Pages

Thursday, November 25, 2010

BEKERJA BAGAI ITIK BERENANG DI TELAGA

Bekerjalah sebagaimana itik berenang di telaga. Ia melaju dengan tenang dan cantiknya, tanpa membuat permukaan air menjadi berkecipak dan berisik.
Ia pun tak perlu membuat sekujur tubuhnya basah kuyup atau merusakkan bulu-bulunya. Bahkan, berenangnya itik itu sendiri selalu menambah keindahan pandangan seluruh telaga. Namun, tahukah kita bahwa di dalam air sepasang kakinya bekerja keras mengayuh-ayuh. Dan, itu tak tampak oleh mata yang memandangnya.

Kita dapat bekerja dengan keras dan gigih.
Dan untuk itu, kita memang tak perlu menyembunyikan luruhan keringat dan tarikan nafas panjang kelelahan, namun kita dapat mengubahnya sebagai sebuah kesukacitaan.
Itu hanya tercapai bila kita meletakkan sumbangsih kerja kita dalam bingkai indah tentang peraihan hidup.
Karena kerja adalah bagian dari hidup, maka jangan biarkan kerja jadi noda tinta dalam lukisan tentang kehidupan kita.

Monday, November 15, 2010

BATAS DARI SEMUA USAHA

Bila selama sepekan anda telah bekerja dengan gigih, berlari penuh ketergesa-gesaan, dan menggigit gigi sendiri untuk menahan rasa sakit diburu-buru, maka akhir pekan ini adalah saat yang paling baik untuk merenungi apa arti waktu bagi anda. Secepat-cepat anda belari menjadi yang nomor satu, anda takkan pernah mampu melampaui waktu. Sekuat-kuat anda memenangkan pertandingan, pada akhirnya toh anda akan dikalahkan oleh usia anda sendiri. Sehebat-hebat anda menaklukkan puncak gunung, alam memberi langit yang lebih tinggi yang tak terdaki. Bahwa segala sesuatu itu ada batasnya.

Anda perlu tahu batas-batas itu.
Meski tujuan adalah sesuatu yang belum bisa anda capai sekarang; dan ini membuat anda begitu optimis akan hidup esok hari; namun kesadaran akan tepian dari semua kerja anda semestinya menggugah anda untuk menemukan jiwa dalam kerja anda.
Yaitu, silakan kita berkeja sekeras-kerasnya, karena memang untuk itulah anda ada, namun anda sama sekali tak harus menjamin tercapainya semua tujuan itu, karena memang bukan itu tugas anda. Kita hanya harus berusaha.

Wednesday, November 10, 2010

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain. Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya. Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun. Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya. Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat. Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu
menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni. Kita temukan keotentikan diri sendiri. Kritik memang semestinya mendorong agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain. Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya. Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun. Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya. Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat. Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu
menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni. Kita temukan keotentikan diri sendiri. Kritik memang semestinya mendorong agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.

Monday, November 01, 2010

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain.
Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya.
Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun.
Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya.
Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat.
Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni. Kita temukan keotentikan diri sendiri.
Kritik memang semestinya mendorong agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.

KRITIK DEMI KEOTENTIKAN DIRI SENDIRI

Penyair besar seringkali berbuat kejam pada para pemula, atau malah pada penyair lain yang berjam terbang tinggi. Ia tak segan merobek syair orang lain. Ia tega mengatakan puisi itu jelek. Ia juga sampai hati menolak sajak mereka bagai bukan sajak. Penyair besar itu merasa berhak melakukannya. Ia membolehkan dirinya menghancurkan kreativitas orang lain. Namun, semua itu hanya demi satu perkara: ia ingin sesuatu yang lebih hebat tercipta dari sajak-sajak orang lain.
Ia ingin bunyi yang baru yang belum pernah didengarnya.
Ia ingin kata baru yang belum tertulis di kamus mana pun.
Ia ingin makna baru yang belum sempat terpikirkannya.
Ia ingin daya cipta yang lebih dahsyat.
Karena, yang pernah ada langsung lapuk sebelum waktu menjamahnya.

Seringkali kita kecewa pada pemimpin kita karena kritiknya yang mengguggat kreativitas kita. Namun, bila kita tahu, sebenarnya mereka ingin kita menggali sumur yang lebih dalam, kita akan temukan air yang lebih murni.
Kita temukan keotentikan diri sendiri. Kritik memang semestinya mendorong
agar yang dikritik mau menemukan dirinya sendiri.