Pages

Wednesday, December 10, 2008

KEPEMIMPINAN YANG UTAMA #1/2

Jenderal Colin Powell

PELAJARAN #1--Bertanggung jawab kadang-kadang berarti mengabaikan sebagian orang.

Kepemimpinan yang baik mencakup kesejahteraan kelompok. Namun, mungkin sebagian orang tidak menyukai tindakan dan keputusan anda. Ini bisa dimengerti, jika anda cukup dapat dihargai. Mencoba untuk mengambil hati semua orang adalah tanda kelemahan: anda menghindari keputusan yang sulit, anda menghindari orang-orang yang perlu dihadapi, dan anda menghindari pemberian kompensasi yang berbeda berdasarkan pelaksanaan kerja. Ironisnya,
dengan menunda pilihan yang sulit, dengan mencoba menghindari marahnya seseorang, dan dengan memperlakukan setiap orang sama baiknya tanpa menimbang konstribusi mereka, anda akan tahu bahwa anda hanya akan menimbulkan kemarahan dari mereka yang paling kreatif dan produktif dalam organisasi.

PELAJARAN #2--Saat prajurit berhenti membawa masalah mereka kepada anda adalah saat dimana anda berhenti memimpin mereka. Mungkin mereka kehilangan kepercayaan bahwa anda dapat membantu mereka, atau telah beranggapan bahwa anda tidak peduli. Keduanya adalah kegagalan kepemimpinan.

Jika ini adalah tes lakmus, maka kebanyakan top manager akan gagal. Pertama, mereka membangun banyak penghalang komunikasi. Bawahan merasa dirinya konyol untuk meminta bantuan ke atas. Kedua, mereka membangun budaya perusahaan yang memandang meminta bantuan sebagai pertanda kelemahan atau kegagalan.
Dengan demikian orang-orang menutupi kekurangan mereka. Perusahaan pun rugi karenanya. Pimpinan sejati akan membuat diri mereka dapat dihubungi dan siap setiap waktu. Mereka menunjukkan kepedulian pada usaha dan tantangan yang dihadapi para bawahannya, walaupun mereka meminta standar yang tinggi.
Mereka menciptakan suatu lingkungan di mana analisis masalah meniadakan tindakan mencari kambing hitam.

PELAJARAN #3--Jangan terpengaruh dengan para ahli dan para elite. Para ahli sering memiliki lebih banyak data daripada penilaian. Para elite bagaikan penderita hemofili yang akan mengalami pendarahan hingga mati segera setelah mereka bersentuhan dengan dunia nyata.

Perusahaan kecil dan pemula tidak memiliki waktu untuk para ahli yang khusus secara analitis. Mereka juga tidak memiliki dana untuk membayar para elite yang angkuh. Para pemimpin perusahaan itu adalah mereka yang ikut menjawab telepon, dan jika perlu mengendarai truknya untuk mengirim sendiri barang.
Setiap karyawan tampak benar-benar bekerja sesuai dengan gaji yang mereka terima, dan tentu saja memberikan kontribusi pada laba perusahaan. Karyawan yang tidak memberikan konstribusi apa-apa akan hanya tinggal sejarah. Tetapi pada saat perusahaan berkembang, mereka sering lupa pada hal-hal yang pernah membuat mereka jungkir balik menjalankan perusahaan seperti: keterlibatan kerja, kesepakatan, keakraban, pengenalan pasar, keberanian, resiko, kecepatan dan kesiagaan. Kebijakan dari menara gading sering berakibat tidak
menyenangkan bagi orang-orang lapangan yang berjuang dalam persaingan dan menghasilkan pendapatan. Pimpinan sejati selalu siaga dan siap tempur berhadapan dengan semua persoalan ini.

PELAJARAN #4--Jangan takut menantang para professional, meski di halaman belakang rumah mereka sendiri.

Belajarlah dari para professional. Jadikan mereka sebagai mentor atau mitra.
Tetapi ingat, mereka adalah manusia juga yang tingkat kepemimpinan dan kemampuannya bisa mentok. Kadang-kadang para professional merasa puas diri lalu malas. Kepemimpinan tidak lahir dari kepatuhan buta pada seseorang.
Barry Rand dari Xerox benar ketika mengingatkan orang-orangnya bahwa jika anda memiliki seorang "yes-man" di bawah anda, maka salah satu dari anda tidak diperlukan. Kepemimpinan yang baik memerlukan perubahan dari setiap orang.

PELAJARAN #5--Jangan mengabaikan detail. Jika pikiran setiap orang tumpul dan buntu, pemimpin harus lebih siaga.

Strategi berarti pelaksanaan. Semua idea besar dan visi di dunia ini tidak ada harganya jika tidak dapat diterapkan secara cepat dan effisien. Pimpinan yang baik mendelegasikan dan memperkuat orang-orang secara bebas, tetapi mereka memperhatikan detail setiap hari. Pimpinan yang buruk, termasuk mereka yang mengatakan dirinya "pemberi visi" yang progressif, berpikir bahwa mereka tidak memerlukan detail operasional. Sebaliknya, pimpinan yang baik memahami bahwa ada hal lain yang harus diperhatikan, yaitu: rutinitas yang kaku dalam melaksanakan detail akan menimbulkan keseragaman dan puas diri, yang seterusnya akan menyebabkan tumpulnya pikiran setiap orang.
Itulah mengapa, walaupun mereka memperhatikan detail, mereka terus-menerus mendorong orang-orang untuk menantang proses. Mereka secara implisit mengerti sikap dari pimpinan top seperti Harry Quadracchi dari Quad Graphic, Lars Kolind dari Oticon, dan almarhum Bill McGowan dari MCI, yang tanpa beban mengatakan bahwa tugas dari pimpinan bukanlah menjadi kepala pengorganisasi, tetapi menjadi kepala pengdisorganisasi.

PELAJARAN #6--Anda tidak mengetahui apa yang dapat anda raih sampai anda mencobanya.

Ada pepatah, "lebih mudah meminta maaf daripada meminta ijin". Itu benar.
Pimpinan yang baik tidak menunggu ijin resmi untuk mencoba sesuatu. Mereka bijak, tidak liar. Tetapi mereka juga menyadari kenyataan hidup di kebanyakan organisasi: jika anda meminta ijin dari beberapa orang, anda akan jumpai orang-orang yang merasa tugasnya adalah berkata "tidak." Intinya adalah: jangan meminta ijin. Manager menengah yang kurang effektif biasanya
berkata: "Jika saya tidak dijawab "Ya" secara tegas, saya tidak dapat melaksanakannya". Sedangkan manajer yang baik justru berkata, "Jika saya tidak dijawab secara tegas "Tidak", berarti saya dapat melakukannya." Ada perbedaan yang sangat besar antara kedua titik pandang tersebut.

PELAJARAN #7--Teruslah mencari apa yang ada di balik penampilan luar. Jangan takut melakukannya hanya karena anda mungkin tidak menyukai apa yang anda temukan.

"Jika sesuatu tidak rusak, jangan memperbaikinya" adalah slogan dari si-puas-diri, si-angkuh dan si-penakut. Itu adalah alasan untuk tidak bertindak, suatu panggilan untuk perlucutan senjata. Itu adalah suatu kecenderungan pemikiran yang menganggap (atau berharap) bahwa realita hari ini akan berlanjut esok hari dengan cara yang tenang, mendatar dan dapat
diduga sebelumnya. Dalam budaya seperti ini, anda tidak akan menjumpai seseorang yang secara pro-aktif mengambil langkah untuk menyelesaikan masalah yang timbul. Ini suatu saran kecil, jangan menanam modal pada perusahaan tesebut.

PELAJARAN #8--Organisasi tidak benar-benar mencapai sesuatu. Demikian juga dengan rencana-rencana. Teori-teori manajemen tidak usah dipedulikan. Keberhasilan atau kegagalan usaha disebabkan oleh orang-orang yang dilibatkan. Hanya dengan menarik orang-orang yang terbaik, anda akan mendapatkan hasil yang besar.

Dalam perekonomian yang berdasarkan kecerdasan manusia, asset terbaik anda adalah orang-orang. Kita mendengar pernyataan ini begitu seringnya hingga menjadi terbiasa. Tetapi berapa banyak pimpinan yang benar-benar menjalankan hal tersebut? Seringkali, orang-orang dianggap sebagai bidak catur yang digerakkan oleh orang-orang besar. Ini menjelaskan mengapa begitu banyak top manager memenuhi kalender mereka dengan membuat kesepakatan dengan
orang-orang, merestrukturisasi, dan menerapkan mode manajemen terkini.
Berapa banyak di antara mereka yang menenggelamkan diri dalam pencapaian sasaran, menciptakan suatu lingkungan di mana orang terbaik, terpintar, dan paling kreatif tertarik, dipertahankan, dan yang terpenting, dibebaskan bertindak?

PELAJARAN #9--Struktur organisasi dan nama-nama jabatan hampir tidak berarti sama sekali.

Struktur organisasi adalah beku, gambar kuno di tempat kerja yang seharusnya dinamis seperti lingkungan di luar di sekeliling anda. Jika orang benar-benar mengikuti struktur organisasi, perusahaan-perusahaan akan tutup.
Pada perusahaan yang dijalankan dengan baik, gelar atau nama jabatan juga sangat tidak berarti. Paling banyak hanya menunjukkan tingkat otoritas, suatu status resmi yang memberikan kemampuan untuk memberi perintah dan menuntut ketaatan. Tetapi gelar memiliki arti kecil dalam lingkup kekuatan sebenarnya, yaitu kapasitas untuk mempengaruhi dan memberi inspirasi.
Pernahkah anda memperhatikan bahwa orang akan secara pribadi mengikuti individu tertentu yang justru di atas kertas (atau struktur organisasi) memiliki sedikit otoritas, tetapi memiliki minat, keahlian, dan kepedulian yang sungguh-sungguh bagi rekan kelompok dan produknya? Sebaliknya, bukan pemimpin pada manajemen dapat saja dihubungkan dengan kelebihan-kelebihan dan kenikmatan sehubungan dengan posisi yang tinggi, tetapi mereka memiliki
sedikit pengaruh terhadap yang lain, di luar dari kemampuan mereka untuk mendapatkan pemenuhan standard minimal.
--- bersambung---->>>

BERKENAN MEMBERI

Mungkin tak seorang pun bersimpati pada kesulitan anda. Atau mau mendengar dan memperhatikan keluhan anda. Itu tak apa. Biarkan saja. Manusia selalu disibukkan oleh urusannya sendiri. Manusia kebanyakan mendahulukan kepentingan egonya. Jadi mengapa anda harus kesal dan memasukkannya ke dalam hati? Hidup ini sederhana, bila kita tak selalu menuntut belas kasih dari orang lain. Hidup ini terasa manis, ketika kita bersedia menolong pada orang lain tanpa pamrih. Semakin banyak anda memberi, semakin ringan langkah anda
jadinya.

Cobalah berdiri di depan jendela dan pandanglah keluar. Tanyakan pada diri anda, apa yang bisa anda berikan pada dunia ini. Pasti ada alasan kuat anda hadir di sini. Tentu, bukan untuk merengek atau meminta sanjungan. Namun, demi sebuah kegunaan yang takkan sia-sia. Bahkan seekor cacing tanah pun menggeliat untuk menggemburkan sawah. Apalagi anda yang telah sempurna untuk seluruh tugas hidup anda. Namun, itu hanya terwujud bila anda berkenan
memberi.

RUMAH SERIBU CERMIN

Cerita Rakyat Jepang

Dahulu, di sebuah desa kecil yang terpencil, ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama "Rumah Seribu Cermin."

Suatu hari seekor anjing kecil sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi "Rumah Seribu Cermin". Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya. Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi. Ekornya bergerak-gerak secepat mungkin. Betapa
terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seribu wajah ceria anjing-anjing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia tersenyum lebar, dan seribu wajah anjing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangat dan bersahabat.

Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat aku akan kembali mengunjunginya sesering mungkin."

Sesaat setelah anjing itu pergi, datanglah anjing kecil yang lain. Namun, anjing yang satu ini tidak seceria anjing yang sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu. Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu.
Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah anjing kecil yang muram dan tidak bersahabat. Segera saja ia menyalak keras-keras, dan dibalas juga dengan seribu gonggongan yang menyeramkan. Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sungguh menakutkan, aku takkan pernah mau kembali ke sini lagi."

Pojok Renungan Editor: Semua wajah yang ada di dunia ini adalah cermin wajah kita sendiri. Wajah bagaimanakah yang tampak pada orang-orang yang anda jumpai?

Rantai yang mengikat kaki

Seorang pawang gajah pernah bercerita bahwa gajah harus dilatih sejak masih kecil dan lemah. Pertama-tama kaki bayi gajah diikat dengan rantai baja yang kuat pada sebuah tonggak yang kokoh. Gajah hanya bisa berjalan sejauh panjang rantai. Jika ia berusaha melarikan diri, rantai baja akan menahannya. Biasanya ia akan mencoba memutuskan rantai itu dengan menariknya kuat-kuat, namun ia masih terlalu lemah untuk bisa mengalahkan kekuatan rantai baja. Ini berlangsung selama bertahun-tahun sampai tertanam dalam benak gajah bahwa ia takkan pernah mampu memutuskan rantai yang mengikat kakinya. Dengan demikian sang pawang bisa membawa gajah bekerja di ladang dan hutan tanpa khawatir melarikan diri. Lalu, apalah bedanya rantai baja dengan tali ijuk, bila sang gajah tetap saja menganggap dirinya takkan mampu mengalahkan apa yang mengikat kakinya?

Apakah hal ini terjadi pada hidup kita? Jika selama ini kita membiarkan diri terbelenggu pada pengalaman masa lalu, tanpa sedikit pun ada keberanian untuk menginsafinya, maka jangan salahkan siapa-siapa jika kita takkan pernah mampu melepaskan diri dari penyesalan.

Tuesday, December 09, 2008

TIPS MEMIMPIN DENGAN KETELADANAN

Keteladanan adalah perintah tanpa kata-kata. Orang senang mengikuti keteladan daripada perintah. Menjadi teladan adalah cara sederhana tapi efektif untuk mengesankan dan mempengaruhi karyawan anda. Sebenarnya, prinsip keteladanan itu ringkas, yaitu, "Meminta orang lain untuk melakukan apa yang anda lakukan dan katakan". Namun demikian penerapannya tidak cukup mudah. Anda memerlukan konsistensi dan integritas. Anda perlu mengetahui di bidang-bidang mana saja anda harus memberikan keteladanan. R. Bruce McAfee
dan Betty J. Ricks dalam tulisannya, "Leadership By Example: 'Do as I Do!" menunjukkan enam bidang kunci dimana anda harus bertindak dengan sikap memberi teladan.

1--Ketaatan pada aturan.

Tunjukkan keteladanan anda dengan menaati aturan-aturan yang berlaku. Sampaikan bahwa aturan tidak selamanya dibuat untuk membatasi ruang gerak, namun untuk menciptakan kondisi kerja yang positif.

2--Pencapaian kinerja kerja.

Anda tidak dapat mengharapkan karyawan anda bekerja lebih baik dari anda. Bila anda ingin karyawan meningkatkan prestasinya, tingkatkan terlebih dahulu prestasi anda.

3--Sikap terhadap perusahaan dan pekerjaan.

Milikilah sikap positif terhadap perusahaan dan pekerjaan. Tunjukkan sikap positif dan optimis terhadap apa yang dilakukan oleh perusahaan. Bila anda bersikap skeptis dan pesimis, maka anda gagal menumbuhkan kesan baik pada karyawan.

4--Kesehatan dan penampilan fisik.

Semua orang senang melihat kebugaran dan penampilan segar. Berilah teladan dengan merawat kesehatan dan penampilan diri anda.

5--Pakaian dan kerapihan

Pakaian yang anda kenakan dan gaya anda berpakaian dapat mempengaruhi orang lain. Berpakaian dengan rapi dan profesional menunjukkan penghargaan anda pada pekerjaan dan lingkungan kerja.

6--Aspek komunikasi interpersonal

Perhatikan cara anda berbicara dan bahasa tubuh anda saat berkomunikasi secara personal dengan orang lain. Tunjukkan sikap tenang, wibawa dan menghargai lawan bicara anda.

RUSA DI HUTAN

Laura Ingalls Wilder

Kisah ini bermula di hutan Wisconsin. Di sana ada seorang anak kecil bernama Laura. Ia tinggal di sebuah pondok yang terbuat dari balok kayu. Laura tinggal bersama dengan Pa, Ma, dan kedua saudara perempuannya. Kakaknya bernama Mary dan adiknya Carrie. Mereka punya seekor anjing bulldog yang sudah tua. Namanya Jack.

Saat itu musim gugur. Udara menjadi dingin. Sepanjang hari perapian dinyalakan supaya rumah tetap hangat. Laura dan Mary menjahit kain perca di depan perapian. Mereka sedang membuat selimut dari kain perca.

Suatu hari, sehabis makan malam, Pa pamit pergi ke hutan. Pa akan berburu rusa. Sejak musim semi lalu, persediaan daging di rumah sudah habis. Kini tiba saatnya bagi Pa untuk berburu lagi. Setelah Pa berangkat ke hutan, Laura dan Mary pergi tidur. Mereka kehilangan suara biola Pa. Biasanya, Pa selalu memainkan biola sebagai musik pengantar tidur mereka.

Keesokan harinya, Laura dan Mary menunggu cerita Pa tentang rusa di hutan.
Namun, seharian Pa sibuk membelah kayu bakar. Dan, mereka tidak melihat daging rusa sedikit pun.

Setelah makan malam Pa memangku Laura. Mary duduk di atas kursi kecilnya.
Lalu Pa berkata, "Sekarang Pa akan menceritakan mengapa kita tidak makan daging hari ini."

"Semalam Pa pergi ke hutan dan memanjat pohon oak yang besar. Dari situ Pa bisa mengintai rusa," kata Pa. "Kemarin bulan sedang purnama. Pa melihat seekor rusa yang bertanduk besar. Rusa itu tampak begitu kuat, bebas, dan liar. Pa tak tega menembaknya. Pa hanya duduk dan memandanginya. Akhirnya ia lari masuk ke hutan."

"Pa jadi ingat. Ma dan kalian sedang menanti daging rusa untuk kubawa pulang. Lalu Pa bertekad, nanti, kalau ada rusa muncul, Pa akan menembaknya.
Setelah menunggu agak lama, seekor induk rusa dan anaknya muncul di bawah sinar bulan. Mereka berdiri sambil mengawasi bulan. Matanya yang besar bersinar lembut. Sekali lagi, Pa hanya memandangi mereka. Mereka pun berlalu dan hilang di telan bayangan pepohonan. Lalu Pa turun dari pohon dan pulang."

Laura berbisik di telinga Pa, "Aku senang Pa tidak menembak mereka!"

Lalu Mary berkata, "Kita masih bisa makan roti dan mentega."

Pa memeluk kedua akanya dan berkata, "Kalian adalah anak-anakku yang baik."

Pojok Renungan Editor: Agaknya kita lebih banyak belajar kebijaksanaaan dari cerita kanak-kanak. Maksud hati memberikan ajaran kebaikan bagi anak-anak, namun seringkali ajaran itu membekas lebih dalam di hati kita sendiri.


(Diadaptasi dari The Deer in The Wood, Little House in The Big Woods, Laura Ingalls Wilder. Dapatkan cerita-cerita tentang kepioniran dari Seri Little House in The Prairie, karya Laura Ingalls Wilder yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.)

TANYAKAN PADA APA YANG ANDA SENTUH

Tinggalkan meja kerja anda sekarang juga. Pandanglah dari kejauhan. Apakah anda melihat sebuah ruang kerja yang rapi, teratur, nyaman dan tenang. Atau anda menemukan sebuah sudut berantakan, berhiaskan kesimpang-siuran dan kerumitan. Atau anda menjumpai sebuah meja yang penuh kesibukan, semangat dan gairah yang melimpah. Citra apakah yang tampak dari meja kerja anda?
Apakah citra itu pula yang sedang terpancar dari dalam diri anda?

Anda tercermin dari apa yang anda sentuh. Bila telapak tangan anda bak kayu cendana, apa pun yang anda genggam akan turut menebarkan wanginya. Bila jemari anda milik sang Midas, lumpur yang anda sentuh tak urung memancarkan gemilang kemilau emas. Tanyakan pada benda-benda yang anda sentuh - meja kerja, tumpukan kertas, pensil, serta semuanya - cahaya dan wewangian apa yang terpancarkan darinya?

Stopper: (Mengenang Ibu Kartini: Surat-surat sang Penyuluh)

Duh, karena itu aku inginkan, hendaknya di lapangan pendidikan itu pembentukan watak diperhatikan dengan tidak kurang baiknya akan dan terutama sekali pendidikan ketabahan. Dalam pendidikan ini harus dapat dikembangkan dalam diri kanak-kanak, terus, terus... (Surat kepada E.C. Abendanon, 15 Agustus 1902)

Kami berhak untuk tidak menjadi bodoh. (Surat kepada Estelle Zeehandelaar, 15 Agustus 1902)

Orang-orang Belanda itu menertawakan dan mengejek kebodohan kami, tetapi kalau kami mencoba maju, kemudian mereka bersikap menantang kami. (Surat kepada Estelle Zeehandelaar, 12 Januari 1900)

KEGIATAN ALTERNATIF MENGELOLA WAKTU

Mengelola waktu bukanlah pekerjaan yang mudah. Merencanakan penggunaan waktu mungkin cukup mudah untuk dilakukan, namun mengisinya sesuai dengan rencana adalah hal yang berbeda. Kegiatan ini bertujuan agar anda bisa menangkap sejauh mana anda mampu berjalan sesuai dengan rencana kegiatan yang anda susun sebelumnya. Mulailah di pagi hari sebelum anda melakukan kegiatan apa-apa. (Paradoks memang, anda menggunakan waktu justru untuk merencanakan
penghematan waktu.)

1--Pagi hari, sebelum melakukan apa-apa, coba isi agenda kerja anda untuk hari ini. Rencanakan semua kegiatan anda sedetil mungkin. Susun sesuai dengan skala proritas tujuan anda. Jangan hanya menentukan kapan anda melakukan kegiatan, namun juga berapa lama, dan apa yang harus anda kerjakan selanjutnya jika kegiatan utama tersebut gagal dilaksanakan. Ini menuntut anda untuk mengetahui tujuan anda hari ini. Setelah selesai, hitung berapa
lama waktu yang anda gunakan untuk menyusun rencana.

2--Siang hari, tengok kembali agenda anda. Kini, tuliskan apakah anda telah berjalan sesuai dengan rencana, atau ada banyak penyimpangan-penyimpangan.
Nilailah diri anda sendiri bagaimana anda mengisi waktu anda. Pertanyakan pada diri sendiri, apakah agenda yang anda susun pagi hari tadi cukup berguna?

3--Kini coba tuliskan semua perasaan-perasaan dan emosi-emosi yang menyertai kegiatan anda. Misal: jam 09.00. Kegiatan: menelepon si X; emosi: netral.
Coba tulis apakah anda mengalami kecemasan, takut, khawatir, senang, penuh harap, dan lain-lain. Tulis pula berapa lama perasaan itu melanda anda.
Kegiatan ini cukup sulit, karena tidak semua orang terbiasa untuk menyadari perasaan dan emosi mereka. Dapatkah anda melihat hubungan antara kegiatan anda dengan emosi yang muncul.

4--Lihatlah agenda untuk siang hingga sore nanti. Lakukan revisi bila anda merasa ada bagian yang harus direvisi ulang. Mungkin anda harus menambahkan kegiatan baru, menghapus/menunda kegiatan yang telah anda rencanakan di pagi hari. Kegiatan ini bertujuan untuk menilai kemampuan anda menyusun perencanaan di muka, sekaligus flesibilitas anda terhadap tuntutan
perubahan.

5--Pada akhir hari lihat kembali seluruh kegiatan anda hari ini. Apakah anda cukup puas dengan apa yang anda lakukan? Apakah anda merasa mampu mengelola waktu anda dengan baik?

Berbicara tentang waktu adalah berbicara tentang misteri besar. Sebagian orang memandang waktu seperti garis lurus yang harus dilalui. Waktu bergerak maju, dan kita hanyut di dalamnya. Sebagian orang yang lain memandang waktulah yang menerjang kita dengan deras. Namun, ada juga orang yang memandang bahwa waktu itu sama sekali tak bergerak. Bagi mereka waktu adalah saat ini, karenanya harus digunakan sebaik-baiknya. Dan, itulah kunci utama
dalam mengelola waktu.

MENGELOLA WAKTU

Perhatikan jam tangan kita baik-baik, apakah sedang menunjukkan pukul 8 tepat? Coba bandingkan dengan jam tangan orang-orang di sekitar kita. Bila ada selisih satu atau dua menit, itu tak apa. Namun kita mudah sekali menemukan banyak orang memajukan jarum jamnya lima atau sepuluh menit lebih cepat dari yang semestinya. Itu dilakukan, alasan mereka, agar tidak terlambat ke tempat tugas. Dengan memajukan jarum jam lebih cepat, mereka terpacu untuk melakukan kegiatan lebih dini. Yang menarik, sebenarnya mereka sadar akan perbuatan itu. Ini terbukti bila ditanya, mereka akan mengakui kesengajaan itu dan tahu persis berapa menit mereka memajukan "waktu" mereka. Mereka sengaja "mengelola" waktu untuk "memanipulasi" diri mereka sendiri. Mereka mempunyai waktu mereka sendiri, sedangkan kita pun memiliki waktu kita sendiri. Meski kita semua tampaknya sedang berjalan di satu garis waktu besar yang sama, namun "jalan setapak" yang kita lalui amat berbeda-beda.

Pertanyaan #1--Sadarkah anda bahwa mengelola waktu bukan sekedar menghitung jam demi jam (secara kuantitatif), melainkan mengelola emosi-emosi (secara kualitatif)? Sadarkah anda juga bahwa anda memiliki "waktu eksklusif" anda sendiri yang tidak dimiliki oleh orang lain?

Kini mari perhatikan laju jarum jam kita masing-masing. Setiap jarum detik, menit dan jam, bergerak secara teratur. Demikian pula seluruh jarum jam yang ada di dunia, mereka berdetak seirama dan sejalan, seolah ada kesepakatan global untuk tidak saling mendahului ataupun tertinggal. Karena kesepakatan itulah kita bisa merencanakan penggunaan waktu dengan sesama. Kita bisa menyusun janji dengan orang lain tanpa harus saling berselisih mengenai perbedaan waktu. Namun, mari perhatikan saat kita menantikan sesuatu, waktu seolah berjalan lambat sekali. Semenit bagaikan sejam. Sebaliknya, saat kita sedang diburu-buru oleh batas waktu pekerjaan, waktu seolah berjalan cepat sekali. Sejam bagaikan semenit saja. Terasa ada dua macam "waktu" yang berbeda, yang pertama adalah waktu yang ditunjukkan dengan perjalanan
teratur jarum jam tangan kita (waktu fisik), dan yang kedua adalah waktu yang berjalan dalam pikiran kita sendiri (psikis).

Pertanyaan #2--Menurut anda mengapa ada "waktu" yang berjalan cepat dan lambat? "Waktu" apakah itu? Apakah anda juga sadar bahwa ada "waktu" yang berjalan secara teratur? "Waktu" apakah itu?

Kita semua mendapat bekal sejumlah waktu yang sama, yaitu 24 jam dalam sehari. Ini berlaku bagi siapa saja, tanpa terkecuali. Secara umum kita diajar untuk membagi waktu sebanyak 24 jam dalam sehari tersebut menjadi tiga bagian, yaitu; pertama, waktu kerja/aktif untuk bekerja dan melakukan berbagai kegiatan/kewajiban (biasanya dimulai pukul 8 pagi hingga 4 sore), kedua, waktu tidur/istirahat untuk tidur, beristirahat memulihkan kondisi tubuh yang digunakan selama waktu bekerja (biasanya (antara pukul sembilan malam hingga 5 pagi), dan waktu bebas/pribadi yang tersedia di sela-sela waktu tidur dan kerja. Waktu bebas/pribadi digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga dan sosial. Pola ini, yang entah sejak kapan dikenal, tampak berusaha menyeimbangkan aktivitas fisik dan psikis. Namun, dalam kehidupan kerja modern, waktu menjadi tolok ukur baru bagi sebuah kemajuan. Semakin cepat semakin baik. Waktu dipandang sebagai sumber daya yang tak ternilai yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Muncullah tuntutan untuk mengelola waktu agar kita bisa bekerja seefektif dan seefisien mungkin. Diciptakanlah berbagai metode, alat, dan tehnologi untuk mengatur atau lebih tepatnya menghemat waktu kita. Bahkan, tiba-tiba seringkali kita merasa mengalami kekurangan waktu. Keseimbangan pola 3 x 8 jam fisik yang kita kenal sebelumnya lambat laun bergeser. Tanpa sadar, kegiatan kerja mendominasi hampir seluruh waktu yang tersedia. Kita mulai mengurangi waktu tidur, dan tidak ada banyak waktu lagi untuk bersosialisasi. Bersamaan
dengan itu pula keseimbangan waktu psikis juga mengalami pergeseran.

Pertanyaan #3--Bagaimana anda mengelola waktu anda? Seberapa seimbangkah anda mengola waktu anda?

Maka sebenarnya kunci pengelolaan waktu, baik fisik dan psikis kita, adalah keseimbangan antar keduanya. Dan keseimbangan itu tidak terletak pada bandul jam tangan kita, melainkan pada pikiran kita, sejauh mana kita mampu mengukur dan menimbang setiap detik penggunaan waktu kita dengan kegiatan-kegiatan yang multidimensi. Mengelola waktu berarti pula menjaga
keseimbangan aktivitas kita dengan nilai, prinsip, manfaat dan tujuan.

Pertanyaan #4--Menurut anda, apa artinya sebuah perencanaan waktu?

Kebanyakan dari kita menggunakan "time planner" untuk merencanakan penggunaan waktu. Kita menuliskan agenda kegiatan dalam sebuah tabel waktu linier, dari waktu sekarang menuju waktu-waktu selanjutnya. Kita pilah-pilah menjadi jam dan menit. Saat menulis, pikiran kita melompat jauh ke depan, dan seolah-olah telah melihat apa yang akan kita lakukan. Mungkin juga, saat menyusun agenda, kita menengok ke belakang untuk melihat apa yang telah dan
belum dilakukan. Begitu terus, pikiran kita melompat ke belakang lalu ke depan lagi. Teramat jarang sekali pikiran kita terhenti pada kegiatan "saat ini". Pada saat kita menulis, pikiran kita tidak sepenuhnya tertuju pada kegiatan menulis, melainkan pada rencana mendatang. Pertanyaannya adalah, sebenarnya waktu yang sedang kita alami ini adalah waktu apa? Waktu akan datang? Atau waktu lampau? Tentu jawabannya adalah waktu sekarang, waktu kini. Waktu akan datang belumlah datang. Sedangkan waktu lampau sudah tertinggal di belakang. Jadi sebenarnya, perencanaan waktu adalah sebuah pekerjaan imajiner, bahkan saat pikiran kita berpikir tentang waktu, seringkali waktu tersebut hanyalah sesuatu yang imajinatif belaka. Ini disebabkan betapa tidak mudahnya kita menyadari kehadiran "waktu sekarang".
Padahal kunci pemanfaatan waktu yang sebaik-baiknya adalah bila kita sadar bahwa yang tersedia hanyalah "waktu sekarang", bukan "waktu nanti" apalagi "waktu lampau". Kesadaran ini menuntun kita untuk melakukan sesuatu sebaik-baiknya sekarang, bukan nanti.

Pertanyaan #5--Sadarkah anda bahwa waktu yang ada hanyalah waktu "sekarang"?
Sadarkah anda bahwa waktu kemarin dan waktu esok sebenarnya hanya ada dalam kerja pikiran anda? Apakah anda menangkap waktu yang "ketiga" selain waktu fisik dan psikis?

Mengelola waktu bukan sekedar mengelola kegiatan, emosi, apalagi sekedar mencocokkan jam tangan anda. Mengelola waktu adalah mengelola kehidupan. Mengelola waktu menuntun kita untuk memilih mana yang terbaik bagi kehidupan ini. Sayangnya, tidak cukup mudah bagi kita bisa memahami apa sebenarnya "waktu" itu. Padahal, para bijak sering berkata, "hiduplah saat ini" karena yang tersedia memang hanya "saat" ini.

TEMPAT KERJA KITA, RUMAH KITA

Apalah bedanya perilaku di rumah dan di tempat kerja? Pagi hari, di rumah kita sapa adik, kakak dan orang tua yang baru bangun tidur. Kita matikan lampu-lampu demi menghemat listrik. Kita bersihkan lantai, kursi, dan meja agar ruangan terasa nyaman. Kita simpan pisau, barang pecah belah dan perlengkapan lain di tempatnya masing-masing. Kita senandungkan lagu ceria agar rumah penuh cahaya. Kita bekerja dan berlelah-lelah, kita bermain dan bersenang-senang tanpa berhitung-hitung satu sama lain. Karena itu kita tuliskan, "rumahku swargalolaku".

Lalu mengapa kita harus berbeda di tempat kerja? Bukankah kita semestinya menyapa rekan, bawahan dan atasan tanpa terkecuali. Kita pun bekerja seefisien mungkin. Kita rapikan ruang kerja, kita jaga keselamatan sesama, dan ciptakan keceriaan agar tempat kerja bermandikan cahaya. Kita bekerja dan berlelah-lelah tanpa harus kehilangan kebersenang-senangan kita. Karena itu kita boleh tuliskan, "tempat kerjaku, rumahku jua".

Stopper:

Cara terbaik mewujudkan impian-impian anda adalah dengan bangun. (J.M. Power)

Bereskan masalah-masalah anda sebelum pergi ke tempat tidur, dengan demikian esok anda bisa bangun dengan tersenyum. (Louis Fromm)

TUKANG ROTI DAN PETANI

Seorang tukang roti di sebuah desa kecil membeli satu kilogram mentega dari seorang petani. Ia curiga bahwa mentega yang dibelinya tidak benar-benar seberat satu kilogram. Beberapa kali ia menimbang mentega itu, dan benar, berat mentega itu tidak penuh satu kilogram. Yakinlah ia, bahwa petani itu telah melakukan kecurangan. Ia melaporkan pada hakim, dan petani itu
dimajukan ke sidang pengadilan.

Pada saat sidang, hakim brkata pada petani, "Tentu kau mempunyai timbangan?"

"Tidak, tuan hakim," jawab petani.

"Lalu, bagaimana kau bisa menimbang mentega yang kau jual itu?" tanya hakim.

Petani itu menjawab, "Ah, itu mudah sekali dijelaskan, tuan hakim. Untuk menimbang mentega seberat satu kilogram itu, sebagai penyeimbang, aku gunakan saja roti seberat satu kilogram yang aku beli dari tukang roti itu."

Smiley...! Cukup banyak contoh, kekesalan kita pada orang lain berasal dari sikap kita sendiri pada orang lain. (070401)

PENGALAMAN KITA SAMA BANYAKNYA

Pengalaman teman kami ini membuat lidah kami berdecak. Ketika kami berkunjung ke kotanya, ia bercerita bahwa ketika kanak-kanak ia pernah bersepeda puluhan kilometer membelah sawah, kebun tebu dan hutan kecil yang sekarang menjadi lahan perumahan megah. Ia pun bercerita tentang kegiatan masa kecilnya, seperti mengeringkan daun, mengawetkan belalang dan kupu-kupu, membuat rumah burung, menyusun kliping, dan tak lupa membolos.
Ketika remaja, pernah menjadi kenek truk hingga ke seberang pulau, membaca banyak buku dan sastra, bahkan sempat mencuri buku yang diidamkannya dari perpustakaan sekolah, menulis beberapa cerita dan puisi, takut berlatih silat meski banyak temannya adalah pendekar. Pernah juga berteman dengan pelukis, memainkan Bach, menjadi offisial atlet cacat, memunguti ikan yang tercecer saat musim pemindahan ikan di tambak rakyat tiba, dan semua pengalaman lain yang sangat menarik disimak.

"Pengalaman anda kaya sekali," ujar kami. "Tidak!" tukasnya. Sambil menatap keheranan ia melanjutkan, "Jangan salah sangka. Semua orang memiliki pengalaman yang sama kayanya. Hanya saja tidak semua orang mampu menghargai dan mengambil pelajaran darinya. Bila kau benar-benar terserap dalam setiap garis pengalaman hidupmu, kau akan sadari tiada satu pun yang sia-sia dalam hidup ini. Hidup ini terlalu cantik untuk diacuhkan. Bila kau merasa hidupmu
hampa, itu karena kau tak menghargainya."

Stopper:

Perkawinan yang baik adalah persatuan dari dua orang pemaaf. (Ruth Bell Graham)

Perkawinan yang berhasil membutuhkan perasaan jatuh cinta berulang-ulang, namun selalu dengan orang yang sama. (Mignon McLaughlin)

MENGAPA HARUS MEMILIKI?

Di manakah kita bisa temukan keindahan hidup? Di sebuah sudut alun-alun kota ini, sepasang suami istri pedagang kaki lima meringkuk dalam tenda dikelilingi oleh beberapa anaknya. Hujan deras turun sejak petang. Penganan yang dipajang sudah dingin dari tadi. Tapi mereka tetap saling bercanda sambil membiarkan suara radio kecil meramaikan suasana dengan sedikit
gemerisik. Kau pasti rugi, pak? "Ya, tidak apa-apa, semoga besok cuaca terang," demikian jawabnya. "Kami ini pedagang kecil, mas. Tak punya apa-apa. Jadi kalau toh rugi, kami tak kehilangan apa-apa. Orang yang takut kehilangan biasanya mereka yang merasa memiliki apa yang diusahakannya.
Padahal, siapa yang bisa menjamin malam ini tidak hujan? Betapa hebatnya pemilik hujan itu sehingga bisa membuat warung kami tak ada pengunjung?
Bahkan kami sendiri tidak kuasa atas perniagaan ini."

Ah, betapa sederhananya. Bila kita mengaku berkuasa atas apa yang kita "miliki", kita tercebur dalam lautan ilusi yang menenggelamkan saat apa yang kita "miliki" hanyut terdera ombak. "Memiliki" adalah rantai besi yang mengikat kita pada batu karang dasar laut. Menyadari ketidakkuasaan diri di hadapan semesta raya adalah kunci pembuka rantai itu.

Stopper:

Kita hanya hidup sekali, tetapi jika kita menjalaninya dengan benar, maka sekali berarti cukup. (Joe E. Lewis)

Hidup ini terkadang aneh. Kalau anda menolak untuk menerima bukan yang terbaik, seringkali anda justru akan menerimanya. (Somerset Maughan)

JANGAN HABISKAN WAKTU UNTUK MENGKRITIK

Anda akan memiliki lebih banyak "waktu" dengan tidak mengkritik. Setiap orang memahami sesuai prasangkanya. Setiap orang berhak mempertahankan pendiriannya. Jadi untuk apa anda menyusahkan diri dengan mengkritik apa yang terjadi pada orang lain. Anda takkan mampu memahami semua hal. Anda mungkin tidak melihat apa yang dilihat orang lain. Keterbatasan pikiran dan prasangkalah yang membuat anda takabur sehingga seolah-olah melihat apa yang
tak dilihat orang lain.

Bila perahu anda bocor di tengah lautan. Kritik pada si pembuat perahu tak akan menolong anda dari ketenggelaman. Anda harus menambal lubang, atau terjun ke air dan berenang. Ini menolong anda sendiri. Semua tindakan bagai simpanan yang akan anda tarik kelak. Dan seburuk-buruknya simpanan adalah kecaman. Sedangkan pertolongan selalu memberikan bunga yang terbaik.

Stopper:

Menahan emosi pahit tetapi akibatnya manis.

Obat mujarab bagi kemarahan ialah diam. Menyesal karena tidak berbicara lebih baik daripada menyesal karena berbicara.

Apabila anda merasa sudah tidak punya sopan santun lagi, sebaiknya anda diam.

PERLUKAH MENCARI JALAN PINTAS?

Keberhasilan tak diperoleh begitu saja. Ia adalah buah dari pohon kerja keras. Jangan terlalu berharap pada kemujuran. Tahukah anda apa itu kemujuran?
Bukankah, kita tak selalu mampu menjelaskan dari mana datangnya kemujuran. Sadarilah bahwa segala sesuatu perlu berjalan alami dan semestinya. Pertumbuhan diri adalah proses mendaki tangga. Anda harus melalui anak tangga satu per satu. Tak perlu repot mencari-cari jalan pintas, karena tak ada jalan pintas. Hargai saja setiap langkah kecil yang membawa anda maju. Ketergesaan adalah beban yang memberati langkah saja.

Amatilah jalan lurus anda. Tak peduli bergelombang atau berbatu, selama anda yakin berada di jalan yang tepat, maka melangkahlah terus. Dan, jalan yang tepat itu adalah jalan yang menuntun anda menjadi diri anda sendiri.

Stopper:

Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki. (Mahatma Gandhi)

Orang yang jujur akan tetap jujur, termasuk dalam bidang politik. (Mahatma Gandhi)

KEGIATAN ALTERNATIF

Kegiatan alternatif ini mengajak anda untuk menyadari bahwa proses pembelajaran dan pendidikan takkan pernah berhenti. Kegiatan ini dapat anda lakukan sekarang, asal tersedia cukup waktu sekitar 30 menit. Yang terpenting dalam kegiatan ini adalah pemahaman tentang apa itu belajar, bagaimana kita bisa belajar, juga betapa kayanya dunia ini bila kita mau
menjadi murid bagi kehidupan. Kita belajar ketrampilan tehnis dalam kelas-kelas, namun kita belajar kebijakan dalam setiap detik kehidupan itu sendiri.

1--Anda sekarang berada di kamar pribadi, atau ruangan lain dalam rumah/kantor anda. Apa pun yang anda lakukan sekarang, berhentilah sejenak.
Tebarkan pandangan ke seliling anda, ke seluruh ruangan. Carilah buku, majalah, koran atau bacaan lain yang anda temukan di sana. Catatlah berapa jumlah buku, majalah atau koran yang ada di sana. Pilah-pilah mana yang dalam satu minggu ini telah anda baca dan memberikan manfaat dalam menjaga keaktualan pengetahuan profesional anda, ketrampilan sehari-hari,
menumbuhkan kesadaran baru (kebijaksanaan), atau sekedar anda tahu saja.
Bila mungkin catat berapa lama anda membacanya. Apakah anda menyadari bahwa anda telah belajar sesuatu dalam seminggu terakhir ini?

2--Ingat-ingat kegiatan menonton tv anda selama satu minggu terakhir ini.
Cobalah mencatat acara apa yang anda tonton, dan berapa lama. Pilah-pilah mana acara yang hanya bersifat hiburan, pengetahuan, atau berita. Anda bisa memperluas kriteria ini. Hitung berapa prosentase lama jam tonton anda.
Temukan apakah acara-acara tersebut merupakan salah satu sumber bagi anda untuk meningkatkan dan menjaga keseimbangan pengetahuan anda?

3--Kini layangkan ingatan anda dengan siapakah anda berjumpa selama satu minggu terakhir ini. Catat nama, hubungannya dengan anda, dan data-data pribadi lain seperlunya. Catat dan hitung topik pembicaraan antara anda dan mereka. Apakah pembicaraan anda dengan mereka memberikan pengetahuan dan kesadaran (kebijakan) baru dalam diri anda? Atau sekedar mengobrol tanpa arah?

4--Anda bisa perluas kegiatan di atas dengan mengamati dan mencatat tempat-tempat yang anda kunjungi, surat-surat yang anda tulis, diskusi yang anda diikuti, dan segala macam peristiwa atau kegiatan lain yang anda alami selama satu minggu belakangan ini. Apakah anda menemukan kesadaran bahwa anda dapat belajar sesuatu dari apa pun? Bila toh itu bukan "pengetahuan" yang bersifat praktis, setidaknya tumbuh pemahaman dalam diri anda. Apakah
anda menyadari bahwa anda telah berbeda dibanding satu minggu yang lalu?
Atau sama saja, tanpa ada peningkatan kualitas diri?

5--Coba anda pelajari dengan seksama proses pembelajaran yang berlangsung selama satu minggu itu. Menurut anda mengapa anda bisa belajar dari segala sesuatu? Ada orang yang secara alami merasakan kehausan intelektual.
Dapatkah anda menyadari bahwa anda belajar karena bersedia membuka mata, telinga, pikiran anda lebar-lebar terhadap setiap peristiwa yang terjadi?
Dapatkah juga anda menyadari bahwa pemahaman dan kesadaran akan kebijakan baru yang anda rasakan terjadi karena anda bersedia membuka jiwa, hati dan nurani anda luas-luas pada setiap kejadian yang anda alami?

Bila ternyata kegiatan di atas cukup sulit, cobalah untuk mencatat kegiatan anda selama satu hari ini, buku-buku, majalah, dan koran yang anda baca hari ini, orang-orang dan kelompok perbincangan yang anda temui hari ini, acara tv yang anda tonton hari ini. Catat pula pengetahuan baru apakah yang tumbuh dalam diri anda, juga pemahaman akan kebijakan baru yang terbetik dalam jiwa anda. Ternyata proses belajar bukan harus merupakan proses "penyengajaan", namun lebih merupakan proses pembukaan diri terhadap realita. Kita belajar dari apapun, dari siapapun, di manapun, dan kapanpun. Hanya dengan satu syarat ringan, kita semestinya berkenan membuka mata, telinga, pikiran dan hati. (020401)

Thursday, December 04, 2008

Semilidetik Untuk Meraih Emas

Jika setiap pagi bank memberi anda pinjaman uang sebesar Rp. 86.400,- bebas untuk digunakan hanya pada hari itu saja, apa yang anda lakukan? Pastinya anda akan memanfaatkan uang itu sebaik-baiknya sebelum hari itu berakhir. Daripada hangus begitu saja, ya kan?

Kita semua memiliki bank seperti itu, namanya WAKTU. Setiap pagi, ia akan memberi anda pinjaman 86.400 detik yang akan hangus jika tidak digunakan pada hari itu juga. Tidak ada waktu tambahan dan tidak ada juga "uang muka" untuk pinjaman esok harinya. Jadi, gunakan waktu anda sebaik-baiknya dan mulailah bertindak sekarang juga.

Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN,
tanyakan pada murid yang tidak naik kelas.

Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN,
tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur

Agar tahu pentingnya waktu SEHARI,
tanyakan pada tukang bakso yang tidak bisa jualan hari ini.

Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT,
tanyakan pada orang yang ketinggalan pesawat terbang

Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK,
tanyakan pada peraih medali perak cabang renang di Olimpiade

Ketika engkau bersembahyang

Ketika engkau bersembahyang
Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan
Partikel udara dan ruang hampa bergetar
Bersama-sama mengucapkan allahu akbar

Bacaan al-fatihah dan surah
Membuat kegelapan terbuka matanya
Setiap doa dan pernyataan pasrah
Membentangkan jembatan cahaya

Tegak tubuh alif-mu mengakar ke pusat bumi
Ruku' lam badanmu memandangi asal-usul diri
Kemudian mim sujudmu menangis
Di dalam cinta Allah hati gerimis

Sujud adalah satu-satunya hakikat hidup
Karena pejalanan hanya untuk tua dan redup
Ilmu dan peradaban takkan sampai
Kepada asal mula setiap jiwa kembali

Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri
Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali
Badan diperas jiwa dipompa tak terkira-kira
Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya

Sembahyang di atas sajadah cahaya
Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia
Rumah yang taka ada ruang tak ada waktunya
Yang tak bisa dikisahkan kepada siapa pun juga

Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah
Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika
Hatimu sabar mulia, kaki seteguh karang
Dadamu mencakrawala, seluas 'arasy sembilan puluh sembilan

(Emha Ainun Nadjib/PmBNetDok)

Wajib memakai dan mengikuti tolok ukur kehidupan

Para penyebar agama sering mengatakan bahwa hidup manusia wajib memakai dan mengikuti tolok ukur kehidupan yang sesuai dengan ukuran penilaian Tuhan.

Misalnya, ketika ada peluang melakukan korupsi, meski hal itu bisa membuat seseorang tadi menjadi kaya-raya --dan hal itu kondusif untuk memenuhi tolok ukur manusia mengenai kesejahteraan dan sukses hidup-- namun jalan yang ditempuh tadi jelas bertentangan dengan pandangan Allah.

Oleh karena itu, kita dianjurkan mendingan miskin tanpa melakukan korupsi daripada 'harus' kaya tapi tidak sesuai dengan pandangan Allah. Meski sedikit rezeki yang kita peroleh, tetapi jika ditempuh dengan jalan yang benar, insya Allah akan menjadi rezeki yang barokah.

Terkadang, karena kondisi zaman kita sekarang 'cari uang haram saja susah, apalagi uang halal', maka sejumlah kalangan manusia mencari perlindungan psikologis dan metoda survivalisme dengan cara 'membanggakan kemiskinan', bahkan mengideologikan kemiskinan. Seolah-olah hidup itu harus miskin. Miskin identik dengan kebaikan, sedangkan kekayaan dianggap identik dengan keburukan atau kecurangan.

Ketika kemudian sufisme atau tasawuf dipelajari, asosiasi baku mengenai sufi adalah seseorang dengan simbol-simbol kemiskinan. Kalau Anda memiliki dan memakai sesuatu yang melambangkan kekayaan dunia, orang menyimpulkan Anda pecinta dunia dan jauh dari Allah.

Tentu saja ini tidak rasional. Kalau Anda berpendapat demikian, maka Anda bisa dituduh melarang orang untuk menikmati anugerah kekayaan Tuhan. Itu berarti antisyukur. Pada pandangan Allah, yang menjadi masalah bukan Anda ini kaya atau miskin, bukan berapa jumlah uangmu. Yang dipersoalkan ada dua: pertama, apakah engkau memperolehnya dengan halal. Halal itu sehat secara sosial; kedua, apa yang engkau lakukan dengan kekayaan atau kemiskinanmu. Tuhan mencemburuimu kalau engkau menuhankan kekayaan. Ia juga jengkel dan 'pusing' kalau menyaksikan engkau menyembah kemiskinan. Islam tidak antimateri. Poinnya tidak terletak pada benda, melainkan pada ilmu dan sikap manusia dalam memperlakukan benda.

Engkau tidak wajib miskin, meskipun berhak memilih miskin, sepanjang kemiskinanmu itu merupakan fasilitas yang memang tepat bagimu untuk mengkondisikan kedekatan dengan Allah. Engkau juga tidak dilarang kaya, sepanjang kekayaanmu membuatmu setia dan cinta kepada-Nya. Tuhan memposisikan dirinya pada manusia yang lemah, miskin, dan serba berkekurangan. Maka, cinta dan kesetiaan pada Tuhan adalah kasih sayang kepada orang-orang lemah. Sedemikian rupa, sehingga di senja hidupmu kelak, kekayaan termewah yang engkau miliki bukanlah tumpukan benda-benda, melainkan track record kadar dan bukti kasih sayangmu kepada kaum papa --yang membuatmu tidak memiliki materi apa pun lagi di akhir hayatmu. 'Menjadi bayi telanjang' kembali pada detik-detik menjelang maut, itulah sukses hidup yang sempurna.

(Emha Ainun Najib/Republika/2006/PadhangmBulanNetDok)

DITANYAKAN KEPADANYA

Ditanyakan kepadanya siapakah pencuri
Jawabnya: ialah pisang yang berbuah mangga
Tak demikian Allah menata
Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapakah penumpuk harta
Jawabnya: ialah matahari yang tak bercahaya
Tak demikian sunnatullah berkata
Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapakah pemalas
Jawabnya: bumi yang memperlambat waktu edarnya
Menjadi kacaulah sistem alam semesta
Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya sapakah penindas
Jawabnya: ialah gunung berapi masuk kota
Dilanggarnya tradisi alam dan manusia
Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapa pemanja kebebasan
Ialah burung terbang tinggi menuju matahari
Burung Allah tak sedia bunuh diri
Maka berdusta ia

Ditanyakn kepadanya siapa orang lalai
Ialah siang yang tak bergilir ke malam hari
Sedangkan Allah sedemikian rupa mengelola
Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapa orang ingkar
Ialah air yang mengalir ke angkasa
Padahal telah ditetapkan hukum alam benda
Maka berdusta ia

Kemudian siapakah penguasa yang tak memimpin
Ialah benalu raksasa yang memenuhi ladang
Orang wajib menebangnya
Agar tak berdusta ia

Kemudian siapakah orang lemah perjuangan
Ialah api yang tak membakar keringnya dedaunan
Orang harus menggertak jiwanya
Agar tak berdusta ia

Kemudian siapakah pedagang penyihir
Ialah kijang kencana berlari di atas air
Orang harus meninggalkannya
Agar tak berdusta ia

Adapun siapakah budak kepentingan pribadi
Ialah babi yang meminum air kencingnya sendiri
Orang harus melemparkan batu ke tengkuknya
Agar tak berdusta ia

Dan akhirnya siapakah orang tak paham cinta
Ialah burung yang tertidur di kubangan kerbau
Nyanyikan puisi di telinganya
Agar tak berdusta ia
(Emha Ainun Najib/1988/PmBNetDok)

Tuesday, July 22, 2008

LIMA PESAN UNTUK PEMIMPIN

Erry Riyana Hardjapamekas

Berikut adalah kutipan artikel berjudul "5 Pesan UntukPemimpin" yang ditulis oleh Erry Riyana Hardjapamekas, dalam buku beliau,"Esensi Kepemimpinan - Mewujudkan Visi Menjadi Aksi". Beliau pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT.Timah Tbk. Buku beliau sarat berisikan catatan-catatannya selama beliau menjabat sebagai seorang CEO yang dikirimkan pada para kolega dan manajernya melalui media email. Bagi kami,yang menarik dari buku ini bukan sekedar isinya yang sarat dengan pesan-pesan motivasional, tetapi juga bagaimana usaha Erry Riyana sebagai seorang eksekutif berusaha memberdayakan rekan-rekannya melalui proses komunikasi yang unik.

Berikut kami kutipkan komentar Prof. DR. Gede Raka, Guru Besar ITB, atasbuku ini, "Buku ini memberikan contoh nyata bagaimana seorang pemimpin dengan cerdik mengambil inisiatif untuk menggelindingkan proses belajar secara inovatif di perusahaan, merangsang setiap warga perusahaan untuk mempertanyakan, merenungkan kembali, menyimak, seluruh aspek kehidupan mereka dalam kerja, dan mengambil keputusan serta bertindak untuk kebaikanseluruh warga perusahaan dan untuk dirinya sendiri."

1--Kelilingi diri kita dengan orang-orang yang selalu berpikir positif,karena keyakinan, nilai dan perilaku mereka akan berpengaruh. Sangat penting kita meluangkan waktu, terutama dengan mereka yang optimistis dan memiliki motivasi tinggi

2--Belajarlah dari kesalahan yang pernah kita perbuat. Senantiasalah kita sadari bahwa segala nilai, besar atau kecil, dibentuk dari akumulasi kebijakan. Untuk menjadi bijak, kita harus berpengalaman, baik pengalaman benar atau pun pengalaman salah, hingga kita pun mampu menjadi lebih kuat dan lebih cerdik di masa yang akan datang. Kesalahan akan sangat bermanfaat,apabila kita belajar darinya, milikilah perilaku ini sehingga kita tak akan merasa malu mencoba apa pun.

3--Waktu memang merupakan sesuatu yang tak mampu kita beli berapa pun harganya, bila ia telah lewat. Seringkali pula kita merasa kekurangan waktu. Tambahkanlah waktu kerja efektif kita setengah jam saja sehari pada awal dan setelah akhir jam kerja, maka dalam setahun akan berjumlah lebih dari 300 jam kerja!

4--Sedikit demi sedikit, lama kelamaan menjadi bukit. Perjalanan seribu mil dimulai dengan langkah pertama. Lakukanlah langkah kecil sekarang juga!

5--Kaji seawal mungkin apa-apa yang diperkirakan bakal jadi hambatan, gangguan, atau tantangan, atau ketidak tentuan. Apa yang diperkirakan bakal menjadi faktor negatif. Kekuarangan dukungan, pengetahuan tehnis, waktu,ruangan, energi, uang, atau kekurangan pengalaman, semuanya akan membuat tugas kita menjadi sulit. Tangani sedini mungkin, sehingga kita merasa sangat positif dan peluang keberhasilan tampak lebih terang. Dengan itu kita akan mampu menyelami lautan tugas kita dengan menyenangkan.

DANAU YANG TAK MENGALIR KE LAUT

Seorang pengelana pernah menulis, bahwa di suatu wilayah gurun terdapat dua buah danau yang mengalir ke dalamnya banyak sungai. Letak danau-danau itu tidaklah berjauhan. Namun, keduanya menampakkan perbedaan fenomena alam yang luar biasa. Danau pertama adalah danau biasa berair tawar yang segar. Ia memiliki beberapa anak sungai yang mengalir ke hilir. Ia adalah danau sebagaimana danau lain dengan kehidupan sewajarnya. Sedangkan danau kedua,yang lebih besar, menjadi keanehan yang tiada taranya. Ia tak memiliki anak sungai yang mengalirkan airnya ke laut. Hanya sengat panas gurun yang menguapkan airnya. Tak heran bila kandungan mineral dan garamnya teramat tinggi. Begitu tinggi sehingga kita dapat mengapung di permukaan begitu saja. Hampir-hampir tak ada kehidupan dalam danau itu. Pantaslah bila peta mencatatnya dengan nama "Laut Mati".

Begitulah kedua danau itu menjadi ibarat mengenai apa jadinya bila kitahanya berupaya mengumpulkan kepemilikan tanpa sekalipun membagikannya pada orang lain. Kehidupan yang wajar adalah kehidupan yang saling menerima dan memberi. Peta lebih tahu apa julukan bagi mereka yang suka menggenggamkan tangan, tanpa mau mengulurkannya.

Monday, March 03, 2008

JARAK ANTARA KEPUTUSASAAN DAN KEBERHASILAN

Seorang penjual roti menjelajahi blok-blok perumahan baru. Semula hatinya cukup optimis untuk mendapatkan pelanggan di situ. Setiap hari, sejak subuh sampai matahari setinggi tatapan, ia berkeliling sambil berteriak dan membunyikan klakson motornya. Sudah tujuh hari ia berputar-putar, namun tak seorang pun mau membeli. Bahkan membuka pintu pun tidak. Penjual roti itu agak kecut. "Mungkin penghuni perumahan ini tak membutuhkan roti untuk
sarapan," begitu pikirnya. Lalu ia memutuskan untuk berpindah ke lain tempat.

Keesokan hari, penjual roti yang lain memasuki perumahan itu. Baru ia membunyikan satu dua klaksonnya, beberapa ibu keluar, memanggil dan membeli roti untuk makan pagi. Ibu-ibu bercerita baru dua tiga hari ini mereka sadar bahwa sarapan roti ternyata bisa memudahkan pekerjaan pagi mereka. Kini mereka memutuskan untuk membeli roti. Ah, betapa tipisnya jarak antara keputusasaan dan keberhasilan. Seandainya kita cukup bersabar bahwa belajar adalah sebuah proses bersama waktu, kita akan memetik hasilnya di waktu yang tak kita duga-duga.

**************************************************************
Stopper:

Nilai sesungguhnya dari seorang manusia ditentukan oleh tujuan yang dikejarnya. (Marcus Aurelius)

Tujuan menentukan jadi apakah anda kelak. (Julius Erving)

Tak memiliki tujuan lebih menakutkan ketimbang tak mencapai tujuan (Unknown)

SAKSI KECELAKAAN

Seorang saksi atas sebuah kecelakaan mobil sedang dalam pemeriksaan di sebuah pengadilan. Kemudian terjadi dialog antara pengacara dan saksi tersebut.

Pengacara: "Apakah anda benar-benar melihat kecelakaan tersebut?"

Saksi: "Ya, tuan."

Pengacara: "Seberapa jauh jarak antara kau dan kecelakaan tersebut?"

Saksi: "Sepuluh meter, dua puluh lima sentimeter, dan enam milimeter."

Pengacara: "Aha...!"

Pengacara itu berpikir ia telah menjebak si saksi. Ia melanjutkan pertanyaan: "Baiklah, tolong katakan pada kami bagaimana kau bisa tahu secara tepat jarak antara kau dan kecelakaan saat itu?"

Dengan santai saksi itu menjawab: "Begitu kecelakaan itu terjadi, aku langsung mengeluarkan meteran dan mengukur jarakku dan kecelakaan itu. Aku tahu, beberapa pengacara bodoh dan konyol pasti akan mempertanyakan hal-hal seperti ini."

Smiley...! Banyak cara untuk menjebak seseorang. Banyak cara untuk berkelit.
Namun, tak banyak cara untuk mengakui sebuah kesalahan adalah kesalahan.
(26042002)
****************************************************************************
Stopper:

Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan apa yang orang bodoh akan mengerjakannya tiga hari kemudian. (Abdullah Ibnu Mubarak)

Kehormatan manusia adalah pengetahuannya. Orang-orang bijak adalah suluh yang menerangi jalan setapak kebenaran. Di dalam pengetahuan terletak kesempatan manusia untuk keabadian. Sementara manusia bisa mati, kebijakan hidup abadi. (Ali)

Raja mengatur orang. Orang bijak mengatur raja. (Abu al-Aswad)

TIPS MENGHADAPI KELUHAN ORANG LAIN

Mengeluh itu biasa dalam kehidupan sehari-hari. Mengeluh seringkali merupakan pertanda tersumbatnya energi positif untuk melakukan suatu tindakan. Orang yang mengeluh biasanya tidak tahu harus melakukan apa. Tapi ada juga orang yang suka mengeluh. Mengeluh menjadi sebuah kebiasaan. Ada saja yang mereka keluhkan, termasuk hal-hal kecil yang semestinya bisa
mereka atasi. Orang seperti ini sebenarnya telah menyumbat energi positif mereka dengan energi negatif, seperti kemalasan, kebosanan atau keengganan.

Terlepas dari semua itu, pada saatnya kita akan didatangi oleh seseorang dengan segudang keluhannya. Mungkin orang yang paling banyak kita dengar keluhannya adalah pasangan kita, anak, saudara atau orang tua kita, kemudian rekan kerja, bawahan, bahkan atasan dan tetangga. Bahkan, boleh jadi kita akan mendengar keluhan dari orang-orang baru tidak kita kenal, seperti,
dalam kendaraan, di pasar, atau dimana pun. Jangan berkecil hati, pahami saja, mengeluh itu jauh lebih mudah ketimbang melakukan tindakan. Hadapi saja pengeluh-pengeluh itu. Berikut ada beberapa tips yang mudah-mudahan berguna bagi anda saat menghadapi keluhan orang lain.

1--Mengapa tidak menjadi seorang yang lebih bijak?

Mendengar keluhan seringkali menyebalkan, karena kita sendiri mungkin mempunyai keluhan yang lebih banyak. Namun, jangan keburu mengacuhkan keluhan orang lain. Coba renungkan, mengapa seseorang mengeluh pada anda? Bukankah itu pertanda bahwa ia mempercayai anda. Tidakkah sebaiknya kita mencoba bersikap lebih bijak dengan memperhatikan keluhan tersebut.

2--Perhatikan dan dengarkan keluhan.

Pasti ada sesuatu yang patut anda perhatikan di balik puluhan keluhan yang mengalir dari ucapan seseorang. Dari ribuan keluhan, mungkin ada satu dua yang memang benar adanya. Memang lebih banyak keluhan yang bisa dilupakan begitu saja. Namun, dengan memperhatikan keluhan orang lain anda mengasah kepekaan terhadap perasaan orang lain.

3--Menghargai perasaan orang lain.

Hadapi keluhan orang lain dengan mencoba menghargai perasaan mereka. Tidak mudah memang memahami perasaan orang lain, namun jika anda cukup peka anda bisa menumbuhkan empati anda terhadap mereka.

4--Jangan berpura-pura memperhatikan.

Tapi jangan berpura-pura memperhatikan. Jika anda yakin bahwa keluhan mereka patut diperhatikan, berikan perhatian yang tulus. Dengarkan dengan seksama, balas tatapan mata mereka untuk menunjukkan bahwa anda sungguh-sungguh memperhatikan, berikan sedikit sentuhan untuk menyatakan ketulusan anda.

5--Tak harus memberikan nasihat.

Adakalanya seseorang mengeluh, dan tidak bermaksud mencari nasehat. Mereka hanya ingin didengarkan. Persiapkan diri anda untuk tidak memberikan nasehat. Anda takkan sungguh-sungguh tahu apa yang dialami dan bagaimana mengatasinya. Cukup tunjukkan bahwa anda mengerti akan keluhan mereka.

6--Lepaskan sumbat energi positifnya.

Namun jika anda tahu apa yang sesungguhnya sedang dihadapi oleh sang pengeluh, dan anda tahu bagaimana sebaiknya menghadapi, ada baiknya anda memberikan saran. Semua itu harus bertujuan untuk menyingkirkan energi negatif yang menyumbat energi positifnya. Namun, sesungguhnya jarang kita benar-benar memahami apa yang terjadi. Hanya berikan saran dan nasehat jika diminta.

7--Jika anda tak punya cukup waktu...

Anda tahu anda harus memperhatikan keluhan mereka, namun anda tak punya cukup waktu. Usahakan anda tetap menerima keluhan mereka, namun dengan sungguh-sungguh katakan bahwa anda tak punya waktu. Janjikan padanya waktu senggang dimana anda bisa menerima keluhan mereka.

8--Jika keluhan itu sudah menjadi pengganggu...

Jika si pengeluh ternyata hanya menghabiskan waktu anda, maka jangan ragu untuk mengatakan bahwa anda tak punya waktu untuk keluhan itu. Tunjukkan kepada siapa ia seharusnya mengadukan keluhannya. Ini perlu anda keluhkan, agar anda tidak perlu mengeluh setelah itu. (26042002)

KETIKA KITA TERSESAT DALAM BELANTARA KESIBUKAN

Jika seseorang tersesat di hutan lebat, dan tak tahu arah mana yang harus ditempuh, semestinya ia tidak terus berjalan, atau membabat semak sana-sini.
Yang seharusnya dilakukan adalah berhenti sejenak, menghitung dimanakah sesungguhnya posisi diri ini berada, menengadah ke langit mencari cahaya mentari atau rembulan, menunduk ke bumi mengukur bayang-bayang diri. Baru setelah itu menentukan kembali arah yang harus dituju, lalu berjalan penuh hati-hati, sembari terus mengukur bayang-bayang. Penjelajah yang sejati tahu kapan harus bergerak, berhenti dan beristirahat.

Jika anda tersesat dalam kesibukan yang anda sendiri tak tahu mengapa melakukan apa. Semestinya anda juga berhenti sejenak. Membuka peta diri anda, merujuk kembali pada tujuan besar hidup anda, lalu meniatkan hati untuk melangkah. Tujuan tak tercapai karena kita bergerak secepat-cepatnya. Tujuan tercapai karena kita tahu mana yang sedang dituju, serta bergerak penuh kesadaran dan kewaspadaan.

TENDA KAFILAH

Suatu ketika Khidr pergi ke istana raja dan langsung menuju singgasana.
Melihat perilaku yang aneh ini, tentu saja tidak seorang pun berani menegurnya.
Hanya sang raja, Ibrahim Ibn Adham, yang menanyainya, "Wahai lelaki yang tak dikenal, apa yang sedang kau cari?"

Orang asing itu menjawab, "Aku mencari tempat tidur di tenda kafilah ini."

Ibrahim Ibn Adham menjawab, "Ini bukan tenda kafilah, ini adalah istanaku."

"Siapa pemiliknya sebelum kamu?"

"Ayahku."

"Dan sebelum itu?"

"Kakekku."

"Tidakkah kau lihat, mereka telah datang dan pergi, tinggal dan pindah, maka mengapa kau sebut tempat ini selain tenda kafilah bagi kaum musafir?"

Pojok Renungan Editor: Kita semua hanya tinggal sementara di bumi ini.
Kelak kita akan pergi. Maka bukankah lebih tepat jika semua yang kita diami ini hanyalah tempat persinggahan?

(Disadur dari: Idries Shah, The Way of Sufi)

Stopper: KRITIK

Orang meminta anda untuk mengkritiknya, tetapi sesungguhnya yang ia inginkan adalah pujian. (Reginald Maudling)

Untuk setiap kritik yang anda lontarkan atas kinerja seseorang, pastikan anda memberinya empat penghargaan. (Bob Ottaviani)

Tukang kritik adalah seseorang yang tidak pernah sungguh-sungguh berangkat ke medan perang, tetapi paling belakang muncul untuk menembaki mereka yang luka-luka. (Tyne Daly)

SEPULUH KESALAHAN MANAGER DAN BAGAIMANA MENGHINDARINYA

Ketimbang bertele-tele, kita langsung ke pokok persoalannya saja.
Berikut ini adalah 10 kesalahan yang paling banyak dilakukan oleh manajer, serta bagaimana kita bisa menghindarinya.

10--Tidak mempercayai karyawan.

Jika anda terus-menerus tidak mempercayai karyawan, anda hanya benar sebanyak 3% saja. Namun jika anda selalu mempercayai karyawan anda, sampai terbukti bahwa anda keliru, maka anda menghabiskan waktu anda sebanyak 97% untuk melakukan hal yang benar. Maka mengapa kita tidak melakukan hal yang benar saja? Mempercayai karyawan akan memberikan hasil yang luar biasa positif bagi organisasi anda.

9--Menghabiskan terlalu banyak waktu di kantor.

Dalam sebuah seminar, saya bertanya pada para manager: berapa di antara anda yang tak mempunyai masalah? Tentu saja, tak ada yang mengangkat tangan.
Kemudian saya bertanya lagi: kepada siapa anda mencari jawaban? Jika anda menjawab: kepada customer dan karyawan, anda benar. Maka, mengapa anda lebih banyak menghabiskan waktu di kantor anda sendiri? Anda takkan mendapatkan jawaban apa-apa jika anda berdiam di kantor anda. Untuk mendapatkan jawaban atas persoalan, anda harus menghabiskan waktu setidaknya 66% untuk mempraktekkan management by walking around.

8--Memuaskan customer.

Jika anda berusaha memuaskan customer, anda akan segera terlempar dari bisnis anda. Mengapa? Karena hanya dengan melampaui harapan customerlah, customer akan mengingat anda dan perusahaan. Jika tidak, mereka akan melupakan anda dan tidak akan mempertimbangkan anda lagi. Mereka akan memilih produsen lain untuk memenuhi kebutuhan mereka.

7--Mencari-cari kesalahan karyawan.

Mungkin anda akan protes, bukankah ini adalah tugas manager? Memang benar, tapi jika anda berasal dari generasi tua manajemen, dan jika anda ingin merusak efektivitas anda sendiri. Alasannya: anda sebagai manajer semestinya tahu bahwa harapan-harapan anda baru akan tercapai dalam jangka waktu panjang. Jika anda ingin menyuntikkan energi tinggi dalam organisasi, semestinya anda memusatkan energi anda untuk memergoki karyawan melakukan
hal yang benar. Maka, anda melakukan manajemen dengan penghargaan, bukan dengan perkecualian.

6--Menghabiskan banyak waktu dengan si biang kerok.

Coba perhatikan agenda anda selama beberapa hari ini. Jika anda menghabiskan waktu dengan si biang kerok perusahaan lebih dari 5% waktu anda, maka anda menyia-nyiakan waktu anda sana. Anda mendapatkan apa yang anda perhatikan. Jika anda hanya memperhatikan si biang kerok, anda akan mendapatkan biang kerok. Jika anda menghendaki kinerja perusahaan yang tinggi dan positif, anda harus menghabiskan sebagian besar waktu anda dengan orang-orang yang mampu mewujudkan hal tersebut.

5--Tidak banyak melakukan pelatihan dan pengembangan SDM.

Riset mengatakan bahwa perusahaan yang berkinerja tinggi justru mengalokasikan investasi mereka sebanyak 3,5-5% untuk pengembangan sumber daya manusianya, melalui pendidikan dan pelatihan. Sebenarnya tidak ada hal yang ajaib dalam hal ini. Jika anda ingin perusahaan anda berjalan lebih baik, anda harus memiliki karyawan yang lebih baik pula.

4--Menumpuk-numpuk kekuasaan.

Jika anda ingin meningkatkan kekuasaan anda, anda justru harus menguasai seni membagi-bagikannya. Jika anda tidak berkenan membagikan kekuasaan, anda tidak memberi kesempatan orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Artikel di Wall Street Journal tahun 1997, menunjukkan bahwa 30% karyawan merasa bahwa minat mereka diabaikan oleh manajer yang berkuasa mengambil keputusan yang mempengaruhi mereka. Angka ini melonjak dibanding tahun 1996, sebesar 25%.
Ingat-ingatlah selalu untuk menekan pengambilan keputusan hingga ke level yang paling bawah.

3--Downsizing.

Kebanyakan manajer menyukai downsizing, alias penciutan organisasi. Mengapa, karena tampaknya inilah cara paling cepat untuk menaikkan laba perusahaan.
Dengan demikian, manajer akan mendapatkan bonus lebih besar. Aha! Melakukan penciutan untuk mendapatkan bonus? Riset menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, perusahaan yang melakukan downsizing justru lebih tidak profitable.
Study selama tujuh tahun yang dilakukan oleh Universitas Colorado membuktikan bahwa perusahaan yang melakukan downsizing bisa melipat gandakan pendapatan selama 3 tahun. Tetapi, perusahaan sejenis yang tidak melakukan downsizing justru meng-empat lipat gandakan pendapatan mereka dalam periode yang sama.
Intinya: perusahaan anda meraih competitive advantage melalui orang, bukan dengan mengusir mereka dari organisasi.

2--Membuat kerja tampak berat.

Apakah anda suka bersenang-senang? Tentu saja! Jadi, mengapa banyak manajer yang menjadikan pekerjaan sedemikian berat dan menyakitkan untuk dikerjakan.
Lihat saja survey yang mengatakan bahwa 25% karyawan Amerika Serikat membenci pekerjaan mereka, 56% dengan terpaksa menerima pekerjaan mereka, dan hanya 19% yang mencintainya. Anda akan mencapai kinerja yang luar biasa melalui orang-orang yang biasa saja hanya dengan menjadikan pekerjaan tampak menyenangkan.

1--Memberi reward yang sama kepada setiap orang.

Kebodohan nomer satu yang dilakukan manajer adalah memberikan reward yang sama kepada setiap orang. Hal ini melanggar prinsip terutama dari manajemen: reward harus sesuai dengan kinerja. Jika anda melakukan prinsip ini, anda punya peluang untuk membentuk perusahaan sebagaimana yang anda inginkan.
Maka, lihat lagi bagaimana rewarding system anda, lalu pastikan bahwa anggota team yang paling positif, energetik dan berkinerja tinggilah yang mendapatkan reward dan penghargaan yang paling baik dan paling tulus, dibanding sang biang kerok perusahaan anda.

(Disadur dari: Wolf J. Rinke, PhD, CSP, Top 10 Stupidest Mistakes Managers Make and How to Avoid Them)

KEHIDUPAN ITU SEBENARNYA SEDERHANA

Kalau kita tanyakan pada mereka yang kita anggap berhasil dalam hidupnya:
bagaimana mereka merencanakan semua keberhasilan itu?
Hampir dapat dipastikan mereka akan menjawab: tidak tahu.
Sebagian besar malah mengatakan bahwa mereka sama sekali tak membayangkan hasil seperti ini. Sebuah jawaban yang jujur. Justru jika bukan itu jawabannya, kita boleh sedikit mengerutkan dahi tanda bertanya-tanya.

Kenyataannya, kita tak selalu bisa merancang hidup dalam sebuah cetak biru, serumit atau seteliti apa pun itu. Yang menyenangkan dalam hidup adalah seringkali hidup berjalan begitu sederhana, namun teramat kuat dan mendalam. Percayalah, kita tidak berjalan di atas rencana-rencana. Hidup mengalir di atas tindakan-tindakan kita. Jika anda menjajakan kue sepanjang jalan kota, anda akan mendapatkan penghasilan yang anda cari-cari. Itulah wajah kehidupan: sederhana!

PERMOHONAN

Suatu saat, Dewa Vishnu menampakkan dirinya di hadapan seorang penyembahnya yang begitu tekun berdoa kepadanya. Ia berkata, "Sudah kuputuskan, aku akan mengabulkan tiga hal yang kau minta, apa pun itu. Setelah itu, tidak ada sesuatu pun yang akan kuberikan kepadamu lagi."

Penyembah itu dengan gembira langsung mengajukan permohonan yang pertama. Ia meminta agar istrinya mati sehingga ia bisa menikah lagi dengan wanita lain yang lebih baik. Permohonan itu dikabulkan dengan segera,

Di saat pemakaman, teman-teman dan sanak saudaranya berkumpul dan mengenang berbagai kebaikan istrinya. Orang ini lalu sadar bahwa ia telah bertindak terlampau gegabah. Kini ia terbuka mata hatinya, betapa ia mengabaikan segala kebaikan istrinya. Apakah ia masih bisa menemukan wanita lain yang sebaik istrinya? Maka ia pun memohon kepada dewa Vishnu agar menghidupkan istrinya kembali. Permohonannya ini dikabulkan dengan segera.

Kini permohonannya tinggal satu. Ia bermaksud tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Kalau ia meminta sesuatu yang keliru, maka ia tidak akan sempat memperbaikinya. Ia bertanya kemana-mana. Beberapa temannya menasehati agar ia diluputkan dari kematian. Tetapi apa gunanya tetap hidup, balas teman yang lain, kalau badan tidak sehat? Dan, apa gunanya sehat kalau tidak punya uang? Dan apa gunanya uang kalau tidak punya sehabat.
Dan seterusnya.

Tahun demi tahun telah lewat dan ia belum juga memutuskan apa yang akan dimintanya: hidup, kesehatan, kekayaan, kekuasaan atau cinta. Akhirnya ia menyerah dan berkata kepada dewa Vishnu, "Dewa, aku mohon dewa berkenan memberi nasehat, apa yang sepantasnya aku minta."

Melihat kebingungan orang itu, Dewa Vishnu tertawa dan berkata, "Mintalah hati yang damai, entah apa pun yang terjadi dalam hidupmu."

(Disadur dari: Anthony De Mello, The Song of Bird)

TEMUKAN WAKTU KOSONG DI TENGAH KEPADATAN

Tahukah anda bahwa selalu ada ruang kosong dalam waktu kita.
Ditengah-tengah kepadatan kerja yang tinggi, waktu kosong sangat berharga untuk menyeimbangkan diri. Kita bisa dapati waktu kosong itu di saat kita menunggu di dalam lift, di deret pengantrian, di kamar kecil, di lampu merah, atau di mana pun kita berada. Kita bisa gunakan kesejenakan itu untuk menarik nafas teratur, menenangkan pikiran, atau menjernihkan perasaan.

Sayang seringkali kita membiarkannya dipenuhi hal-hal yang sebenarnya tak bisa kita atasi di waktu itu. Ketika dalam lift kita ingin buru-buru sampai, padahal kita tak bisa mempercepat lajunya. Ketika di antrian, kita ingin cepat-cepat mendahului, padahal kita tak bisa memajukannya. Kita tak mau menerima ketenangan yang ditawarkan oleh waktu kosong. Bila demikian, maka jangan katakan bahwa kita tak mempunyai waktu yang tenang dalam hidup kita, karena kita sendiri mengabaikannya begitu saja.

Sunday, October 28, 2007

SANG RAJA YANG BAHAGIA

Alkisah hiduplah seorang raja yang memiliki lonceng perak yang digantung dipuncak menara tinggi istananya. Lonceng itu dipasang semenjak ia menduduki tahta kerajaan. Sang raja bertitah bahwa ia akan membunyikan lonceng itu setiap kali ia merasa bahagia. Dengan demikian seluruh rakyatnya tahu tentang kebahagiaan itu.

Setiap hari seluruh rakyat memasang telinga menunggu kalau-kalau lonceng perak itu berbunyi. Tetapi lonceng itu tidak kunjung berbunyi. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Dan bulan berganti tahun. Akan tetapi lonceng itu tidak jua berbunyi. Ini menunjukkan bahwa berita kebahagiaan sang raja belum pernah terdengar.

Raja itu semakin tua dan rambutnya memutih. Akhirnya ia jatuh sakit dant inggal menunggu saat ajalnya tiba. Mendengar berita yang menyedihkan ini, berbondong-bondong rakyatnya datang menjenguk dan menangisinya.

Melihat hal ini, sang raja baru tersadarkan bahwa ternyata selama ini ia sangat dicintai oleh rakyatnya. Tak kuasa ia menahan titik air mata. Ia tersenyum. Baru kali itulah ia merasa bahagia. Akhirnya, tepat sebelum nyawanya dicabut dari raga, dengan tertatih-tatih ia mengulurkan tangan menarik tali untuk membunyikan lonceng perak itu. Maka seluruh rakyat pun tahu, sang raja wafat dalam keadaan bahagia.

Pojok Renungan Editor: Bila kita mengabaikan cinta yang diberikan oleh orang lain, kita pun mengabaikan kebahagiaan yang diberikan oleh orang lain.

(Disadur dari: Glenn Van Ekeren, 12 Simple Secrets Of Happiness)

DISERANG EX-ATASAN

Tanya: Dear Friends. Saya bekerja sudah 5 tahun sebagai administrator tanpa berganti atasan. Awal tahun lalu saya dan atasan dipanggil Kepala Divisi, dan diberitahu bahwa kami berdua akan menduduki jabatan baru di salah satu anak perusahaan yang bergerak di bidang konsultansi. Dalam skema organisasi yang baru, saya dan atasan berada dalam posisi berbeda dengan jabatan masing-masing, tapi saya tetap diharapkan membantu atasan dalam penyelesaian tugas-tugasnya disela-sela kesibukan saya untuk jabatan baru tersebut. Akhir cerita setelah di anak perusahaan saya mendapat promosi untuk suatu jabatan lain dan berposisi di luar Jakarta. Hal ini menyebabkan saya agak lambat dalam jika ex-atasan saya minta bantuan.

Saat ini ex-atasan saya tiba-tiba sering menuding saya sombong, makan teman, kacang lupa kulitnya, lupa jasa-jasa beliau dan gila jabatan. Saya berusaha menerangkan kalau saya tidak berubah, keterlambatan saya dikarenakan saat ini saya memiliki tugas dan tanggung jawab berbeda dan harus menjadi prioritas sebelum saya membantu tugas beliau.

Sampai detik ini beliau belum pernah berubah sedikitpun. Dia masih menggap saya adalah bawahannya, hal ini pernah dilontarkan ke saya secara langsung dan saya jawab, secara struktural beliau adalah direktur dan saya hanya membantu tugas dia untuk hal-hal tertentu. Saya coba ingatkan dia kalau sekarang kita dalam tempat yang baru, dengan struktur dan kebijakan yang berbeda dengan pusat tempat dimana sebelumnya kami bertugas.

Terakhir, hari ini dia menyerang saya lagi dengan mengatakan saya berdukun untuk memperoleh karir saya. Ingin rasanya mengikuti hawa nafsu saya untuk melakukan serangan balik karena selama karir saya di bawah dia, tidak sekalipun saya memperoleh kompensasi yang layak atas kesetiaan dan kepatuhan saya, bahkan hingga saat-saat terakhir saya menjadi bawahannya, padahal tuntutan pekerjaan saya telah jauh melebihi standar job desc yang seharusnya untuk seorang administrator. Tapi, jika saya layani mampukah saya menyakiti hati ex-atasan yang saya tahu persis sangat perasa dan sensitif, saya yakin dia akan sakit hati dan kemudian sakit fisik jika saya melakukan serangan balik. Beliau seorang wanita berumur dan mudah sakit jika mengalami serangan stres.

Dear Rekan, demikian gosip saya. Saya berharap dapat masukan mengenai langkah apa yang harus saya lakukan. Terus terang saat ini dia sangat menggangu konsentrasi saya dalam menyelesaikan tugas-tugas.
Saya sudah coba share dengan beberapa teman dan jawabannya adalah, ex-atasan saya merasa kehilangan orang yang mampu membackup dia dalam pelaksanaan tugas. Tapi apakah salah kalau saya memiliki nasib baik dan berpeluang untuk berkarir?(IW)

Jawab: Mas IW, selamat datang di babak baru dalam kehidupan karier anda. Kalau selama ini mungkin anda menikmati hubungan kerja yang harmonis dan baik-baik saja, nah sekaranglah waktunya untuk mengalami sesuatu yang berbeda. Itu namanya dinamika. Semakin anda duduk di tempat yang lebih tinggi, maka semakin kencang angin menerpa, dan semakin kesepian anda disana. Tapi jangan kuatir, di balik semua itu ada pelajaran besar yang sangat menempa mental anda sebagai pemimpin. Dan, ini adalah sesuatu yang harus anda lalui sebagai konsekuensi dari kedudukan yang anda raih sekarang ini.

Soal fitnah dan isu yang tidak benar, sebaiknya anda hadapi dengan tegar. Tak perlu bersusah payah membantah. Itu tidak perlu. Lambat laun orang akan tahu mana yang benar dan tidak. Lupakan saja pikiran negatif untuk melakukan"serangan balik". Itu hanya akan memperburuk keadaan. Juga tidak baik dilihat oleh rekan-rekan kerja anda, terutama atasan. Sadarilah, bahwa promosi jabatan yang anda terima sebenarnya merupakan buah dari suatu kebaikan yang anda tunjukkan selama ini. Jangan nodai kepercayaan perusahaan hanya karena persoalan dengan ex-atasan. Masih banyak jalan keluar untuk menangani hal ini.

Coba anda renungkan mengapa perusahaan tetap meminta anda membantu ex-atasan, meski anda sendiri telah ditempatkan di posisi yang berbeda? Bukankah perusahaan pasti menginginkan anda bisa bertanggung jawab penuh pada pekerjaan baru? Itu berarti perusahaan cukup tahu situasi ex-atasan anda. Perusahaan tahu bahwa ex-atasan anda sangat membutuhkan anda. Karena anda adalah orang yang paham benar akan pekerjaan yang harus ditangani dan pribadi atasan anda. Tugas anda kini adalah menunjukkan bahwa anda memang benar-benar memahami ex-atasan anda. Anda paham bahwa ex-atasan anda sangat perlu dibantu, namun di saat yang sama anda juga mempunyai tugas sendiri yang harus diselesaikan. Jalan keluarnya adalah anda harus mendidik seorang staff untuk menggantikan anda menyelesaikan tugas-tugas ex-atasan. Anda harus mentransplantasi ketrampilan anda pada orang lain. Tentu tidak salah jika anda memiliki karier yang baik, namun alangkah indahnya jika anda juga membantu ex-atasan memperoleh karier yang baik pula; yaitu dengan menyiapkan pengganti yang setara kemampuannya dengan anda.

Bicarakan hal ini pada manajemen. Minta waktu untuk mendidik seseorang menggantikan anda. Dengan demikian anda dapat dianggap cukup bertanggungjawab dalam meninggalkan posisi anda yang lama. Bila anda mampu melakukannya dengan baik, kami percaya hubungan anda dengan ex-atasan juga akan membaik. Kesuksesan anda juga berkat upaya ex-atasan khan? Jadi, sudah waktunya kini anda menunjukkan "balas budi" anda. Namun, tentu dengan "style". Mudah-mudahan ini cukup simple dan bisa diterima. Kalau ada yang kurang berkenan, mohon maaf. Selamat mendidik orang lain dan diri anda sendiri.

KEPERCAYAAN DIIKAT DENGAN KEPERCAYAAN

Andaikan tak ada kertas, tinta, dan pena. Bagaimana kita bisa mengikrarkan sebuah kesepakatan dengan orang lain? Barangkali dengan saling berjabatan tangan, bersulang, atau tukar-menukar pipa. Cukuplah itu untuk menyatakan bahwa kita percaya satu sama lain dan tak ada niat untuk mencederai janji.

Namun, ketika kita menemukan kertas, tinta, dan pena, segala sesuatunya jadi tampak rumit. Semua kemungkinan seolah harus dinyatakan dalam huruf dan tulisan. Kepercayaan pun sedikit tergeserkan. Kekhawatiran mencuat melindungi kepentingan. Itu tak apa. Kita memang hidup di dunia yang tak selalu terduga. Tetapi, ada baiknya kita sadari, kepercayaan tak bisa dijamin dengan hanya berlembar-lembar kertas perjanjian. Kepercayaan berbenihkan kepercayaan, tumbuh dalam waktu, dan disemai dengan kebersamaan. Bila demikian adanya, maka jabat tangan akan lebih bermakna ketimbang seribukata-kata.

ABAIKAN DIRI ANDA SENDIRI

Alexander The Great, atau yang dikenal juga dengan nama Iskandar Zulkarnain, adalah raja Romawi yang sangat terkenal dengan kepemimpinannya. Berikut adalah salah satu cerita mengenai kepemimpinannya.

Suatu waktu Alexander The Great memimpin pasukannya melintasi gurun pasir yang panas dan kering. Setelah hampir dua minggu berjalan, ia dan pasukannya kelelahan dan hampir mati karena kehausan. Tetapi Alexander tetap memimpin pasukannya untuk terus berjalan penuh semangat.

Pada siang yang terik, dua orang pasukannya datang menemui Alexander dengan membawa semangkuk air yang mereka ambil dari sebuah kolam air yang telah kerontang. Kolam air itu kering dan hanya ada sedikit air yang tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh pasukan. Melihat hal ini, Alexander membuang air itu ke gurun pasir.

Sang Raja berkata, "Tidak ada gunanya bagi seseorang untuk minum di saat banyak orang sedang kehausan!"

Demikianlah kepemimpinan itu. Anda tidak bisa memperlakukan orang-orang andahanya sebagai alat untuk mencapai tujuan anda. Anda harus menunjukkan ketulusan dan keteguhan diri anda dengan sama-sama merasakan apa yang orang-orang anda rasakan.

(Disadur dari: Neil Eskelin, Abandon Yourself!)

TIPS MENEMUI ATASAN YANG SELALU SANGAT SIBUK

Yang namanya atasan itu memang selalu sibuk. Jadi anda harus maklum. Mereka bekerja mulai pagi hari, sebelum anda bangun, sampai larut malam ketika kebanyakan orang telah terlelap tidur. Ruang kerja mereka bukan hanya dikantor, melainkan juga di lapangan golf, ruang karaoke bahkan di atas pesawat. Karena itu tidak mudah bagi anda untuk meminta sedikit waktu mereka.

Kalau toh atasan anda sedang berada di kantor, mungkin jadwalnya telah padat untuk rapat ini, inspeksi itu atau presentasi macam-macam. Bagi atasan,waktu sangatlah berharga. Untuk menemui atasan yang sangat sibuk seperti itu anda harus memutar otak agar tidak menyia-nyiakan waktu beliau.
Berikut beberapa tips menemui atasan yang selalu sibuk. Semoga berhasil.

1--Persiapan, persiapan dan persiapan.

Apa pun hal yang akan dibicarakan, langkah awal terbaik adalah persiapan. Sekali lagi, persiapkan diri anda sebaik-baiknya. Pelajari semua bahan yang diperlukan. Baca naskah dengan teliti. Rumuskan pendapat anda tentang haltersebut. Susun dokumen yang dibutuhkan dan urutkan dengan rapi. Antisipasi kemungkinan-kemungkinan yang muncul.

2--Tulis point-point yang ingin anda sampaikan.

Siapkan point-point bahan pertemuan anda secara tertulis. Gunakan ini sebagai penuntun agar pertemuan anda berjalan cepat dan teratur. Selain itu, atasan mungkin akan sangat menghargai anda karena tidak membuang-buang waktunya. Bila perlu sampaikan point-point tertulis itu pada beliau.

3--Usahakan datang dengan pemecahan, bukan masalah.

Bila anda datang dengan masalah, usahakan anda juga datang dengan pemecahan. Namun jangan anggap semua masalah anda juga menjadi masalah atasan anda. Mungkin atasan anda tidak melihat itu sebagai masalah beliau, karena memang anda dibayar untuk memecahkan masalah anda. Bahkan bila perlu, anda bisa mengesankan atasan anda dengan menawarkan pemecahan bagi masalah beliau.

4--Bila benar-benar bermasalah, pastikan anda keluar dengan jawaban.

Tetapi, bila anda benar-benar harus datang dengan masalah, maka pastikan anda keluar dari ruangan atasan anda dengan mendapatkan jawaban yang tegas. Untuk itu, persiapkan pertanyaan atau hal-hal yang memerlukan keputusan atasan. Anda bisa membantu atasan dengan menyiapkan berbagai alternatif jawaban.

5--Siapkan agenda yang jelas.

Jika anda telah siap dengan berbagai bahan yang dibicarakan, maka susun agenda pertemuan. Pastikan juga anda melibatkan rekan kerja yang dianggap perlu hadir. Kemudian bicarakan hal itu dengan sekretaris atasan. Mungkin jadwal yang tersedia bagi anda dengan atasan tidak mudah diduga, karena ituatur waktu anda sendiri sebaik-baiknya.

6--Jalin hubungan kerja yang baik dengan sekretaris atasan.

Yang dimaksud hubungan kerja yang baik bukanlah dengan menraktir makan siang. Tetapi bagaimana anda dan sekretaris atasan bekerja sama untuk mencari cara yang terbaik agar pertemuan anda dengan atasan berlangsung secara produktif dan bermanfaat. Anda perlu menyampaikan point-point penting pada sekretaris atasan. Bagaimana pun, sekretaris adalah orang yang paling tahu perihal atasan anda. Yakinkan bahwa anda akan membicarakan perihal yang penting dan berharga.

7--Datang tepat waktu dan gunakan waktu setepatnya.

Bila saatnya tiba, datanglah tepat waktu. Sebaiknya anda datang lima menit sebelum waktu yang ditentukan. Terlambat beberapa menit dapat mengakibatkan hilangnya kesempatan itu. Lebih buruk mungkin atasan akan menganggap andatidak menganggap penting masalah anda, lantas bagaimana beliau bisa menganggapnya penting juga.

8--Buat notulen atas pertemuan itu.

Selama pertemuan, catat semua hasil pembicaraan. Anda bisa meminta tolong pada sekretaris atasan, atau lebih baik anda lakukan sendiri. Buat notulen tertulis. Kemudian baca di hadapan atasan. Pastikan bahwa tidak terjadi kesalahpahaman antara atasan dan anda mengenai masalah ini. Setelah usai, segera kembali ke kantor anda dan siapkan hasil pertemuan itu secara tertulis, lalu serahkan pada atasan. Bila terjadi kekurang sepahaman anda masih punya waktu untuk mengkoreksinya.

TIDAK MAU MENGALAH

Seorang anak lelaki disuruh ayahnya pergi ke kota untuk membeli tepung roti. Anak lelaki itu segera berangkat berjalan kaki. Jarak antara desa tempat tinggalnya dan kota cukup jauh juga. Di perjalanan ia harus melewati sebuah jembatan kecil.

Kini ia tiba di ujung jembatan kecil itu. Di seberang jalan ia melihat seorang anak lelaki lain yang berjalan ke arahnya. Mereka berdua sama-sama berjalan di jalur yang sama. Hingga tepat di tengah-tengah jembatan itu mereka saling berhadap-hadapan. Keduanya berhenti dan berpandangan. Anak lelaki itu berpikir, "Wah, kurang ajar sekali anak ini. Dia tidak mau mengalah dan memberikan jalan padaku.

"Di saat yang sama, anak lelaki lain itu berpikiran hal yang sama,"Seharusnya dia yang mengalah dan memberikan jalan padaku.

"Lama keduanya saling berdiri di tengah jembatan tanpa ada satu pun yang mau mengalah dan memberikan jalan. Keduanya sama-sama berpikir bahwa "Aku harus berteguh hati dan kuat pendirian." Keduanya saling berpandangan tanpa ada satupun yang berbicara atau bergerak.

Siang pun tiba. Di rumah, ayah dari anak lelaki yang hendak pergi ke kota itu mulai cemas memikirkan mengapa anaknya belum juga kembali. Sang ayah lalu bergegas menyusul anaknya ke kota. Hingga akhirnya ia sampai dijembatan dan melihat ke dua anak lelaki itu saling berdiam dan berhadap-hadapan. Sang ayah berteriak pada anak lelakinya, "Wahai anakku, mengapa engkau berdiri di situ?

"Anak lelakinya menjawab, "Anak lelaki ini menghalangi jalanku. Ia sama sekali tidak mau mengalah. Bagaimana aku bisa berjalan jika ia menutup jalanku?"

Sang ayah mulai kesal. Ia lalu berkata pada anaknya, "Sudahlah anakku, sebaiknya kau minggir dan segera pergi ke kota untuk membeli tepung. Biar ayahmu ini yang berdiri di sini menggantikanmu dan tidak memberikan jalan pada anak lelaki yang tidak tahu diri ini!"

Smiley...! Teguh hati memang boleh. Sesekali mengalah demi tercapainya tujuan bukanlah hal yang tercela. Tetapi bukan berarti lalu kita harus menjadi tembok bagi tercapainya tujuan orang lain bukan?

(Disadur dari: Chinese Wisdom)

PAKAIAN KEBESARAN DAN TIDUR NYENYAK ANDA

Jika anda adalah seorang pejabat tinggi, wajarlah jika anda mengenakan busana kebesaran, yang mungkin terbuat dari bahan terbaik, terjahit rapi tanpa kerutan, dan bertaburkan bintang-bintang tanda jasa. Anda tak perlu merasa bersalah dengan kehormatan-kehormatan semacam itu. Toh orang-orang disekitar anda pun takkan segan-segan menyediakannya untuk anda. Bukankah, seseorang yang terhormat layak mendapat perlakuan yang terhormat pula.

Yang perlu anda sadari sebenarnya sederhana saja. Ketika anda berangkat tidur, mau tak mau anda harus melepaskan semua itu. Tidur anda takkan bisa nyenyak dalam kungkungan pakaian kebesaran yang kaku, berat dan berlapis-lapis. Ini sama halnya dengan, anda takkan bisa menemukan ketenangan batin selama anda masih menggenggam pikiran-pikiran mengenai kedudukan anda. Pada saatnya, anda harus melepaskan dan membiarkan anda menemukan diri anda sendiri yang paling bersahaja.

MANAJEMEN ETIKA

Vincent, seorang Kepala Pemasaran sebuah perusahaan "hitech" dengan tingkat persaingan yang sangat ketat, sedang mencari seorang "Sales Representative"yang unggul dan handal. Dari sekian puluh lamaran dan setelah melakukan serangkaian wawancara, ia menemukan seorang yang dianggap paling tepat ditinjau dari berbagai sisi. Namanya Victor.

Vincent hampir memutuskan untuk menerima Victor (sambil menunggu beberapa kontak telepon untuk mengecek beberapa referensi tentang Victor) ketikaVictor tersenyum, meraih tas kantornya dan mengeluarkan amplop. Dari dalam amplop itu Victor mengeluarkan sebuah disk komputer, dan memegangnya dengan hati-hati bak batu mulia berharga sangat mahal.

"Dapatkan anda menebak apa isi disk ini?" tanya Victor.

Vincent menggelengkan kepalanya pertanda tidak tahu.

Dengan tetap tersenyum, Victor mendengus untuk meyakinkan dirinya, kemudian menjelaskan betapa disk itu berisi informasi rahasia tentang persaingan perusahaan Vincent, yakni perusahaan tempat Victor bekerja sebelumnya. Didalamnya tersimpan data tentang profil para pelanggan dan data biaya penawaran dalam tender kontrak peralatan militer dimana perusahaan Vincent pun ikut pula dalam tender tersebut.

Setelah wawancara selesai, Victor berjanji apabila ia diterima menjadi"Sales Representative", maka disk itu dan beberapa disk serupa lainnya akan ia berikan pada Vincent.

Kepala Pemasaran itu kini berada di tengah dua kutub. Satu kutub berisi pertanyaan, bagaimana bisa ada orang yang berperilaku dan mampu berbuat seperti itu. Kutub lainnya berisi kebimbangan, bila ia menerima orang ituberarti ia mendapatkan sesuatu yang setara dengan tambang emas saja.

Ini perang batin antara soal etika dan laba. Silakan anda membantu Vincent mengambil keputusan.

Pojok Renungan Editor:
Dalam berbagai skala, mulai dari yang ringan sampai ekstrim, kita menjumpai hal-hal semacam ini. Mungkin kita menemukan selembar uang di jalan, atau segebok uang salah transfer dalam rekening bank kita. Semuanya bisa jadi menimbulkan perang batin yang hanya kita sendiri yang mampu memecahkannya.
Contoh soal di atas mungkin dengan mudah dipecahkan, karena itu hanyalah sebuah contoh soal. Jauh lebih penting adalah bagaimana sikap kita jika benar-benar menghadapinya. (10042002)

(Disadur dari: Erry Riyana Hardjapamekas, Esensi Kepemimpinan)

WIRASWASTA #1

A--Bagaimana Kita Memenuhi Kebutuhan?

Hidup dipenuhi dengan kebutuhan, meskipun tujuan hidup bukanlah untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan itu. Kita butuh pangan untuk kelangsungan hidup.
Kita butuh sandang demi kehormatan hidup. Kita butuh papan demi kesejahteraan hidup.
Kita butuh pendidikan demi pemenuhan kebutuhan kehidupan yang bermoral dan berbudaya. Kita perlu memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut agar kita bisa menjalani kehidupan ini secarawajar. Ada berbagai macam cara manusia bisa memenuhi berbagai macam kebutuhan. Namun pada prinsipnya ada dua cara kita bisa memenuhi kebutuhan.

Pertama,dengan cara meminta. Baik mulai dari cara mendapatkan sedekah, warisan, meminta-minta hingga mengemis. Cara ini tidak sepenuhnya bisa diterima oleh masyarakat karena dianggap menyalahi prinsip etika dan peri keadilan. Seseorang hanya boleh meminta-minta bila benar-benar dalam keadaan memaksa. Cara yang terhormat dalam memenuhi kebutuhan adalah dengan BEKERJA.

Dengan bekerja seseorang melakukan suatu karya dan memperoleh imbalan, baik dalam bentuk pendapatan, uang atau pemenuhan kebutuhannya. Seorang buruh mendapatkan upah bila ia bekerja pada majikannya. Seorang nelayan mendapatkan penghasilan bila ia melaut dan menjual hasil tangkapannya. Seorang pedagang mendapatkan uang dengan berjualan. Tentu saja masih ada cara lain dalam memenuhi kebutuhan hidup. Misal, dengan merampok, mencuri, memaksa dan lain sebagainya. Namun hal ini bukanlah carayang bermoral. Karena, dalam hidup ini, cara terhormat agar kita bisa memenuhi kebutuhan kita adalah dengan memenuhi kebutuhan orang lain. Dengan demikian kedudukan kita di antara sesama manusia adalah adil, setara dan sederajat.

B--Mencari Lapangan Kerja

Jelas, kita harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.
Pertanyaan selanjutnya adalah siapakah yang bertanggung jawab menyediakan lapangan kerja bagi kita? Pemerintah bertanggung jawab pada rakyat untuk menyediakan lapangan kerja. Tugas pemerintah adalah meningkatkan kesejahteraan hidup rakyatnya. Pemerintah mendirikan berbagai bentuk badan usaha milik negara yang bisa menyediakan lapangan kerja bagi rakyat.

Namun, kemampuan untuk menyediakan lapangan kerja tidaklah tidak terbatas. Tugas pemerintah terutama adalah menciptakan situasi negara yang baik dan sehat yang memungkinkan rakyatnya memperoleh pekerjaan sesuai dengan kemampuan dan kemauannya. Misal, dengan memberikan keamanan dan keselamatan, mengadakan sarana dan prasarana, menyelenggarakan pendidikan dan lain sebagainya. Masyarakat pun ikut bertanggung jawab dalam menyediakan lapangan kerja, atau setidaknya menciptakan keadaan sosial yang kondusif. Misal, dengan menumbuhkan budaya kerja yang sehat, meninggalkan praktek-praktek perdagangan yang mencekik, menyelenggarakan pendidikan, dan lain sebagainya. Tetapi di atas semua itu, yang paling bertanggung jawab untuk menyediakan lapangan kerja bagi kita adalah DIRI KITA sendiri.
Ini berarti setiap darikita mempunyai kewajiban untuk berusaha dan berikhtiar untuk menemukan lahan yang akan digarapnya dan dijadikan sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan. Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Ini adalah prinsip hidup yang menunjukkan kematangan dan kemuliaan seorang manusia.

C--Bagaimana Kita Bekerja?

Kebanyakan dari kita memenuhi kebutuhan adalah dengan bekerja pada orang lain, yang biasa disebut dengan majikan. Secara suka rela kita melakukan apayang diminta oleh majikan dan mengharap imbalan dalam bentuk upah atau gaji. Dengan posisi seperti ini, kita biasa disebut sebagai buruh, pegawai atau karyawan. Di hadapan majikan, seorang pegawai atau buruh seringkali di sebut sebagai bawahan. Dalam hubungan kemanusiaan, hubungan antara majikan dan karyawannya adalah setara dan sederajat. Namun banyak orang yang seolah-olah lupa akan hal ini. Seorang bawahan seringkali meletakkan derajat dirinya sedemikian rendah sehingga begitu takut kalau ia akan kehilangan pekerjaan. Rasa takut ini tumbuh dari sebuah paradigma bahwa yang bertanggung jawab menyediakan kerja bagi dirinya adalah orang lain.
Ini yang biasa disebut sebagai mental pegawai. Padahal telah dijelaskan di atas, bahwa seorang manusia yang beradab, luhur dan mulia adalah manusia yang benar-benar meletakkan semua tanggung jawab kehidupannya pada pundaknya sendiri.

Atas dasar itu, ada sebagian orang yang lebih suka memilih untuk tidak bekerja pada orang lain, melainkanMENCIPTAKAN USAHA SENDIRI.

Ada sebuah ungkapan yang menarik dari Amir. MS:"Mencari kerja susah. Menciptakan kerja juga susah. Sama-sama susah. Tapiada bedanya. Menciptakan kerja, jelas lebih mulia, lebih berharga, dan lebih bangga!"
Bekerja pada orang lain bukan hal yang tercela. Namun menjadi "majikan" bagi diri kita sendiri sekaligus bagi orang lain adalah sesuatu yang mulia. Itulah prinsip yang dimiliki oleh mereka yang berjiwa wiraswastawan.

D--WiraswastaWira berarti BERANI, PATRIOTIK.

Swa berarti MANDIRI. Sta berarti BERDIRI. Maka secara sederhana Wiraswasta berarti orang yang berani mendiri untuk berdiri sendiri. Dalam kaitannya dengan pembahasan kita, wiraswasta adalah orang yang berani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja secara mandiri di atas kemampuannya sendiri. Sebenarnya di dalam kerja kita sebagai seorang karyawan terkandung juga nilai-nilai wiraswasta di atas. Jika seorang karyawan bekerja dengan paradigma pengusaha, sehingga dalam setiap langkahnya ia selalu memajukan perusahaan, maka ia pun sebenarnya telah menerapkan jiwa kewiraswastaannya. Namun, dalam pembahasan ini, yang kita maksudkan dengan wiraswasta adalah mereka yang menciptakan kerja bagi dirinya sendiri. Mereka tidak tergantung pada majikan, karena mereka adalah majikan bagi diri mereka sendiri juga bagi orang lain yang bekerja pada mereka. Mereka benar-benar meyakini dan bertanggung jawab atas kerja mereka sendiri. Karena itulah para wiraswasta sebenarnya adalah manusia yang unggul, yang semestinya kita usahakan untuk tumbuh dalam diri kita masing-masing.

Ada sebuah ungkapan dari Amir. M.S. dalam bukunya "Wiraswasta" yang sangat menarik. Beliau menulis demikian: "Bukankah lebih baik tangan yang memberi, daripada tangan yang menerima. Bukankah lebih terhormat tangan yang di atas, daripada tangan yang di bawah. Bukankah lebih mulia menjadi induk semang, daripada menjadi anak semang. Bukanlah lebih baik menjadi kepala kancil, daripada menjadi ekor gajah. Bukankah lebih baik tangan yang dikotori oli, daripada tangan yang bergelimang dosa korupsi dan kolusi."

DI ATAS RASA AMAN DAN KEBEBASAN

Seorang pegawai berkata, hidupnya tenang karena memiliki pekerjaan tetap setiap bulan.
Ia tak perlu khawatir bagaimana mencari nafkah bagi diri dan keluarganya. Ia merasa bisa menatap masa depan dengan pandangan yang lebih cerah. Namun, seorang wirausaha berkata, hidupnya merdeka karena bebas mengusahakan apa yang ia inginkan.
Ia tak perlu selalu terkekang pada berbagai macam aturan. Ia merasa bisa mengemudikan masa depan diri dan keluarganya.

Kualitas kehidupan apa yang hendak kita pilih? Bukankah tak perlu ada pertentangan antara kebebasan dan rasa aman. Karena di atas semua itu, seharusnya kita mampu berdiri tegak dengan sebuah tanggung jawab penuh.
Tanggung jawab bahwa kita bertanggung jawab atas hidup kita ini.
Tidak ada orang lain yang bertanggung jawab atas kehidupan kita, selain diri kita sendiri. Rasa tanggung jawab inilah yang memberikan kebebasan. Rasa tanggung jawab ini pulalah yang menumbuhkan ketentraman.

Thursday, October 25, 2007

BOTOL MINYAK

William Hart

Seorang ibu menyuruh seorang anaknya membeli sebotol penuh minyak. Ia memberikan sebuah botol kosong dan uang sepuluh rupee. Kemudian anak itu pergi membeli apa yang diperintahkan ibunya. Dalam perjalanan pulang, ia terjatuh. Minyak yang ada di dalam botol itu tumpah hingga separuh. Ketika mengetahui botolnya kosong separuh, ia menemui ibunya dengan menangis,"Ooo... saya kehilangan minyak setengah botol! Saya kehilangan minyak setengah botol!"
Ia sangat bersedih hati dan tidak bahagia. Tampaknya ia memandang kejadian itu secara negatif dan bersikap pesimis. Kemudian, ibu itu menyuruh anaknya yang lain untuk membeli sebotol minyak. Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh rupee lagi. Kemudian anaknya pergi. Dalam perjalanan pulang, ia juga terjatuh. Dan separuh minyaknya tumpah. Ia memungut botol dan mendapati minyaknya tinggal separuh. Ia pulang dengan wajah berbahagia. Ia berkata pada ibunya, "Ooo... ibu saya tadi terjatuh. Botol ini pun terjatuh dan minyaknya tumpah. Bisa saja botol itu pecah dan minyaknya tumpah semua. Tapi, lihat, saya berhasil menyelamatkan separuh minyak." Anak itu tidak bersedih hati, malah ia tampak berbahagia.
Anak ini tampak bersikap optimis atas kejadian yang menimpanya. Sekali lagi, ibu itu menyuruh anaknya yang lain untuk membeli sebotol minyak. Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh rupee. Anaknya yang ketiga pergi membeli minyak. Sekali lagi, anak itu terjatuh dan minyaknya tumpah. Ia memungut botol yang berisi minyak separuh dan mendatangi ibunya dengan sangat bahagia. Ia berkata, "Ibu, saya menyelamatkan separuh minyak."Tapi anaknya yang ketiga ini bukan hanya seorang anak yang optimis. Ia juga seorang anak yang realistis. Dia memahami bahwa separuh minyak telah tumpah, dan separuh minyak bisa diselamatkan.
Maka dengan mantap ia berkata pada ibunya, "Ibu, aku akan pergi ke pasar untuk bekerja keras sepanjang hari agar bisa mendapatkan lima rupee untuk membeli minyak setengah botol yang tumpah. Sore nanti saya akan memenuhi botol itu.

"Pojok Renungan Editor: Kita bisa memandang hidup dengan kacamata buram, atau dengan kacamata yang terang. Namun, semua itu tidak bermanfaat jika kita tidak bersikap realistis dan mewujudkannya dalam bentuk KERJA. (08042002)
(Disadur dari: William Hart, The Art Of Living)

****************************************************************************
Stopper: Secara sederhana, wirausahawan adalah mereka yang mengerti bahwa hanya ada sedikit perbedaan antara hambatan dan kesempatan. Dan, mereka mampu mengubah keduanya demi keuntungan mereka. (Victor Kiam)

Apa perbedaan antara hambatan dan kesempatan? Perbedaannya terletak pada sikap kita dalam memandangnya. Selalu ada kesulitan dalam setiap kesempatan; dan selalu ada kesempatan dalam setiap kesulitan. (J. Sidlow Baxter)

Pertanyaan yg tak perlu dijawab

Jika seseorang bertanya pada anda, "Hal apa yang paling berharga yang telah anda dapatkan dalam hidup ini?"
Maka, jawaban apa yang anda berikan?
Apakah anda menunjukkan berapa banyak uang, tabungan dan kekayaan yang telah anda peroleh?
Padahal siapa pun tahu, seringkali uang bukanlah hal yang paling berharga dalam hidup ini. Apakah anda membanggakan kesehatan dan kekuatan diri anda? Padahal siapa pun tahu, pada waktunya tubuh akan menua dan renta. Atau apakah anda membuktikan kepandaian dan kepiawaian anda? Padahal siapapun tahu, setinggi-tinggi langit selalu ada langit di atasnya.
Hal yang paling berharga dalam hidup ini sesungguhnya adalah kebahagiaan bathin kita. Manusia siap menukar apa pun demi kebahagiaan hidupnya. Sayang, tak seorang pun mampu mengukur seberapa berharga kebahagiaan yang telah kita temukan dalam hidup ini. Kebahagiaan memang bukan untuk diukur, atau bahkan dipertanyakan.
Maka mungkin, jawaban terbaik atas pertanyaan itu adalah senyuman tanpa kata, namun penuh makna.

Ranjau yg meledak puluhan tahun kemudian

Percayakah anda, sebuah dendam dan kebencian yang ditebar hari ini mungkin membuahkan celakanya bagi generasi mendatang?
Bila anda sangsi, mari tanyakan pada seorang anak yang kakinya hancur karena menginjak ranjau yang ditanam saat perang puluhan tahun silam.
Peperangan mungkin telah lama usai.
Namun, sisa-sisa amarah, bekas-bekas angkara, dan jejak-jejak amuk takkan hilang begitu saja. Bahkan, kita tak pernah tahu kapan semua itu akan tersapu bersih. Meski damai telah dijabattangankan, siapa bisa menjamin tak ada penyesalan di kemudian hari?

Betapa mahalnya sebuah kemurkaan. Itu mengapa kita diajarkan untuk tidak hanya mempertimbangkan apa yang terjadi pada esok hari akibat perbuatan kita hari ini.
Semakin jauh kita memandang ke depan, semestinya semakin besar nilai perbuatan kita hari ini.

Friday, September 21, 2007

KARYAWAN BERMASALAH

Konsultasi Alternatif:
KARYAWAN BERMASALAH

Tanya: Saya memiliki seorang staff yang akhir-akhir ini menimbulkan masalah. Laporannya selalu terlambat. Kurang disiplin. Sering absen. Suka mengabaikan aturan yang sudah disepakati. Bahkan, hubungan dengan kepala seksinya agak sengit. Sebenarnya ingin sekali saya menegurnya tapi khawatir juga kalau-kalau ia semakin ngambek atau malah pindah kerja. Maklum, ia adalah karyawan spesialis terbaik di bidangnya. Apa yang bisa saya lakukan?

Jawab: Tidak bisa tidak, anda harus segera menangani masalah tersebut. Bila anda menunda-nunda untuk menyelesaikannya, bisa jadi staff bermasalah atau rekan-rekan lain akan menilai anda mau menerima perilaku negatif yang ditunjukkannya. Ini sungguh tidak efektif, malah mengundang hal-hal yang lebih buruk lagi. Maka anda harus panggil ia dan bicarakan hal-hal apa yang tidak anda setujui. Tunjukkan perilaku apa yang anda harapkan darinya. Bila ia dapat memahami maksud anda, maka mintalah komitmen bahwa ia akan berusaha untuk memenuhi apa yang menjadi kesepakatan bersama.

Namun, yang terpenting dalam pembicaraan anda dengan staff bermasalah tersebut adalah kesediaan anda untuk mau menggali dan mendengarkan latar belakang masalahnya. Seringkali masalah karyawan hanyalah gejala dari masalah lain yang mendasar namun tidak terlihat. Jangan berhenti pada masalah-masalah yang tampak di permukaan, karena bisa jadi ada masalah lain yang lebih besar. Bukalah pikiran, persepsi dan hati anda untuk mau menerima setiap keluhan, kritik bahkan protes dari staff anda. Dalam hal ini, anda juga harus menunjukkan komitmen untuk melakukan perbaikan bila apa yang disampaikan staff anda ternyata benar.

Meski kita dituntut untuk selalu efektif, namun dalam hal mengatasi karyawan yang bermasalah, waktu bukanlah faktor yang harus dibatasi dengan ketat. Diperlukan kesabaran dan kehati-hatian. Barangkali staff anda sulit mengutarakan persoalannya sehingga perlu "pemanasan" suasana dari hati kehati. Sebaiknya tidak segera memutuskan pembicaraan hingga seluruh gambaran tampak dengan jelas. Bisa jadi keterbukaan itu muncul pada detik-detik terakhir anda merasa kelelahan. (03042002)