Pages

Friday, February 18, 2005

Pemimpin Adalah Pelaku

Di atas segalanya, pemimpin bertindak sebagai pelaku, dan mereka melakukan satu hal yang dapat mereka melakukan dengan sempurna, yaitu membuat perbedaan.

Selama bertahun-tahun, saya berdiskusi dengan puluhan, bahkan mungkin ratusan, pemimpin mengenai peran, saran-saran dan kinerja mereka. Saya telah bekerja dengan perusahaan manufaktur raksasa dan perusahaan kecil, dengan organisasi yang mencakup seluruh dunia. Saya telah bekerja dengan sejumlah eksekutif yang luar biasa cerdas dan sejumlah kecil yang biasa-biasa saja, dengan orang yang pandai berbicara soal kepemimpinan, dan dengan orang-orang yang tampaknya tidak pernah memikirkan diri mereka sebagai pemimpin atau setidaknya jarang berbicara soal kepemimpinan.

Pelajaran yang muncul jelas sekali. Pertama, adalah mungkin ada "pemimpinyang dilahirkan", namun jumlahnya terlalu sedikit untuk diandalkan. Kepemimpinan harus dipelajari dan dapat dipelajari. Namun, pelajaran besar kedua adalah bahwa "kepribadian kepemimpinan", "gaya kepemimpinan", dan"sifat kepemimpinan", sesungguhnya TIDAK PERNAH ADA. Di antara sekian banyakpemimpin efektif yang pernah saya temui dan bekerja sama selama setengah abad ini, sebagian mengunci diri di dalam kantor dan yang lainnya bergaul secara berlebihan. Sebagian (walaupun tidak banyak) adalah "orang yang baikhati", dan yang lainnya merupakan penganut disiplin yang keras. Sebagian bertindak cepat dan spontan; yang lainnya berulang kali mempelajari berbagai hal sehingga butuh waktu lama untuk mengambil keputusan. Sebagian bersikap hangat; yang lainnya tetap menjaga jarak. Sebagian segera membicarakan keluarga mereka; yang lain tidak pernah menyinggung apa pun selain tugas yang tengah dikerjakan.

Sebagian pemimpin sangat membosankan - meski hal ini tidak mempengaruhi kinerja mereka. Sebagian lagi berupaya menghilangkan jejak mereka ketika terjadi kegagalan - itu juga tidak mempengaruhi kinerja mereka sebagai pemimpin. Sebagian menjalani kehidupan pribadi yang sangat sederhana, bagaikan pertapa di padang gurun; yang lainnya suka pamer, suka mencari kesenangan dan terang-terangan menyebutkan hal itu pada setiap kesempatan. Sebagian adalah pendengar yang baik, namun di antara pemimpin yang paling efektif yang pernah bekerja dengan saya, ada juga beberapa orang penyendiri yang hanya mendengarkan suara hati mereka sendiri.

Satu-satunya sifat kepribadian yang sama-sama dimiliki pemimpin yang pernah saya jumpai adalah sesuatu yang tidak mereka miliki: mereka TIDAK memiliki KARISMA dan sedikit sekali yang menggunakan istilah itu maupun maknanya.

EMPAT HAL YANG HARUS DIKENALI

Semua pemimpin efektif yang saya jumpai, baik yang bekerja sama dengan sayamaupun yang semata-mata saya amati, mengetahui empat hal sederhana:

1--Satu-satunya definisi dari seorang pemimpin adalah seseorang yang memiliki pengikut. Sebagian orang adalah pemikir. Sebagian lain adalah nabi. Kedua peran itu penting. Namun, tanpa pengikut, tidak ada pemimpin.

2--Seorang pemimpin yang efektif bukanlah seseorang yang disukai atau dikagumi. Ia adalah seseorang yang pengikutnya melakukan hal yang tepat. Kepopuleran bukanlah kepemimpinan. Hasil adalah kepemimpinan itu.

3--Pemimpin sangat terlihat jelas. Oleh karena itu, mereka memberikan teladan.

4--Kepemimpinan bukanlah masalah peringkat, hak istimewa, gelar, atau uang. Kepemimpinan adalah tanggung jawab. Terlepas dari keragaman yang nyaris tanpa batas dengan menghormati kepribadian, gaya, kemauan, dan minat, pemimpin efektif bertingkah laku sangat mirip seperti ini:

a--Mereka tidak memulai dengan pertanyaan, "Apa yang saya inginkan?" Mereka memulai dengan bertanya, "Apa yang perlu saya lakukan?"

b--Kemudian mereka bertanya, "Apa yang dapat dan harus saya lakukan untukmembuat perbedaan?" Hal ini harus merupakan sesuatu yang perlu dilakukan sekaligus sesuai dengan kekuatan sang pemimpin dan gayanya yang paling efektif.

c--Mereka selalu bertanya, "Apa misi dan sasaran organisasi? Apa yang membentuk kinerja dan hasil dalam organisasi ini?"

d--Mereka sangat mentoleransi keragaman orang-orang dan tidak mencari jiplakan yang sama dengan diri mereka sendiri. Bahkan jarang sekali mereka bertanya, "Apakah saya menyukai orang ini atau tidak?" Namun, mereka sepenuhnya, dengan keras, tidak bertoleransi jika hal itu menyangkut kinerja, standar, dan nilai yang dianut seseorang.

e--Mereka tidak takut akan kekuatan rekan-rekan mereka. Mereka bangga akan kekuatan itu. Entah mereka pernah mendengarnya atau tidak, moto mereka adalah semua hal yang ingin dicantumkan oleh Andrew Carnegie di atas batunisannya: "Di sini terbaring seseorang yang menarik orang-orang yang lebih baik daripada dirinya untuk bekerja padanya."

f--Mereka memastikan bahwa orang yang mereka lihat di dalam cermin pada pagihari adalah jenis orang yang mereka inginkan. Dengan jalan ini mereka melindungi diri dari godaan terbesar yang dihadapi oleh seorang pemimpin:melakukan berbagai hal yang populer daripada yang tepat, dan melakukan hal-hal yang kurang penting, biasa-biasa, dan bermutu rendah.

g--Akhirnya, pemimpin efektif bukanlah pengkhotbah, mereka adalah pelaku. Pemimpin efektif mendelegasikan banyak hal baik. Mereka harus melakukannya atau mereka akan terbenam dalam setumpuk hal remeh. Namun, mereka tidak mendelegasikan satu hal yang dapat mereka lakukan dengan sempurna; satu-satunya hal yang akan membuat perbedaan, satu hal yang akan menetapkan standard, satu hal yang ingin orang-orang kenang dari mereka. Mereka melakukannya. Tidak masalah anda bekerja di organisasi seperti apa; anda akan menemukan peluang untuk belajar mengenai kepemimpinan dari semua organisasi, baik itu pemerintah, swasta, dan nirlaba. Saya menantang anda untuk bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan di dalam organisasi saya yang akan benar-benar membuat perbedaan? Bagaimana saya dapat sungguh-sungguh menetapkan teladan?"Saya juga berharap bahwa di kemudian hari anda akan melakukannya. (02042002)
(Disadur dari: Peter F. Drucker, Pemimpin Adalah Pelaku. Buku: A NewParadigm of Leadership, Editor: Ken Shelton. Penerbit: Elexmedia Komputindo)****************************************************************************
Stopper:
Kesalahan kita yang paling buruk adalah terlalu sibuk mengurusi kesalahan orang lain. (Kahlil Gibran)

Tak seorang pun bisa mencela atau mengutuk orang lain secara adil, karena tak seorang pun benar-benar mengenal orang lain. (Sir Thomas Bowne)

Jika anda tidak dapat mengatakan kebenaran tentang diri sendiri, anda tidak dapat mengatakan kebenaran tentang orang lain. (Virginia Woolf)

Pemimpin Yang Tumbuh Bersama-Sama Kita

Jelas sekali bahwa bukan tugas bagi seorang pemimpin untuk membangun sebuah kerajaan bagi dirinya sendiri. Tugas pemimpin yang paling utama adalah membuat sebuah perbedaan; perbedaan yang benar-benar dibutuhkan bagi lingkungan dimana ia tumbuh dan berkembang. Dan yang dimaksud dengan perbedaan bukanlah maju dari satu langkah menuju satu depa; melainkan melompat melintasi keterbatasan-keterbatasan, menyibak kekhawatiran akan kegagalan, serta menjelajahi imajinasi dan visi.

Karena itulah, yang kita dambakan bukanlah pemimpin yang tiba-tiba datang dari tempat yang jauh di sana. Namun, pemimpin yang lahir dari tanah dimana kita sama-sama belajar mengenai kehidupan; pemimpin yang tumbuh dari airdimana kita sama-sama meneguk pengalaman; pemimpin yang merekah dari udara dimana kita sama-sama menghirup suka duka. Perubahan terbaik hadir dari pemimpin yang menyemaikan jiwanya pada ladang tempat ia dan pengikutnya sama-sama mencangkul.

Hemat Saja Tenaga Anda Dari Pertengkaran

Percaya atau tidak, selalu saja ada orang yang berusaha mengambil keuntungan dari setiap pertengkaran yang anda kobarkan. Tak peduli apakah anda atau lawan anda yang kalah, tak segan-segan mereka mencari celah untuk menunggangi keadaan. Pertengkaran selalu lemah melemahkan. Meski anda memenangkannya, anda takkan pernah sungguh-sungguh memenangkan semuanya. Pasti anda kehilangan sesuatu, setidaknya pengendalian diri anda sendiri. Karenanya, tak ada yang dapat menarik keuntungan sebanyak-banyaknya, selain orang ketiga yang seolah berdiri di luar arena pertempuran.

Pepatah mengatakan, bila dua ekor gajah bertarung, pelanduk kecil mati ditengah-tengahnya. Namun, di kejauhan segerombolan burung pemakan bangkai yang cerdik menunggu dengan sabar kejatuhan salah satu gajah petarung. Bahkan mungkin mereka juga menunggu kejatuhan pelanduk-pelanduk kecil. Karena, mereka memang tak peduli pada siapa pun yang tersungkur. Bagi mereka, dalam pertengkaran selalu ada peluang untuk dimanfaatkan. Maka, secerdik-cerdiknya anda memenangkan pertengkaran, jauh lebih cerdik jika anda menghemat tenaga untuk memahami perbedaan.

Thursday, February 17, 2005

Tips Berkhayal Untuk Kesegaran Pikiran

Ada sebagian orang yang menganggap kegiatan berkhayal, berandai-andai atau berangan-angan adalah kegiatan melamun yang tidak ada gunanya. Kata mereka,jauh lebih berguna kalau kita menggunakan waktu untuk melakukan sesuatu yang nyata, ketimbang menerawang jauh dalam pandangan kosong. Lebih lanjut,mereka juga mengatakan bahwa orang yang suka berkhayal mempunyai persoalan kejiwaan.

Padahal, berandai-andai, berkhayal, atau berangan-angan adalah sebuah bentuk kegiatan pikiran yang normal terjadi pada setiap orang. Mulai dari anak-anak, orang dewasa sampai lanjut usia. Orang yang sehat jiwanya selalu berimajinasi. Berfantasi merupakan salah satu bagian dari pertumbuhan jiwa.Bahkan di sela-sela pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi, kita masih sempat terhanyut pada lamunan sejenak. Kalau anda menganggapnya itu sebagai penyimpangan pikiran yang membuang-buang waktu, maka itu bisa dibenarkan.Namun, bukankah dengan demikian pikiran bisa sedikit disegarkan? Berikut beberapa tips berkhayal demi kesegaran pikiran.

1--Berkhayal demi mengembangkan kepribadian anda.
Anak-anak adalah contoh bagaimana seseorang bisa menggunakan khayalan untuk mengembangkan kepribadian. Mereka sering berkhayal untuk menjadi tokoh hebat ini dan itu. Ini bukan sekedar hal kosong. Dalam kegiatan ini justru mereka sedang menyusun kepribadian mereka. Kita, sebagai orang dewasa pun dapat berkhayal untuk mengembangkan kepribadian. Karena kepribadian bukan hal yang telah mandeg begitu kita dewasa. Dengan berkhayal kita bisa menemukan ambisi atau cita-cita yang ingin kita wujudkan. Kita juga bisa mengenali sisi pribadi yang selama ini tersisihkan, seperti; keberanian, kreatifitas, danlain-lain.

2--Menolong menghadapi kenyataan.
Apa yang anda lakukan ketika terjebak dalam lalu lintas macet berkepanjangan? Tak perlu cepat-cepat menggerutu kesal. Cobalah anda berkhayal menemukan jalan alternatif lain berkelak-kelok yang bisa menghindari kemacetan. Jangan anggap itu sebagai hal yang tak mungkin. Bisa jadi jalan itu tepat di sebelah kiri anda. Jangan terkejut, jika ternyata banyak orang menemukan alternatif pemecahan atas persoalan yang sedang dihadapinya dengan cara berangan-angan, berkhayal atau berandai-andai. Berkhayal pun menolong kita menghadapi kenyataan.

3--Asah kreatifitas anda melalui imajinasi
Di era kemajuan ilmu fisika matematis sekarang ini, para pakar menyusun skema alam raya ini bukan hanya melalui serangkaian uji coba dilaboratorium. Justru mereka lebih banyak menggunakan imajinasi kreatif mereka. Bahkan sesuatu yang ilmiah pun tak begitu saja menolak khayalan. Semua orang berbakat dan kreatif menggunakan khayalan untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang paling tak mungkin sekali pun.

4--Berangan-angan untuk membantu menyusun masa depan.
Siapa yang berkhayal menjejakkan kakinya di bulan, kelak akan menjejakkan kakinya di bulan. Ini bukan sekedar khayalan yang tak berguna. Ini adalah sebuah visi. Mungkin sebelum visi itu menjadi kenyataan, kita menganggapnya sebagai khayalan penuh bualan. Dalam visi, kita berusaha menyusun gambaran besar masa depan yang ingin kita raih. Inilah salah satu kekuatan khayalan.

5--Lakukan rekreasi mental dan pikiran.
Salah satu saran dari para ahli untuk mengatasi beban stres adalah melakukan rekreasi pikiran. Misal, dengan membayangkan kita dalam kondisi yang menyenangkan. Bukankah kegiatan semacam ini juga merupakan sebuah bentuk dari khayalan? Namun bukankah kita bisa menggunakannya untuk menenangkan pikiran? Jadi, mengapa anda harus selalu merasa bersalah dengan khayalan anda? Bahkan khayalan pun dapat digunakan untuk meneguhkan jiwa kita, disaat menghadapi kesulitan hidup. Ini sama sekali bukan untuk mengingkari kenyataan, namun untuk menemukan kekuatan diri.

6--Berdialog dengan diri sendiri.
Di saat melakukan instrospeksi diri, pada dasarnya kita berdialog secara imajinatif dengan diri kita sendiri. Khayalan dapat menjadi begitu positif jika kita mampu menggunakannya untuk menemukan sisi-sisi yang tersembunyi dalam diri kita yang mungkin selama ini takut kita ungkapkan. Dengank hayalan kita bisa menemukan keunikan diri kita, sehingga sedikit demi sedikit kita bisa mengenali diri kita lebih jauh lagi. Jadi, mengapa kita tak boleh berkhayal?

The One Minute Manager #2/5

RAHASIA 1: SASARAN-SASARAN SATU MENIT
Kenneth Blanchard Ph.D. & Spencer Johnson M.D.

Rahasia pertama dari tiga rahasia menjadi manajer satu menit adalah penetapan sasaran-sasaran satu menit. Ini adalah pondasi dari manajemen satu menit.

Persoalan yang banyak dihadapi karyawan adalah kesulitan mereka untuk melihat sasaran yang harus dicapai. Banyak sekali kita melihat karyawan yang bekerja tanpa motivasi, memberikan hasil yang biasa-biasa saja, bahkan mereka dianggap sebagai orang sulit lagi menyusahkan. Tapi tak jarang di luar pekerjaan, mereka justru tampak sebagai seorang yang penuh keceriaan dan menyenangkan dalam mengerjakan kegiatan-kegiatannya.

Misal: ada karyawan yang tampak menyebalkan di kantor, justru sangat bergairah ketika bermain bowling di luar jam kantor. Mengapa? Alasannya sederhana saja, karena mereka mampu melakukan lemparan "strike". Mengapa mereka mampu melakukan "strike"? Karena mereka tahu secara jelas botol-botol bowling yang harus dijatuhkan. Botol-botol bowling itu adalah sasaran yang jelas. Dan, setiap orang selalu termotivasi untuk melakukan sesuatu, asal sesuatu itu jelas.

Kembali ke analogi bowling tadi. Mengapa seseorang senang bermain bowling?
Selain karena jalur lintasan dan bola-bola bolwing tampak jelas, mereka bisa mengetahui skor yang mereka dapat dari setiap pukulan, sehingga mereka tahu berapa bola lagi yang harus dijatuhkan. Dalam dunia manajemen, ini disebut sebagai umpan balik. Umpan balik itulah yang menjadi motivator terbesar bagi karyawan. Umpan balik dapat berupa penilaian prestasi. Umpan balik ini menjadikan karyawan tampak baik. Bagi seorang manajer, umpan balik membuatnya menjadi manajer yang baik, karena dengan demikian ia mengetahui apa yang salah, apa yang benar, dan apa yang ada di tengah-tengah.

Umpan balik atas pencapaian sasaran-sasaran ini membuat seorang manajer tahu karyawan mana yang jadi pemenang dan karyawan mana yang berpotensi untuk jadi pemenang untuk anda latih sehingga menjadi pemenang. Ini didasari pemahaman bahwa sesungguhnya setiap orang itu calon pemenang. Maka janganlah kita tertipu oleh penampilan mereka yang tampak kalah. Semua ini bertujuan agar setiap orang menjadi termotivasi sekaligus melakukan sesuatu yang produkti. Dan, semua ini bermula dari penetapan sasaran, penilaian prestasi dan perilaku yang sesuai dengan sasaran tersebut.

Apakah sasaran satu menit itu? Yaitu, sebuah sasaran yang berdasarkan pada tanggung jawab yang jelas. Seorang manajer satu menit selalu menjelaskan apa yang perlu dilakukan, atau apa yang disetujui oleh karyawannya untuk dilakukan. Lalu menuliskannya sebagai sebuah sasaran dan standar pencapaiannya dalam sebuah penjelasan yang tak lebih dari 250 kata. Sasaran itu harus bisa dibaca dalam satu menit. Sasaran itu harus disepakati bersama, dan dibuat rangkap dua. Satu untuk sang manajer, satu untuk karyawan. Dengan demikian mereka bisa memeriksanya secara periodik.

Manajer satu menit percaya bahwa 80% hasil kita, yang benar-benar penting, berasal dari 20% sasaran yang disepakati. Maka sasaran satu menit hanya mencakup bidang-bidang utama dari tanggung jawab karyawan. Namun begitu, manajer satu menit tidak berhenti hanya pada sasaran, ia juga berusaha menjelaskan apa dan bagaimana bentuk pelaksanaan yang baik. Yaitu, dengan mendorong karyawan untuk mencari pemecahan atas setiap persoalan yang dihadapinya sendiri.

Jika seseorang karyawan telah mendapatkan tanggung jawab, maka semestinya ia memutuskan sendiri demi tanggung jawabnya itu segala sesuatu yang harus dikerjakannya. Tidak ada alasan bagi seorang karyawan untuk menggantungkan
keputusannya pada orang lain. Bukankah sasaran satu menit telah menjadi tanggung jawabnya sendiri. Maka dia harus memahami bentuk perilaku dan pencapaian yang diharapkan secara jelas.

Jadi, penetapan sasaran satu menit adalah:

1--Menyetujui sasaran-sasaran anda.

2--Melihat seperti apa perilaku yang baik itu.

3--Menuliskan setiap sasaran anda pada satu lembar kertas dengan menggunakan kurang dari 250 kata.

4--Membaca dan membaca ulang setiap sasaran, yang menuntut kurang lebih hanya satu menit setiap kali anda melakukannya.

5--Sekali-sekali sisihkan waktu satu menit setiap hari untuk melihat apa yang telah anda laksanakan,

6--Melihat apakah perilaku anda cocok dengan sasaran anda atau tidak.

Dengan demikian, manajer satu menit dimulai dengan menetapkan sasaran satu menit, yang harus dibaca setiap hari dalam waktu tak lebih dari satu menit, kemudian menilai perilaku sendiri apakah telah sesuai dengan sasaran tersebut, dan memecahkan persoalan dengan penuh tanggung jawab untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut.

(Diresume dari: Kenneth Blanchard Ph.D. & Spencer Johnson M.D. - The One Minute Manajer)