita untuk mempertahankan yang ada, atau menolak yang terjadi. Padahal, tak pernah kita menangis sepanjang waktu. Tangis pun reda terhiburkan tawa. Kita pun tak pernah tertawa setiap saat. Tawa akan dipudarkan duka cita. Kita tak selalu tahu darimana dan kemana perginya semua perasaan itu. Maka, bukanlah kita harus hanyut dalam semua perubahan. Namun cukuplah mulai memahami, bahwa ada sesuatu bersembunyi di balik semua itu. Sesuatu itu, tanpa sadar kita cari-cari selama ini. Sesuatu itu adalah secercah ketenangan hati.

KERJAKAN PEKERJAAN RUMAH ANDA SETIAP MALAM

Anda mungkin bisa menuntaskan apa yang semestinya anda kerjakan setiap hari dengan berkerja keras di akhir pekan. Namun, bukan itu makna tujuh hari dalam seminggu. Agar seseorang sembuh dari penyakitnya, ia harus minum obat setiap hari; bukan meminum seluruh dosis di akhir pekan. Agar seorang siswa meraih kenaikan kelas, ia harus mengerjakan pelajarannya setiap malam; bukan membaca bertumpuk buku sehari menjelang ujian. Ini adalah prinsip sederhana produktivitas. Produktivitas bukan sekedar menghasilkan apa yang bisa kita hasilkan sekarang atau esok. Namun, menjaga agar manfaat dari hasil itu bisa diperoleh sebaik-baiknya hingga di masa-masa mendatang. Mungkin anda bisa menghafal semua pelajaran anda dalam waktu semalam, namun jangan menyesal jika itu hanya bertahan semalam pula. Karena itu, produktivitas selalu berkenaan dengan waktu. Sedangkan waktu adalah ketekunan, kesabaran, dan ketahanan diri.

Wednesday, May 16, 2012

EMAS DAN PERMATA

Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hidup seorang sufi tersohor bernama Zun-Nun. Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya, "Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk banyak tujuan lain." Sang sufi hanya tersenyum; ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?" Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu." "Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil." Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak." Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga. dengarkan saja, bagaimana ia memberikan penilaian." Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar." Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak bagi "pedagang emas". Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas."

Monday, May 14, 2012

KEJUJURAN SAJA TAK CUKUP

Apakah sebuah kejujuran saja sudah cukup? Bukankah sudah jamak diwasiatkan bahwa kejujuran adalah mata uang yang diterima di transaksi mana pun. Sudah awam pula dinasehati bahwa kejujuran adalah pakaian yang selalu pantas dikenakan. Namun, mengapa banyak kita temukan, mata uang itu tak selamanya dijabattangankan. Mengapa pula, banyak kita lihat pakaian itu seolah tampak usang dan lusuh. Maka apakah sesungguhnya kejujuran itu? Orang mungkin saja menganggap kita berlaku jujur, hanya karena kita mengatakan apa yang kita lakukan. Sebagaimana di depan sebuah pengadilan, tak perlu menjawab sesuatu yang tak ditanyakan. Namun kejujuran tidak berbatas pertanyaan. Kita juga semestinya melakukan pada yang kita katakan. Karena, kejujuran selalu beriringan dengan integeritas. Anda tak dapat mengorbankan salah satunya untuk mencapai yang lain. Kejujuran adalah garis lurus. Sedangkan integritas adalah keutuhan.

Sunday, January 08, 2012

SEBUAH BIDANG BERNAMA HATI NURANI

Seorang pujangga bijak pernah bertanya, bagaimana seorang pincang bisa menari? Dijawabnya sendiri, menarilah dengan hati. Ia lalu bertanya lagi, bagaimana seorang bisu bisa bernyanyi? Lagi-lagi ia jawab sendiri, bernyanyilah dengan hati. Biarkan angin menerbangkan hatimu ke angkasa; mengundang Sang Raja turun dari kursi tahtanya, dan menari bersama-sama dalam cahaya.

Pujangga lain berujar, hati nurani adalah sebuah republik; sebuah republik yang sederhana. Dimana tak ada tapal batas satu sama lain. Sehingga kita bisa bebas berjalan-jalan di banyak negara sekaligus. Hati nurani adalah sebuah republik; sebuah republik yang bersahaja. Dimana tak ada penterjemah, tak ada taksi, tak ada porter. Kita harus mengangkat beban kita sendiri. Tak ada keistimewaan kita di banding yang lain. Dalam republik hati nurani, kita berbahasakan cinta dan kasih sayang.

Monday, October 24, 2011

SAAT KITA MENDAHULUKAN DIRI SENDIRI

Ada suatu saat dimana anda harus mendahulukan diri sendiri, dan menyisihkan orang lain. Sayangnya, saat itu bukanlah saat anda terjebak di tengah-tengah kemacetan lalu lintas. Tak seorang pun memberi hak pada anda untuk menghalangi lajur kendaraan lain.
Sayangnya pula saat itu bukanlah saat anda berada di pucuk kekuasaan yang membanggakan. Karena, justru di saat itu anda harus memberikan kedua belah lengan anda untuk bekerja demi kepentingan lebih banyak orang.

Satu-satunya saat dimana anda harus mendahulukan diri sendiri, ketimbang orang lain, adalah di saat anda berlaku introspeksi pada diri sendiri.
Sayangnya, saat itu bukanlah saat yang menyenangkan bagi banyak orang.
Meski tak terlalu sulit menemukan keburukan diri sendiri, namun cukup menyakitkan untuk mengakuinya.
Maka, tak heran bila banyak orang lebih suka tertinggal dalam hal perenungan diri, dan begitu cermat mengamati sisi negatif orang lain.

Thursday, August 11, 2011

SEBUAH KEHENINGAN YANG BESAR

Cobalah berdiri di sebuah lembah yang hening. Lalu teriakkan satu patah kata sekuat-kuatnya. Terdengarlah suara gaung bergema-gema. Pada mulanya begitu keras, lamat-lamat ia memelan dan lembah pun kembali hening.
Pertanyaannya adalah, dari manakah teriakan anda bermula, dan kemanakah teriakan keras itu pergi?
Pada awalnya adalah keheningan. Suara anda datang dari keheningan.
Lalu suara anda hilang tertelan dalam keheningan yang sama. Pada akhirnya yang tertinggal adalah keheningan.

Sejenak mari kita renungi, dari manakah datangnya hidup, dan kemanakah perginya hidup. Sesungguhnya hidup bukanlah sekedar gerak, bukanlah sekedar suara, bukan pula sekedar warna. Bila hidup datang dari keheningan dan kembali dalam keheningan, maka keheningan itu semestinya adalah hidup yang jauh lebih besar. Sebagaimana kedalaman air danau yang tenang berbanding dengan riak-riak kecil di permukaan.

Tuesday, June 14, 2011

SELAMATKAN PERTENGKARAN ANDA

Rasanya tak mungkin anda bertengkar seorang diri.
Selalu dibutuhkan setidaknya dua orang untuk memulai sebuah perselisihan kecil.
Dan, itu sudah cukup untuk mendatangkan pertengkaran besar-besaran. Itu berarti,
pertengkaran bukan hanya persoalan perbedaan pendapat atau tarik-menarik keinginan. Pertengkaran adalah soal pilihan anda. Pilihan untuk memulai lalu membiarkannya membesar membakar semua yang ada, atau menutup pintu sebelum sempat dimasuki oleh salah seorang dari anda. Karena, pertengkaran mustahil terjadi bila anda benar-benar tak berkehendak untuk menceburkan diri ke dalamnya.

Meski anda jatuh dalam sungai deras, itu tak berarti anda harus hanyut atau tenggelam tanpa daya. Anda bisa berenang-renang meninggalkan pusaran air, dan naik ke daratan. Hanya di saat berada di tepianlah anda bisa menolong rekan anda untuk mentas dari kehanyutan. Ulurkan tali penyelamat berupa curahan maaf dan pengertian diri tanpa pamrih. Dua orang yang bertengkar takkan bisa menolong satu sama lain.

Wednesday, May 25, 2011

SEDIKIT DEMI SEDIKIT LAMA-LAMA JADI BUKIT

Pepatah ini sederhana saja, "sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit."
Kita biasa memaknainya, bahwa bila kita mengumpulkan se-sen demi se-sen, pada saatnya kita akan dapatkan sepundi.
Namun sesungguhnya pepatah ini tak sekedar berbicara tentang hidup hemat, atau ketekunan menabung.
Pepatah ini menyiratkan tentang sesuatu yang lebih berharga dari sekedar sekantung
keping uang, yaitu: bila kita mampu mengumpulkan kebaikan dalam setiap tindakan-tindakan kecil kita, maka kita akan dapati kebesaran dalam jiwa kita.

Bagaimanakah tindakan-tindakan kecil itu mencerminkan kebesaran jiwa sang pemiliknya? Yaitu, bila disertai dengan secercah kasih sayang di dalamnya.
Ucapan terima kasih, sesungging senyum, sapaan ramah, atau pelukan bersahabat, adalah tindakan yang mungkin sepele saja.
Namun dalam liputan kasih sayang, ia jauh lebih tinggi daripada bukit tabungan anda.

Sunday, March 13, 2011

BUKAN HANYA DEMI SESUAP NASI

Mengapa anak-anak banyak bercita-cita menjadi dokter?
Karena mereka tahu, bahwa pekerjaan mereka kelak semestinya bukan hanya demi sesuap nasi, melainkan juga demi segenggam cita-cita luhur.

Bukankah ini mengingatkan kita agar sadar bahwa kerja keras kita tentunya bukan hanya demi mengumpulkan angka-angka laba seceruk demi seceruk, tetapi juga membangun nilai-nilai pengabdian mulia pada dunia.
Suara kanak-kanak memang seringkali melompat jauh mendahului jaman.
Dan kita yang sudah banyak termakan usia ini harus tertatih-tatih mengejarnya. Semogalah kita tak mudah patah dan kehilangan gairah kanak-kanak dalam menghadapi permainan kehidupan kerja kita.
Bila toh sekantung laba tak kita kantungi, setidaknya kita mendapatkan setangkup kelapangan dada.

Sunday, February 13, 2011

PENJARA YANG KITA BANGUN

Seringkali kita membangun penjara dengan batu-batu besar nan kuat dan kokoh. Bahkan bila perlu kita bangun penjara di pedalaman hutan yang mengerikan, di tengah lautan berombak ganas, atau di sebuah sudut bulan yang tak tampak dari bumi. Penjara harus jadi dunia lain dari dunia ini yang tak boleh punya cerita apa-apa.

Sayangnya, sehebat-hebat penjara kita bangun, ia nyaris tak mampu mencegah orang terjungkal ke dalamnya. Mungkin selama ini kita hanya berpikir bagaimana kita punya penjara hebat yang tak memungkinkan pesakitan di dalamnya bisa lolos begitu saja. Begitu hebatnya, sehingga lubang jarum pun tak boleh menyelinap bebas. Padahal semestinya, penjara bukan hanya dibangun dari batu-batu hitam yang keras, melainkan juga tembok-tembok hukum yang selalu ditegakkan, tiang-tiang etika yang ditinggikan, serta pagar-pagar moral nurani yang dimuliakan.

Sunday, February 06, 2011

RASAILAH SENTUHAN BAJU ANDA

Apakah anda merasai angin yang bersemilir menggeraikan rambut di pelipis anda?
Apakah anda merasai dinginnya embun pagi menyapa wajah anda?
Apakah anda merasai kerikil mencubit-cubit kulit halus telapak kaki anda?
Apakah anda merasai?

Ayolah, jangan hanya berjalan menggunakan kepala yang penuh dengan pikiran tentang perhitungan-perhitungan. Pikiran yang penuh dengan harapan dan angan-angan.
Sesekali, berjalanlah dengan rasa. Sudah terlalu banyak orang berpakaian sutera di badan, namun mereka tak merasakan lembutnya sentuhan sutra itu di sekujur tubuh mereka.
Karena mereka lebih sibuk membajui pikiran mereka dengan kebanggaan dan kemewahan atas nama sutra itu.
Bagaimana tatapan bisa tampak cantik bila menyiratkan keinginan untuk dipuji? Bagaimana pula sutra itu melembutkan kulit, bila hati mengabaikannya?

Thursday, January 13, 2011

NOTHING TO LOOSE SAJALAH

Bila anda sadar akan peran yang harus anda mainkan dalam hidup ini, maka takkanlah sanjungan meruntuhkan diri anda.
Takkanlah pula celaan meremukredamkan jiwa anda.
Anda hanya perlu mengalirkannya begitu saja dari dalam diri anda.
Sanjungan tak lebih dari seteguk air dingin penyejuk kelelahan.
Sedangkan celaan adalah sepucuk kerikil yang memperingatkan anda untuk berhati-hati. Selain semua itu, tak ada yang perlu dibanggakan atau disesali hingga harus kehilangan diri sendiri.

Nothing to loose sajalah.
Tak perlu merasa harus memiliki atau kehilangan.
Karena apa yang kita genggam toh akan terlepas juga.
Mungkin kita harus memindahtangankannya pada orang lain.
Atau, merelakannya terlepas dari genggaman yang semakin lelah merenta.

AYAH HEBAT SEKALI!

Beberapa waktu lalu sebuah gedung opera di Paris mengundang seorang penyanyi terkenal untuk mengadakan pertunjukan di sana. Tiket pertunjukan telah terjual habis. Semua orang ingin sekali menonton penampilan dari penyanyi terkenal itu.

Tetapi, pada malam pertunjukkan, sang penyanyi jatuh sakit dan tidak bisa tampil di sana.

Kemudian, pimpinan gedung opera itu naik ke atas panggung dan menyampaikan permohonan maafnya, "Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, terima kasih sekali atas dukungan anda semua pada pertunjukkan ini. Saya khawatir, karena sakit, artis yang sedang kita tunggu-tunggu ini tidak bisa tampil malam ini. Namun begitu, kami telah menunjuk seorang artis pengganti yang kami harap bisa memberikan hiburan yang tak kalah menariknya."

Langsung saja seluruh penonton berteriak menyatakan kekecewaan mereka.
Pengumuman selanjutnya dari pimpinan gedung opera mengenai nama artis pengganti itu tidak lagi terdengar dan tenggelam dalam gerutu penonton yang dongkol. Suasana yang semula penuh kemeriahan berubah menjadi putus asa dan kekecewaan.

Meski begitu, artis pengganti yang naik ke atas panggung berusaha menampilkan semua kemampuan terbaiknya. Dan, ketika ia selesai merampungkan pertunjukkannya tak seorang pun memberikan tepuk tangan atau applause.
Suasana penonton terasa dingin dan sunyi.

Hingga tiba-tiba dari salah satu sudut balkon, seorang anak kecil berdiri dan berteriak, "Ayah...! Pertunjukkan ayah hebat sekali...!" Ia bertepuk tangan sendiri sekeras-kerasnya.

Para penonton menoleh pada anak kecil yang berdiri di atas balok. Mereka merasa malu betapa tak mampu menghargai penampilan seseorang yang telah berusaha menampilkan pertunjukan yang sebaik-baiknya meski hanya sebagai penyanyi pengganti. Akhirnya, suasana gedung opera pecah dengan gemuruh tepuk tangan dari seluruh penonton.

Pojok Renungan Editor: Berikan yang terbaik, meski tak seorang pun menghargainya. Namun, hargai jerih payah yang telah ditunjukkan oleh orang lain. Bukankah, itu adalah pertanda keberadaban kita?

Monday, January 03, 2011

TENTANG MENYINGKIRKAN DURI DARI JALAN

Kita berbuat baik tentunya bukan untuk mengharapkan apa-apa. Karena kita sadar itulah peran yang harus kita mainkan. Adalah kewajiban kita untuk menyingkirkan duri di jalan yang sedang kita lalui, bukan saja agar tak melukai diri kita, namun untuk menjaga para pejalan lain.

Jadi, meski tak seorang pun mengucapkan terima kasih atas perbuatan baik anda, itu tak perlu mengecilkan arti kerja anda. Mungkin saja orang lain tak memahami kebaikan itu, karena mereka menganggap memang seharusnya anda lakukan itu. Maka, apatah artinya sebuah ucapan terima kasih. Biarkan saja kebaikan mengalir dari tangan anda. Dan biarkan benak anda terbebas dari perasaan berjasa. Temukan arti pesan sang bijak, berikan derma dari tangan kanan seakan-akan tangan kirimu tak mengetahuinya.

Thursday, November 25, 2010

BEKERJA BAGAI ITIK BERENANG DI TELAGA

Bekerjalah sebagaimana itik berenang di telaga. Ia melaju dengan tenang dan cantiknya, tanpa membuat permukaan air menjadi berkecipak dan berisik.
Ia pun tak perlu membuat sekujur tubuhnya basah kuyup atau merusakkan bulu-bulunya. Bahkan, berenangnya itik itu sendiri selalu menambah keindahan pandangan seluruh telaga. Namun, tahukah kita bahwa di dalam air sepasang kakinya bekerja keras mengayuh-ayuh. Dan, itu tak tampak oleh mata yang memandangnya.

Kita dapat bekerja dengan keras dan gigih.
Dan untuk itu, kita memang tak perlu menyembunyikan luruhan keringat dan tarikan nafas panjang kelelahan, namun kita dapat mengubahnya sebagai sebuah kesukacitaan.
Itu hanya tercapai bila kita meletakkan sumbangsih kerja kita dalam bingkai indah tentang peraihan hidup.
Karena kerja adalah bagian dari hidup, maka jangan biarkan kerja jadi noda tinta dalam lukisan tentang kehidupan kita.

Monday, November 15, 2010

BATAS DARI SEMUA USAHA

Bila selama sepekan anda telah bekerja dengan gigih, berlari penuh ketergesa-gesaan, dan menggigit gigi sendiri untuk menahan rasa sakit diburu-buru, maka akhir pekan ini adalah saat yang paling baik untuk merenungi apa arti waktu bagi anda. Secepat-cepat anda belari menjadi yang nomor satu, anda takkan pernah mampu melampaui waktu. Sekuat-kuat anda memenangkan pertandingan, pada akhirnya toh anda akan dikalahkan oleh usia anda sendiri. Sehebat-hebat anda menaklukkan puncak gunung, alam memberi langit yang lebih tinggi yang tak terdaki. Bahwa segala sesuatu itu ada batasnya.

Anda perlu tahu batas-batas itu.
Meski tujuan adalah sesuatu yang belum bisa anda capai sekarang; dan ini membuat anda begitu optimis akan hidup esok hari; namun kesadaran akan tepian dari semua kerja anda semestinya menggugah anda untuk menemukan jiwa dalam kerja anda.
Yaitu, silakan kita berkeja sekeras-kerasnya, karena memang untuk itulah anda ada, namun anda sama sekali tak harus menjamin tercapainya semua tujuan itu, karena memang bukan itu tugas anda. Kita hanya harus berusaha.

Wednesday, November 10, 2010

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain. Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya. Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun. Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya. Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat. Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu
menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni. Kita temukan keotentikan diri sendiri. Kritik memang semestinya mendorong agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain. Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya. Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun. Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya. Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat. Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu
menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni. Kita temukan keotentikan diri sendiri. Kritik memang semestinya mendorong agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.

Monday, November 01, 2010

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain.
Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya.
Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun.
Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya.
Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat.
Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni. Kita temukan keotentikan diri sendiri.
Kritik memang semestinya mendorong agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain.
Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya.
Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun.
Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya.
Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat.
Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni.
Kita temukan keotentikan diri sendiri. Kritik memang semestinya mendorong
agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.

Tuesday, October 19, 2010

CINTA MEMANG TAK HARUS MEMILIKI

Bila anda jatuh cinta pada seseorang, jangan siksa diri anda dengan menganggap bahwa cinta anda ditolak. Cinta itu tak pernah tertolak.
Karena, setiap orang senang bahkan butuh dicintai. Wujudkan cinta anda dengan memberikan sesuatu, bukan mengharap-harap akan sesuatu. Sebab, apa yang dilontarkan karena cinta selalu kembali pada hati anda di saat itu juga.
Kebahagiaan dari memberi jauh lebih paripurna ketimbang kebahagiaan karena menerima.

Namun, lain halnya bila anda ingin memiliki sesuatu yang anda cintai.
Keinginan itulah yang menimbulkan pedih yang mengiris-iris.
Jangan menambah siksa anda dengan menginginkan sesuatu.
Jangan sia-siakan cinta anda dengan beban-beban harapan.
Keinginan untuk memiliki mungkin saja tertolak.
Namun, percayalah cinta anda yang sesungguhnya takkan pernah kembali dengan tangan
kosong.

KETRAMPILAN YANG ANDA BUTUHKAN

Setiap kedudukan membutuhkan tingkat keahlian yang berbeda-beda.
Seorang klerk mungkin perlu memiliki ketrampilan tehnis yang mumpuni.
Sedangkan petinggi tak perlu sejauh itu, toh ia bisa memerintah bawahan untuk mengerjakan baginya. Tetapi ia harus memiliki kebijakan dalam mengambil keputusan; sesuatu yang tak terlalu penting bagi klerk yang sehari-hari hanya menunggu perintah. Kita menggambarkannya dengan ibarat dua buah piramida yang saling berbalikan.

Namun, tak peduli seberapa rendah kedudukan anda, atau seberapa tinggi jabatan anda, kita perlu menguasai satu hal demi keberhasilan kerja. Yaitu, ketrampilan berhubungan dengan orang lain. Kita butuh pembeli, kita butuh penjual, kita butuh berhubungan dengan siapa pun. Maka, semua ketrampilan tehnis atau kebijakan pengambilan keputusan itu tak berarti bagi keberhasilan anda, bila anda tak mampu berhubungan baik dengan sesama.

Wednesday, October 13, 2010

PEMIMPIN ADALAH UNTUK MEMIMPIN ORANG LAIN

Memang benar bahwa setiap dari kita adalah pemimpin.
Setidaknya memimpin diri sendiri.
Karena, pemimpin semestinya mampu memimpin diri sendiri, sebelum berdiri di depan orang lain. Namun, belumlah cukup bila anda hanya jadi pemimpin bagi diri sendiri. Karena pemimpin sesungguhnya tidak diciptakan untuk itu. Ia adalah orang yang memikirkan orang lain, bekerja demi sebuah generasi, berkarya untuk sebaris masa. Pemimpin sejati melihat apa yang dibutuhkan manusia dari zaman ke zaman. Bukan mencari keagungan diri sendiri. Pemimpin sejati ada untuk mengorbankan seluruh realisasi
dirinya bagi orang lain.

Karenanya, pemimpin besar tak perlu menyusun ribuan tentara, atau mengumpulkan jutaan barisan pendukung. Ia hanya perlu menundukkan dirinya sendiri yang satu itu, maka orang lain akan mengikuti.

Monday, October 04, 2010

JANGAN TAKUT DENGAN SANJUNGAN

Tak perlu takut menerima sanjungan.
Bila anda dikaruniai wajah tampan atau cantik; bila anda dianugerahi kepintaran; bila anda mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik; bila anda telah berbuat kebaikan; maka mungkin akan ada orang yang memuji anda.
Lebih dari itu, mungkin mereka akan menyanjung dan mengagungkan anda. Pujian dan sanjungan boleh jadi konsekuensi logis dari apa yang telah anda lakukan. Malah itu biasa dan wajar-wajar saja.
Jadi, mengapa anda takut menerima sanjungan?

Tetapi khawatirlah bila anda mulai menikmati sanjungan itu; bila anda mencari-cari tepuk tangan orang yang mengagumi anda; bila anda kesal bila pujian itu tak kunjung tiba. Bukan kalimat indah yang ada pada bibir orang lain, melainkan rasa nikmat dalam diri anda yang meruntuhkan anda sendiri.
Biarkan jutaan pujian datang, namun jangan biarkan ia masuk ke dalam hati.
Pujian itu bagai kertas tissue yang bisa mengusap keringat; mengobati rasa lelah, namun betapa rapuh dan mudah hancur.

Wednesday, September 22, 2010

KENANGLAH KASIH ORANGTUA ANDA

Kenanglah kedua orangtua anda.
Biasanya, di saat orangtua kita masih hidup, tidak mudah bagi kita untuk menghargai kasih sayang mereka. Padahal mereka menebar cinta mereka dalam setiap desah nafas, gerak bibir, dan ayunan langkah mereka. Tak ada yang mereka pikirkan begitu penting selain keluarga mereka, anak cucu mereka, penerus keberlangsungan karya mereka di dunia ini.
Bahkan dalam amarah, kekecewaan dan kesedihan mereka selimuti dengan kasih sayang.

Bagi kita, ini mungkin nasehat tua yang sudah terlalu sering terdengar.
Namun, tak pernah usang, karena orangtua selalu dilahirkan jaman.
Mengenang orangtua sebenarnya mengenang keberadaan diri kita sendiri.
Kita terlahir dari buah kasih sayang, kita tumbuh dalam naungan kasih sayang, kita pun ditinggalkan dengan lambaian kasih sayang.
Memang tak ada yang terlambat, namun sebelum hati dalam anda menyesal, kasihilah orangtua anda.
Bagi mereka, balasan ini jauh lebih berharga dari apa pun yang pernah diperolehnya.
Bagi mereka, itulah bekal sebaik-baiknya untuk menikmati usia senja mereka.

InsyaAlloh.....

Thursday, September 16, 2010

LIHATLAH KEINDAHAN BEGITU SAJA

Setiap saat bumi ini menampakkan keindahannya pada kita.
Kabut yang turun menghalangi pandangan mata.
Angin yang mendesir menaikkan debu-debu jalanan.
Sungai kering yang tinggal menyisakan batu-batu hitam.
Lekak-lekuk lereng gunung yang dipenuhi semak-semak ranggas.
Semua itu jadi penawaran terbaik bagi kita.
Sebuah penawaran apakah kita mau memandangnya sebagai sebuah pesona, atau kita abaikan berlalu tak bermakna.

Menikmati pesona alam memang tak bisa diajarkan, apalagi diperintahkan.
Kita hanya perlu membuka mata, melihat begitu saja, tak memutuskan mana yang indah mana yang buruk.
Karena, bahkan pada seonggok kotoran busuk pun, ribuan serangga mengais-ngais nasibnya.
Bukankah kegigihan mahluk-mahluk kecil itu adalah pesona yang patut memberikan makna dan rasa bersyukur dalam
diri kita?

Monday, September 06, 2010

BUKAN NASEHAT, TETAPI GENGGAMAN ERAT

Adakalanya kita khilaf, alpa, dan lalai. Di saat itu biasanya kita akan mencari-cari berjuta alasan untuk membenarkan tindakan kita. Bila toh sepatah dua patah nasehat dilontarkan orang lain untuk menyadarkan kita, kita malah terdorong untuk bertahan. Meski kita tak menolak peringatan itu, namun tak jarang kita anggap orang lain tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Memang jauh lebih mudah bagi mereka yang tak terjerat persoalan untuk memberikan nasehat, peringatan, bahkan ancaman.

Maka, seringkali yang dibutuhkan bukanlah kata-kata manis mengenai indahnya kebenaran. Kita yang khilaf lebih membutuhkan genggaman erat dari seorang rekan yang memompakan keberanian untuk mengatasi masalah. Bukan kalimat-kalimat, seperti, "kau harus begini, kau jangan begitu", melainkan "mari kita selesaikan bersama-sama". Kita butuh seseorang yang mampu menunjukkan bahwa rasa takut itu bisa ditaklukkan; bahwa rasa sakit itu bisa diredakan; bahwa keberanian itu tak harus mengorbankan banyak hal. Kita tak membutuhkan seseorang yang memojokkan kita di kursi pesakitan. Karena setiap orang bisa salah.

BUKAN NASEHAT, TETAPI GENGGAMAN ERAT

Adakalanya kita khilaf, alpa, dan lalai. Di saat itu biasanya kita akan mencari-cari berjuta alasan untuk membenarkan tindakan kita. Bila toh sepatah dua patah nasehat dilontarkan orang lain untuk menyadarkan kita, kita malah terdorong untuk bertahan. Meski kita tak menolak peringatan itu, namun tak jarang kita anggap orang lain tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Memang jauh lebih mudah bagi mereka yang tak terjerat persoalan untuk memberikan nasehat, peringatan, bahkan ancaman.

Maka, seringkali yang dibutuhkan bukanlah kata-kata manis mengenai indahnya kebenaran. Kita yang khilaf lebih membutuhkan genggaman erat dari seorang rekan yang memompakan keberanian untuk mengatasi masalah. Bukan kalimat-kalimat, seperti, "kau harus begini, kau jangan begitu", melainkan "mari kita selesaikan bersama-sama". Kita butuh seseorang yang mampu menunjukkan bahwa rasa takut itu bisa ditaklukkan; bahwa rasa sakit itu bisa diredakan; bahwa keberanian itu tak harus mengorbankan banyak hal. Kita tak membutuhkan seseorang yang memojokkan kita di kursi pesakitan. Karena setiap orang bisa salah.

Thursday, August 26, 2010

MARI BERSUNYI-SUNYI SEJENAK

Lebih sering ide-ide besar itu datang di saat kita sedang merefleksikan diri.
Yaitu, di saat kita memejamkan pelupuk mata, menepi dari keramaian, melemahkan diri dari segala asa. Yang ada hanyalah keredupan, kesunyian, serta penundukan diri.
Yang ada hanyalah gerak lembut nafas yang menyadarkan kita bahwa tali kehidupan itu masih terhela di sini.
Semua itu menuntun kita untuk melihat sebersit nyala terang obor dalam diri,mendengar bisikan yang terabaikan, serta menyadari keterpautan kita dengan seluruh jagat semesta.

Namun, tidak semestinya kita mencari ide besar di semua balik keheningan itu.
Kita hanya perlu memberanikan diri untuk bertepekur di pagi-pagi buta, berteman dengan kesenyapan, dan membuka pintu diri dari segala kemungkinan.
Ide terbesar bukanlah sesuatu yang harus menjadi monumen kehadiran anda di muka bumi ini, melainkan sesuatu yang anda sama sekali tak berpamrih pada apa-apa.
Anda hanya menyadari, anda berkewajiban melakukan itu sebaik-baiknya, karena itu adalah peran semesta yang dibisikkan oleh nyala obor dalam diri anda.

Wednesday, August 18, 2010

BERDAMAILAH DENGAN PERUBAHAN

Bahkan tumbuhan dan hewan pun beradaptasi.
Mereka menyempurnakan kemampuan hidupnya dari musim ke musim.
Mereka tahu alam tak selamanya berjalan sesuai keinginan.
Namun mereka tahu mereka bagian dari alam itu sendiri.
Karenanya, tak ada jalan yang lebih baik untuk bertahan hidup kecuali menjaga pertautan dengan alam sebaik-baiknya.
Alam bukan saja memilih yang terkuat, tapi juga yang tercerdik.

Dan, kita yang hidup di arus deras jaman ini, dituntut lebih kenyal dalam menghadapi benturan-benturan kemajuan. Kita tak hanya harus kuat dan cerdik, namun juga mampu berdamai dengan segenap perubahan itu. Kekuatan dibutuhkan untuk bertahan dari kencangnya terpaan perubahan. Kecerdikan digunakan agar kita bisa meraih banyak kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Sedangkan kemampuan kita untuk berdamai dengan perubahan tak lain agar kita tak kehilangan ketenangan jati diri kita. Sebagaimana petani di gunung yang tetap menikmati angin lembah, meski suara traktor menderu-deru.

Monday, August 09, 2010

SATU BUMI SEJUTA DUNIA

Semakin panjang usia kita, semakin panjang pula catatan pengalaman hidup kita.
Bagi mereka yang mau memetik pelajaran dari pengalamannya, maka pengalaman jadi kekayaan yang unik baginya.
Usia membawanya pada kebajikan.
Sedangkan bagi mereka yang acuh, pengalaman tak lebih dari goresan di atas pasir pantai. Usia tak menjamin apa-apa selain ketuaan baginya.

Meski kita sama-sama dinaungi oleh langit yang sama; meski kita sama-sama diterangi oleh cahya matahari yang sama; meski kita sama-sama digelapi oleh malam yang sama, namun kita tak pernah sama dalam mencerap semua itu.
Kita melihat cakrawala dari ketinggian yang berbeda.
Kita melangkah di jalan setapak dengan bobot yang berbeda.
Kita mengisi ruang dan waktu ini dengan besar tubuh yang berbeda pula.
Maka, meski kita lahir di bumi yang satu, namun kita hidup di dunia yang berbeda-beda. Kita mempunyai sidik dunia pikiran yang tak sama bagi setiap orang. Keunikan itu takkan banyak berarti bila tak menjadi kekayaan bagi kita. Dan, kekayaan itu tak banyak bermakna bila tak membuat diri kita semakin bijak bestari.

Thursday, July 29, 2010

KEMELUT ADALAH SISI LAIN DARI PERMAINAN YANG BELUM KITA PAHAMI

Apakah anda memandang kemelut yang terjadi ini sebagai sebuah krisis yang merisaukan? Atau, cerita manusia yang memprihatinkan?
Atau, sepotong sejarah bangsa yang memilukan?

Mari kita tanyakan pada bocah-bocah pantai yang sedang berkecipak-cipak di tengah ombak yang menggulung-gulung, apa yang mereka lihat?
Atau, kita tanyakan pada anak-anak jalanan yang tertawa-tawa di sela-sela lalu lintas yang panas menghujam, apa yang mereka lihat?
Atau, kita tanyakan pada balita-balita yang berguling-guling di lembah landai di sisi gunung itu, apa yang mereka lihat?
Mereka melihat dunia ini sebagai tempat bermain-main yang menyenangkan, musim yang baik untuk bercanda ria, dan bumi yang indah untuk menjalin pertemanan. Maka, mengapa kita harus melalaikan bidang yang penuh warna-warni itu?
Mengapa tidak kita isi sesaat dari waktu kita dengan meluangkan kekanak-kanakan menyadarkan diri kita bahwa jangan-jangan kemelut itu tak lebih dari sisi lain dari permainan yang belum kita pahami.

Tuesday, July 20, 2010

HARGA SEBATANG LIDI

Tahukah anda mengapa sebatang sapu lidi begitu murah harganya?
Begitu murahnya sampai-sampai ia jauh lebih murah daripada seteguk air penghilang
dahaga. Padahal anda tahu, ia harus dipetik dari pepohonan kelapa yang ditanam di dusun-dusun jauh di pedalaman. Ia pun harus diserut, dihaluskan, diikat kuat agar mudah digunakan dan tak melukai tangan. Ia harus diangkut oleh banyak kendaraan, melewati banyak pasar, dan naik turun timbangan penawaran.

Karena, ia dipetik oleh tangan-tangan kecil yang tak menuntut banyak upah.
Ia dijalin oleh wanita-wanita yang tak menghitung laba rugi. Ia juga dipikul oleh bahu-bahu legam pria yang tak terlalu mengerti transaksi jual beli.
Sebatang sapu lidi itu begitu murah sampai di tangan kita, karena orang-orang itu tak menghitung jerih perih kerjanya. Mereka pun tak mengkalkulasi butir-butir keringatnya. Maka, mari kita sadari bahwa di balik kemurahan dan kemudahan yang kita cerap sekarang ini, terselip cerita tentang pengorbanan yang jauh lebih berharga ketimbang harga seluruh sapu lidi yang bisa kita beli.

Tuesday, July 13, 2010

SINGKIRKAN DURI-DURI ANDA

Bila anda mempunyai tujuan besar, anda perlu mencari orang-orang yang tepat dan membentuk tim yang kuat untuk mencapainya. Anda juga perlu memompakan semangat, mengikat kata sepakat untuk sama-sama mengupayakan yang terbaik demi tujuan itu. Namun, jangan sekali-kali lupa untuk tak segan-segan menyingkirkan aral penghambat langkah anda. Tak cukup anda mempunyai sepatu beralas tebal, anda perlu menyingkirkan duri dari jalan. Anda tak tahu di sebelah mana duri itu akan menusuk anda.

Petani yang baik tahu, bahwa tak cukup ia mempunyai benih dan lahan terbaik.
Tak cukup pula air dan angin mentari di musim yang terbaik.
Tak cukup pula jerih dan doa ia kerahkan.
Ia tahu, ia harus tak ragu untuk mencabut tanaman dan rumput tanaman pengganggu sawah. Meski tanaman itu adalah mawar indah; meski rumput itu adalah batang tebu yang menyegarkan.
Karena ia tahu, mereka semestinya tumbuh lebih baik di lahan dan di musim yang tepat.

Monday, July 05, 2010

MENSIKAPI AMBISI

Ambisi adalah gairah yang menggebu-gebu untuk meraih sesuatu. Dan, sesuatu itu adalah kekuatan. Sesuatu itu adalah kekuasaan. Ambisi bisa jadi api pendorong lajunya langkah anda. Ambisi muncul sebagai konsekuensi wajar dari adanya tongkat kekuasaan, celah kesempatan, serta energi keyakinan akan kemampuan diri. Tentu saja setiap peniti karier berhak memompakan ambisinya.
Tanpa itu, betapa tak semaraknya perjalanan ini.
Maka, tak salah bila ada orang yang berkata bahwa untuk maju anda harus punya ambisi.

Hal itu benar adanya, namun tak selalu benar. Semestinya tidaklah terlalu mengejutkan bila banyak juga orang berhasil justru dengan melepaskan kepalan ambisinya. Ambisi mudah sekali dipadamkan oleh kenyataan sederhana; bahwa tubuh anda takkan mampu mengalahkan waktu. Oleh karena itu, sedini mungkin kita pupuk yang lain yang tak terkalahkan oleh masa dan tak terusangkan oleh jaman: yaitu cahya kebijaksanaan.

MENSIKAPI AMBISI

Ambisi adalah gairah yang menggebu-gebu untuk meraih sesuatu. Dan, sesuatu itu adalah kekuatan. Sesuatu itu adalah kekuasaan. Ambisi bisa jadi api pendorong lajunya langkah anda. Ambisi muncul sebagai konsekuensi wajar dari adanya tongkat kekuasaan, celah kesempatan, serta energi keyakinan akan kemampuan diri. Tentu saja setiap peniti karier berhak memompakan ambisinya.
Tanpa itu, betapa tak semaraknya perjalanan ini.
Maka, tak salah bila ada orang yang berkata bahwa untuk maju anda harus punya ambisi.

Hal itu benar adanya, namun tak selalu benar. Semestinya tidaklah terlalu mengejutkan bila banyak juga orang berhasil justru dengan melepaskan kepalan ambisinya. Ambisi mudah sekali dipadamkan oleh kenyataan sederhana; bahwa tubuh anda takkan mampu mengalahkan waktu. Oleh karena itu, sedini mungkin kita pupuk yang lain yang tak terkalahkan oleh masa dan tak terusangkan oleh jaman: yaitu cahya kebijaksanaan.

Monday, June 21, 2010

PEMIMPIN ITU BEKERJA BERSAMA-SAMA

Bila seseorang mengetuk pintu rumah, lalu mengajak anda ke ladang, mengajari anda cara mencangkul penuh semangat, bersama-sama menebarkan benih biji-bijian dan kasih sayang, menyenandungkan lagu pengundang angin dan hujan, dan beberapa bulan kemudian sama-sama mengetam, berbagi hasil tuaian, menanaknya untuk warga sedusun; maka siapa pun nama orang itu, anda akan mengangkatnya sebagai pemimpin sejati anda; pemimpin yang anda cintai dan tangisi kepergiannya.

Namun, bila orang itu memasuki rumah dan memaksa anda turun ke sawah,memerintahkan anda membajak dan menanam segala macam, hingga pada akhir waktunya, hanya menunggu persembahan hasil panen baginya; maka siapa pun nama orang itu, anda akan mengangkatnya sebagai pemimpin yang hanya bisa anda kutuki dan syukuri kepergiannya. Kebanyakan orang memang tak berdaya.
Untuk itulah mengapa seorang pemimpin sejati senantiasa dirindukan jaman.

Monday, June 14, 2010

APA YANG TERCIUM DARI PERKATAAN ANDA

Jika anda memiliki hati yang tulus, penuh penghargaan, serta gembira atas kebaikan yang dicapai oleh orang lain, maka tak ada yang akan anda berikan pada mereka selain pujian dan jabat tangan selamat yang meninggikan kepercayaan.
Tak ada pula rintangan bagi anda untuk turut larut merayakan keberhasilan mereka.

Namun, jika anda menyimpan hati yang culas, penuh kecurigaan serta iri dengki atas kemajuan yang diperoleh oleh orang lain - meski itu teman karib anda sendiri - maka tak ada yang akan anda lontarkan selain celaan dan ucapan cemooh yang merendahkan.
Tak ada hambatan bagi anda untuk membuang muka menyangsikan keberhasilan mereka.

Memang, hati yang busuk, meski dibungkus sutra terbaik pun, pada ujungnya akan mengeluarkan bau tak sedap.
Entah itu dalam ucapan, atau tindakan.
Sedangkan hati yang jernih, tak perlu disembunyikan.
Ia akan memancarkan kecantikannya, baik dalam perkataan dan perilaku.

APA YANG TERCIUM DARI PERKATAAN ANDA

Jika anda memiliki hati yang tulus, penuh penghargaan, serta gembira atas kebaikan yang dicapai oleh orang lain, maka tak ada yang akan anda berikan pada mereka selain pujian dan jabat tangan selamat yang meninggikan kepercayaan.
Tak ada pula rintangan bagi anda untuk turut larut merayakan keberhasilan mereka.

Namun, jika anda menyimpan hati yang culas, penuh kecurigaan serta iri dengki atas kemajuan yang diperoleh oleh orang lain - meski itu teman karib anda sendiri - maka tak ada yang akan anda lontarkan selain celaan dan ucapan cemooh yang merendahkan.
Tak ada hambatan bagi anda untuk membuang
muka menyangsikan keberhasilan mereka.

Memang, hati yang busuk, meski dibungkus sutra terbaik pun, pada ujungnya
akan mengeluarkan bau tak sedap. Entah itu dalam ucapan, atau tindakan.
Sedangkan hati yang jernih, tak perlu disembunyikan. Ia akan memancarkan
kecantikannya, baik dalam perkataan dan perilaku.

Wednesday, June 02, 2010

APAKAH PENGABDIAN ITU?

Pengabdian adalah senyum lebar seorang guru sekolah di dusun terpencil nun jauh di pedalaman; yang baginya cahya mata anak didiknya jauh lebih berharga ketimbang kilau mutiara; yang baginya tegur sapa muridnya jauh lebih merdu ketimbang gemerincing logam mulia.

Pengabdian adalah ketangkasan seorang nenek tua dalam meladeni kuli-kuli kasar yang membeli nasi bungkus murah dagangannya; yang baginya kekuatan buruh-buruh muda itu jauh lebih penting ketimbang sosok renta tubuhnya sendiri; yang baginya penghidupan keluarga pekerja-pekerja keras itu lebih patut didahulukan ketimbang tempat tidurnya sendiri.

Pengabdian adalah permadani lembut yang melindungi langkah-langkah kita dari keras dan tajamnya kerikil kehidupan.

Monday, May 24, 2010

BERDOA BUKAN SEKEDAR MEMINTA

Ada orang yang meminta-minta dalam doanya.
Namun, ada orang lain yang justru mencapai sesuatu melalui doanya.
Ada orang yang berdoa untuk dirinya sendiri.
Namun, ada yang berdoa untuk orang lain, dan mendapatkan keduanya.
Ada orang yang berdoa penuh harap dan cemas.
Namun, ada orang lain yang berdoa dan melepaskan semua harapannya.
Apa pun doa anda, bila anda tak menjadikannya sebagai telaga bening bagi ketenangan jiwa, anda takkan menemukan makna apa-apa di dalamnya, selain tengadah tangan hampa belaka.
Maka, seringkali doa terbaik adalah doa yang membuat anda mampu menerima kenyataan ini apa adanya, sepenuh ketulusan hati, serta menumbuhkan kekuatan untuk turut dalam kerja penyempurnaan kehidupan ini.

Jangan lupa bahwa berdoa adalah sebentuk introspeksi pada diri sendiri.
Doa anda mencerminkan tingkat kematangan anda dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, dan menyadari dorongan kreatif baik dari dalam maupun luar diri anda.

Monday, May 17, 2010

MEMBUKA PINTU KOMUNIKASI

Tahukah anda mengapa orang lain enggan berkomunikasi dengan anda?
Mengapa mereka segan menyampaikan kabar sesuatu pada anda?
Mengapa mereka sungkan membicarakan ini itu dengan anda?
Padahal anda adalah pimpinan mereka.
Padahal anda adalah atasan yang semestinya membutuhkan sekali kabar dari mereka, entah yang baik maupun yang buruk.

Salah satu sebab utamanya adalah karena mereka tak melihat anda sebagai sesosok manusia biasa.
Manusia biasa adalah manusia yang mampu mengakui kekeliruan, bisa menertawakan kekeliruan diri sendiri, serta mau memaafkan kekeliruan yang terjadi.
Orang-orang lebih mudah berhubungan dengan anda, bila mereka merasa anda juga manusia yang sama dengan mereka; manusia yang mau mendengar, berbicara, menyentuh, dan berkecimpung dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Bukalah pintu komunikasi dengan menjadi manusiawi.

Tuesday, May 11, 2010

ALAT KEPEMIMPINAN YANG TERCANTIK

Tak ada alat kepemimpinan yang lebih cantik daripada keteladanan. Kita tak selalu berada di tempat dan waktu yang tepat menurut keinginan kita.
Kita pun tak selalu bekerja dengan orang-orang yang kita harapkan.
Namun, percayalah, keteladanan tak mengenal pergantian musim.
Keteladanan adalah apa yang dicari oleh setiap pengikut dari pemimpinnya.
Bila mereka tak menemukan peran panutan dalam diri anda, mereka akan berpaling pada orang lain. Maka meski anda mengenakan jubah kebesaran, tongkat komando kepemimpinan itu telah berpindah tangan.

Memang tak ada jaminan semua orang akan meneladani anda. Namun jaminan terbaiknya adalah bahwa anda menemukan apa yang anda cari dalam diri anda.
Anda menjadi pemimpin pertama bagi diri anda sendiri. Dan, tidaklah kita bisa memimpin orang lain sebelum memimpin diri sendiri.

Tuesday, May 04, 2010

WUJUDKAN SINERGI, BUKAN SEKEDAR KOMPROMI

Anda boleh menuntut segala sesuatu pada pemimpin anda. Anda boleh meminta kemakmuran, kesejahteraan, kehidupan yang layak, atau apa pun yang mungkin mustahil turun dari langit begitu saja.
Namun, bila tak semua keinginan anda terwujud, anda tak punya hak sama sekali memasang duri di jalan dengan harapan pemimpin anda jatuh terjerembab, lalu meminta orang-orang mengangkat diri anda sebagai pemimpin baru.
Siapa pun yang memiliki pandangan nurani akan mencium anyir kepicikan dalam gelagat anda.

Apalah artinya sebuah kompromi; yang hanya saling memberi sedikit demi sesuatu yang tak kalah sedikitnya. Bukankah jauh lebih cantik bila kita sama-sama memberi banyak demi hasil panen yang jauh lebih banyak bagi sebanyak-banyaknya keluarga kita. Inilah sinergi. Dan, dalam sinergi tidak dikenal kelicikan, iri dengki, bahkan dengus kegeraman pun tak terdengar.

Wednesday, April 28, 2010

SEKALI-KALI JANGAN PERMALUKAN ORANG LAIN

Orang mungkin bisa melupakan kemarahan anda. Orang juga bisa memaklumi kealpaan anda. Namun, orang akan mengingat betul apa yang mempermalukan mereka. Orang takkan melupakan apa yang pernah merendahkan kehormatannya. Bolehlah anda mengecam atau tidak setuju dengan tindakan seseorang, namun anda takkan pernah punya hak untuk mempermalukan mereka di hadapan orang lain. Rasa malu adalah saudara kehormatan. Bila yang satu luruh, leburlah yang lain. Dan yang tersisa hanyalah benih dendam yang berkepanjangan.

Jangan permalukan orang lain. Rasa malu adalah satu-satunya yang tertinggal dalam diri manusia, ketika semua pegangan lainnya dilepaskan. Bila yang satu ini terhanyut jua, tak ada lagi tiang yang cukup kokoh yang menolongnya dari keterpurukan harga diri.

Monday, April 19, 2010

BIARKAN UANG DATANG DIAM-DIAM

Uang, jabatan, dan nama baik bukanlah tujuan, melainkan konsekuensi dari sikap dan perilaku kita.
Bila uang adalah tujuan, jangan salahkan bila ada orang yang memperpanjang akalnya demi mendapat beberapa keping tambahan.
Bila jabatan adalah tujuan, tak usah heran bila ada orang yang melicinkan lidahnya demi meraih beberapa bintang di dada.
Bila nama baik adalah tujuan, tidak perlu terkejut bila ada orang yang memperbagus pakaiannya demi menuai beberapa pujian.

Namun tahukah anda, masih ada orang yang lebih suka memperindah sikap dan perilakunya, ketimbang menumpuk uang, bintang dan sanjungan. Semua itu tak lebih dari imbalan pemanis saja. Bila kita sungguh-sungguh pada sikap dan perilaku kita sehari-hari, maka jangan heran bila justru uang, bintang dan sanjunganlah yang mendatangi kita secara diam-diam. Dan itu jauh lebih baik ketimbang mengusik ketentraman dan ketenangan hati bukan?

Monday, April 12, 2010

MENGHADIAHI NAMUN MENGHUKUM

Karena menginginkan hasil yang lebih baik, banyak atasan mengiming-imingi imbalan tambahan pada bawahannya. Mereka menyebutnya sebagai sebuah bentuk penghargaan prestasi. Namun, sayangnya ternyata banyak orang yang tanpa sadar, bukannya memberikan hadiah, melainkan menghukum secara halus.
Mereka menghitung besarnya imbalan berdasarkan kecilnya kesalahan yang dilakukan oleh bawahan. Mereka mengumpulkan data-data mengenai produk yang cacat, jumlah hari keterlambatan, atau banyaknya keluhan dari pelanggan.
Apalah artinya semua ini?

Bila kita hendak menghukum, maka hukumlah kesalahan.
Sebaliknya, bila kita hendak memberikan penghargaan, maka hargailah kinerja. Prinsipnya sederhana saja, bila hanya delapan soal yang terjawab dengan benar dari sepuluh soal yang ada, maka nilai yang tepat adalah delapan.

Sunday, April 04, 2010

HANYA SEDIKIT KESENANGAN DALAM KEMUDAHAN

Kita mau berjuang untuk mengerjakan sesuatu bukan karena mudah, namun karena sulit. Dalam banyak kemudahan terdapat sedikit daya tarik. Dalam tiada daya tarik, siapa pun takkan menemukan kesenangan. Kesulitanlah yang selalu menarik minat, gairah dan menumbuhkan daya cipta. Maka, hanya orang-orang yang berani dan berjiwa besarlah yang mampu mengatasi kesulitan. Mereka yang lemah lebih suka mengerjakan soal-soal mudah.

Ajaklah orang-orang untuk mendaki jurang terjal, mengarungi sungai deras, dan mendaki puncak gunung tinggi. Katakan bahwa bagi mereka cuma tersedia batu keras nan dingin sebagai tempat merebahkan badan, atau air embun dan rumput kering sebagai penawar lapar dan dahaga. Maka, anda hanya akan mendapati satu-dua wajah gagah berani, dengan tatapan kekar, serta tekad baja untuk menaklukkan semua itu. Memang hanya sedikit sekali orang yang bernyali menghadapi kesulitan dan tantangan besar. Namun, percayalah, dari yang sedikit itu anda akan dapati sesuatu yang luar biasa banyak. Karena itulah, kita sebut mereka pahlawan.

Sunday, March 28, 2010

ADAKAH GADING YANG TAK RETAK?

Pernahkah anda mendengar teori "nihil cacat"?
Sebuah pemikiran agar kita berusaha mencapai kondisi tiada cacat, baik dalam hasil maupun proses kerja. Percayakah bahwa anda mampu mencapai hasil yang tak bercacat? Atau, percayakah anda bahwa ada sesuatu di bawah langit ini yang benar-benar suci
dari cacat?

Ayolah! Jangan terlalu naif.
Pepatah mengatakan bahwa tiada gading yang tak retak.
Itu berarti selalu saja ada cacat; selalu saja ada kekurangan; bahkan pada apa dikagumi sekali pun. Maka, bagaimana mungkin kita mempercayai teori "nihil cacat"? Bila anda cukup realistis, maka sebenarnya yang dituntut bukanlah hasil dan kerja yang tak bercacat, melainkan sebuah sikap untuk terus-menerus mengupayakan perbaikan.
Kita takkan pernah sampai pada kesempurnaan, namun kita bisa berjalan menuju kesempurnaan. Itulah sikap "nihil cacat" yang kita percayai.

Thursday, March 18, 2010

Bekerjalah Secara Wajar

Bila anda lelah, berhentilah sejenak. Bila anda mengantuk, tidurlah sekejap.
Bila anda sakit, istirahatlah secukupnya.
Keberhasilan tidak sekedar dicapai dengan bekerja keras, membanting tulang sekuat tenaga, serta memeras keringat sekering-keringnya.
Keberhasilan adalah hasil dari kerja yang wajar dan manusiawi. Orang yang berhasil tidak pernah bermalas-malasan, namun mereka tahu bagaimana mengemudikan tubuh dan pikirannya dengan baik. Mereka tahu kapan harus memindahkan gigi roda, menginjak rem, dan mengganti onderdilnya yang usang. Dan, itu sama sekali bukan kemalasan, justru itulah kemewahan.

Sekali lagi, bekerjalah secara wajar. Dengan bekerja keras anda memang dapat meraih keberhasilan yang luar biasa. Namun dengan bekerja secara manusiawi anda justru menikmati apa arti keberhasilan itu.

Bekerjalah Secara Wajar

Bila anda lelah, berhentilah sejenak. Bila anda mengantuk, tidurlah sekejap.
Bila anda sakit, istirahatlah secukupnya.
Keberhasilan tidak sekedar dicapai dengan bekerja keras, membanting tulang sekuat tenaga, serta memeras keringat sekering-keringnya.
Keberhasilan adalah hasil dari kerja yang wajar dan manusiawi. Orang yang berhasil tidak pernah bermalas-malasan, namun mereka tahu bagaimana mengemudikan tubuh dan pikirannya dengan baik. Mereka tahu kapan harus memindahkan gigi roda, menginjak rem, dan mengganti onderdilnya yang usang. Dan, itu sama sekali bukan kemalasan, justru itulah kemewahan.

Sekali lagi, bekerjalah secara wajar. Dengan bekerja keras anda memang dapat meraih keberhasilan yang luar biasa. Namun dengan bekerja secara manusiawi anda justru menikmati apa arti keberhasilan itu.

Tuesday, March 09, 2010

JIKA HIDUP INI ADALAH SEBIDANG TEMBOK

Jika anda anggap hidup ini bagai sebidang tembok, agar kokoh bangunlah dengan batu-batu besar nan kuat. Batu-batu besar itu adalah sesuatu yang berat dipikul, keras di jinjing; sesuatu yang kita perjuangkan atas nama cinta; yang senantiasa kita perjuangkan; sesuatu yang padanya kita rela berkorban, berjerih-jerih, bahkan menukarnya dengan segenap jiwa dan raga.
Sesuatu itu bisa berupa keluarga, persahabatan, pekerjaan, atau apa pun yang begitu berharga sehingga kita harus membangunnya kuat-kuat; serta memolesnya indah-indah.

Namun demikian, agar bebatuan besar itu saling rekat-merekat kuat, ia harus ditautkan dengan pasir-pasir kecil. Pasir-pasir lembut yang melindungi telapak kaki kita dari perihnya peristiwa. Pasir-pasir itu adalah kegembiraan dalam syukur, senyuman di balik peluh, serta kehangatan hubungan antar sesama. Jika demikian, maka kita akan dapati sebuah tembok yang menjadi monumen simbol kehadiran kita di dunia ini. Dan, itu tentu jauh lebih baik ketimbang hanya sekedar meninggalkan sepasang nisan di batas kubur.

Tuesday, March 02, 2010

MEMANDANG RESIKO

Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata "resiko"? Sesuatu yang menakutkan? Bahaya yang mengancam? Sandungan bagi keberhasilan? Kemungkinan rugi? Atau, apa?

Tak salah bila kita menganggap resiko selalu berwajah seram.
Tanpa sadar, sudah terlalu lama, kita belajar untuk selalu menghindari resiko.
Padahal sesungguhnya tak seorang pun bisa mengelak dari kemungkinan untuk gagal. Namun, itu bukan berarti kita harus gagal. Kita hanya perlu memandang resiko dari sudut yang sama sekali berbeda. Bahwa segala sesuatu adalah resiko. Hanya karena kita bisa mengatasinyalah kita tak menganggapnya terlalu serius. Resiko menampakkan taringnya karena kita tak tahu bagaimana menghadapinya.
Karena itu, salah satu kunci terutama dalam berteman dengan resiko secara damai adalah membangun pengelolaan yang baik dan benar, serta menumbuhkan budaya kerja yang sehat, berkemampuan hidup tinggi, dan, sekali lagi, mengakui adanya kemungkinan untuk gagal. Resiko tak lebih dari cemeti yang mengajarkan kita untuk tetap realistis.

Monday, February 22, 2010

KITA PUNYA TUGAS YANG LEBIH BESAR

Bila sebuah ibu kota terguncang di dera kekalutan, jangan lantas menganggap seluruh negara telah luluh lantak. Ibu kota hanyalah setitik bulatan kecil di atas peta negara yang membentang besar ke seluruh penjuru. Masih ada bagian lain dari negara ini yang menampakkan wajah hangat dan ramah. Pantai dengan air bening yang menggarisi pulau dari laut; gunung dengan tiupan angin sejuk yang berdiri berpayung awan; sawah dengan liukan tentram nyanyian padi dan palawija yang menjanjikan penghidupan; adalah wajah-wajah kedamaian yang senantiasa menyerukan harapan. Jangan berpaling darinya.
Jadikan itu sebagai mata air penyegar jiwa yang mendorong langkah-langkah pembangunan negri.

Biarkan setitik bulatan hitam itu bergumul dengan bara apinya sendiri. Biarkan ia jadi ajang bermain anak-anak kecil yang hanya tahu merengek-rengek tiada arti. Kita masih punya kerja yang lebih besar dan lebih mulia. Mempertahankan kebeningan garis pantai, menjaga kesejukan tiupan angin gunung, serta menyiangi sawah ladang bagi anak cucu mendatang. Dan yang tak kalah penting: memiara agar ayam jantan tetap memekikkan kukuruyuk harapan esok hari.

Tuesday, February 16, 2010

KISAH TENTANG KEBENARAN DAN IBARAT

Yiddish Folktales

Suatu hari Kebenaran pergi berjalan-jalan dengan bertelanjang diri, selayaknya bayi yang baru dilahirkan. Namun apa yang terjadi? Orang yang melihatnya malah berbalik lari menghindari. Tak seorang pun mau mengajaknya mampir ke rumah mereka. Kebenaran merasa sedih dengan apa yang terjadi. Ia lalu menemui Ibarat. Ibarat senantiasa mengenakan pakaian yang indah penuh warna-warni. Ketika melihat Kebenaran, Ibarat berkata, "Katakan, apa yang membuatmu sedih sobat?"

Dengan getir, Kebenaran menjawab, "Saya sedih. Sangat sedih. Usiaku sudah sangat tua, namun tak seorang pun mau mengenaliku, bahkan menyapaku. Tak seorang pun mau menerimaku."

Mendengarkan hal ini, Ibarat membalas, "Orang-orang itu menghindarimu bukan karena kau tua. Bukankah aku juga tua sebagaimana engkau. Namun, semakin tua usiaku, semakin banyak orang yang menyukaiku. Mari, aku sampaikan satu rahasia: Setiap orang menyukai hal-hal yang sedikit samar-samar dan cantik.

Mari, aku pinjami kau pakaian indahku ini, maka akan kau lihat orang-orang yang menyingkirkanmu tadi akan mengajakmu ke rumah mereka, dan senang dengan kehadiranmu."

Lalu, Kebenaran mengikuti saran dari Ibarat. Ia mengenakan pakaian indah yang dipinjamnya dari Ibarat. Dan, sejak saat itu, Kebenaran dan Ibarat selalu berjalan bergandengan.

Pojok Renungan : Seringkali kebenaran yang disampaikan secara langsung terasa menyakitkan, menakutkan, dan tak dimengerti. Namun, kebenaran yang disampaikan di balik cerita dan kisah-kisah selalu mudah diterima tanpa harus merasa dinasehati.

(Yiddish Folktales, The Story of Truth & Parable, Pantheon Books, New York)

PEMIMPIN MENGEMBANGKAN PERSAHABATAN

Kita tahu, tak ada keberhasilan tanpa bantuan orang lain. Maka, tugas seorang pemimpin adalah mengembangkan persahabatan yang tulus dan mulia.
Karena, tak seorang pun mau memberikan lebih dari apa yang anda minta, selain seorang sahabat.

Namun demikian, alangkah buruknya bila pemimpin memanfaatkan persahabatan itu demi kepentingan sempitnya sendiri. Maka persahabatannya bukan lagi berdasarkan ketulusan dan kemulian, melainkan tipu daya dan kelicikan. Anda takkan bisa mempunyai sahabat tanpa menjadi sahabat bagi orang lain. Itu berarti anda harus menjalin kesetaraan dan sikap saling menghormati. Anda pun harus bersedia memberi lebih dari yang diminta mereka. Anda pun harus mau memikul beban mereka.

Tuesday, February 09, 2010

MAINKAN BOLA, BUKAN ORANGNYA

Ada banyak cara memenangkan pertandingan bola. Salah satu cara terpuji adalah dengan berlatih sepanjang minggu, mempelajari aturan pertandingan, dan tentu, bermain sebaik mungkin. Bila toh mereka kalah, mereka tetap layak bersorak karena kemenangan lain telah mereka raih, bahkan sebelum pertandingan itu usai: yaitu pengembangan diri. Memang benar, kemenangan seringkali bukan berarti jumlah goal yang lebih banyak dilesakkan ke gawang lawan. Kemajuan seringkali tidak berujud kesuksesan meraih kedudukan dan kekuasaan.

Sayangnya, tak semua pemain paham akan hal ini. Ada saja yang menganggap kemenangan adalah satu-satunya keberhasilan. Oleh karena itu, jangan heran bila mereka bukannya memainkan bola, namun mengecoh orang, mengutak-atik aturan pertandingan, bahkan menakut-nakuti seluruh stadium. Berapa pun kemenangan yang mereka cetak, mereka layak menunduk sedih, karena telah kalah, jauh sebelum peluit tanda pertandingan usai ditiupkan.

Sunday, January 31, 2010

GUNAKAN KACAMATA DIRI SENDIRI

Jangan hanya karena kekerasan yang dilakukan oleh segelintir warga kota itu diberitakan besar-besar, lalu anda mengecam kejam seluruh isi kota. Sebuah berita memang bisa membantu kita memahami sesuatu yang terlewatkan, namun juga menyesatkan kenyataan. Maka dari itu, tak perlu terburu mengambil kesimpulan dari apa yang disampaikan oleh orang lain. Fakta yang polos takkan pernah sederhana lagi bila digetoktularkan oleh berbagai kepentingan.
Kenyataan yang lugu jadi sangat kompleks dicampuraduk dalam pusingan keinginan. Realitas tak mungkin tertangkap dari balik kacamata pandangan orang lain.

Justru di saat informasi berlalu simpang siur dengan deras, kita belajar bersikap teguh, tak mudah terombang-ambingkan pada desir angin. Di masa seperti inilah kita belajar memahami apa itu keraguan, keyakinan, dan prinsip. Kinilah saat paling tepat untuk menggunakan tatapan sendiri dalam memandang apa yang terjadi. Bila itu tak cukup berhasil, barangkali sudah waktunya kita membersihkan debu prasangka yang mengotori pandangan.

Thursday, January 21, 2010

JANGAN TOLAK CINTA

Jangan campakkan cinta yang dikatakan. Jangan nistakan kasih yang diulurkan.
Namun, pahamilah itu sebagai aliran energi yang bila anda berkenan menyadarinya, bisa diwujudkan jadi kebaikan. Terkadang orang tak cukup mengerti bagaimana menyatakan cinta kasihnya, sehingga menimbulkan prasangka dan keinginan buruk. Dan, itu diperparah oleh penolakan mentah-mentah begitu saja.
Jangan rendahkan atau permalukan orang yang mengungkapkan cinta kasihnya pada anda. Namun, bersama-samalah mengupayakan kebaikan dan kemuliaan.

Jangan manfaatkan cinta yang diungkapkan. Jangan ambil keuntungan dari kasih yang diberikan. Jangan nodai energi kebaikan itu dengan kepicikan demi kesenangan sesaat. Balaslah cinta dan kasih sayang dengan cara-cara agung yang meninggikan derajat kemanusiaan kita; menjunjung kematangan bersikap dan pribadi; serta memuliakan hubungan hingga akhir masa nanti.

Wednesday, January 06, 2010

ANTARA POLITIK DAN KERJA

Banyak orang menyebut politik sebagai permainan kekuatan. Oleh karenanya,tak perlulah bersungguh-sungguh dalam mengupayakannya. Sebagaimana layaknya permainan, kemenangan politik tak lebih dari kembang gula manis yang harus ada demi kesenangan. Tak lama kemudian kembang gula itu larut, dan permainan baru pun di gelar.

Namun, bekerja bukanlah permainan. Kita harus menunaikannya dengan segenap daya. Dalam bekerja tak ada menang atau kalah. Kerja adalah alasan mengapa kita dianugerahi kekuatan yang tak luar biasa ini. Maka jangan campur adukkan kerja dengan permainan politik yang tak perlu. Bila anda lengah, anda terjebak untuk bersungguh-sungguh berpolitik, dan bermain-main dalam kerja anda. Bila ini terjadi, kekuatan anda tak lebih berharga dari sebutir kembang gula pembujuk rengekan anak kecil.

Monday, January 04, 2010

BAGIAN KRITIS DARI SISTEM

Betapa pun hebatnya sebuah sistem kita susun, selalu saja ada bagian kritis.
Meski itu tak harus berarti kelemahan, namun menafikannya sama saja dengan mengabaikan tujuan sistem itu sendiri. Bukankah kekuatan rantai terletak pada mata rantai terlemah? Semestinya kita mengasah kemampuan melihat dimana sebuah kerapuhan berada. Terutama sekali dengan menyingkirkan penghalang diri tersulit; berupa rasa puas diri yang mengabaikan kewaspadaan dan keengganan untuk melakukan perbaikan. Maka, sebelum mampu menemukan bagian-bagian kritis dari struktur yang terhampar di depan mata, adalah
bijak merefleksikan kerapuhan yang ada dalam diri sendiri. Karena, kritis atau tidak, mudah dipermainkan oleh riak-riak gelombang pikiran kita.

Kelemahan terbesar kita adalah ketidakmampuan melihat kelemahan diri sendiri. Bila pepatah mengatakan, kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak, maka sebenarnya persoalannya: mata kita tak mampu melihat hitam-hitamnya sendiri.

Sunday, December 27, 2009

MERAYAKAN KEBERHASILAN BERSAMA ALAM

Bila anda bersuka cita merayakan kenaikan pangkat anda, maka tak ada salahnya anda bersorak-sorai saat melihat cercah pertama cahya matahari terbit dari balik horison. Bila anda berpesta ria menyambut keberhasilan kerja anda, maka tak ada kelirunya bola mata anda berbinar-binar melihat luruhnya dedaunan kala musim gugur tiba. Bila anda bertepuk tangan menandai kemenangan tim usaha anda, maka tak ada khilafnya anda menunduk syahdu dibawah kemilau bintang-gemintang.

Apa pun kemajuan yang anda raih, pantas dirayakan. Namun, jangan lupa untuk menyerukannya pada alam. Karena, demi seluruh keberhasilan dan kemajuan itu, alam menitipkan energi dahsyatnya dalam diri anda. Maka, sepantasnyalah anda menepekuri untuk apa semestinya keunggulan itu anda persembahkan. Yaitu, demi kesempurnaan penciptaan alam ini semata.

MERAYAKAN KEBERHASILAN BERSAMA ALAM

Bila anda bersuka cita merayakan kenaikan pangkat anda, maka tak ada salahnya anda bersorak-sorai saat melihat cercah pertama cahya matahari terbit dari balik horison. Bila anda berpesta ria menyambut keberhasilan kerja anda, maka tak ada kelirunya bola mata anda berbinar-binar melihat luruhnya dedaunan kala musim gugur tiba. Bila anda bertepuk tangan menandai kemenangan tim usaha anda, maka tak ada khilafnya anda menunduk syahdu dibawah kemilau bintang-gemintang.

Apa pun kemajuan yang anda raih, pantas dirayakan. Namun, jangan lupa untuk menyerukannya pada alam. Karena, demi seluruh keberhasilan dan kemajuan itu, alam menitipkan energi dahsyatnya dalam diri anda. Maka, sepantasnyalah anda menepekuri untuk apa semestinya keunggulan itu anda persembahkan. Yaitu, demi kesempurnaan penciptaan alam ini semata.

Tuesday, December 15, 2009

MEMBAYAR HARGA LEBIH MAHAL DEMI BIAYA LEBIH MURAH

Terkadang harga murah yang kita bayarkan jadi biaya yang berlipat-lipat mahalnya; bahkan menggelembungkan kerugian yang tiada tara. Itu karena kita lebih suka mengeluarkan beberapa keping mata uang, namun mengorbankan kesempatan dan masa depan yang cemerlang.

Harga adalah apa yang kita keluarkan dari balik pundi-pundi. Sedangkan biaya adalah seluruh beban yang harus dipertanggungjawabkan atas harga yang kita bayarkan. Membayar murah para pekerja mungkin menghemat keuangan negara, namun tahukah kita berapa besar biaya yang harus ditanggung oleh sebuah generasi? Taklah kita lahirkan generasi mulia dengan hanya membayar secukup rongga mulutnya belaka. Kita perlu sediakan pena, tinta, dan kertas agar bisa dituliskan betapa lebar jalan sejarah yang kita buka bagi anak cucu di depan sana. Dan, itu membutuhkan pengorbanan semua orang, untuk mau membayar
harga yang lebih mahal.

Wednesday, December 09, 2009

BELENGGU PIKIRAN SEHARI-HARI

Hampir seluruh persoalan hidup bermula dari ketidakmauan kita menerima hidup ini apa adanya. Kita tak mampu berkompromi pada kenyataan. Kita tak sudi melepaskan kacamata paradigma dan melihat realiltas secara sederhana. Kita lebih suka bermain-main dengan persepsi. Kita lebih senang berlindung membenarkan pikiran diri sendiri. Padahal itu adalah bentuk lain dari belenggu sehari-hari.

Mari, sejenak kita pejamkan mata. Menemukan kesejukan pikiran.
Menggali ketentraman perasaan. Menyentuh jiwa yang tenang. Menekuri setiap tarikan
nafas. Menyadari keberadaan kita di bumi ini. Meneguhkan kembali ikrar kita pada semesta yang agung; ikrar untuk mencurahkan yang terbaik bagi hidup ini, dan membiarkan tangan-tanganNya menuntun setiap gerak kita sehari-hari.

Thursday, December 03, 2009

PERASAAN YANG MEMBELENGGU

Tanpa sadar, setiap hari, kita ini terbelenggu oleh banyak hal. Yang paling menjerat adalah perasaan.
Perasaan, yang semula muncul bagai titik api di kejauhan, lalu membesar, merantak, hingga berkecamuk hebat dalam diri.

Entah dari mana datangnya rasa sedih, lalu kesedihan merubung berkabung-kabung, sehingga tak lagi kita bisa terlepas dari kubangannya.
Entah dari mana pula munculnya rasa senang, lalu kegembiraan meruap sekujur tubuh, sehingga tak rela kita melepaskan kenikmatannya. Entah dari mana timbul tenggelamnya puluhan bahkan ratusan bala perasan itu. Ia merambat pelan, halus, namun tiba-tiba telah menguasai diri kita setelak-telaknya. Menjerat-jerat. Mencekik-cekik. Dan, kita pun membiarkan ia berlaku sewenang-wenang atas diri kita. Kita tukar kesadaran yang bening dengan kabut perasaan. Kita namai diri kita dengan nama perasaan. Padahal
semestinya kitalah jiwa yang tenang itu; yang tak boleh terenyahkan atas nama kobaran perasaan.

Tuesday, December 01, 2009

TIM ANDA YANG SESUNGGUHNYA

Anda takkan mendapatkan tim yang baik, sebelum anda menjadi anggota tim yang baik pula. Karena tim tidak terdiri dari apa-apa selain orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dan, anda bukan apa-apa dalam tim itu tanpa peran serta anda demi mencapai tujuan kesluruhan tim. Ini hanya membutuhkan beberapa kualitas dari diri anda, yaitu anda tahu dimana anda berada, anda tahu apa yang harus anda lakukan di sana, dan anda tahu bagaiman bekerja bersama rekan-rekan setim anda.

Anda mungkin puas bekerja sendiri; tanpa ada yang memerintah atau mengatur diri anda. Anda juga mungkin puas berdiri di depan sebagai pemimpin; memiliki kata berkuasa atas orang lain. Namun, kepuasan yang sesungguhnya takkan bisa dinikmati sendiri. Anda selalu perlu membagi. Anda butuh memberinya meski sedikit - lebih sedikit dari remah-remah. Itu berarti, anda selalu membutuhkan sebuah tim. Maka, yang dinamakan tim bukanlah sebelas pemain sepak bola yang berlaga di lapangan, namun juga ribuan pendukung yang bersorak-sorai menyemangati.

Monday, November 23, 2009

SILAKAN MENGKRITIK, NAMUN JANGAN MENISTAKAN

Tentu tak seorang pun berhak melarang anda untuk mengkritik. Silakan saja bila anda bermaksud melontarkan yang terpedas sekali pun. Namun, menistakan sesosok pribadi adalah sesuatu yang lain sama sekali. Kekuatan kritik kreatif justru terletak pada bagaimana ia bisa memperbaiki sesuatu tanpa harus merobohkan seluruh bangunan. Dan, selemah-lemahnya kritik adalah yang disertai penghinaan, pengenyahan dan penistaan. Bila demikian, sungguh tak pantas itu dinamai sebuah kritik. Itu hanyalah celoteh anyir yang sama sekali tak perlu dihiraukan.

Mari kita junjung keberadaban tinggi yang telah dibangun berabad-abad oleh leluhur kita. Mari kita pikul sopan santun mulia yang kelak diwariskan pada anak cucu kita. Karena kesejahteraan dalam sebuah bangsa besar hanya tercipta dari tangan-tangan yang berperilaku tulus dan damai, bukan dendam, apalagi penistaan antar sesama.

Monday, November 16, 2009

KEBERHASILAN ORANG LAIN UNTUK KEBERHASILAN ANDA

Ada dua cara menggapai puncak karier. Pertama, anda menginjak pundak orang lain. Atau, kedua, anda meminta orang lain mengangkat anda. Keduanya membawa anda mendaki tangga yang lebih tinggi. Bedanya, cara kedua memberikan pondasi yang sangat kokoh ketimbang yang pertama. Karena, kekuatan sebuah ketulusan takkan tertandingi. Nilai sebuah kerelaan takkan terkalahkan.

Hanya karena anda berkenan menolong orang lain, orang lain pun berkenan menolong anda. Maka mulailah menolong orang-orang di sekitar anda meraih kesuksesan diri mereka. Maka anda boleh berharap mereka pun akan menyediakan lahan keberhasilan untuk anda. Sadarilah, karier anda harus disangga oleh tiang utama, yaitu keberhasilan orang-orang anda berkat bantuan anda.
Prinsipnya sederhana saja: bukalah keberhasilan diri anda dengan membuka pintu keberhasilan orang lain.

Monday, November 09, 2009

JANGAN KEHILANGAN HARAPAN

Sepasang suami istri menggelar dagangannya di trotoar jalan. Saat itu petang turun terburu-buru. Lampu jalan tak cukup terang menerangi dagangan mereka.
Di kanan kiri tumpukan puing-puing bongkaran pasar mengepung. Di depan, berlalu-lalang kendaraan dan langkah-langkah cepat. Siapa pula yang tertarik membeli?
Namun, mereka berdua silih berganti menyapa dan menawarkan dagangan. Kaos anak warna-warni, setangan sebungkus tiga, rok kecil, dan entah apalagi. "Wahai suami istri pedagang, mengapa kalian yakin ada yang membeli dagangan itu. Bagaimana kalian bisa menjajakan barang di keremangan dan keriuhan seperti ini?"

"Kami tak kehilangan harapan," begitu jawabnya. "Itulah satu-satunya kekuatan kami. Kami tak tahu apa dan bagaimana membesarkan usaha ini, namun kami tahu harapan takkan pernah meninggalkan mereka yang menggenggamnya."
Berterima kasihlah pada orang-orang kecil yang memberikan teladan dan menebarkan harapan perbaikan hidup pada kita. Mereka tiang penyangga yang menahan langit dari keruntuhan. Mereka peredup terik mentari kehidupan yang adakalanya terasa panas membakar.

Tuesday, November 03, 2009

KEHADIRAN ANDA DINANTIKAN

Jangan hanya mengirimkan karangan bunga bagi mereka yang sedang berduka cita. Jangan pula hanya menitipkan doa semoga cepat pulih pada mereka yang berbaring derita. Tetapi, datanglah. Jenguklah. Tunjukkan kehadiran anda. Biarkan sentuhan tangan anda memupuskan kesedihan. Kehadiran anda adalah obat terampuh yang takkan bisa dibeli dari tabib terbaik mana pun.

Jangan hanya mengirimkan bingkisan bagi mereka yang sedang bersuka cita.
Jangan pula hanya menitipkan ucapan semoga berbahagia pada mereka yang meruap ceria. Tetapi datanglah. Tengoklah. Tunjukkan kehadiran anda. Biarkan cahya wajah anda menjadi penyuluh kegembiraan. Kehadiran adalah hadiah terbaik yang bisa anda berikan pada siapa pun. Itulah mengapa dunia tak pernah selebar daun talas, karena kehadiran teman baik selalu dinantikan.

Monday, October 26, 2009

BERIKAN BINGKISAN

Ada ratusan toko berjajar di kota ini. Di dalamnya terpajang ribuan bahkan jutaan barang menarik untuk dibawa pulang. Anda hanya perlu sedikit kelapangan hati untuk membeli sebuah produk sederhana, mengemasnya secara hati-hati, menyisipkan secarik ucapan, dan memberinya sebagai bingkisan pada rekan kantor yang telah menjalin kerja baik selama ini. Bukan soal berapa uang yang harus anda belanjakan, namun seberapa panjang hubungan yang ingin anda rajut dengan mereka.

Berikan bingkisan sebagai tanda penghargaan dan terima kasih pada karyawan.
Anda mungkin tak mampu menjadi pemimpin yang baik, menyediakan lingkungan kerja yang menyenangkan, atau memberikan upah yang mencukupi seluruh kebutuhan mereka, namun anda bisa berikan sekotak bingkisan dari lubuk hati anda. Percayalah, sesuatu yang berasal dari hati selalu singgah di hati pula.

Makan saja dulu itu semua

Smiley:

Setelah melalui perjalan yang berat dan melelahkan karena harus melewati tiga bukit dan ngarai, sang petani tiba di rumah kyai. Kyai menanyakan maksud kedatangannya.

Petani: "Saya ingin bertanya, apakah kepiting kali itu halal atau haram?"

Kyai: "Sebelum menjawab itu, saya ingin bertanya terlebih dulu, apakah kamu punya empang?"

Petani: "Punya, Kyai."

Kyai: "Apakah di empangmu dipelihara macam-macam ikan, seperti mujair, tawes, mas, nila, gurami?"

Petani: "Iya , Kyai."

Kyai: "Apakah kamu juga beternak ayam atau bebek seperti petani di sini?"

Petani: "Iya, Kyai."

Kyai: "Nah, kalau begitu, makan dulu saja itu semua, janganlah dulu kamu persoalkan kepiting kali. Bukankah ayam, itik, ikan itupun mungkin tak habis kamu makan, jangan kau susahkan hidupmu dengan persoalan kepiting kali."

Smiley...! Angan-angan menjauhkan kita dari hidup yang sekarang. Bukan persoalan apakah telur atau ayam yang lebih dahulu diciptakan, namun apakah kita bisa memanfaatkan apa yang ada di tangan kita sekarang. Sebutir telur yang nyata-nyata berada dalam genggaman jauh lebih berharga ketimbang seekor ayam di angan-angan.

Wednesday, October 21, 2009

KAMI BUTUH SEORANG MARTIR

Jangan-jangan, sebenarnya kami tak butuh mereka yang bergelar negarawan.
Kami juga tak butuh mereka yang bersematkan bintang-bintang di dada.
Kami pun tak butuh mengangkat pemimpin besar apalagi wakil-wakil permusyawaratan.
Kami hanya butuh seseorang dengan sosok sederhana, yang mengubur ego-nya jauh-jauh ke dalam bumi; yang mempersilakan punggungnya ditempa beban orang lain; yang membolehkan keringatnya dihirup panas mentari; yang tak jera mengerat daging dan memeras darahnya sendiri untuk makan dan minum kami.

Tak ada gunanya gelar terhormat, taburan bintang tanda jasa, kedudukan tinggi dan nama-nama mulia, bila anda yang mengaku pemimpin tak berani mati bagi kami. Kami tak butuh apa-apa, selain secarik nyawa anda yang rapuh itu. Kami hanya butuh martir. Setelah itu, bolehlah anda cantumkan gelar-gelar luhur di bahu anda, meski kami tahu martir tak butuh apa-apa.

KAMI BUTUH SEORANG MARTIR

Jangan-jangan, sebenarnya kami tak butuh mereka yang bergelar negarawan. Kami juga tak butuh mereka yang bersematkan bintang-bintang di dada. Kami pun tak butuh mengangkat pemimpin besar apalagi wakil-wakil permusyawaratan. Kami hanya butuh seseorang dengan sosok sederhana, yang mengubur ego-nya jauh-jauh ke dalam bumi; yang mempersilakan punggungnya ditempa beban orang lain; yang membolehkan keringatnya dihirup panas mentari; yang tak jeri mengerat daging dan memeras darahnya sendiri untuk makan dan minum kami.

Tak ada gunanya gelar terhormat, taburan bintang tanda jasa, kedudukan
tinggi dan nama-nama mulia, bila anda yang mengaku pemimpin tak berani mati
bagi kami. Kami tak butuh apa-apa, selain secarik nyawa anda yang rapuh itu.
Kami hanya butuh martir. Setelah itu, bolehlah anda cantumkan gelar-gelar
luhur di bahu anda, meski kami tahu martir tak butuh apa-apa.

Monday, October 12, 2009

JANGAN KEHILANGAN KEMANUSIAAN KITA

Anda menjumpai seorang lelaki tua, dengan penglihatan yang lamur bahkan hampir buta, berjalan terpincang-pincang, sedang berdiri termangu-mangu berdiri di tepi trotoar, bermaksud menyeberangi jalan raya besar lagi riuh.
Tongkatnya terlepas entah kemana. Apa yang anda lakukan bila itu adalah ayah kandung yang anda cintai sepenuh hati?
Pasti, anda dengan meluluhkan air mata memeluk hangat, menuntun beliau sampai ke seberang. Tak ada kewajiban bagi anak yang berbakti selain menyelamatkan ayah bundanya, meski tahu di hadapan pengadilan, ketuk palu hakim berkata lain.

Namun, apa yang anda lakukan bila lelaki tua itu adalah lawan politik anda?
Akankah anda mendorongnya jatuh ke riol, atau membiarkannya terjerembab di genangan selokan bau? Janganlah perbedaan politis, perbedaan agama, perbedaan garis mata, dan perbedaan apa pun membuat kita kehilangan kemanusiaan kita yang beradab. Boleh kita kibarkan bendera warna-warni, namun janganlah itu menggantikan langit biru yang memayungi semua manusia.

Monday, October 05, 2009

KEHANGATAN DARI PERSAHABATAN

Kita mungkin menganggap, berdiri sebagai pemimpin ibarat berdiri di puncak sepi. Memang benar pucuk-pucuk tinggi hanya berdiri bersendiri. Sedangkan tanaman perdu tumbuh bersemak-semak rimbun. Namun, semestinya hidup tidak sebeku itu, selama anda membalutnya dengan persahabatan. Bahkan, pemimpin besar pun tak mau menyia-nyiakan manisnya persahabatan. Miliki jiwa yang sedemikian hangat sehingga kita bisa memandang setiap orang sebagai teman.

Mari periksa persahabatan yang pernah anda rajut. Jangan biarkan hanyut begitu saja tertelan waktu. Jadikan ia sebagai pelumas yang melembutkan kerasnya benturan dalam kehidupan kerja anda. Rasakan sebuah kekayaan hidup yang tak terkira. Simak saja sebuah pepatah bijak, "hidup tanpa teman, mati pun sendiri."

Monday, September 28, 2009

CERMIN RETAK PENGKRITIK

Kritiklah terus orang lain. Cari dan temukan kesalahan mereka. Meski mereka melakukan keberhasilan, pasti ada banyak bopeng-bopeng yang menarik untuk diungkapkan. Tunjukkan pada orang banyak, bahwa anda mempunyai tatapan setajam elang untuk menemukan kelemahan orang lain. Dengan demikian anda bisa meletakkan diri setingkat lebih tinggi dari mereka. Lalu, temukan apa yang terjadi pada diri anda.

Ya! Kini anda menjadi cermin yang memantulkan bayangan kelabu dari siapa pun yang anda jumpai. Maka, jangan risau bila takkan ada orang yang berkenan berdiri di hadapan anda. Bukan karena mereka tak mau jujur melihat bayangannya sendiri, namun tak seorang pun suka melihat bayangan yang terpantul dari cermin yang retak. Bila anda terus-menerus mengkritik orang lain, anda menunjukkan keretakan yang ada pada diri sendiri. Tak ada tempat yang pantas bagi pecahan cermin, selain dipendam dalam-dalam agar tak melukai telapak kaki yang berderap melangkah maju.

Monday, September 14, 2009

BERTINDAKLAH BENAR DENGAN MENGAKUI KESALAHAN

Rasanya hidup ini banyak memberikan paradoks.
Ketika seseorang berani mengakui kesalahannya, ia tidak sedang mempertontonkan kelemahan, justru menunjukkan ketegaran. Dan, ketegaran adalah kekuatan. Diperlukan segenggam ketegaran agar kita mampu melihat dan mengakui kesalahan.
Terlebih lagi, dibutuhkan sepikul kekuatan untuk meminta maaf dan mengikrarkan sebuah perbaikan.
Akuilah kekhilafan anda.
Ketuklah pintu perbaikan.
Lakukan penuh takjim.
Maka, anda temukan wajah lain dari kesalahan yang patut anda hargai.

Sebagai manusia, kita tidak bisa tidak melakukan kesalahan.
Kebijakan dan pelajaran hidup tak didapat dari mengejar kesempurnaan. Melainkan dari
tindakan yang benar. Salah satunya: berani mengakui kesalahan.

Monday, September 07, 2009

PERLOMBAAN MENDAYUNG

Smiley:

Team manajemen dari perusahaan A dan B mengadakan pertandingan balap dayung.
Masing-masing team berlatih keras dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk mencapai kinerja puncak. Pada hari pertandingan, team perusahaan B memenangkan lomba dengan selisih jarak satu mil.

Team perusahaan A merasa kecewa dengan kekalahan itu. Motivasi dan moral mereka pun menurun. Manajemen perusahaan memutuskan untuk menemukan akar permasalahan mengapa team mereka bisa kalah. Sebuah perusahaan konsultan terkemuka disewa untuk menyelidiki persoalan dan memberikan saran-saran perbaikan.

Setelah beberapa lama dan banyak biaya untuk melakukan penyelidikan, maka ditemukan hal-hal berikut: Team perusahaan B terdiri dari delapan orang pendayung dan satu orang pengemudi. Sedangkan team perusahaan A terdiri dari delapan orang pengemudi dan satu orang pendayung.

Kemudian diajukan sebuah usulan untuk merombak struktur team perusahaan A, menjadi: satu orang yang bertugas general manajer pengemudi, tiga orang manajer pengemudi, tiga orang areal manajer pengemudi, satu orang bertugas mereview bagaimana prestasi dari satu-satunya pendayung yang ada agar bisa memberikan bonus insentif yang mampu meningkatkan prestasinya.

Tahun berikutnya, team perusahaan B menang lagi sejauh dua mil!

Editor: Smiley...! Ada perusahaan yang lebih suka memberikan bonus lebih tinggi pada manajer yang hanya mampu menemukan problem. Sedangkan perusahaan lain yang memenangkan pertandingan lebih suka memberikan bonus lebih tinggi pada pekerja yang menghasilkan produk secara nyata.

SURAT PAMIT DARI SEORANG MANAJER

Seorang manajer menulis ini pada kami: "Setelah delapan tahun bekerja di perusahaan ini, aku kira tak ada yang lebih banyak yang bisa kuberikan selain rasa cintaku pada perusahaan ini, pada setiap detil pekerjaan, pada orang-orang - mulai dari pimpinan tertinggi hingga buruh terrendah - yang sama bekerja di sini, pada produk yang kami hasilkan, pada apa saja, bahkan pada bau asap yang keluar dari cerobong-cerobong pabrik kami. Ketika atasanku mengatakan aku telah melakukan pekerjaan besar, aku kira itu hanya sesuatu yang kecil namun beserta kasih yang besar. Ketika rekan-rekanku mengatakan aku telah merajut keberhasilan, aku kira itu hanya selembar sapu tangan mungil bermanikamkan cinta tak terperi. Karena, keberhasilan yang sejati adalah rantai dari kesempatan, karier, kerja sama, kemajuan, persahabatan, persaudaraan, cinta dan kasih sayang."

"Dan, ketika hari ini aku pamit untuk undur diri dari perusahaan, aku temui tatapan-tatapan syahdu, aku terima bingkisan-bingkisan kecil, aku tenggelam dalam pelukan dan jabatan hangat. Di saat itu aku sadari, cintaku terbalas. Terima kasih." Kasih selalu berbalas kasih. Tugas kita di muka bumi ini tak lain adalah menebarkan kasih sebanyak-banyaknya. Itu saja.

Monday, August 31, 2009

RAJA MAHMUD DAN BUNCIS

Aththar An-Nisaburi

Suatu hari, Raja Mahmud yang perkasa dari Ghazna pergi berburu. Di tengah jalan ia terpisah dari rombongannya. Kemudian ia mendatangi asap yang berasal dari sebuah api kecil. Di sana ia menemukan seorang perempuan tua dengan belanganya.

Raja Mahmud berkata, "Hari ini engkau kedatangan tamu seorang raja. Apa yang kau masak di atas apimu?"

Perempuan tua itu menjawab, "Ini rebusan buncis."

Raja Mahmud bertanya, "Wahai perempuan tua, maukah kau memberiku sedikit?"

"Tidak," jawab perempuan itu. "Karena ini hanya untukku. Kerajaanmu tidak berharga sebagaimana buncis-buncisku ini. Engkau boleh saja menginginkan buncisku, tapi aku tidak menginginkan kerajaanmu, dan apa pun yang engkau miliki. Buncis-buncisku bernilai seratus kali lipat daripada semua milikmu.
Lihat musuh-musuhmu, mereka berusaha merebut kekuasaanmu. Aku bebas, dan memiliki kacang buncisku."

Mahmud yang perkasa memandang pemilik kacang buncis itu, sambil memikirkan kekuasaannya yang dipersengketakan. Ia lalu menangis.

Pojok Renungan Editor: Apa yang kita miliki? Apakah kita terbebas?

(Idries Shah, The Way Of Sufi)


****************************************************************************
Stopper:

Segala sesuatu yang tercipta pasti musnah. Ia yang menyadari hal ini tidak akan menderita. Demikianlah jalan menuju kesucian. (Siddharta Gautama)

Tapa brata dan ilmu pengetahuan tidak dapat membebaskan dirimu dari keterikatan pada dunia benda. Terbebaskan dari keinginan, kau akan terbebas pula dari ikatan dengan dunia benda. (Siddharta Gautama)

Keserakahan menghasilkan kesedihan. Lalu dari kesedihan, timbul rasa takut.
Ia yang tidak serakah, tidak akan sedih dan takut. (Siddharta Gautama)

YANG KAMI PINTA DARI PEMIMPIN AGUNG

Ketika anda berdiri di depan rakyat banyak. Berdiri dengan gagah, seolah dunia berada di pijakan. Menunjukkan telunjuk jauh ke depan. Menjanjikan padang rumput hijau tempat ternak berkembang. Mengiming-imingi cahya terang benderang. Kala itu, jangan, sekali lagi jangan, bayangkan anda jadi seorang maharaja dengan sekepal kekuasaan di tangan. Kala itu, jangan, sekali lagi jangan, bermimpi anda jadi kaisar bermahkotakan mutu manikam. Itu tak lebih dari angan-angan usang penyumpal lubang telinga kami.

Mungkin benar, bahwa anda berdiri penuh pesona di sana sebagai pemimpin agung, penunjuk jalan sejarah, atau bahkan maha raja di raja. Namun, semestinya anda juga sadar, sekali lagi sadar sepenuh hati, bahwa anda seharusnya siap menjadi seorang martir bagi rakyat, negara, dan seluruh dunia ini. Karena kami mengikuti anda bukan cuma meminta sedikit keringat anda, atau setetes air mata anda, melainkan sekujur darah anda, dan selembar nyawa anda yang tipis itu. Pengorbanan anda seutuhnya. Itulah mengapa pemimpin disebut pemimpin.

Thursday, August 27, 2009

HAK KITA MENILAI HITAM DAN PUTIH

Apalah gunanya membedakan orang ke dalam kelompok hitam dan putih?
Takkah cukup bagi kita untuk menilai sebuah tindakan, tanpa meneruskan penghakiman
pada sang pelaku? Adakah hak itu diberikan pada diri kita? Bila ya, pantaskah kita menganugerahkan pujian atau menjatuhkan hukuman padahal kita takkan mampu melihat pantulan wajah kita di cermin jernih melalui kacamata buram?

Bukankah setiap dari kita memiliki kesempatan yang sama untuk berbuat hitam atau putih? Bahkan, seringkali kita ini tak lebih tegar ketimbang buih di tengah ombak. Rapuh. Lemah. Apalah artinya keimanan yang kita basahkan di bibir, jika suara hati masih terus mempertanyakan ketulusannya. Itulah mengapa, menerima manusia seutuhnya adalah menerima keunggulan sekaligus kekhilafannya. Memang mudah melihat cahya apa yang terpancar dari bola mata orang lain, namun mendengar gemuruh yang menderu-deru jauh di dalam rawa-rawa kalbu adalah hal yang sama sekali lain. Bahkan, mendengar rintihan dalam kalbu sendiri adalah tugas yang tak kalah sulitnya. Bila demikian,
masihkah kita merasa berhak menilai hitam dan putihnya seseorang?

Tuesday, August 25, 2009

SEBUAH OLIMPIADE YANG ISTIMEWA

Soul's Bread:

Beberapa tahun lalu, diadakan olimpiade khusus orang-orang cacat di Seattle.
Saat itu dilakukan pertandingan lari jarak 100 meter. Sembilan pelari telah bersiap-siap di tempat start masing-masing.

Ketika pistol tanda pertandingan dinyalakkan, mereka semua berlari, meski tidak tepat berada di garis lintasannya, namun semuanya berlari dengan wajah gembira menuju garis finish dan berusaha untuk memenangkan pertandingan.
Kecuali, seorang pelari, anak lelaki, tiba-tiba tersandung dan terjatuh berguling beberapa kali. Ia lalu menangis.

Delapan pelari mendengar tangisan anak lelaki yang terjatuh itu. Mereka lalu memperlambat lari mereka dan menoleh ke belakang. Mereka semua berbalik dan berlarian menuju anak lelaki yang terjatuh di tanah itu.

Semuanya, tanpa terkecuali.

Seorang gadis yang menyandang cacat keterbelakangan mental menunduk, memberikan sebuah ciuman padanya dan berkata, "Semoga ini membuatmu merasa lebih baik." Kemudian kesembilan pelari itu saling bergandengan tangan, berjalan bersama menyelesaikan pertandingan menuju garis finish.

Seluruh penonton yang ada di stadion itu berdiri, memberikan salut selama beberapa lama. Mereka yang berada di sana saat itu masih saja tak bosan-bosannya meneruskan kejadian ini. Tahukah anda mengapa? Karena di dalam diri kita yang terdalam kita tahu bahwa: dalam hidup ini tak ada yang jauh lebih berharga daripada kemenangan bagi kita semua. Yang terpenting dalam hidup ini adalah saling tolong menolong meraih kemenangan, meski kita harus mengalah dan mengubah diri kita sendiri.

SEBUAH OLIMPIADE YANG ISTIMEWA

Soul's Bread:

Beberapa tahun lalu, diadakan olimpiade khusus orang-orang cacat di Seattle.
Saat itu dilakukan pertandingan lari jarak 100 meter. Sembilan pelari telah bersiap-siap di tempat start masing-masing.

Ketika pistol tanda pertandingan dinyalakkan, mereka semua berlari, meski tidak tepat berada di garis lintasannya, namun semuanya berlari dengan wajah gembira menuju garis finish dan berusaha untuk memenangkan pertandingan.
Kecuali, seorang pelari, anak lelaki, tiba-tiba tersandung dan terjatuh berguling beberapa kali. Ia lalu menangis.

Delapan pelari mendengar tangisan anak lelaki yang terjatuh itu. Mereka lalu memperlambat lari mereka dan menoleh ke belakang. Mereka semua berbalik dan berlarian menuju anak lelaki yang terjatuh di tanah itu.

Semuanya, tanpa terkecuali.

Seorang gadis yang menyandang cacat keterbelakangan mental menunduk, memberikan sebuah ciuman padanya dan berkata, "Semoga ini membuatmu merasa lebih baik." Kemudian kesembilan pelari itu saling bergandengan tangan, berjalan bersama menyelesaikan pertandingan menuju garis finish.

Seluruh penonton yang ada di stadion itu berdiri, memberikan salut selama beberapa lama. Mereka yang berada di sana saat itu masih saja tak bosan-bosannya meneruskan kejadian ini. Tahukah anda mengapa? Karena di dalam diri kita yang terdalam kita tahu bahwa: dalam hidup ini tak ada yang jauh lebih berharga daripada kemenangan bagi kita semua. Yang terpenting dalam hidup ini adalah saling tolong menolong meraih kemenangan, meski kita harus mengalah dan mengubah diri kita sendiri.

KEKUASAAN ADALAH TANGGUNG JAWAB

Mereka yang ceroboh menganggap kekuasaan adalah hak bagi setiap orang.
Oleh karena itu, mereka berlomba-lomba mendapatkan dan mendekapnya erat-erat.
Bila perlu menumbuhkannya jadi sebuah pohon besar yang dipenuhi mitos dan cerita seram penuh kegentaran.
Maka tak usah heran, ketika sekelompok orang ceroboh bertemu, tak lain yang mereka ributkan hanyalah membagi ini dan itu.
Semata-mata demi sejumput tanah tempat tumbuh semak belukar.
Kekuasaan akan jadi mahkota duri yang akan melukai pelipisnya sendiri.

Sedangkan bagi mereka yang bijak, kekuasaan adalah kata lain dari wajah tanggung jawab.
Tak ada tempat lain untuk meletakkannya selain di pundak.
Bukan di genggaman. Bukan pula di kepalan.
Ia harus dimintai keterangan: untuk apa dan bagaimana ia diperankan.
Karenanya, kekuasaan tunduk pada kepada siapa yang memberikan, bukan kepada siapa ia diberikan.
Mereka yang bijak memikul kekuasaan dengan takjim.
Sekali lancung, tak ada yang perlu lagi dipercayakan.

Thursday, August 20, 2009

BANYAK WAJAH KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN

Bila orang lain berhasil, maka akui keberhasilan mereka. Hargai dan hormati apa yang mereka capai. Nyatakan itu setulus hati. Terimalah bahwa keberhasilan mereka adalah keberhasilan mereka. Iri hati, kecewa, dengki, biasanya mudah mengiringi hati mereka yang merasa lebih berhak mendapatkan keberhasilan itu. Meski anda tidak berhasil meraihnya, namun temukan keberhasilan yang lebih besar dalam diri anda, yaitu kebesaran jiwa anda untuk mengucapkan selamat atas keberhasilan mereka.

Keberhasilan selalu menunjukkan banyak wajah. Sayangnya seringkali kita menyebutnya dengan nama-nama yang melemahkan diri sendiri, semisal: kekalahan, kegagalan atau kekeliruan. Kegagalan pun bisa menunjukkan banyak wajah. Sayangnya seringkali kita menyebutnya dengan nama-nama yang mengilusikan kebanggaan diri, semisal: kemenangan, keunggulan atau kebenaran. Karenanya, mungkin lebih baik bila hidup ini tak diukur dengan kemenangan dan kekalahan, keberhasilan dan kegagalan.

Monday, August 10, 2009

BOLA MASUK KE KANTONG KERTAS

Seorang pemain profesional bertanding dalam sebuah turnamen golf. Ia baru saja membuat pukulan yang bagus sekali yang jatuh di dekat lapangan hijau. Ketika ia berjalan di fairway, ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik?

Sesuai dengan peraturan turnamen, jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, ia terkena pukulan hukuman. Tetapi kalau ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Salah-salah, ia mendapatkan skor yang lebih buruk lagi. Apa yang harus dilakukannya?

Banyak pemain mengalami hal serupa. Hampir seluruhnya memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas itu dan menerima hukuman. Setelah itu mereka bekerja keras sampai ke akhir turnamen untuk menutup hukuman tadi.
Hanya sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada, pemain yang memukul bola bersama kantong kertas itu. Resikonya terlalu besar.

Namun, pemain profesional kita kali ini tidak memilih satu di antara dua kemungkinan itu. Tiba-tiba ia merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan sekotak korek api. Lalu ia menyalakan satu batang korek api dan membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu habis terbakar, ia memilih tongkat yang tepat, membidik sejenak, mengayunkan tongkat, wus, bola terpukul dan jatuh persis di dekat lobang di lapangan hijau. Bravo!
Dia tidak terkena hukuman dan tetap bisa mempertahankan posisinya.

Smiley...! Ada orang yang menganggap kesulitan sebagai hukuman, dan memilih untuk menerima hukuman itu. Ada yang mengambil resiko untuk melakukan kesalahan bersama kesulitan itu. Namun, sedikit sekali yang bisa berpikir kreatif untuk menghilangkan kesulitan itu dan menggapai kemenangan.
Seorang pemain profesional bertanding dalam sebuah turnamen golf. Ia baru saja membuat pukulan yang bagus sekali yang jatuh di dekat lapangan hijau. Ketika ia berjalan di fairway, ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik?

Sesuai dengan peraturan turnamen, jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, ia terkena pukulan hukuman. Tetapi kalau ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Salah-salah, ia mendapatkan skor yang lebih buruk lagi. Apa yang harus dilakukannya?

Banyak pemain mengalami hal serupa. Hampir seluruhnya memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas itu dan menerima hukuman. Setelah itu mereka bekerja keras sampai ke akhir turnamen untuk menutup hukuman tadi.
Hanya sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada, pemain yang memukul bola bersama kantong kertas itu. Resikonya terlalu besar.

Namun, pemain profesional kita kali ini tidak memilih satu di antara dua kemungkinan itu. Tiba-tiba ia merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan sekotak korek api. Lalu ia menyalakan satu batang korek api dan membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu habis terbakar, ia memilih tongkat yang tepat, membidik sejenak, mengayunkan tongkat, wus, bola terpukul dan jatuh persis di dekat lobang di lapangan hijau. Bravo! Dia
tidak terkena hukuman dan tetap bisa mempertahankan posisinya.

Smiley...! Ada orang yang menganggap kesulitan sebagai hukuman, dan memilih
untuk menerima hukuman itu. Ada yang mengambil resiko untuk melakukan
kesalahan bersama kesulitan itu. Namun, sedikit sekali yang bisa berpikir
kreatif untuk menghilangkan kesulitan itu dan menggapai kemenangan.

TEMUKAN CINTA ANDA

Bila anda tak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan, pekerjaan pun jadi menggembirakan. Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja anda, maka cintailah suasana dan gedung kantor anda. Ini mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi. Bila toh anda juga tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja anda. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga. Namun, bila anda tak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apa pun yang bisa anda cintai dari kerja anda: tanaman penghias meja, cicak di atas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela.
Apa saja.

Bila anda tak menemukan yang bisa anda cintai dari pekerjaan anda, maka mengapa anda ada di situ? Tak ada alasan bagi anda untuk tetap bertahan. Cepat pergi dan carilah apa yang anda cintai, lalu bekerjalah di sana. Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.

Wednesday, August 05, 2009

SI KIKIR DAN MALAIKAT MAUT

Setelah bekerja keras, berdagang dan menjadi rentenir, si kikir telah menumpuk harta, tiga ratus ribu dinar. Ia memiliki tanah luas, beberapa gedung, dan segala macam harta benda. Kemudian ia memutuskan untuk beristirahat selama satu tahun, hidup nyaman, dan kemudian menentukan tentang masa depannya.

Tetapi, segera setelah ia berhenti mengumpulkan uang, Malaikat Maut muncul di hadapannya untuk mencabut nyawanya. Si kikir pun berusaha dengan segala daya upaya agar Malaikat Maut itu tidak jadi menjalankan tugasnya. Si kikir berkata, "Bantulah aku, barang tiga hari saja. Maka aku akan memberimu sepertiga hartaku."

Malaikat Maut menolak, dan mulai menarik nyawa si kikir. Kemudian si kikir memohon lagi, "Jika engkau membolehkan aku tinggal dua hari saja, akan kuberi engkau dua ratus ribu dinar dari gudangku."

Tetapi Malaikat Maut pantang menyerah dan tak mau mendengarkannya. Bahkan ia menolak memberi tambahan satu hari demi tiga ratus ribu dinar dari si Kikir.
Akhirnya si kikir menulis berkata, "Kalau begitu, tolong beri aku waktu untuk menulis sebentar."

Kali ini Malaikat Maut mengijinkannya, dan si kikir menulis dengan darahnya sendiri: "Wahai manusia, manfaatkanlah hidupmu. Aku tidak dapat membelinya dengan tiga ratus ribu dinar. Pastikan engkau menyadari nilai dari waktu yang engkau miliki."

PENCAPAIAN TERBAIK MANUSIA

Seorang komposer tuna rungu menulis beberapa baris lagu untuk kekasihnya.
Lagu itu, karena begitu indah, jadi abadi hingga kini.
Seorang sultan kehilangan buah hatinya. Lalu ia membangun sebuah istana rupawan yang
dikenang seluruh dunia sebagai tanda cinta yang tak lekang.
Seorang penyair menggoreskan ratusan bait puisi yang memberikan cahaya bagi banyak generasi ke depan. Puisi itu ia tulis untuk kekasih kekalnya yang tak terperi.
Demikian juga jutaan orang menciptakan keindahan atas nama sebuah kata, cinta.

Tak cukupkah bukti bagi anda. Bahwa hanya dengan cinta, anda bisa memberikan
sesuatu yang terbaik. Bukan sekedar terbaik, tetapi yang melampaui kata-kata, nada-nada, logika, garis dan warna, serta semua penggambaran lain di dunia ini. Tak ada pencapaian terbaik manusia, bila tak disertai luapan cinta yang tak terkira.